NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 EMPAT ORANG DALAM SATU RUANGAN

Kaluna memperlihatkan pesan Revan kepada Arsen. Lelaki itu membacanya tanpa menyentuh telepon.

Wajahnya mengeras. Bukan karena namanya kembali dicurigai. Ia mulai memahami bahwa pertemuan di hotel itu sengaja dibuat agar sulit diperiksa.

“Balas saja. Tanya siapa orangnya.”

Kaluna sudah mengetik pertanyaan tersebut. Tidak ada jawaban. Pesan hanya terkirim, belum dibaca.

“Dia mungkin mematikan teleponnya,” kata Salindri.

“Atau nomor itu memang hanya dipakai sekali,” tambah Kaluna.

Arsen memandang daftar peserta di atas meja.

“Dua nama lain siapa?”

Kaluna membacanya.

“Lidia Sasmaya dan Fadli Wirawan.”

Arsen mengenal kedua nama itu.

“Lidia dulu kepala pengadaan. Fadli konsultan pemeriksaan internal.”

“Masih bekerja di perusahaan?” tanya Salindri.

“Lidia mengundurkan diri beberapa bulan setelah kecelakaan Kaluna. Fadli tidak lagi dipakai setelah pemeriksaan penggelapan selesai.”

Kaluna menatap Arsen.

“Pemeriksaan yang bilang aku membawa uang perusahaan?”

Arsen mengangguk pelan.

“Berarti Fadli bukan cuma ada di pertemuan itu. Dia juga ikut memeriksa laporan setelah aku hilang.”

“Kalau daftar ini benar,” kata Arsen.

Kaluna kembali memeriksa dokumen. Tanda tangan Lidia terlihat alami. Tekanan penanya tidak rata. Ada sedikit noda di bagian akhir namanya. Tanda tangan Fadli berbeda. Garisnya terlalu tipis, seperti hasil salinan yang kualitasnya buruk.

“Nama Fadli mungkin juga ditambahkan,” kata Naren yang baru masuk dari halaman depan.

Ia mengambil daftar itu dan meletakkannya di samping hasil pemeriksaan awal tanda tangan Arsen.

“Jenis huruf pada nama Arsen dan Fadli hampir sama. Jarak antarbarisnya juga berbeda dari dua nama pertama.”

“Jadi, sejak awal hanya nama Kaluna dan Lidia yang benar-benar ada di daftar ini?” tanya Arsen.

“Belum tentu,” jawab Salindri. “Kita harus memeriksa dokumen asli dengan alat. Tapi ada kemungkinan dua nama terakhir dimasukkan setelah daftar awal dibuat.”

Kaluna memandang nama Lidia Sasmaya.

“Cari dia.”

Arsen membuka laptop.

“Aku bisa meminta bagian sumber daya manusia memberikan alamat terakhir.”

“Jangan melalui kantor dewan,” kata Kaluna.

“Aku tahu.”

Arsen mengirim permintaan langsung kepada bagian personalia. Tidak sampai sepuluh menit, data lama Lidia ditemukan. Perempuan itu sekarang bekerja sebagai konsultan pengadaan untuk sebuah perusahaan alat kesehatan kecil di Jakarta Timur.

Salindri menghubunginya lebih dahulu. Awalnya Lidia menolak bertemu. Ia mengatakan sudah tidak memiliki urusan dengan Mahardika Medika dan tidak ingin namanya dibawa ke dalam sengketa keluarga.

Setelah Salindri menjelaskan bahwa namanya tercantum dalam daftar kehadiran lama, Lidia akhirnya bersedia menerima mereka sore itu.

Kaluna datang bersama Naren dan Salindri. Arsen tidak ikut. Mereka khawatir kehadiran Arsen justru membuat Lidia semakin sulit bicara.

Kantor tempat Lidia bekerja menempati lantai dua sebuah bangunan kecil. Tidak ada kemewahan seperti kantor pusat Mahardika Medika. Hanya beberapa meja, lemari contoh produk, dan rak berisi katalog alat kesehatan.

Lidia Sasmaya menunggu mereka di ruang pertemuan. Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya dipotong pendek, dan kacamata tipis bertengger di hidungnya.

Saat Kaluna masuk, perempuan itu langsung berdiri.

“Jadi kabar itu benar,” katanya.

