NovelToon NovelToon
Aku Wanita Terhormat

Aku Wanita Terhormat

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:330.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.

Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18. Kemaraham Bimo

Suasana pagi yang begitu ceria di tambah dengan burung-burung yang berkicau menambah semangat para pejuang hidup. Mentari yang muncul terlihat malu-malu menampakkan cahayanya. Tanpa bisa mencegah cahayanya untuk menyelusup masuk di celah-celah jendela bertirai putih itu.

Tubuh pria yang tampak masih enggan bangun tak jemu-jemu memandang wajah segar sang istri yang baru selesai mandi dan duduk di depan meja hiasnya.

Manik mata Meisa menangkap tatapan sendu dari sang suami. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat agar menghadap sempurna pada sosok pria yang tersenyum lembut padanya.

"Mas, sudah bangun? mau aku siapkan langsung air mandinya?" tanya Meisa.

"Kemari." Aldi menjulurkan tangannya untuk meminta Meisa mendekat padanya.

Meisa berjalan mendekati suaminya dengan baju yang sudah lengkap meski rambut masih tampak terbungkus dengan handuk.

"Eh Mas Aldi." teriak Meisa yang terkejut saat tubuhnya sudah terbenam dalam dekapan suaminya itu.

Aldi membawa Meisa kembali bergulat di atas tempat tidur empuk yang berukuran tidak begitu besar namun luas untuk keduanya bergerak kesana kemari.

Terdengar gelak tawa dari keduanya di kala wajah pria itu menggelitik tubuh Meisa dengan sentuhan bibirnya.

Wajah Meisa memerah karena menahan geli, berkali-kali ia meminta ampun namun Aldi tak menggubrisnya.

"Mas Aldi, ampun hahahaha."

Di pembatas ruang yang ada di rumah itu sepasang indera pendengar milik wanita paruh baya, Bu Nirmala. Ia bisa mendengar suara gaduh di dalam kamar anaknya pagi itu. Segaris senyuman ia keluarkan menikmati kehidupan hangat sang putri.

Keinginan dan keyakinan sang almarhum suaminya benar tepat, ia percaya jika Aldi benar akan mencintai putri mereka. Dan benar saat ini sudah terbukti.

"Terimakasih ya Allah. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga anakku." tutur Bu Nirmala.

***

"Mas, mau makan yang mana?" tanya Meisa yang baru saja memastikan jika Aldi sudah duduk di kursi meja makannya.

Bu Nirmala hanya menatap keduanya dengan tatapan hangatnya.

Meisa mengambilkan beberapa makanan yang di tunjuk oleh suaminya.

"Wah semuanya sangat enak." puji Aldi merasakan nikmatnya masakan istrinya.

"Jika mas mau request makanan juga boleh kok, lagi pula Meisa bosan tidak ada kegiatan di rumah." ucapnya ikut duduk di kursi dan menikmati makanan.

"Sudah Mei, kamu jangan terlalu lelah. Aku suka apa pun yang kamu masakkan untukku." seru Aldi dengan lahapnya.

Ketiganya makan dengan lahap sampai akhirnya Aldi beranjak pergi menuju ke mobilnya di ikuti dengan Meisa dan juga Bu Nirmala.

"Hati-hati yah, Mas." Meisa meraih punggung tangan yang sudah bekerja keras mencarikannya sesuap nasi itu.

Ia mendaratkan ciuman di punggung tangan suaminya. Aldi membawa tubuh Meisa ke dalam pelukannya. Ia begitu sangat mencintai istrinya itu.

"Aku pergi bekerja dulu yah. Jangan terlalu lelah ada anak kita yang harus kau jaga." Aldi mencium perut rata sang istri lalu berpamitan dengan ibu mertuanya.

"Bu, Aldi pergi." ucapnya dengan mencium punggung tangan mertuanya.

"Hati-hati, Nak Aldi." tutur Bi Nirmala.

Mobil pun melaju meninggalkan rumah yang tidak begitu megah namun cukup mewah jika di lihat untuk keluarga kecil mereka. Meisa memperhatikan dengan seksama kepergian sang suami hingga mobil pun sudah tak terlihat lagi dari pandangan kedua wanita itu.

"Ayo kita masuk, Bu." ajak Meisa tersenyum lalu menggandeng tangan Ibunya.

Di dalam Meisa menikmati tontonan televisi bersama sang Ibu.

"Mei, apa kamu bahagia?" tanya Bu Nirmala di sela-sela aktifitas asyik mereka.

