Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Curhatan Randy
Randy menarik napas panjang. Sekali.
Namun, belum juga ia mulai bercerita, dadanya kembali naik turun. Ia menarik napas untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, seolah-olah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Pratiwi tidak menyela. Ia hanya menatap Randy dengan tenang, sesekali mencatat beberapa hal kecil di atas kertas. Sebagai seorang psikolog, ia tahu, terkadang seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengucapkan sesuatu yang sebenarnya sudah lama memenuhi kepalanya.
Beberapa detik kemudian, akhirnya terdengar suara Randy. "Saya seorang duda Tanpa anak."
Suaranya terdengar pelan dan berat. "Saya sudah menikah tiga kali." Randy berhenti sebentar, menundukkan wajahnya. "Tapi semuanya gagal. Dan kalau saya boleh jujur... kegagalan itu sebagian besar karena kesalahan saya sendiri."
Pratiwi menghentikan gerakan pulpennya. Ia menatap laki-laki di hadapannya, tetapi tetap membiarkannya melanjutkan. "Saya selalu ngomongin mantan saya."
Randy tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Lebih tepatnya... cinta pertama saya."
Ia mengusap kedua telapak tangannya yang sejak tadi saling menggenggam. "Saya selalu membanding-bandingkan istri saya dengan dia. Cara bicaranya, sifatnya, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting. Tanpa sadar, saya selalu mencari sosok dia di dalam diri perempuan yang menjadi istri saya."
Randy mengembuskan napas panjang. "Dan akhirnya mereka mundur."
Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi jelas menyimpan penyesalan yang panjang. "Saya juga nggak ngerti kenapa saya bisa begitu mencintainya."
Randy mengangkat wajahnya. Matanya tampak menerawang, seolah pikirannya sedang berjalan jauh ke belakang, menuju sebuah masa yang bahkan mungkin sudah dianggap selesai oleh sebagian besar orang. "Padahal itu sudah hampir tiga puluh tahun lalu."
Pratiwi kembali menuliskan sesuatu. "Tiga puluh tahun..." gumam Randy pelan. "Tapi entah kenapa, sampai sekarang saya masih belum bisa benar-benar melepaskan dia."
Ia terdiam cukup lama. "Saya pisah dengannya bukan karena kami bertengkar. Bukan juga karena kami sudah nggak saling mencintai."
Randy menelan ludah. "Waktu itu ayah saya dipindahtugaskan ke Kalimantan."
Jarinya kembali saling bertaut erat. "Dan sejak saat itu..." Randy berhenti, seakan ada bagian dari cerita yang bahkan sulit untuk ia ucapkan sendiri.
Pratiwi menatapnya lekat-lekat. Randy menarik napas sekali lagi. "Sejak saat itu, hidup saya berubah."Sorot mata Randy tampak benar-benar menyimpan luka lama yang belum selesai.
Pratiwi terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Randy. Tatapannya tetap tenang, tetapi dari sorot matanya terlihat bahwa ia mulai memahami kerumitan yang sedang dihadapi laki-laki di hadapannya.
Ia meletakkan pulpennya di atas meja, lalu sedikit menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Situasinya tampak cukup kompleks, ya, Pak."
Nada suara Pratiwi terdengar lembut, tidak menghakimi dan tidak pula menunjukkan rasa iba yang berlebihan. Sebagai seorang psikolog, ia tahu bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat terburu-buru. Mereka hanya membutuhkan ruang yang aman untuk menceritakan apa yang mereka rasakan.
Randy mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Pratiwi kembali mengambil pulpennya. Ia menatap catatan di hadapannya sejenak, kemudian kembali memandang Randy.
Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Randy bukan hanya masih menyimpan perasaan terhadap perempuan dari masa lalunya. Selama bertahun-tahun, sosok itu ternyata tetap hadir dalam ingatannya dan memengaruhi cara Randy memandang hubungan-hubungan yang datang setelahnya.
