Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kehangatan Yang Tak Selalu Didapat
Setelah menjemput Jun-seok yang tertidur di rumah orang tua Junho, akhirnya Junho dan Nala kembali ke penthouse mereka. Malam telah turun perlahan di atas Seoul, menyelimuti kota dengan cahaya temaram dari lampu-lampu gedung yang berkilauan di kejauhan.
Jun-seok sudah Junho tidurkan di kamarnya anak itu kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu bersama kakek dan neneknya. Pintu kamarnya telah ditutup rapat dan untuk pertama kalinya sejak pagi, rumah itu kembali benar-benar sunyi.
Nala berdiri di depan jendela kamar, sudah mengenakan pakaian tidurnya. Rambut panjangnya tergerai di punggung, masih sedikit lembap setelah mandi. Kedua tangannya memeluk cangkir teh hangat, membiarkan uap tipisnya menyentuh wajah sebelum perlahan menghilang di udara.
Tatapannya tertuju pada pantulan lampu kota di kaca, tetapi pikirannya seolah sedang berada di tempat lain. Junho keluar dari kamar mandi tak lama kemudian rambutnya masih basah, beberapa helai jatuh di dahinya.
Pakaian tidur yang senada dengan milik Nala melekat ringan di tubuhnya, menegaskan garis bahu yang lebar dan dada bidang yang tetap terjaga meskipun usia pria itu telah melewati setengah abad.
Ia berhenti beberapa langkah di belakang Nala, tidak langsung mendekat seolah sedang bertanya tanpa kata apakah istrinya menginginkan kehadirannya malam ini.
“Kamu belum tidur?” ucapnya akhirnya.
Suara rendah itu membuat Nala menggeleng pelan tanpa menoleh.
“Belum mengantuk,” jawab Nala lirih.
Junho kemudian melangkah mendekat kali ini, ia tidak berhenti. Ia berdiri di samping Nala perbedaan tinggi mereka membuat kepala Nala hanya sejajar dengan bahu pria itu, tetapi keduanya tetap terlihat serasi dalam diam.
Jarak di antara mereka begitu dekat hingga kehadiran satu sama lain terasa nyata—hangat, akrab, dan menenangkan setelah hari yang panjang. Nala tetap menatap keluar jendela, sementara Junho ikut memandang gemerlap Seoul di balik kaca. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara, hanya ada suara samar pendingin ruangan, detik jam yang bergerak perlahan, dan napas mereka yang sesekali terdengar di antara keheningan malam.
Namun, anehnya, diam di antara mereka tidak terasa canggung. Justru terasa seperti rumah.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Junho dengan suara rendah.
“Banyak... Salah satunya masa depan. Aku... kamu... dan Seok, bagaimana?” tanya Nala tanpa menoleh.
Junho justru menoleh, menatap wajah Nala dari samping. Tatapan perempuan itu masih tertuju pada gemerlap lampu Seoul di balik kaca, seolah jawaban yang ia cari bukan sekadar tentang hari esok, melainkan tentang ke mana mereka akan membawa keluarga kecil itu.
“Kamu ingin aku bicara apa tentang masa depan kita?” tanyanya hati-hati.
Nala mengembuskan napas kecil, jemarinya mengusap permukaan cangkir yang mulai kehilangan hangatnya.
“Aku ingin kamu jujur,” jawab Nala pelan.
Kalimat sederhana itu cukup untuk membuat Junho menoleh sepenuhnya kepadanya. Tangannya terangkat, sempat ragu selama sepersekian detik, lalu menyentuh punggung tangan Nala yang masih menggenggam cangkir.
“Aku takut,” katanya pelan.
Dua kata itu jatuh begitu saja di antara mereka; tanpa pembelaan, tanpa penjelasan panjang, tanpa berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya bergejolak di dalam dirinya, karena itulah Nala langsung menoleh.
“Takut apa?” tanyanya.
“Kehilangan ritme,” jawab Junho jujur.
Tatapannya turun sejenak pada jemari mereka sebelum kembali menatap Nala.
“Kita terlalu sibuk menjadi dewasa. Kadang aku lupa bagaimana caranya mendekat tanpa menyakiti. Terkadang... aku pulang dan kamu belum di rumah. Kamu pulang ketika aku belum selesai dengan urusanku. Lalu ada anak itu yang mungkin kehilangan waktunya bersama kita dalam diam.” Junho berhenti sebentar. Rahangnya mengeras samar, seolah mengakui hal itu jauh lebih sulit daripada yang ingin ia tunjukkan.
