NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadian

Sore itu, setelah rangkaian kegiatan ospek hari pertama selesai. Haruna menghampiri Reynan yang masih duduk beristirahat di pinggir lapangan, tubuhnya masih terlihat lelah namun tetap tersenyum begitu melihat kedatangan gadis itu.

"Reynan, makasih banyak ya? udah bantu Haruna tadi," ucap Haruna, duduk di sampingnya. "Sebagai gantinya, Haruna mau traktir kamu makan. Mau, nggak?"

Mata Reynan langsung berbinar mendengar tawaran itu, hatinya yang sejak awal memang sudah jatuh terpesona pada gadis di hadapannya kini semakin berdebar kencang. "Mau banget," jawabnya cepat, hampir tanpa berpikir lagi.

Mereka pun berjalan bersama menuju sebuah kafe sederhana namun nyaman tak jauh dari area kampus, memilih meja di sudut yang cukup tenang untuk mengobrol. Haruna memesan nasi goreng spesial dengan telur mata sapi, sementara Reynan memilih mi ayam pangsit yang menjadi menu favoritnya.

"Coba deh, ini enak banget," ucap Reynan begitu makanan mereka datang, tanpa ragu menyodorkan sesuap mi ayamnya ke arah Haruna.

Haruna sedikit terkejut. Namun akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan itu dengan pipi yang mulai merona. "Enak banget, Rey," pujinya jujur, mengunyah dengan mata berbinar.

"Nih, coba punya aku juga," Haruna balas menawarkan, menyendok sedikit nasi gorengnya dan menyuapkannya ke Reynan.

Reynan menerima suapan itu dengan jantung berdegup kencang. Sebuah sensasi hangat menjalar di dadanya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap wanita mana pun. "Punya kamu juga enak," ucapnya, tersenyum lebar.

Percakapan mereka terus mengalir hangat, diselingi berbagai candaan ringan yang dilontarkan Reynan, membuat Haruna tak henti tertawa lepas. Tawa yang begitu tulus dan bebas, jauh berbeda dari kehidupannya yang selama ini penuh kewaspadaan terhadap cemoohan orang lain.

"Eh, Har," Reynan tiba-tiba mengganti topik, nada suaranya sedikit lebih serius, "gimana hubungan kamu sama temen sekamar? Terutama sama yang tadi pagi itu."

Haruna menghela napas, menceritakan dengan jujur bagaimana sikap Vania yang selalu merendahkannya sejak awal. Tentang hinaan-hinaan yang sering ia terima, hingga insiden pencurian atribut yang baru saja terjadi.

Mendengar cerita itu, kening Reynan semakin mengerut, rasa khawatir jelas terpancar dari wajahnya. "Haruna, kamu harus hati-hati sama dia. Orang kayak gitu biasanya nggak akan berhenti sampai di situ aja, apalagi dia udah dipermalukan tadi. Jauhin dia sebisa mungkin, ya."

"Iya, Haruna juga udah dikasih tau sama Melati dan Sinta soal itu," jawab Haruna, mengangguk pelan.

Setelah makanan mereka habis, Haruna segera meraih dompetnya, bersiap membayar tagihan sesuai janjinya di awal. Namun begitu ia hendak melangkah menuju kasir, Reynan sudah lebih dulu bergerak cepat, menyerahkan uang kepada pelayan sebelum Haruna sempat mengeluarkan uangnya sendiri.

"Eh, kan Haruna yang ngajak, harusnya Haruna yang bayar," protes Haruna, sedikit kesal namun juga malu.

"Nggak apa-apa, anggap aja ini balesan karena kamu udah mau nemenin aku makan," jawab Reynan santai, tersenyum tipis. "Lagian, aku nggak akan pernah biarin cewek yang aku suka bayar makan sendiri."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Reynan, membuat wajah Haruna seketika memerah padam, jantungnya berdegup kencang tak karuan mendengar pengakuan tersirat itu.

Namun sebelum ia sempat merespons, Reynan sudah lebih dulu mengajaknya beranjak keluar dari kafe, seolah tak ingin memberi kesempatan bagi Haruna untuk memikirkan kata-kata itu lebih jauh.

Reynan mengantarkan Haruna kembali menuju asrama menggunakan motornya, perjalanan singkat itu terasa begitu menyenangkan dengan angin sore yang berembus lembut.

Sesampainya di depan gerbang asrama, Reynan menghentikan motornya, menunggu Haruna turun dengan hati-hati.

"Jangan lupa bales pesan aku, ya," pesan Reynan sebelum Haruna melangkah pergi.

"Iya, Haruna pasti bales, kok," jawab Haruna, tersenyum.

"Ya udah, sana balik," ucap Haruna, mendorong pelan Reynan agar segera pergi.

"Nggak, aku tungguin sampai kamu bener-bener masuk," jawab Reynan tegas, tetap berdiri di tempatnya.

Dengan senyum kecil, Haruna akhirnya melangkah masuk. Sesekali menoleh untuk melambaikan tangan kepada Reynan yang masih setia menunggu di luar gerbang.

Namun baru beberapa langkah memasuki area asrama, Haruna tiba-tiba dicegat oleh Vania yang berdiri bersama seorang temannya, wajah keduanya menyiratkan amarah yang begitu jelas.

"Berani banget kamu bikin aku dipermalukan tadi," desis Vania, mendorong pundak Haruna kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang.

