Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
BAB 18
Salah Paham
Mayang akhirnya berpamitan setelah Bagas dan Joanda datang ke rumah sakit. Namun, Dinda yang masih berada di tubuh Daffa memilih untuk tetap tinggal. Bagaimanapun juga, meskipun kini ia berada dalam tubuh orang lain, Sarah tetaplah ibunya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Sarah pun berangsur membaik. Setelah mendapatkan perawatan dan beristirahat beberapa jam, tubuhnya mulai terasa lebih tenang. Dokter juga memastikan bahwa kondisinya sudah cukup stabil untuk menjalani pemulihan di rumah.
Malam harinya, Sarah akhirnya diperbolehkan pulang. Bagas dan Joanda membawanya kembali ke rumah dengan hati yang sedikit lebih lega. Meski masih terlihat lemas, setidaknya Sarah sudah sadar sepenuhnya dan tidak lagi mengalami syok seperti sebelumnya.
Dinda yang masih diliputi kekhawatiran tetap mengikuti mereka masuk ke dalam rumah, meskipun saat itu ia berada di dalam tubuh Daffa. Ia ingin memastikan sendiri keadaan ibunya setelah kejadian yang membuat semua orang panik.
Namun, entah kenapa, sikap Sarah terhadapnya justru terasa berbeda. Sarah tampak acuh dan sama sekali tidak memberikan perhatian kepada Dinda, yang di matanya adalah Daffa.
"Ibu mau istirahat di kamar, Yah. Sekalian ada yang mau Ibu bicarakan," ujar Sarah kepada Bagas.
Setelah itu, tatapannya beralih kepada Daffa. "Dan kamu, Dinda, masuk ke kamar kamu!"
Dinda tertegun. Nada suara ibunya terdengar tegas, bahkan sedikit dingin. Suasana yang sebelumnya sudah cukup mengkhawatirkan mendadak berubah menjadi tegang. Apalagi Sarah sama sekali tidak mau menoleh kepada Daffa, padahal Dinda yang berada di dalam tubuh pemuda itu masih ingin memastikan kondisi ibunya sendiri.
Dinda hendak mendekat, tetapi Daffa segera menahannya dengan tatapan.
"Cil, lebih baik lu pulang sekarang. Ada gue, jadi lu tenang aja," ujar Daffa setengah berbisik.
Dinda menggeleng pelan. Ia masih ingin ikut memastikan keadaan Sarah. Bagaimanapun juga, perempuan yang baru saja dibawa pulang dari rumah sakit itu adalah ibunya.
Namun, sebelum Dinda sempat menjawab, suara Sarah kembali terdengar.
"Dinda, masuk!"
Perintah itu membuat Dinda terdiam. Ia menatap Sarah yang sudah berjalan menuju kamar bersama Bagas. Ada sesuatu yang terasa janggal. Bukan hanya karena ibunya tiba-tiba bersikap dingin, tetapi juga karena Sarah seolah sengaja menghindari tatapan Daffa.
Dinda pun perlahan menoleh kepada Daffa. Daffa hanya menghela napas, lalu memberi isyarat kecil dengan kepalanya, agar Dinda mau menuruti.
"Emm, Daffa pulang dulu Tante, Om." Pamit Dinda.
"Hmm." Jawab Sarah sekenanya.
Dinda dan Daffa sama-sama merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Perubahan sikap Sarah yang begitu tiba-tiba membuat keduanya tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Dinda pun akhirnya melangkah meninggalkan rumahnya dan masuk ke rumah Daffa yang berada tidak jauh dari sana. Sesekali ia masih menoleh ke arah rumahnya sendiri, seolah berharap bisa melihat sesuatu yang dapat menjelaskan sikap aneh ibunya.
Setelah sampai di kamar Daffa, Dinda segera menutup pintu. Ia kemudian berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya terus berputar.
"Ada apa sebenarnya sama Ibu?" gumamnya.
Dinda mencoba mengingat kejadian sejak mereka pulang dari rumah sakit. Sarah memang terlihat lelah, tetapi sikapnya kepada Dinda terasa berbeda. Bahkan ketika Dinda mendekat dalam tubuh Daffa, ibunya seolah sengaja menghindari tatapannya.
"Kenapa Ibu kayak nggak mau lihat gue?"
Dinda mengusap wajahnya frustrasi.
Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Apakah Sarah mengetahui sesuatu?
Atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit?
Dinda terdiam cukup lama. Ia kemudian bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
"Jangan-jangan..."
Pikiran buruk mulai muncul, tetapi buru-buru ditepisnya.
"Nggak. Nggak mungkin."
Dinda menggeleng kuat-kuat. Ia tidak ingin berprasangka buruk kepada ibunya sendiri. Namun, satu hal yang membuatnya semakin tidak tenang adalah kenyataan bahwa Sarah tadi sama sekali tidak mau menatap dirinya yang berada di tubuh Daffa.
Padahal selama ini, ibunya selalu ramah kepada Daffa. Lalu kenapa sekarang berubah?
Dinda menghela napas panjang. Ia benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di rumahnya.
