Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Waktu semakin Dekat
Dua bulan kemudian, apartemen yang akan ditempati Jove dan Nic akhirnya selesai dipersiapkan.
Seluruh interiornya sudah selesai dikerjakan.
Tidak ada lagi ruangan kosong seperti ketika Jove dan Nic pertama kali datang melihatnya.
Furnitur sudah ditempatkan.
Lampu-lampu sudah terpasang.
Beberapa dekorasi sederhana juga sudah mengisi ruangan.
Apartemen itu kini terlihat seperti sebuah tempat tinggal yang siap dihuni.
Sore itu, Jove datang seorang diri.
Ia baru saja menyelesaikan beberapa urusan di kantor ketika memutuskan untuk mampir.
Tidak ada janji dengan Nic.
Tidak ada keperluan khusus.
Ia hanya ingin melihat apartemen itu sekali lagi.
Jove membuka pintu dengan akses yang sudah diberikan kepadanya.
Begitu pintu terbuka, suasana tenang langsung menyambutnya.
Ia melangkah masuk perlahan.
Matanya menyapu ruang keluarga.
Sofa sudah berada di tempatnya.
Meja kecil di tengah ruangan.
Rak dan beberapa dekorasi sederhana.
Semuanya tertata rapi.
Jove berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa-apa.
Dulu, ruangan ini masih kosong.
Kini semuanya sudah berubah.
Apartemen itu sudah terlihat seperti sebuah rumah.
Jove kemudian berjalan menuju kamarnya.
Pintu dibuka.
Ia berhenti di ambang pintu.
Kamar itu sederhana, tetapi terasa nyaman.
Tempat tidur sudah tertata.
Lemari pakaian sudah terpasang.
Dan yang paling menarik perhatian Jove adalah jendela besar di sisi kamar.
Jove berjalan mendekat.
Ia membuka tirai.
Pemandangan kota kembali terlihat di hadapannya.
Dari ketinggian itu, gedung-gedung terlihat berjajar.
Jalanan masih ramai meskipun matahari mulai turun.
Jove tersenyum kecil.
Kamar ini cukup bagus.
Bahkan lebih dari cukup.
Ia kemudian berpindah ke ruangan yang akan menjadi ruang kerja bersama.
Dua meja kerja sudah diletakkan bersebelahan dengan jarak yang cukup.
Jove berjalan mendekati mejanya.
Ia berhenti.
Meja itu menghadap langsung ke jendela.
Pemandangan kota terlihat jelas dari sana.
Jove menyukai posisi itu.
“Bagus.”
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya.
Ia menarik kursi dan duduk sebentar.
Membayangkan dirinya bekerja di tempat ini.
Membuka laptop.
Memeriksa laporan.
Mengikuti rapat melalui sambungan video.
Sementara di meja sebelahnya nanti akan ada Nic.
Mereka akan bekerja di ruangan yang sama.
Tetapi tetap dengan kehidupan masing-masing.
Jove tersenyum tipis.
Kemudian ia berdiri dan kembali berjalan menuju ruang keluarga.
Entah mengapa langkahnya terasa lebih lambat.
Jove kembali berdiri di depan jendela besar yang sejak awal membuatnya menyukai apartemen itu.
Kali ini ia tidak hanya melihat pemandangan kota.
Pikirannya justru mulai melayang jauh.
Apartemen ini sudah selesai.
Pernikahan mereka juga semakin dekat.
Semua yang awalnya hanya berupa percakapan kini perlahan menjadi kenyataan.
Jove menatap furnitur di sekelilingnya.
Sebuah tempat tinggal yang sebentar lagi akan menjadi rumahnya.
Rumah yang akan ia tinggali bersama seorang laki-laki yang bahkan belum benar-benar dikenalnya.
Nic.
Mereka akan menikah.
Mereka akan tinggal di bawah satu atap.
Mereka akan menjalani kehidupan yang sudah mereka sepakati.
Tidak ada tuntutan untuk mencintai.
Tidak ada kewajiban untuk menjadi pasangan seperti pada umumnya.
Hanya sebuah pernikahan.
Sebuah drama yang mereka ciptakan bersama.
Namun semakin dekat waktunya, semakin nyata semuanya terasa.
Jove menghela napas panjang.
Tangannya perlahan terangkat, menyentuh permukaan kaca jendela.
Dari sana, lalu lintas kota terlihat semakin padat.
Lampu kendaraan mulai menyala satu per satu.
Orang-orang sedang pulang ke rumah masing-masing.
Sementara Jove justru sedang berdiri di tempat yang suatu hari nanti akan menjadi rumahnya.
Entah kenapa, dadanya terasa sesak.
Ia tiba-tiba teringat rumahnya.
Rumah tempat ia tumbuh.
Rumah yang selama bertahun-tahun selalu menjadi tempat pertama yang ia tuju setelah bekerja.
