Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Belum ... Hanya berkencan," jawab Alethea dengan bahasa isyarat.
"Sama saja itu!" cebik Catherine judes membuat Satoru tersenyum manis.
"Maaf ya, membuat kalian harus bertengkar," ucap Satoru sambil memakai bahasa isyarat ke Catherine.
"Kami tidak bertengkar. Aku hanya kesal tidak ada yang cerita padaku!" jawab Catherine.
"Ini kami cerita," kekeh Satoru membuat wanita di depannya cemberut.
"Apapun. Aku senang kamu membuat Alethea tersenyum lagi," balas Catherine.
"Dōmo Arigato," ucap Satoru sambil membungkuk sopan.
"Selera kamu memang blasteran Jepang ya Thea," goda Catherine.
"Hanya kebetulan. Hanya kebetulan," jawab Alethea sambil menghampiri Satoru. "Kapan datang?"
Satoru merengkuh pinggang Alethea dan mencium pipinya. "Tadi pagi dan aku langsung kemari usai check in di apartemen tanteku."
"Tantemu?" Alethea menatap bingung.
"Yup. Tanteku punya apartemen di Washington. Siapapun anggota keluarga boleh pakai selama ada acara di sini. Lumayan tidak harus ke hotel tapi memang tidak ada makanan, hanya minuman dingin. So, apa kamu mau menemani aku berbelanja?" jawab Satoru.
Catherine hanya pura-pura tidak dengar meskipun kenyataannya memang dia tuna rungu tapi tetap kepo. Catherine bisa membaca bahasa bibir dan dia merasa malu mendengar ucapan mesra Satoru ke Alethea.
"Bisa. Nanti habis kerja ya. Kebetulan ada pasar sore atau kita ke market?" tawar Alethea.
"Anytime. Aku tunggu di restoran depan ya. Sekalian buat sketsa buat proyek aku ke depannya." Satoru menunjuk ke sebuah restoran depan museum.
"Oke." Alethea tersenyum manis.
"Aku pergi dulu." Satoru mencium pipi Alethea lagi dan melambaikan tangannya ke Catherine. "Senang bertemu denganmu, Catherine."
"You're welcome." Catherine melambaikan tangannya ke Satoru dan pria itu pun pergi.
Catherine lalu mendekati Alethea. "Apakah Jenny tahu?"
"Mungkin," senyum Alethea.
"Kalian bertemu dimana?" tanya Catherine kepo.
"Cedliff."
Catherine mengangguk lalu tersentak. "Apa?"
***
Satoru pun duduk di kursi restoran dan mulai memesan makanan serta minuman. Pria itu mengambil iPad nya dan mulai membuat sketsa. Obyeknya kali ini bukan Alethea karena itu sangat pribadi sekarang. Satoru tidak mau terlalu over sharing wanita itu. Lukisan yang kemarin, cukup dirinya yang pegang.
Ponselnya bergetar dan Satoru melihat di layar siapa yang menghubungi dirinya. Dia pun menerimanya.
"Halo Tante Joy," sapa Satoru.
"Satoru, ini di toko roti Tante, ada wanita bernama Jennifer Lawrence, direktur museum di Washington. Katanya dia tahu Crystal Valley dari kamu. Benarkah?" tanya Joy O'Grady Andrews.
"Benar. Aku bilang coba datang ke Crsytal Valley saat musim dingin seperti ini. Januari kan bulan paling pas buat ke sana," jawab Satoru.
"Oh baiklah. Tante hanya bingung saja. Terima kasih atas promonya ya Satoru," senyum Joy. "Kamu lagi di mana Satoru?"
"Washington, Tante."
"Mampir ketemu Allegra ya?" pinta Joy.
"Absolutely. Aku agak lama di Washington."
"Terima kasih, Satoru."
"Sama-sama Tante." Satoru mematikan panggilannya.
Joy dan Ben akhirnya dikaruniai seorang anak perempuan setelah tujuh tahun menunggu. Sayangnya, putri mereka yang bernama Allegra, mengalami tuna rungu. Meskipun mereka sedih dengan kondisi Allegra, tapi dukungan keluarga O'Grady sangat besar hingga baik Joy dan Ben bisa menerima putri cantik mereka. Sekarang Allegra sedang menyelesaikan pendidikannya di Gallaudet University, almamater Savrinadeya McCloud Bianchi dulu ( Baca Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena ).
Keluarga klan Pratomo juga tidak mempermasalahkan kondisi Allegra karena mereka ada keluarga yang mengalami hal yang sama. Bahkan menantu mereka tuna rungu, yaitu Astuti McCloud dan Aji Yung.
Hoshi sampai pernah bilang, "Imperfections in perfection" berarti adanya ketidaksempurnaan, kekurangan kecil, atau cela di dalam sesuatu yang secara keseluruhan sudah terlihat atau dianggap sempurna."
Bayu O'Grady dan Ajeng malah memberikan semangat ke Joy dan Ben dengan memberikan kartu ucapan yang tertulis :
“In a world obsessed with perfection, there is something beautiful about being beautifully imperfect.” Di dunia yang terobsesi dengan kesempurnaan, ada sesuatu yang indah dari menjadi seseorang yang indah dalam ketidaksempurnaannya.
Allegra tumbuh menjadi gadis yang percaya diri dan seperti ayah ibunya, dia jago matematika serta membuat roti. Sekarang di kampus Gallaudet, Allegra kuliah di fakultas Science mengambil jurusan biologi.