“Karena itu, terkadang aku merasa kurang sebagai ayah dan suami,” lanjutnya.
Nala menatap pria itu beberapa saat tidak ada kesan bahwa Junho sedang mencari pembenaran. Yang terlihat justru kejujuran yang jarang ia tunjukkan, ketakutan seorang pria yang selama ini terbiasa menjadi tempat bersandar, tetapi diam-diam khawatir dirinya sendiri tidak cukup kuat untuk menjaga semuanya tetap utuh.
Nala kemudian menurunkan cangkirnya ke meja tangannya kini bebas, dan tanpa banyak berpikir, ia menggenggam jemari Junho.
“Aku tidak membutuhkan kamu untuk menjadi sempurna. Sejak awal, aku tidak pernah tergoda oleh kesempurnaanmu,” katanya lembut.
Sudut bibir Junho bergerak tipis, tetapi tidak sampai menjadi senyum. Ada sesuatu yang menghangat di matanya, seolah kalimat sederhana itu berhasil menyentuh bagian dirinya yang selama ini ia sembunyikan terlalu dalam.
Junho menarik napas panjang tangannya terangkat, lalu melingkar di pinggang Nala dengan gerakan tenang dan penuh kesadaran. Tidak terburu-buru menuntut hanya sebuah pelukan sederhana yang seolah mengatakan bahwa untuk malam ini, mereka tidak perlu menyelesaikan seluruh persoalan hidup.
Nala pun bersandar keningnya menyentuh dada Junho, membuat detak jantung pria itu terdengar samar di dekat telinganya—stabil, nyata, dan entah mengapa selalu berhasil membuat kegelisahan di dalam dirinya perlahan mereda.
“Kamu tahu, aku mencintaimu dengan cara yang sering salah,” ucap Junho rendah.
Nala tersenyum kecil.
“Dan aku mencintaimu dengan kesabaran yang kadang habis,” balasnya, membuat Junho tertawa pelan, nyaris tak terdengar.
Tangannya mengusap punggung Nala perlahan, gerakannya teratur dan menenangkan, seolah ingin meredakan sesuatu yang telah lama gelisah di dalam diri mereka berdua. Ia menunduk, lalu menyentuhkan keningnya pada kening Nala.
Napas mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, tidak ada ciuman yang tergesa-gesa, tidak ada kata-kata besar yang perlu diucapkan hanya jeda panjang dan penuh kesadaran yang perlahan membuat rasa aman kembali menemukan tempat nya.
“Kita baik-baik saja, kan?” gumam Nala membuat Junho mengangguk pelan.
“Kita belajar,” balas nya pelan namun dua kata sederhana itu membuat dada Nala terasa sedikit lebih lapang.
Akhirnya, bibir Junho kembali menyentuh dahi Nala; ringan, lama, penuh makna. Bukan ciuman yang menggebu, melainkan sebuah janji sunyi bahwa ia ada, bahwa ia masih memilih tinggal, dan bahwa mereka tidak harus selalu tahu bagaimana menghadapi semuanya selama mereka tetap mau belajar bersama.
Lampu kota terus menyala di luar sana. Dunia berjalan seperti biasa, kendaraan masih melintas di jalan-jalan Seoul, sementara gedung-gedung tinggi tetap berdiri dengan jendela-jendela yang memancarkan cahaya dari kehidupan orang-orang di dalamnya.
Namun, malam itu, di kamar yang tenang, dua orang dewasa akhirnya berhenti saling menjaga jarak. Di balik jendela, lampu-lampu kota Seoul menyala seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi, memantul pada kaca-kaca tinggi ruang tidur.
“Kamu ingin bayi lagi?” tanya Junho sembari mengangkat tangannya lalu berhenti tepat sebelum menyentuh Nala, seolah memberinya pilihan untuk menjauh namun, Nala tidak bergerak.
“Ingin... Tetapi, kurasa tidak harus sekarang?” katanya, seolah pertanyaan itu lebih ia tujukan kepada dirinya sendiri daripada kepada Junho.