Meisa berhenti menatap layar lebar di depannya, dan menatap ke arah sang Ibu.

"Meisa sangat bahagia, Bu. Apalagi sebentar ada bayi di rumah ini. Tentu Meisa sangat bahagia. Ayah sangat tepat untuk meminta permohonan. Meisa berterima kasih sekali karena sangat memperdulikan Meisa hingga akhir hayatnya." tuturnya mulai dengan pandangan yang buram karena ada gumpalan bening yang mulai menutupi netra hitam milik Meisa.

"Sudah jangan bersedih lagi, Ayahmu pasti sudah sangat bahagia di sana, Mei." Bu Nirmala membawa tubuh putrinya masuk ke dalam pelukannya hingga bisa menyalurkan rasa yang begitu membawa ketenangan.

Suasana haru dan bahagia itu tiba-tiba terpecahkan dengan dering ponsel milik Meisa yang terdengar di atas meja.

"Bu Rosa." Nama yang terlihat di ponsel milik Meisa.

Tangan wanita itu segera meraih benda persegi panjang lalu menempelkan pada daun telinganya.

"Halo, Bu Rosa." tutur Meisa lembut.

"Mei, Naina terus menangis karena ingin bertemu denganmu. Apa boleh saya meminta waktumu?" tanya Bu Rosa.

Meisa menarik segaris senyuman di balik layar ponsel itu. "Tentu saja Bu Rosa. Tentu sangat boleh." ujarnya.

Di seberang sana, Naina begitu girang mendengar apa yang Meisa baru saja katakan. Saat kepulangan Meisa, keadaan Aditya sudah semakin membaik meski ia masih harus tetap berada di rumah sementara waktu sampai bata waktu yang di perbolehkan oleh Dokter untuk kembali beraktifitas.

"Ye...Naina mau ketemu Tante Mei." seruan bocah kecil terdengar sampai di indera pendengaran Meisa.

Ia sangat senang bisa memberikan kenyamanan pada bocah yang pernah ia rawat itu.

"Kalau begitu boleh saya minta alamat kamu, Mei?" tanya Bu Rosa.

"Baik Bu, saya segera mengirim lokasi melalui WhatsApp setelah ini."

Keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu. Naina berpamitan dengan Daddynya setelah itu, Bu Rosa meminta supir pribadi itu untuk mengantarkan cucunya pada Meisa.

***

Di bank tempat Aldi bekerja kini semua pekerja tampak penasaran mengapa wajah Aldi semakin aneh dari sebelum-sebelumnya. Pria itu begitu penuh semangat meski terkadang ia juga terdiam merenung dalam ruang kerjanya.

"Pak Bimo." panggil Aldi yang melihat pria itu berlalu di depan ruang kerjanya.

"Iya Pak Aldi." balas Bimo.

"Bagaimana hubungan mu dengan Diana?" tanya Aldi.

Dahi Bimo melipat bingung. Ada angin apa pria di hadapannya ini bisa jadi perduli dengan rumah tangganya? ah tidak, bukan perduli. Lebih tepatnya kepo.

"Ba-ik, Pak. Bapak bagaimana dengan Meisa?" Bimo pun bertanya balik.

"Baik juga." ujarnya tersenyum lebar.

"Bahkan sekarang Meisa sudah mengandung anakku." ucap Aldi tersenyum tanpa bisa menahan rasa ingin pamernya di depan pria yang sempat ingin membuat dirinya terbakar api cemburu.

Mata Bimo membulat sempurna mendengar hal itu. Wajahnya yang tadinya baik-baik saja seketika terbakar mendengar perkataan Aldi yang berucap seolah tanpa dosa.

Kepalan tangan Bimo bergetar dan seketika mendarat pada wajah atasannya itu.

"Baj*ngan kau, selama ini aku bisa diam karena aku sadar aku bukan siapa-siapa. Tapi setelah apa yang kau lakukan dengan wanita itu dan sekarang kau seolah lupa apa yang telah kau lakukan? hah!"

Aldi bertubi-tubi mendapat serangan dari Bimo tanpa sempat melawan. Pria itu kewalahan karena Bimo tidak memberikan jeda sekali pun padanya untuk mengendalikan diri yang tersungkur ke kursi kerjanya.

Semua pekerja di ruangan itu menonton tanpa berani memisahkan kegaduhan di ruang kerja Aldi.

Nafas Bimo naik turun begitu tak karuan. Ia sangat murka mendengar Meisa sudah memiliki anak dari pria yang tidak pantas di sebut suami ini.