Rumah tempat Daddy dan Mommy nya masih menunggunya.
Rumah yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan akan ia tinggalkan.
Jove menelan ludah.
Ia tahu setelah menikah nanti, ia tetap bisa datang.
Ia tetap bisa bertemu kedua orang tuanya.
Tidak ada yang melarang.
Namun tetap saja akan berbeda.
Selama ini ia pulang ke rumah sebagai seorang anak.
Nanti, ia akan pulang ke tempat ini sebagai seorang istri.
Perubahan itu tiba-tiba terasa begitu besar.
Jove menundukkan kepala.
Matanya mulai terasa panas.
“Aku sudah sejauh ini melangkah.”
Suaranya terdengar sangat pelan.
Ia tersenyum kecil, tetapi senyum itu justru terasa getir.
Ia sendiri yang mengambil keputusan ini.
Tidak ada yang memaksanya.
Tidak Daddy nya.
Tidak Mommy nya.
Tidak pula Nic.
Ia yang mengatakan bersedia.
Ia yang menyetujui ide Nic.
Ia juga yang menyepakati semua aturan dalam pernikahan ini.
Ia bahkan yang mengatakan bahwa mereka harus meneruskan drama tersebut.
Namun sekarang, ketika semuanya sudah berada di depan mata, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa takut.
Bukan takut terhadap Nic.
Bukan pula takut terhadap pernikahan.
Melainkan takut meninggalkan kehidupan yang selama ini ia kenal.
Jove mengusap sudut matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Tetapi semakin ia berusaha menahannya, semakin kuat rasa sesak di dadanya.
Pandangannya kembali tertuju pada pemandangan di luar.
Gedung-gedung tinggi.
Lampu kota.
Kendaraan yang terus bergerak.
Semuanya terlihat begitu indah.
Tetapi malam itu, Jove justru merasa begitu kecil di tengah luasnya kota.
“Daddy…”
Suaranya bergetar.
Ia menarik napas.
“Mommy…”
Air mata akhirnya jatuh.
Jove segera menghapusnya.
Namun satu tetes berubah menjadi dua.
Kemudian semakin banyak.
Ia membiarkan dirinya menangis dalam diam.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang akan bertanya mengapa.
Jove memejamkan mata sejenak.
“Maafkan aku.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Maafkan aku, Daddy.”
Ia kembali menatap jendela besar itu.
“Maafkan aku, Mommy.”
Jove menundukkan wajah.
Bukan karena ia menyesal menikah.
Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa setelah menikah nanti, hidupnya tidak akan lagi sama.
Ia akan memiliki rumah sendiri.
Kehidupan sendiri.
Dan mungkin, jarak yang sedikit berbeda dengan kedua orang tuanya.
Jove kembali menatap pemandangan kota.
Tidak mengetahui bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Di tempat lain, Nic baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Ponselnya berada di atas meja ketika sebuah notifikasi muncul.
Ia membuka aplikasi keamanan apartemen.
CCTV yang terhubung dengan ponselnya memperlihatkan ruang keluarga.
Nic melihat Jove berdiri di depan jendela.
Sendirian.
Awalnya ia hanya berniat memastikan keadaan apartemen.
Namun pandangannya tidak beralih.
Ia melihat Jove mengusap wajahnya.
Kemudian perempuan itu menundukkan kepala.
Nic terdiam.
Ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Jove dari rekaman tersebut.
Tetapi ia bisa melihat bahunya yang bergerak pelan.
Jove sedang menangis.
Nic tidak pernah melihatnya seperti itu.
Selama ini Jove selalu terlihat kuat.
Tenang.
Mandiri.
Bahkan ketika mereka berbicara mengenai pernikahan, wanita itu selalu terlihat seolah-olah tidak memiliki keraguan sedikit pun.
Tetapi malam ini, di dalam apartemen yang sebentar lagi akan menjadi rumah mereka, Jove terlihat begitu berbeda.
Nic menatap layar ponselnya cukup lama.
Tangannya sempat bergerak seolah ingin menghubungi Jove.
Namun ia menghentikannya.
Apa yang harus ia katakan?
Tidak ada alasan baginya untuk bertanya.
Tidak ada kesepakatan yang mengharuskan mereka saling menguatkan.
Dan mungkin, Jove memang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Nic akhirnya mematikan layar ponselnya.
Namun sebelum benar-benar meletakkannya, ia kembali melihat layar tersebut sekali lagi.
Jove masih berdiri di sana.
Sendirian.
Menatap kota dari balik jendela besar.
Dan untuk pertama kalinya dari mereka membuat kesepakatan itu, Nic menyadari bahwa pernikahan ini mungkin tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Bukan karena cinta.
Bukan karena perasaan.
Tetapi karena ada dua kehidupan yang sebentar lagi harus mereka tinggalkan untuk memulai kehidupan yang baru.