Hans seorang pemuda yang giat belajar. Berteman dengan dua orang Andika dan Febri.Mereka seperti saudara saling membantu dan menolong.
Tiba-tiba persahabatan itu sedikit tergoyahkan setelah datang seorang gadis jelmaan.Dia adalah cucu angkat dari nenek yang ditolong oleh Hans dan gadis yang sudah lama hilang.
Bagaimana persahabatan mereka selanjutnya,nantikan karyaku yang kedua ini
Nantikan detik-detik terkuaknya misteri Gedung Tua ini.
Terimakasih sudah membaca novelku yang kedua ini kritik dan saran dangat author harapkan agar menjadi naskah yang sempurna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Hans melanjutkan aktifitas seperti biasanya, sekolah bersama dengan Andi. Kemaren Andi tidak ikut ke air terjun ,hari ini dia penasaran dengan cerita Hans.
" Gimana ceritanya Hans? Aku belum pernah punya pengalaman seperti itu. Pasti seru ya? " ucap Andi.
" Kamu gak takut kalau ikutan kita, jangan deh nanti aku kena marah lo " sahut Hans.
" Siapa yang marah? "
" Ya orang tuamu lah dan ortuku tentunya. Kemaren saja pas pulang sudah dapat ceramah panjannnggg banget he.. he.. "
" Ya kalau nyerempet bahaya tentu saja mereka marah. Eh, aku penasaran gimana ceritanya kemaren? "
Jadi gini, Hans menceritakan kejadian dari mulai datang dengan pak Mardi sampai mereka terjebak dan akhirnya bisa keluar lagi dari gua.
Andi yang mendengarnya bergidik menghela napas " Pantas saja ortumu marahbdan ceramah panjang. Aku juga takut kalau seperti itu. Gak mau ikutan ah, nanti takut hilang "
" Ha... ha.. Ndi ndi, baru juga cerita gimana kalau kejadian sama kamu. Ya sudah gak usah ikutan misi ku. Biar kita bertiga saja yang tuntaskan "
Bel istirahat berakhir mereka masuk kevdalam ruang masing-masing. Usai sekolah Andi dan Hans pulang sekolah bareng mengayuh sepeda.
Hari menjadi mendadak gelap ketika perjalanan mereka sampai di gedung tua untuk berpisah. Hans heran saja melewati gedung itu. Suasana terlihat sangat terang di dalam.
Apa di dalam lampunya dinyalakan ya, ini gelap mau hujan, tapi kog terang sekali di sana 🤔
Mendekati gedung tua itu dengan hati-hati . Siapa mereka tampak bayangan dua orang di dalam ?
Terlihat dari luar lewat kaca jendela gedung dua orang sedang berbincang di dalam ruangan. Seorang nenek dan gadis muda. Dan ada lagi seekor kucing di gendongnya.
Hans mengucek kedua matanya semoga hanya bayangan saja. Tapi berkali-kali ia mbuka mata bayangan itu tetap di sana.
Srettt.... sebuah daun jatuh pada tubuhnya membuatnya terkejut.
Eh, kenapa ada daun jatuh disini, masa kena angin sampai sejauh ini ?Waduh sudah sore, nanti ayah dan ibu marah lagi.
Hans kemudian pulang dengan seribu pertanyaan di pikirannya. Ingin menuntaskan misi yang di rancangnya bersama Andika dan Febri.
Sampai dirumah ayah dan ibunya belum datang. Ia segera beranjak membersihkan rumah yang kotor akibat angin yang datang.
Ketika mau mandi ia melihat gemerlap kilau di bawah meja makan.
Apa itu?
Hans mengambil benda itu. Hah, cincin? bukankah cincin ini kemaren tertinggal di dalam gua. Belum sempat mencarinya ?
" Ada apa Hans ? cari apa? " ibu dan ayahnya datang.
" Itu bu, ada cincin di bawah " mengulurkan tangan pada ibunya " ini!"
" Loh, ini bukankah yang pernah ditunjukkan gadis di pasar dulu ya? "
" Gadis? di pasar ?" ucap Hans dan ayah bareng.
" Iya gadis pernah nunjukin cincin, karena dia gak punya uang saat beli bahan makanan , kemudian ibu bayar tapi ia nunjukin cincin buat gantinya "
** flash back on*
" Bu terimalah ini, saya cuma punya ini buat bayar bahan-bahan ini" gadis itu menunduk sedih.
" Sudahlah nak, bawa saja cicinnya barang ini juga gak banyak kog harganya !"
" Alhamdulillah ibu, terima kasih semoga ibu diberi rejeki yang banyak dan selalu berlimpah "
" Iya nak, kamu anak baik pasti. oh ya siapa namamu ? " Gadis itu tiba-tiba tiba menghilang, ibu Hans mencari kemana-mana tak menemukannya.