"Vania, Haruna cuma bilang yang sebenarnya," jawab Haruna, mencoba mempertahankan diri meski tubuhnya sedikit gemetar.

"Sekarang giliran aku yang bikin kamu nyesel," ancam Vania, mendorong Haruna lagi hingga punggungnya membentur dinding koridor asrama.

Sementara itu, di luar gerbang, Reynan yang sebenarnya sudah bersiap untuk pergi tiba-tiba teringat sesuatu. Sebuah kotak kecil berisi kalung cantik yang sengaja ia beli beberapa hari lalu, bermaksud memberikannya sebagai hadiah perkenalan untuk Haruna. Dengan segera, ia meminta izin kepada penjaga asrama untuk masuk sebentar.

Namun begitu melangkah masuk, matanya langsung membelalak kaget. Mendapati Haruna sedang terpojok, didorong-dorong kasar oleh Vania dan temannya di tengah koridor.

"Vania!" bentak Reynan keras, langsung berlari menghampiri, memposisikan dirinya di depan Haruna sebagai pelindung. "Berani banget kamu ganggu Haruna lagi!"

Vania tersentak kaget melihat kedatangan Reynan yang tiba-tiba, namun raut wajahnya segera berubah sinis. "Ngapain kamu ikut campur? Ini urusan aku sama dia."

"Kamu pikir aku bakal diem aja lihat kamu nyakitin Haruna?" balas Reynan geram, matanya menyala penuh amarah.

"Cuma karena kamu kasihan sama dia, bukan berarti kamu harus bela dia mati-matian," sindir Vania tajam, matanya melirik merendahkan ke arah Haruna. "Lihat aja dia, cacat, miskin pula. Anak buangan yang nggak jelas asal-usulnya. Apa untungnya kamu deket-deket sama dia?"

Kata-kata itu membuat amarah Reynan semakin memuncak. "Jaga omongan kamu!"

"Kenapa? Nggak terima kalau aku ngomong yang sebenarnya?" Vania semakin menantang, "lagian, kamu sama dia kan nggak punya hubungan apa-apa. Jadi jangan sok ikut campur urusan orang lain."

Suasana koridor itu semakin memanas. Beberapa mahasiswi lain yang kebetulan lewat mulai berhenti, penasaran menyaksikan pertengkaran yang terjadi. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Di tengah suasana tegang itu, Reynan menatap Vania lurus-lurus, lalu berbalik menghadap Haruna yang berdiri gemetar di belakangnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menggenggam tangan Haruna erat.

"Vania, aku dan Haruna memang belum punya hubungan apa-apa," ucap Reynan lantang, suaranya menggema jelas di sepanjang koridor, "tapi mulai sekarang, aku mau itu berubah."

Ia berbalik menghadap Haruna, matanya menatap lembut penuh ketulusan. "Haruna, aku suka sama kamu. Bukan cuma suka biasa, tapi aku beneran jatuh cinta sejak pertama kali ketemu kamu di taman kampus. Mau nggak, jadi pacar aku?"

Seluruh koridor itu mendadak hening, semua mata tertuju pada momen tak terduga itu. Haruna berdiri mematung, jantungnya berdegup begitu kencang, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Reynan..." bisiknya, air mata haru mulai menggenang di sudut matanya.

"Aku serius, Har," lanjut Reynan, menggenggam kedua tangan Haruna lebih erat.

Dengan hati yang dipenuhi keberanian baru, Haruna akhirnya mengangguk pelan. Senyum bahagia terukir di wajahnya. "Haruna mau."

Sorak-sorai kecil terdengar dari beberapa mahasiswi yang menyaksikan momen romantis itu. Namun di sudut lain, wajah Vania memerah padam menahan amarah dan rasa cemburu yang begitu besar.

Sejak pertama kali melihat Reynan, ia sudah jatuh hati pada pandangan pertama, membayangkan bisa menjadi kekasih pemuda tampan dan kaya itu. Namun kini, di hadapannya sendiri, pria itu justru menyatakan cinta kepada gadis yang selama ini ia rendahkan.

"Nggak mungkin," desis Vania, giginya bergemeletuk menahan kekesalan.

Reynan menoleh ke arahnya, tatapannya kini berubah dingin dan penuh peringatan. "Vania, dengar baik-baik. Mulai sekarang, Haruna itu pacar aku. Semua urusan dia, adalah urusan aku juga. Kalau kamu masih berani ganggu dia sekali lagi, kamu akan berurusan langsung sama aku."

Vania menatap Reynan dengan mata berkaca-kaca menahan amarah dan kekecewaan yang begitu mendalam. Namun tak sanggup membalas ancaman tegas itu.

Dengan langkah kaku, ia akhirnya berbalik pergi bersama temannya, meninggalkan dendam yang kini semakin membara dalam hatinya. Bukan hanya karena hukuman yang harus ia jalani, tetapi juga karena cinta yang baru saja ia lihat direnggut begitu saja oleh gadis yang selalu ia anggap rendah.

1
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
Dew666
💟
Ilfa Yarni
aduh hbs penasaran dongv thor Mana upnya cuma 1 sehari
Ilfa Yarni
haruna ank kandung km bagas yg km buang sesudah Lahir krn cacat
Ilfa Yarni
duh aplg ini ora gtua ga bener ini mah pdhl itu ank kandungnya sendiri di benci hanya krn reputasinya semoga saja perusahaannya hancur dan haruna jadi gadis sultan dikenal dunia baru lah menyesal km bagas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!