NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rubah Manjaku

Di dalam studio lukisnya yang nyaman, Chandra masih menggaruk-garuk kepalanya dengan ujung kuas.

"Aduh, mau melukis apa yah hari ini? Melukis pemandangan kok terkesan biasa banget, kalau melukis abstrak nanti dibilang coret-coretan anak TK sama Kakek Lubis... "

Tanpa Chandra sadari, setiap kali pikirannya bekerja keras membayangkan konsep maha karya, aura dewa di dalam tubuhnya secara tidak sengaja bocor keluar melalui ujung kuas yang dipegangnya.

Glegar!!!

Suara petir emas menyambar di atas atap galeri, membuat kaca-kaca jendela bergetar hebat. Langit di atas kota bunga teratai semakin gelap gulita, bergulung-gulung membentuk pusaran raksasa yang mengerikan.

Di luar galeri, Dila yang baru saja melompat dari pagar terhenyak di atas atap tetangga. Langkah kakinya yang anggun mendadak gemetaran. Tekanan aura yang sangat dahsyat menekan dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.

"Tekanan aura apa ini! Sesak sekali... Ini bukan cuma level Grandmaster biasa, bahkan Ketua Dandi pun pasti tidak akan sanggup menahan energi sebesar ini! "

Dila memegang dadanya yang terasa nyeri, matanya menatap cemas ke arah jendela studio di lantai dua.

"Aku harus melihat siapa sosok dewa yang sedang bersembunyi di dalam sana... "

Dengan sisa tenaganya, Dila menggunakan jurus meringankan tubuh. Dia melayang tanpa suara, menempel pada dinding luar studio dan mengintip dari balik celah jendela yang sedikit terbuka.

Melalui celah tersebut, Dila mengintip ke dalam ruangan.

Tampak seorang pemuda tampan sedang duduk santai di kursi roda yang bisa diputar, memakai kaos oblong sederhana sambil meniup-niup ujung kuasnya.

Dila melotot tidak percaya.

"Hah? Cuma pemuda biasa? Mana mungkin pemuda sebaya itu punya energi yang sanggup mengguncang langit dan bumi? Apa liontin Giok ini yang rusak? "

Tiba-tiba, pintu studio terbuka pelan. Yueji muncul dari balik pintu sambil membawa mangkuk bubur yang tadi dibawakan Sisi. Yueji berjalan dengan gaya manja, badannya masih agak lemas namun matanya berbinar-binar menatap Chandra yang sedang duduk di kursi kerja.

"Sayang... Aku suapin buburnya yah? Tapi habis ini kamu harus janji peluk aku sepuasnya... "

Chandra yang melihat Yueji masuk langsung menepuk jidatnya sendiri.

"Astaga, Sayang! Kamu kan belum sembuh total, kok malah keluyuran sampai ke studio sih? Nanti kalau perut kamu makin sakit gimana? "

"Ih, kan aku mau dekat-dekat sama suamiku! Kata orang tua zaman dulu, kalau dekat sama suami penyakitnya cepat hilang tau! "

Yueji tidak memedulikan teguran Chandra. Dia malah menyodorkan tubuhnya dan langsung duduk di pangkuan Chandra tanpa permisi, membuat kursi putar tersebut bergoyang-goyang kencang.

Chandra meringis panik sambil memegangi pinggiran meja.

"Sayang, pelan-pelan dong! Nanti roda kursinya patah, ini kursi baru beli tau! "

Yueji tidak peduli, dia malah membenamkan wajah cantiknya di leher Chandra sambil menggesek-gesekkan hidungnya yang mancung.

"Biarin, biarin patah! Nanti beli lagi yang baru! Yang penting aku mau manja-manja sama kamu! "

Dila yang mengintip dari balik jendela seketika membeku. Matanya menatap wanita yang sedang memangku pemuda itu dengan tatapan horor.

Tunggu... Bau aura ini! Rubah Ekor Sembilan tingkat tinggi?!

Dila merinding hebat, badannya gemetaran hingga pegangannya pada dinding studio hampir terlepas.

Ratu siluman rubah yang terkenal sangat ganas, kejam, dan legendaris di catatan kuno ratusan tahun lalu... Sekarang malah bermanja-manja seperti kucing rumahan di pangkuan pemuda biasa?!

Siapa sebenarnya laki-laki ini?! Kenapa Ratu Siluman Rubah begitu tunduk dan bertingkah menggemaskan padanya?!

Dila tidak sanggup lagi menahan rasa terkejutnya. Sebelum keberadaannya disadari oleh Yueji, Dila dengan cepat meloncat mundur, menghilang di kegelapan malam untuk melaporkan kejadian ini kepada Dandi.

Sementara itu di dalam studio, Yueji mulai bertingkah nakal lagi. Tangannya yang lembut kembali merayap turun dari dada Chandra.

"Sayang... Sakit perut aku udah mendingan nih. Gimana kalau kita lanjut yang tadi? "

Chandra seketika menahan tangan Yueji dengan wajah memerah.

"Sayang, kamu ini baru saja makan bubur separuh! Obat dari dokter juga belum kamu minum! Jangan aneh-aneh dulu yah? "

"Tapi aku maunya sekarang, Suamiku... " Yueji membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Chandra dengan nada yang sangat menggoda, membuat bulu kuduk Chandra berdiri seketika.

"Aduh, kamu ini benar-benar bikin pusing! " Chandra menepuk dahinya, berusaha keras menjaga kesadarannya agar energi dewanya tidak meledak lagi karena panik.

Sementara itu, Dila sudah kembali ke tempat Dandi menunggu di sudut jalan pasar yang sepi. Angin malam berembus kencang membawakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Dandi sedang berdiri sambil terus memutar tasbih kayunya dengan cepat. Begitu melihat Dila mendarat di hadapannya dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi, Dandi langsung menghentikan gerakan tangannya.

"Dila! Bagaimana? Kamu sudah menemukan sumber pusaran energi dewa itu? "

Dila berlutut di hadapan Dandi, dadanya masih naik turun karena kelelahan dan rasa takut yang luar biasa.

"Ketua... Saya... Saya sudah menemukannya! "

"Bagus! Siapa dia? Apakah dia seorang Leluhur tua dari sekte tersembunyi yang sedang mengasingkan diri di Alam Fana ini? " tanya Dandi dengan mata berbinar penasaran.

Dila menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Bukan, Ketua! Dia... Dia hanyalah seorang pemuda yang sangat muda. Di mukanya sama sekali tidak ada tanda-tanda kultivasi kuno, tapi... "

"Tapi apa, Dila? Bicara yang jelas! " tegur Dandi dengan nada tidak sabar.

"Tapi di sampingnya ada Ratu Siluman Rubah Ekor Sembilan! Wanita itu sangat tunduk padanya dan memanggilnya suami! Bahkan energi petir emas tadi keluar hanya karena pemuda itu sedang kebingungan mau melukis apa di kanvasnya! "

Mendengar ucapan Dila, tasbih kayu di tangan Dandi seketika terlepas dan jatuh ke tanah. Matanya membelalak lebar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa kamu bilang?! Hanya karena kebingungan mau melukis, dia sanggup memicu fenomena alam dan mengguncang langit surgawi?! "

"Benar, Ketua! Saya menyaksikan sendiri dengan mata kepala saya! Tempat itu dinamakan Galeri Seni Teratai Hitam! "

Dandi menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak di dalam dadanya.

"Ini sungguh gila... Keberadaan pakar setingkat itu di dunia fana pasti punya maksud tertentu. Kita tidak boleh memprovokasinya sama sekali! "

Dandi lalu mengambil liontin Giok dari tangan Dila yang masih gemetaran.

"Dila, besok pagi kita harus kembali ke Paviliun Surgawi untuk melaporkan hal ini secara langsung kepada Romo. Biarkan Romo sendiri yang memutuskan apakah kita harus memberi penghormatan kepada beliau atau tetap berpura-pura tidak tahu! "

"Baik, Ketua! " jawab Dila tegas.

Keesokan harinya di Galeri Seni Teratai Hitam.

Matahari pagi mulai menyinari halaman depan galeri yang asri. Kakek Lubis tampak sedang menyapu halaman depan sambil bersiul-siul kecil. Bau harum aroma bubur ayam buatan Sisi tercium dari arah dapur belakang.

Chandra keluar dari dalam rumah dengan wajah yang tampak sangat lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya.

Kakek Lubis yang melihat Chandra keluar langsung menghentikan sapunya dan tersenyum jahil.

"Selamat pagi, Chandra! Wah, muka kamu kok lesu sekali pagi ini? Apa leluhur bikin ulah lagi semalaman? "

Chandra mendengus kesal sambil meregangkan tangannya yang pegal-pegal.

"Paman jangan nanya-nanya deh! Mending Paman bantu aku siapin cat lukis di studio daripada ngurusin hal yang tidak-tidak! "

Kakek Lubis tertawa terkekeh-kekeh melihat ekspresi Chandra.

"Ayoyoy, makanya kamu harus sabar, Chandra! Punya istri ratu siluman memang butuh tenaga ekstra! Tapi ingat, kamu kan suami yang bertanggung jawab! "

"Iya, iya, Paman! Aku tahu! " balas Chandra sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.

Di dapur, Sisi sedang sibuk menata mangkuk dan menyiapkan sarapan. Melihat Chandra masuk, Sisi langsung membungkukkan badannya dengan sopan.

"Selamat pagi, Tuan. Makanan untuk nyonya dan Tuan sudah siap. "

"Terima kasih yah, Sisi. Oh ya, Yueji sudah bangun belum? "

"Nyonya sudah bangun, Tuan. Sekarang nyonya sedang berdandan di dalam kamar, katanya mau tampil cantik karena Tuan janji mau ajak jalan-jalan kalau sudah sembuh. "

Chandra tersenyum tipis mendengar jawaban Sisi. Walaupun terkadang Yueji sangat manja dan suka merepotkan, tapi kepolosannya selalu berhasil membuat Chandra luluh.

"Bagus deh kalau dia sudah segar lagi. Yasudah, kamu sarapan juga yah, Sisi. "

"Baik, Tuan. Terima kasih. "

Chandra meminum air dinginnya hingga kandas, lalu melangkah kembali ke arah kamar tidur mereka. Dia membuka pintu secara perlahan.

Di dalam kamar, Yueji tampak sedang berdiri di depan cermin besar, mencoba beberapa gaun anggun yang dibelikan Chandra minggu lalu. Melihat Chandra masuk dari cermin, Yueji langsung berbalik dan tersenyum manis.

"Sayang! Lihat deh, gaun yang ini bagus tidak kalau dipakai makan keluar nanti malam? "

Chandra menatap istrinya yang kini tampak begitu anggun dan cantik. Rasa lelah yang dirasakannya semalaman seketika sirna begitu saja.

"Bagus banget, Sayang. Kamu pakai baju apa saja selalu kelihatan cantik kok. "

Mendengar pujian itu, pipi Yueji merona merah. Dia langsung berlari kecil dan memeluk leher Chandra dengan erat.

"Makasih, Suamiku yang paling tampan! "

Chandra tertawa pelan sambil membalas pelukan istrinya dan membelai rambut hitamnya yang halus.

"Sama-sama, Rubah manjaku. "

1
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!