Pratiwi tidak langsung bicara kembali. Ia meletakkan pulpennya di atas kertas, lalu menatap Randy dengan tenang. Dari cara laki-laki itu bercerita, Pratiwi bisa merasakan bahwa yang sedang dihadapinya bukan sekadar seseorang yang belum bisa melupakan masa lalu. Ada perasaan yang selama bertahun-tahun mungkin sengaja disimpan, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.
Randy terdiam sejenak. Tatapannya menerawang, seolah ada seseorang dari masa lalu yang kembali hadir begitu saja dalam ingatannya.
"Bagi saya, dia wanita yang sempurna. Lembut, perhatian, dan selalu mengerti saya. Dulu, setiap kali bersamanya, saya merasa tidak perlu menjadi orang lain. Dia menerima saya apa adanya.”
Randy menarik napas panjang. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi senyum itu justru menyimpan sesuatu yang getir.
"Orang bilang cinta pertama itu susah dilupakan. Mungkin saya salah satu buktinya. Sampai sekarang, perasaan itu masih ada. Saya selalu berharap, mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Mungkin diam-diam dia masih mengingat saya seperti saya mengingatnya.”
Randy menunduk. Untuk sesaat, suaranya terdengar lebih pelan. "Tapi sepertinya tidak. Sekarang sudah ada seseorang yang berarti di sisinya.”
Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja, namun terasa paling berat untuk diucapkan. Randy tahu, mungkin yang masih menyimpan harapan hanyalah dirinya. Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari mencintai seseorang dari masa lalu bukanlah ketika cinta itu berakhir, melainkan ketika kita menyadari bahwa orang yang masih kita cintai ternyata sudah menemukan tempat untuk pulang kepada orang lain.
"Pak Randy,” ucap Pratiwi lembut, “saya boleh mengatakan sesuatu?”
Randy mengangguk pelan. "Kadang-kadang kita memang tidak bisa memaksa hati untuk melupakan seseorang hanya karena hubungan itu sudah berakhir. Apalagi kalau orang tersebut pernah memberikan sesuatu yang begitu berarti dalam hidup kita.”
Randy terdiam, mendengarkan. "Tapi ada satu hal yang perlu Pak Randy bedakan. Merindukan seseorang tidak selalu berarti kita harus kembali kepadanya. Masih mencintai seseorang juga tidak selalu berarti kita berhak memilikinya kembali.”
Randy menghela napas panjang. "Saya tahu, Bu. Masalahnya, saya masih berharap.”
"Berharap itu manusiawi,” jawab Pratiwi. “Yang perlu Pak Randy pikirkan adalah, harapan itu akan membawa Pak Randy ke mana? Apakah membuat Pak Randy mampu menjalani hidup dengan lebih baik, atau justru membuat Pak Randy terus terjebak di masa lalu?”
Randy menundukkan wajahnya. Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sulit untuk dijawab.
Pratiwi kembali mengambil pulpennya. "Dan kalau sekarang dia sudah memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya, mungkin bentuk cinta yang paling dewasa bukan lagi tentang bagaimana cara mendapatkannya kembali.”
Randy mengangkat wajah. "Lalu tentang apa?”
Pratiwi tersenyum tipis "Belajar menerima bahwa seseorang yang sangat kita cintai bisa saja tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita. Kita boleh mengenang kebaikannya. Kita boleh mengakui bahwa kita masih menyayanginya. Tetapi kita juga harus menghormati pilihan dan kehidupan yang sedang dia jalani.”
Randy terdiam cukup lama. "Berarti saya harus melupakannya?”
"Tidak harus melupakan,” jawab Pratiwi. “Tidak semua orang yang pernah kita cintai harus dilupakan. Ada yang cukup kita tempatkan sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.”
Pratiwi berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Yang perlu Pak Randy lepaskan mungkin bukan orangnya, tetapi harapan bahwa masa lalu bisa kembali menjadi seperti dulu.”
Kalimat itu membuat Randy terdiam. Matanya menerawang jauh, seakan ia baru memahami bahwa selama ini mungkin bukan cintanya yang membuatnya terluka, melainkan harapan yang terus ia pelihara diam-diam.