***
Perubahan sikap Sarah ternyata bukan tanpa alasan.
"Ada apa, Bu?" tanya Bagas yang merupakan ayah Dinda.
Sarah terdiam. Ia tampak ragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara wajahnya masih menyimpan kesedihan dan kekecewaan.
Bagas semakin bingung melihat sikap istrinya.
"Bu...?"
Sarah menarik napas panjang. Ingatan tentang kejadian siang tadi kembali memenuhi kepalanya.
Saat itu, tanpa sengaja Sarah melihat Daffa berada di kamar Dinda. Pemuda itu sedang berjongkok di hadapan Dinda yang duduk di atas tempat tidur dengan posisi ke dua paha terbuka. Posisi mereka terlihat begitu dekat. Daffa menunduk dengan wajah serius, sementara Dinda tampak meringis seolah sedang menahan sesuatu.
Pemandangan singkat itu langsung membuat pikiran Sarah dipenuhi berbagai dugaan.
Jantungnya berdebar hebat. Tubuhnya mendadak lemas hingga pandangannya berkunang-kunang. Sarah bahkan tidak sempat bertanya apa yang sebenarnya mereka lakukan sebelum akhirnya terhuyung dan kehilangan kesadaran.
Kini, ingatan itu kembali membuat dadanya terasa sesak. Sarah mendesah berat, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ibu nggak tahu harus ngomong dari mana, Yah..."
Bagas duduk di sampingnya.
"Coba cerita pelan-pelan. Jangan dipendam sendiri."
Sarah menurunkan tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu melihat Dinda sama Daffa di kamar."
Bagas mengernyit.
"Terus?"
Sarah menelan ludah. Ia masih merasa berat mengucapkannya.
"Ibu melihat mereka dalam keadaan yang... menurut Ibu nggak seharusnya."
Bagas terdiam. Sarah kemudian mengusap sudut matanya.
"Ibu takut mereka sudah melakukan sesuatu yang tidak pantas."
Deg!
Jantung Bagas seolah berhenti sesaat. Ia menatap istrinya dengan wajah penuh keterkejutan, mencoba mencerna perkataan tersebut.
"Apa?"
Sarah kembali menunduk.
"Nikahkan mereka, Yah."
Bagas masih membisu. Sarah menggenggam tangan suaminya erat.
"Kalau memang mereka sudah melakukan kesalahan, setidaknya kita harus bertanggung jawab. Ibu nggak mau nama Dinda rusak."
Bagas menghela napas panjang. Ia sebenarnya masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Namun, sebelum mengambil keputusan, ia harus memastikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu..." Bagas menatap istrinya serius. "Kita jangan langsung mengambil kesimpulan. Kita cari tahu dulu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Siapa tahu, ibu salah lihat."
"Nggak, Yah. Ibu yakin."
Sarah menghela napas berat.
"Bahkan Dinda sampai...., ah...Ibu nggak sanggup kalau ingat itu lagi."
Sarah kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia teringat samar-samar suara anaknya mendesah karena meringis. Ia sangat malu menjabarkan apa yang sudah ia lihat.
Melihat reaksi istrinya, Bagas hanya bisa terdiam. Ada kekecewaan yang begitu jelas tergambar di wajahnya. Bukan semata-mata karena apa yang telah terjadi pada Dinda, melainkan karena ia merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai seorang ayah.
Bagas menghela napas panjang dan berat. Tatapannya kosong beberapa saat sebelum akhirnya ia mengambil keputusan yang sebenarnya tidak pernah ia bayangkan akan terjadi secepat ini.
"Baiklah..." ucap Bagas pelan.
Sarah menatap suaminya.
"Kita nikahkan mereka."
Ucapan itu membuat Sarah terdiam.
"Panggil Dinda. Ayah mau bicara sama dia."
Sarah tidak langsung menjawab. Namun, setelah beberapa saat, ia akhirnya bangkit dari duduknya. Meski hatinya masih dipenuhi amarah dan kekecewaan, Sarah tidak ingin melampiaskannya kepada anak sendiri.
Ia berjalan menuju kamar Dinda. Sesampainya di depan pintu, Sarah mengetuk beberapa kali.
"Din?"
Tidak ada jawaban.
Sarah kembali mengetuk.
"Din, Ayahmu ingin bicara sama kamu."
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.
Dinda yang sebenarnya adalah Daffa muncul di balik pintu. Begitu melihat wajah Sarah, ia langsung merasa tidak nyaman.
"Ada apa, Bu?"
Daffa sebenarnya paling enggan berhadapan dengan orang tua Dinda, terlebih dalam situasi seperti ini. Ia masih belum tahu harus menjelaskan apa kepada mereka. Setiap kali melihat wajah Sarah dan Bagas, ia selalu teringat bahwa dirinya sedang menjalani kehidupan yang bukan miliknya.
Namun kali ini raut wajah Sarah membuat Daffa sedikit khawatir. Wajah wanita itu terlihat kecewa sekaligus marah. Meski begitu, Sarah masih berusaha menahan emosinya.
"Sana, temui saja Ayahmu," jawab Sarah singkat.
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu