Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Alex
*kerajaan Abloor
"Kirim surat pernyataan ini pada Arnold, kita akan mengusahakan perang dimulai besok," ujar sang raja di singgasananya pada asisten pribadinya.
"Aku yakin kita akan memenangkan peperangan ini," sahut Paul sambil tersenyum ramah.
"Cepatlah,"
Paul berjalan dengan santai, senyuman ramahnya tak pernah lepas dari wajah tampannya. Ia berjalan menyusuri hutan yang ditempati makhluk-makhluk setempat, senyumnya semakin besar tak kala melihat seorang pria berkulit pucat dengan mata merah di depannya.
"Pangeran Kevin?" ujar Paul dengan senyuman lebar, hingga matanya menyipit.
Kevin menyeringai, "Ah, kau pasti ingin mengirim surat pengajuan perang, bukan?" tanya Kevin dengan matanya yang melirik pada perkamen yang di genggam oleh Paul.
"Kau benar,"
"Hm, aku tak sabar menunggu jawabannya, jadi aku akan membawamu dengan cepat menuju Wetford,"
Senyum Paul memudar, "Tapi pangeran Kevin, Wetford akan mengetahui keberadaanmu jika kau kesana,"
"Aku tak peduli, lagi pula sebentar lagi kita akan berperang,"
"Shht, pangeran Kevin, jangan mengatakan hal itu di sini, karena ini akan menjadi kejutan untuk bangsa Wetford,"
Kevin menyeringai. Kemudian ia merangkul asisten pribadi dari Paul itu dengan erat, ia membawa Paul berlari secepat kilat menuju kerajaan Wetford.
"Ah, sampai. Kau harus kembali sendiri, aku ingin berburu lagi,"
Harry mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku sangat setuju jika kau menikahi Jane secepat mungkin," Arnold tersenyum kecil di singgasanannya.
Alex terkejut mendengar perkataan Arnold yang diucapkan di depan orang banyak, hal itu mampu membuat Alex kelagapan, namun ia pandai menyembunyikannya.
Sementara Leo hanya mendengus kesal di mejanya yang berada di samping Alex dengan menyangga wajahnya dengan telapak tangan.
"Tetapi, kau bisa lakukan itu setelah peperangan," sahut seorang pria di depan pintu ruangan tersebut.
Seisi ruangan menatap sumber suara, suara yang tak asing bagi mereka, yaitu, Paul.
"Maaf jika aku menganggu percakapan antar keluarga ini. Tetapi, tuan Steve memintaku untuk mengirim ini," jelas Paul sembari memberikan gulungan perkamen pada Arnold.
Mata Arnold terus bergerak kekanan dan kekiri mengikuti setiap tulisan yang terletak di perkamen itu. Setelah selesai membaca, Arnold menggulung perkamen itu dengan rapi.
Ia menarik nafas dalam-dalam, "Aku meminta waktu satu bulan lagi untuk memulai peperangan ini,"
"Hah?" Leo membulatkan matanya, "Kau yakin? Bukankah itu terlalu singkat?" tanya Leo tak percaya.
"Aku setuju," sahut Alex singkat.
"Aku yakin kita bisa mengatasi ini,"
Hilda yang berdiri di samping kursi tempat duduk Jane menatap tajam Paul, "Yang mulia, aku tidak setuju,"
Seisi ruangan menatap Hilda.
Arnold hanya mengangguk paham saat melihat ekspresi Hilda yang menunjukkan sesuatu yang tidak beres.
"Ah, maaf. Aku tak bisa memulai perang ini bulan depan, aku akan memberitahu kalian saat sudah siap," Arnold mengembalikan gulungan perkamen itu pada Paul sambil tersenyum tipis.
Paul tersenyum ramah, "Baiklah, kami sangat menunggu keputusanmu," setelah itu ia menunduk hormat dan pergi meninggalkan ruangan raja itu.
"Apa yang kau dengar Hilda?" tanya Jane menatap wajah cantik milik Hilda.
Hilda membalas tatapan Jane, ia menarik nafas dalam-dalam, "Entahlah, aku mendengar isi pikirannya, ia merasa sangat senang karena akan memberikan kejutan pada kita saat peperangan, tetapi aku tak tahu apa. Pikirannya terlalu tenang, hingga aku tak bisa mendengarnya," terang Hilda.
"Kejutan?" sahut Leo.
Sementara Alex hanya menatap lurus dengan tatapan kosong, "Aku sepertinya mengerti," gumamnya lirih.
Argus mengernyit, "Aku yakin itu sesuatu yang tak akan kita duga, aku sarankan kita berlatih sekeras mungkin untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dan, satu hal yang aku cemaskan selama ini, yaitu jika Dryford bercampur tangan, maka kemungkinan menang kita hanya 10%," jelasnya sambil menatap Arnold.
"Hm, kau benar Argus, pikiranmu selalu selangkah lebih di depanku,"
"Aku akan melatih tentara kita," ujar Alex sebelum pergi dari ruangan itu.
"Aku ikut!" seru gadis dengan surai diikat dengan baju kemeja dan celana jeans, ia berlari mengejar Alex yang sudah hilang dari pandangannya.
Leo menghela nafas, "Hati-hati, atau kau akan menimbulkan masalah lagi,"
Hilda mengejar tuannya, "Tunggu nona Jane!"
Kini tersisa Argus yang berdiri di samping singgasana Arnold dan Leo yang terlihat lesu di kursinya.
Argus tersenyum kecil, "Leo, kau harus berlatih juga bukan?"
Pria berambut ikal itu mendengus setelah mendengar perkataan sang asisten raja, ia berdiri dan berjalan dengan malas pergi dari ruangan itu.
"Argus, siapkan ruang diskusi,"
"Baik yang mulia,"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jane--ah, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alex dengan nada penekanan, dirinya kini tengah memegang pedang dan perisai.
Jane menunduk, "Aku mohon, ajari aku,"
Alex menahan nafasnya, ia tak sanggup menolak permintaan Jane, "Ah, baiklah,"
Senyum Jane merekah, "Yeay," kemudian ia mengambil pedang milik Alex, "Aku mulai dari mana?" tanyanya.
"Anggap saja kau ingin membunuhku, " jawab Alex dengan cuek.
Sejenak Jane menatap Alex dengan ngeri, namun ia segera membuang perasaan takutnya itu dan mengangguk mantap.
Di belakang Alex, Hilda berdiri. Ia siap membunuh Alex jika melukai tuannya sedikit saja.
Serangan demi serangan ia berikan pada Alex, ia terus berusaha mengenai pedang yang ia pegang pada tubuh Alex, namun ia tak cukup cerdik dan cepat untuk melewati perisai yang Alex genggam. Tangan dengan jari lentik itu terus mengayunkan pedang di celah yang sekiranya dapat ia tembus, namun tak membuahkan hasil.
"Alex, dimana aku bisa mengambil pedang?" tanya Leo dari jarak yang tak jauh.
Alex berhenti dan menoleh ke arah Leo, ia menunjuk keranjang yang penuh dengan pedang.
Set...
"Auh.. " keluh Alex sambil memegangi pahanya.
Jane menjatuhkan pedangnya dan menutup mulutnya, "Apa aku melukaimu?"
Alex merintih memegangi pahanya yang terbalut celana jeans.
Jane menunduk untuk memeriksa paha Alex.
"Dapat!" serunya setelah menarik ikat rambut Jane.
"Alex...!!!!" jeritnya.
Alex tertawa sambil berlari menjauh dari Jane, "Ambil ikat rambutmu, kalau bisa,"
Wajah Jane merah padam, "Awas kau Alex!"
Mereka berdua akhirnya sibuk dengan 'urusan' mereka masing-masing.
Leo berdiri di samping Hilda, "Sejak kapan si kutub utara itu seperti ini?" tanya Leo dengan wajah kesal.
"Entahlah, tapi cinta yang membuatnya seperti ini," Hilda tersenyum hangat.
"Dapat dari mana kata-kata menjijikan itu?"
"Aku pernah melihat kata-kata itu dari buku harian milik nona Jane,"