Namun sebelum Pratiwi melanjutkan pertanyaannya, Randy tiba-tiba berkata pelan,
"Kalau begitu... saya harus menceritakan satu hal lagi kepada Ibu.”
Pratiwi menatapnya. "Apa itu?”
Randy menarik napas dalam-dalam. "Karena sebenarnya, saya tidak hanya datang ke sini untuk bercerita tentang cinta pertama saya.”
Tangan Pratiwi yang semula hendak menulis kembali berhenti. Sesuatu yang belum ia ceritakan.
Dan mungkin, justru itulah alasan sebenarnya Randy datang menemuinya.
Kini, setelah mengetahui bahwa perempuan tersebut sempat kembali sendiri, harapan yang selama ini tersimpan tampaknya muncul kembali. Namun, kenyataan yang dihadapi Randy saat ini ternyata berbeda dari yang ia bayangkan.
Pratiwi tersenyum tipis. "Silakan lanjutkan ceritanya, Pak Randy. Saya mendengarkan."
"Tapi..." Randy kembali terdiam sejenak. "Dia juga sebenarnya sedang dilematis, Bu. Karena laki-laki yang sekarang dekat dengannya itu ternyata sudah memiliki istri."
Pratiwi yang sejak tadi mencatat mendadak mengangkat wajahnya. Alisnya sedikit terangkat, menunjukkan keterkejutannya.
"Apa?"
Randy mengangguk pelan. "Makanya saya berpikir, apa sebaiknya saya langsung menyatakan perasaan saya kepadanya? Sekaligus saya luruskan dia, supaya jangan sampai hubungan itu berlanjut dan akhirnya merusak rumah tangga orang lain." Randy menatap Pratiwi penuh harap. "Kasihan juga keluarga laki-laki itu kalau dia tetap melanjutkan hubungan dengan mantan pacarnya."
Pratiwi tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pulpennya perlahan, kemudian menatap Randy dengan tenang. "Saya memahami kekhawatiran Bapak," ujarnya akhirnya. "Tetapi ada beberapa hal yang menurut saya perlu Bapak pisahkan terlebih dahulu."
Randy memperhatikan Pratiwi dengan saksama.
"Keputusan perempuan tersebut mengenai hubungannya adalah tanggung jawab dia. Begitu pula keputusan laki-laki itu terhadap rumah tangganya adalah tanggung jawab dia dan istrinya."
Pratiwi berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada Randy untuk mencerna perkataannya.
"Kalau Bapak ingin menyampaikan perasaan Bapak, tentu itu merupakan hak Bapak. Tetapi sebaiknya jangan menjadikan perasaan itu sebagai alasan untuk menyelamatkan dia dari sebuah hubungan yang menurut Bapak tidak tepat."
Randy terdiam.
"Karena bisa saja," lanjut Pratiwi dengan suara lembut, "niat Bapak untuk meluruskan keadaan justru bercampur dengan harapan Bapak sendiri untuk kembali memilikinya. Dan itu manusiawi. Yang penting, Bapak jujur kepada diri sendiri mengenai alasan sebenarnya."
Randy menundukkan wajahnya. Pratiwi melanjutkan dengan hati-hati. "Kalau Bapak benar-benar ingin menghormati dia, mungkin yang paling penting bukan seberapa cepat Bapak menyatakan cinta, tetapi apakah Bapak siap menerima apa pun keputusan yang nantinya dia ambil."
Randy mengangkat wajahnya kembali. "Termasuk kalau ternyata dia tidak memilih saya?"
Pratiwi mengangguk pelan. "Termasuk itu, Pak."
Ruangan kembali hening.
"Karena mencintai seseorang," ujar Pratiwi perlahan, "tidak selalu berarti kita harus mendapatkannya. Kadang-kadang, bentuk penghormatan terbesar kepada seseorang adalah memberi dia kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri."
Randy terdiam cukup lama. Kalimat itu seperti membuatnya kembali memikirkan niat yang sejak tadi ia anggap sebagai sebuah bentuk pertolongan.
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...