** flash back off **
" Begitulah ceritanya, sampai saat ini ibu tak pernah bertemu lagi dengannya. Coba ini ada hurufnya sama persis dengan yang ditinjukkan gadis itu. Sayang ibu belum tahu siapa namanya "
" Cantik tidak bu? " ucap Hans cengengesan.
" Cantikkk banget, kenapa? he.. he.. 'pengen kenal cewek juga kamu nak?"
" Iya 'pengen bu, tapi bukan cewek jadi-jadian ha.. ha..? "
" Hust.. sembarangan, jangan ngomong aneh-aneh pamali nak !"sahut ayah.
" Iya dulu ayah hampir saja kepincut sama cewek jadi-jadian jaman mudanya dulu "
" Masa' yah? Wah lebih seru ayah ternyata dari pada Hans. Itu sebabnya ayah melarang Hans melakukan petualangan? "
" Salah satunya, tapi yang utama iru biar kamu rajin belajar tidak terpengaruh sesuatu yang tidak berhubungan denganmu. Apalagi mencampuri urusan orang lain "
" Iya iyah, siapp! Oh ya bu bagaimana ciri-ciri gadis itu? bisabibu ceritakan padaku? "
" Iya tapi kita makan dulu, dari tadi ngomong terus. Ini ibu beli sayur matang tadi ayo nak panaskan dulu sayurnya, ibu ganti baju dulu! "
Hans memanaskan sayur, mereka semua berkumpul di meja makan. Setelah selesai ibu melanjutkan ceritanya.
" Gadis itu sangat cantik, bahkan seperti bukan orang sini, maksud ibu bukan orang jawa. Wajahnya putih alisnya tebal. Rambutnya panjang di ikat. Kelihatannya tak pernah dipotong beberapa lama. Ia sangat ramah dan lembut dari bicaranya "
Hans membayangkan ilustrasi gambaran wajah yang diceritakan ibunya. Hampir sama dengan foto yang ada di rumah pak Mardi. Dan juga dengan gadis yang ada di gua kemaren.
Sayang ia tidak begitu seksama melihat wajah gadis itu karena terpesona aroma daging bakar yang lezat.
" Hei, kenapa bengong? apa membayangkan ilustrasinya? "tanya ibu.
" Iya bu, wah pasti cantik sekali ya wajahnya? "
"Tentu saja, kamu bakal naksir kalau ketemu. Ngomong-ngomong mana cincin tadi? "tanya ibunya.
" Hans simpan bu, siapa tahu nanti ketemu pemiliknya dan kuberikan"
" Biar ibumu saja yang menyimpannya kan ibu yang kemaren bertemu pemiliknya? "ucap ayah.
" Tidak, biar Hans saja. Kan aku yang menemukannya di bawah meja! "
" Sudah nak 'manut saja sama ayah !Takut kamu berbuat aneh-aneh lagi " sahut ibu.
" Sekali tidak-ya tidak, sudah Hans mau tidur besuk sekolah! "
Hans beranjak meninggalkan ruang makan dan menuju kamar. Ia lupa belum sholat isya'.
"Tidak biasanya anak itu tak menurut ya? " ucap ayah geram.
" Iya, ada apa ya? Atau ada yang mendorongnya supaya berbuat srperti itu? "
" Maksudmu di pengaruhi begitu bu? "
" Iya yah, baru kali ini lo dia membantah orang tua "
" Bener juga, atau nanti malam kita ambil saja cicinnya pada saat dia tidur? "
" Bisa juga, kita ambil diam-diam saja. Oh ya, dia belum sholat lo yah tolong ingatkan dulu! "
Ayah Hans segera ke kamar Hans. Mengetuk pintunya tapi tak mendengar jawaban sama sekali.
" Hans, buka pintu nak ini ayah. Kamu belum sholat lo awas jangan lupa! "
Tak terdengar apapun, pintu dibuka ayahb ternyata tak di kunci.
Astaga anak ini baru makan sudah lelap. Pasti sudah mimpi ini dari dengkurannya. Mana cincin itu ya? Sebaiknya aku ke ibu dulu biar dia yang mencarinya.
" Jangan, jangan... jangan ambil cincin itu. Aku gak bisa keluar dari sini. Kembalikan cincin itu tolong..."
Hans mengigau pasti itu karena cincin itu. Harus secepatnya di urus ini, pasti ada kaitannya dengan kepulangannya dari air terjun itu. Hans, jangan buat ayah khawatir nak!
****
***Jangan lupa sentuh like and vote
✒📖💖💖
I love you all 😄😄***
tetap semangat thorr.💪
Thanks thorr udah mau mampir🙏🤗😁