"Allegra lagi ngapain ya? Aku kirimkan pesan saja." Satoru mengirimkan pesan ke adik sepupunya dan tak lama balasan pun masuk.
📩 Allegra Andrews : Mas Toru! Kemana saja! Kapan mau lukis aku?
Satoru tersenyum. "Dasar!"
📩 Satoru Shinoda : Kamu ada kuliah nggak? Kalau nggak, Mas ajak makan siang di restoran XX depan museum. Mas traktir.
Satu detik kemudian balasan masuk.
📩 Allegra Andrews : Tunggu sepuluh menit! Aku kesana!
Satoru mengernyitkan dahinya. "Sepuluh menit? Bukannya kampusnya jauh ya?"
***
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alethea langsung menuju restoran tempat Satoru memintanya datang. Pria itu mengatakan akan menunggunya di sana untuk berbelanja bersama.
Alethea memasuki restoran dengan langkah santai. Matanya segera menyapu seluruh ruangan, mencari sosok Satoru. Namun langkahnya mendadak terhenti.
Di salah satu meja dekat jendela, Satoru memang ada di sana. Tetapi dia tidak sendiri.
Seorang gadis muda duduk di hadapannya. Rambutnya panjang dan tergerai, wajahnya terlihat lembut. Satoru bahkan tampak cukup akrab dengannya. Sesekali pria itu tersenyum dan berbicara kepadanya sambil menunjuk menu di atas meja.
Alethea terdiam. Senyumnya perlahan menghilang.
"Jadi ini alasannya..." gumamnya pelan. Dia berjalan mendekati meja mereka. Satoru yang menyadari kedatangannya langsung tersenyum.
"Alethea."
Namun Alethea tidak membalas senyumnya. "Siapa dia?"
Satoru mengerutkan kening. "Dia?"
Alethea menatap gadis di hadapan Satoru, kemudian kembali menatap pria itu. "Jangan pura-pura tidak mengerti."
Nada suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. Satoru terdiam beberapa detik. "Alethea, tunggu ...."
"Kamu bilang menungguku untuk berbelanja. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu sudah punya teman."
Gadis itu tampak bingung. Dia memperhatikan Alethea dan Satoru secara bergantian.
Satoru segera berdiri. "Ini bukan seperti yang kamu pikirkan."
"Benarkah?" Alethea menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalau aku datang terlambat sedikit, mungkin kalian sudah selesai makan malam romantis."
"Alethea."
"Aku tidak marah karena kamu makan bersama perempuan lain, Satoru. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa."
"Aku memang tidak mengatakan karena ...." Satoru berhenti sejenak, lalu menghela napas. "Karena aku tidak menyangka kamu akan langsung menyimpulkan seperti ini."
Alethea terdiam.
Satoru kemudian menunjuk gadis yang masih duduk tenang di kursinya. "Dia adikku."
Mata Alethea mengerjap-ngerjap tanda bingung. "Apa?"
"Namanya Allegra. Allegra Andrews." Satoru kemudian berjongkok sedikit di samping kursi gadis itu dan mengatakan sesuatu menggunakan bahasa isyarat.
Allegra tersenyum kecil.
Alethea memperhatikan gerakan tangan Satoru dengan kebingungan.
Satoru kembali menatapnya. "Allegra tuna rungu."
Raut wajah Alethea seketika berubah.bRasa marah yang tadi memenuhi dadanya perlahan menghilang, digantikan rasa malu. "Adikmu?"
Satoru mengangguk. "Adik sepupuku."
Allegra kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Dia memperlihatkan layar kepada Alethea.
Senang bertemu denganmu. Kak Satoru sering membicarakanmu.
Mata Alethea membesar. Dia menatap Satoru. "Kamu sering membicarakanku?"
Satoru langsung terlihat salah tingkah. "Allegra terlalu banyak bicara."
Allegra segera mengetik sesuatu lagi. Aku tidak bisa bicara. Tapi aku bisa membongkar rahasiamu.
Alethea spontan tertawa.
Satoru mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Pengkhianat."
Allegra tersenyum lebar. Ketegangan yang tadi memenuhi meja itu akhirnya mencair. Alethea menarik kursi dan duduk di samping Satoru.
"Maaf," ucapnya dalam bahasa isyarat.
Satoru meliriknya. "Untuk?"
Alethea menundukkan wajahnya sedikit. "Aku tadi mengira dia kekasihmu," jawabnya sambil tetap memakai bahasa isyarat dengan tangannya.
Satoru menatap Alethea beberapa saat. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu cemburu?"
Alethea langsung menatapnya. "Tidak."
"Yakin?"
"Yakin."
Allegra yang memperhatikan keduanya langsung tersenyum. "Aku tidak menduga kak Alethea bisa bahasa isyarat dan cemburu padaku."
Alethea menutup wajahnya dengan kedua tangan. "This is so embarrassing."
Satoru tertawa kecil. "Kalau suatu hari aku punya kekasih, kamu akan menjadi orang pertama yang kukenalkan kepadanya."
Alethea menurunkan tangannya. "Kenapa?"
Satoru menatapnya cukup lama. "Karena orang itu pasti harus mengenal perempuan yang sangat berarti bagiku. Oh, sepupu perempuan aku banyak dan cantik-cantik jadi jangan terlalu cemburu ya."
Alethea terdiam. Pipinya perlahan memerah. Sementara Allegra hanya tertawa tanpa suara.
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia