Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Pertama
Hari itu, Esmera memutuskan untuk keluar dari kastil. Dia tidak ingin berdiam diri terlalu lama, masih banyak informasi yang harus dia cari tahu. Lagipula dia sedikit trauma jika terus berada di dalam kamar besar itu, mengingatkannya pada istana.
Semuanya yang tampak indah dan berkilau membuatnya tidak nyaman.
Kastil pribadi Edris memang jauh lebih tenang dibandingkan istana, tetapi bagi Esmera, berada di dalam bangunan sebesar itu tanpa bisa pergi sesuka hati tetap saja terasa seperti dikurung dan membuka luka lama.
Esmera memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan yang berada di pusat kota, ada beberapa hal yang ingin ia cari tahu, terutama tentang keluarga aslinya, dan beberapa catatan lama yang mungkin bisa membantunya memahami keadaan yang sedang terjadi.
Namun, baru saja gadis itu keluar dari kamarnya, ada dua ksatria dan dua pelayan yang selama ini bertugas melayaninya segera menghampiri.“Nona Esmera.”
Esmera berhenti dan menatap mereka satu per satu.“Ada apa?”
Salah seorang pelayan segera menundukkan kepala.“Apa ada sesuatu yang Nona inginkan?"
"Aku ingin mengunjungi perpustakaan yang ada di pusat kota, mungkin aku akan kembali pas sore hari,"
Keempat orang itu saling berpandangan.
“Pergi ke pusat kota?” ulang salah satu ksatria, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Esmera mengangguk santai.
Raut wajah para pelayan langsung berubah ragu. Salah seorang bahkan tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.
Esmera menyadari tatapan mereka.“Kenapa? Ada masalah?”
“Tidak, Nona. Hanya saja...” Pelayan itu tampak canggung.“Kami tidak tahu kalau Anda hendak keluar.”
“Dan sekarang kalian sudah tahu.” Esmera hendak melangkah lagi, tetapi kedua ksatria itu secara refleks ikut bergerak dan berdiri di hadapannya.
Esmera mengangkat alis, wajahnya langsung cemberut.
Salah seorang ksatria berkata dengan hati-hati.“Kami mendapat perintah untuk memastikan keselamatan Anda."
“Aku hanya ingin pergi ke perpustakaan, bukan pergi ke medan perang. Tidak ada yang akan menyerang ku."
“Kami mengerti, Nona. Namun..”
Esmera menghela napas.“Jangan salah paham.”
Keempat orang itu kembali terdiam.
Esmera menyilangkan kedua tangannya di depan dada.“Aku bukan siapa-siapa bagi Raja Edris.”
Para pelayan saling berpandangan lagi.
Esmera melanjutkan dengan nada datar.“Aku dan Raja Edris hanya partner yang sedang bekerja sama untuk suatu urusan. Tidak lebih dari itu.”
Salah seorang pelayan tampak semakin bingung.“Tapi...”
“Tapi apa?” Esmera mulai kesal.
Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya.“Tidak ada, Nona."
Gadis itu mendengus pelan.“Aku tahu apa yang kalian pikirkan.” Ia melirik ke sekeliling kastil sebelum kembali menatap mereka.
“Nona adalah gadis pertama, bahkan bisa dibilang orang pertama yang dibawa ke kastil pribadi Raja kami, jadi kami berpikir untuk berhati-hati dengan keselamatan dan kenyamanan Anda, Nona Esmera. Mohon untuk mengerti posisi kami." Jelas salah satu pelayan, yang berusaha membuat Esmera mengerti dengan kecemasan mereka.
Esmera terdiam. Aku orang pertama yang dibawa ke sini?
Dia menghela napas panjang."Sudah ku katakan jika kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku akan segera kembali, lagipula Baginda Raja tidak ada di sini, kalian tidak perlu cemas."
Dahulu ketika ada seseorang yang melarangnya, Esmera akan langsung menciut dan menurut tetapi kali ini, dia akan belajar melawan siapapun, walaupun itu Rajanya sendiri.
Tidak ada yang menjawab. Kemudian, salah seorang ksatria akhirnya berkata,“Bukan berarti kami meragukan kemampuan Anda, Nona. Tetapi jika sesuatu terjadi kepada Anda, kami yang akan bertanggung jawab. Kami hanya menjalankan tugas."
“Aku juga hanya akan pergi ke perpustakaan,” katanya lagi.“Setelah selesai, aku akan kembali.”
Kedua ksatria itu kembali saling berpandangan. Mereka tampak ragu untuk membiarkannya pergi sendirian.
Akhirnya salah seorang ksatria mengalah.“Kalau begitu, izinkan kami mengambil jalan tengah.”
Esmera menatapnya.“Jalan tengah?”
“Anda boleh pergi ke pusat kota. Namun, kami harus mengirim satu orang untuk menemani Anda.”
Esmera langsung mengerutkan kening.“Untuk apa?”
“Untuk menjaga keselamatan Anda.”
“Aku sudah bilang..”
“Bukan untuk mengawasi setiap gerakan Anda,” sela ksatria itu cepat.“Hanya untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi selama perjalanan.”
Esmera terdiam sejenak. Dia sebenarnya ingin menolak, tetapi jika terus berdebat, mungkin mereka justru akan melarangnya keluar sama sekali.
Akhirnya ia menghela napas.“Baiklah.”
Para pelayan tampak sedikit lega.
“Tapi hanya satu orang.”
“Baik, Nona.”
Esmera baru hendak berjalan ketika matanya menangkap sesuatu di halaman depan. Dua ksatria kerajaan berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
Esmera menyipitkan matanya.“Bukankah mereka juga ksatria kerajaan?”
Salah seorang ksatria yang berdiri di sampingnya mengangguk.“Benar.”
“Sejak kapan mereka ada di sini?”
“Sejak kemarin, Nona.”
Esmera terdiam.
Kemarin? Jadi selama ini Edris diam-diam menempatkan dua ksatria kerajaan untuk mengawasinya?
Esmera mengembuskan napas kecil.“Jadi begitu.” Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi bukan senyum.
Dia takut aku kabur lagi rupanya.
Entah kenapa, ia justru merasa sedikit geli.
Edris mungkin tidak mengatakannya secara langsung, tetapi keberadaan dua ksatria itu sudah cukup jelas menunjukkan bahwa raja tersebut sama sekali tidak berniat membiarkannya pergi tanpa pengawasan.
Esmera akhirnya berjalan menuju halaman. Salah seorang ksatria segera menyusul di belakangnya.
“Nona, apakah kita langsung berangkat?”
Esmera mengangguk.“Ya.”
Mereka pun bersiap meninggalkan kastil. Esmera naik ke kereta yang telah disiapkan, sementara seorang ksatria kerajaan mengambil posisi sebagai pengawalnya.
Sebelum kereta bergerak, Esmera sempat menoleh ke arah kastil.
Aku harus segera mencari tempat tinggal yang baru, karena semakin hari kastil ini pasti akan jadi seperti penjara, sama seperti kediamanku yang ada di istana.
***
Edris sedang berpikir dalam diam.
Semakin lama ia memikirkan semua perkataan Esmera, semakin sulit baginya untuk menganggap gadis itu hanya sedang mengarang cerita untuk membebaskan dirinya dari pernikahan.
Kemungkinan besar, sembilan puluh persen dari apa yang dikatakan Esmera mengenai Gareth yang akan membelot adalah benar.
Informasi mengenai lebih dari seribu ksatria yang dilatih secara diam-diam, hubungan tersembunyi dengan keluarga Arabella, serta berbagai gerak-gerik Gareth yang selama ini dianggap tidak lebih dari ambisi seorang bangsawan kini mulai terlihat berbeda di mata Edris.
Jika semua itu memang benar-benar terjadi di masa depan, maka Esmera bukan sekadar gadis yang mengetahui sedikit tentang masa depan.
Dia mungkin mengetahui sesuatu yang bahkan belum diketahui oleh siapa pun di kerajaan ini.
Termasuk dirinya sendiri.
Edris menyandarkan tubuhnya pada kursi, tatapannya kosong menatap ke depan. Namun ada satu hal lain yang jauh lebih mengganggunya.
Pernikahannya dengan Esmera.
"Kenapa setiap kali aku menyebut tentang pernikahan gadis itu tampak selalu ketakutan? Apakah pernikahan ini akan menjadi sangat mengerikan untuknya?"
Edris tersenyum tipis."Dia tidak gemetar ketika berhadapan denganku, tetapi matanya akan melebar setiap kali aku membahas pernikahan."
Pria itu kembali terdiam. Ada sesuatu yang menarik dari dalam diri Esmera, yang berhasil membuat rasa takut Edris keluar dari persembunyiannya.
Selama ini tidak ada satu hal pun yang membuat seorang Edris Ruan takut, tidak ada. Namun ketika dia mendengar Esmera kabur, jantungnya langsung berdetak lebih cepat, dan yang lebih parah lagi, ketika Edris melihat wajah Esmera, dia menjadi sangat emosional. Rasanya ingin sekali dia menyeret gadis itu ke tempatnya dan mengikatnya agar tidak bisa kabur lagi.
Edris menarik napas panjang, dia harus mencari tahu lagi, apa yang telah dia perbuat di masa depan sehingga Esmera menjadi sangat muak padanya?