"Apa yang membuat mu marah padaku? kau cemburu?" tanya Aldi dengan nada yang bergetar ingin melawan namun tubuhnya begitu lemas.

Bimo masih mencengkram kembali kera kemeja Aldi.

Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Jangan kau pikir aku tidak tahu pernikahan yang telah kau selenggarakan itu. Aku akan segera memberi tahu Meisa. Kau tidak layak menjadi seorang Ayah setelah memperlakukan Meisa layaknya binatang dan sekarang Meisa hamil tanpa tahu perilaku suaminya ini!" Bimo membanting Aldi dan segera keluar dari ruang kerjanya.

Sial! sungguh sial. Aldi tak menyangka jika Bimo tahu tentang pernikahan yang diam-diam ia lakukan demi menurut pada kemauan orangtuanya itu.

Bimo keluar dan menuju ruang kerjanya, netra hitam miliknya begitu tajam menatap para pengintip yang sejak tadi menikmati pertunjukan menegangkan itu.

"Harusnya kau tidak kembali dengannya, Mei. Aku tidak menyangka kau masih mau mengampuni pria brengsek itu. Ah!" Bimo membanting tubuhnya duduk di kursi kerja dan mengusap kasar wajahnya.

Belum sempat pria itu merasa tenang di jam istirahat ini, kini suara pintu ruangan sudah terdengar ketukan dari luar. Matanya menatap pembatas transparan itu.

Netra hitam penuh amarah itu tampak berotasi tak beraturan melihat kehadiran wanita yang tidak ia inginkan. Siapa lagi tentunya jika bukan Diana. Istri yang sudah sejak berapa lama tak bertegur sapa dengannya.

Meski pun begitu Diana masih tetap melanjutkan aktifitasnya untuk menunggu suaminya setiap bekerja.

"Pah, mengapa belum keluar? ini sudah jam istirahat. Kita makan ayo." ajaknya tanpa bisa membaca pikiran suaminya yang sedang menyala bak api.

Suara tiba-tiba hening ketika Diana sadar dengan tatapan mematikan suaminya itu. Ia mematung di depan pintu merasa kikuk. Tidak pernah Bimo menatapnya semengerikkan saat ini. Sungguh bulu kuduk Diana berdiri serentak.

Ingin rasanya ia berlari pergi, namun rasa penasarannya pada sang suami jauh lebih besar. Suara lantang wanita itu kini tak lagi terdengar di telinga Bimo.

1
falea sezi
kn bukan anak. aldi ngapain tanggung jawab
falea sezi
karma di byar kontan akirnya si pelacur mati
falea sezi
kapok karma pelakor wanita gatel itu perebut suami orang
falea sezi
g jijik apa ya Mei ma aldi tukang celup
falea sezi
bukannya uda di talak ya males kalo mau. balikan aldi bekasss jalang
falea sezi
mencintai Mei tp enak enak. ma jalang munafik
Erni Nofiyanti
rumit jga tuh hubungan,Rere mulai ada rasa Ama dion,sedangkan kail suka Ama dion.pusing jadinya
siti rohimnah
hemmm mengapa harus berjanji dan kembali dengan Aldi yang kasar hanya karena selaput darah, cowok sok suci 😡
Jue
Jaga-jaga Aldi esok Aldiva benci padamu dan berimbas pada Meisha , Menjadi seorang bapak yang tidak Aldi , Dan Aldi tu bukannya cemburu tapi tiga suku , Lebih baik pasang gerigi besi kurung saja terus si Meisha buat selamanya
Jue
Wah tambah zuriat ni lagi Aldinya subur sungguh , Hai senangnya dalam hati bila beristeri dua fikir Aldi
tata 💕
kata'a tokoh disini pada ancur deh ya aldi & ortu'a, rere & ortu'a, meusya yg g tegas, diana & bimo. yg bener cm ibu nirmala, bu risa dan aditya
tata 💕
ni mah keluarga hancur nama'a
tata 💕
ish..... 😡
tata 💕
thor ko aku jd males y 😕
tata 💕
dah lah Na tinggalin tuh aldi, laki2 egois, g jujur dan g berprinsip, mau'a enak sendiri
tata 💕
kenapa y novel ni kumpulan orang2 bodoh y, maaf y thor
tata 💕
dah lah mending pisah aja nana, tinggalin aldi, lelaki egois 😐
tata 💕
ko menyebalkan y
tata 💕
masih abu2 nih thor
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪
Marlina Lina
kena azab nya tu tooorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!