Junho akhirnya menyentuhnya, mendekat sedikit lagi hingga jarak di antara mereka semakin tipis dan suara napas masing-masing terdengar jelas. Tangannya bergerak perlahan, bukan mencengkeram, hanya menahan dengan lembut. Seolah Junho takut jika ia bergerak terlalu cepat, momen yang begitu rapuh ini akan pecah.
Nala memejamkan mata sesaat bukan karena menyerah tetapi mengizinkan suaminya tanpa banyak kata.
“Mau aku bantu menulis kisah kita?” tanya Junho sambil menatap mata Nala lama.
Nala hanya diam untuk beberapa saat namun ia tidak menghindar ketika Junho menunduk sedikit hingga kening mereka bersentuhan. Napas mereka berbaur dalam jarak yang terlalu dekat untuk sekadar berdiri diam.
“Aku rindu caramu diam seperti ini. Karena aku tahu... kau sedang membiarkanku masuk,” katanya lirih.
Tangan Junho akhirnya berpindah, menyentuh punggung atas Nala bukan untuk menarik nya dengan tergesa, melainkan untuk menunggu Singal kecil jika Nala memang ingin menolak, dan sekarang Nala tidak menolak nya.
Ia tidak berkata apa-apa hanya meletakkan tangannya di dada Junho, merasakan detak jantung pria itu yang berdetak jauh lebih cepat daripada ketenangan yang terpancar dari wajahnya.
“Ayo tulis bersama aku,” lanjut Junho.
Nala mendongak dan saat tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik sebelum akhirnya Nala mengangguk pelan.
“Tolong buat ending yang bahagia,” pintanya.
Nala kemudian berjinjit, meraih bibir suaminya, lalu mengecupnya pelan dan tenang. Begitu Nala menarik diri, Junho mengembuskan napas perlahan. Sebuah tawa kecil tanpa suara nyaris lolos dari bibirnya, seperti seseorang yang akhirnya diizinkan pulang setelah perjalanan yang begitu panjang.
Ia kembali memeluk Nala, pelukan itu erat tetapi tetap lembut—sebuah kehangatan yang menyampaikan sesuatu yang tidak perlu diucapkan: aku di sini.
Dan malam itu, tanpa kata-kata berlebihan, tanpa gerakan yang perlu dijelaskan, ketegangan yang sejak pagi mereka simpan perlahan menemukan tempat untuk mereda.
Bukan dengan tergesa-gesa tapi melalui keheningan yang hanya dapat dipahami oleh dua orang yang telah mengenal satu sama lain begitu lama.
Ketenangan itu terasa hangat, nyaris membakar, tetapi tidak menakutkan. Justru seperti api kecil yang dijaga agar tetap menyala; cukup untuk mengusir dingin, tanpa perlu membakar apa pun.
Malam menutup dirinya perlahan, seperti tirai yang ditarik dengan penuh kehati-hatian. Junho mematikan lampu, menyisakan cahaya tipis dari kota yang merambat masuk melalui jendela besar. Bayangan gedung-gedung Seoul jatuh samar di lantai, sementara cahaya dari kejauhan membentuk garis-garis lembut di dalam kamar.
Nala masih berada dalam pelukannya.
Tidak ditarik dengan paksa, tidak pula dibiarkan menjauh. Hanya ada dua orang yang akhirnya berhenti menjaga jarak, membiarkan keheningan mengambil alih percakapan yang tidak lagi membutuhkan kata-kata.
“Pelan... Oppa...” Suara Nala terdengar lirih di antara keheningan malam.
Junho tidak menjawab dengan kata-kata dia hanya menundukkan kepala, menyentuhkan dahinya pada dahi Nala. Gerakan kecil itu terasa begitu intim; sederhana, tetapi penuh pengertian.
Nala memejamkan mata untuk sesaat, ia membiarkan dirinya larut dalam rasa aman yang selama ini ia rindukan. Malam itu tidak perlu diingat sebagai rangkaian peristiwa, tetapi cukup sebagai perasaan.
Perasaan tentang dua jiwa yang akhirnya berhenti saling menahan, dua hati yang kembali menemukan tempat untuk beristirahat setelah seharian berjalan terlalu jauh.
Di balik pintu kamar, rumah tetap sunyi namun di dalamnya, dunia mereka mengendap perlahan, menyisakan kehangatan yang hanya mereka berdua pahami.
Dan malam pun berlalu.