“Kabar apa?”

“Ibu benar-benar masih hidup.”

Kaluna duduk di seberangnya.

“Hasil DNA sudah membuktikannya.”

Lidia masih memperhatikan wajah Kaluna, seolah mencoba mencocokkannya dengan ingatan lama.

“Saya menghadiri acara doa perusahaan waktu Ibu dinyatakan meninggal.”

“Banyak orang menghadirinya.”

“Saya tidak tahu harus mengatakan apa.”

“Ceritakan apa yang terjadi di hotel.”

Lidia menoleh kepada Salindri. Pengacara itu meletakkan salinan daftar kehadiran di atas meja.

“Apakah ini tanda tangan Anda?”

Lidia memeriksanya beberapa saat.

“Iya.”

“Anda menghadiri pertemuan tersebut?”

“Iya.”

“Siapa saja yang ada di ruangan?”

Lidia melepaskan kacamata, membersihkannya dengan ujung pakaian, lalu memakainya kembali.

“Sudah tiga tahun.”

“Nama Anda berada dalam dokumen resmi,” kata Salindri. “Kami butuh jawaban yang jelas.”

Lidia membaca kembali daftar tersebut.

“Pak Arsen tidak ada.”

Kaluna memperhatikan wajahnya.

“Kamu yakin?”

“Saya pernah bekerja langsung dengan Pak Arsen. Saya tidak mungkin keliru.”

“Fadli Wirawan?”

“Dia datang.”

“Sejak awal?”

Lidia menggeleng.

“Tidak. Saya datang sekitar pukul dua kurang sepuluh. Waktu itu hanya ada Ibu Kaluna dan Revan.”

“Revan ada di dalam ruangan?”

“Dia membawa map dan telepon perusahaan. Setelah itu dia keluar.”

“Map merah?”

Lidia mengangkat kepala.

“Iya.”

Sisi kepala Kaluna kembali terasa nyeri. Potongan ingatan muncul. Tangannya membuka map merah di atas meja. Di dalamnya terdapat beberapa lembar tagihan dengan tanda stabilo. Seseorang berdiri di dekat pintu.

Dokumen itu tidak boleh dibawa keluar dari kantor.

Kaluna memejamkan mata sebentar.

“Apa isi map itu?” tanyanya.

“Laporan pembayaran vendor.”

“Vendor mana?”

“Ada beberapa. Saya tidak mengingat semua namanya.”

“Kalau begitu, kenapa aku memanggilmu ke hotel? Kenapa bukan di kantor?”

Lidia merendahkan suaranya.

“Karena Ibu curiga ada orang yang mengawasi dari dalam.”

Kaluna dan Naren saling pandang.

“Siapa yang Ibu curigai?” tanya Naren.

“Saya tidak tahu. Ibu tidak menyebut nama.”

“Apa yang dibahas?” tanya Kaluna.

“Pembayaran berulang, pengadaan yang tidak pernah sampai ke gudang, dan perusahaan rekanan yang memakai alamat sama.”

“Berapa besar nilainya?”

“Saat itu belum dihitung seluruhnya. Tapi cukup besar untuk membuat Ibu marah.”

“Apakah aku menuduh seseorang?”

“Tidak secara langsung. Ibu bilang ingin melakukan pemeriksaan dari luar perusahaan.”

Kaluna menyandarkan tubuh.

“Lalu Fadli datang?”

“Iya. Sekitar sepuluh menit setelah pertemuan dimulai.”

“Kenapa dia dipanggil?”

“Katanya untuk membantu pemeriksaan independen.”

“Katanya?”

Lidia tampak tidak nyaman.

“Saya tidak tahu siapa yang mengundangnya.”

“Bukan aku?”

“Saya kira Ibu yang mengundang. Tapi waktu Pak Fadli masuk... wajah Ibu berubah.”

Kaluna menatap daftar. Fadli kemudian menjadi konsultan yang ikut mengesahkan tuduhan penggelapan setelah Kaluna menghilang. Mungkin kedatangannya ke hotel tidak pernah direncanakan oleh Kaluna.

“Apa Fadli melihat isi map merah?” tanya Salindri.

“Iya. Dia meminta satu salinan.”

“Kamu memberikannya?”

“Tidak.”

Lidia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Ibu Kaluna mengatakan semua dokumen harus tetap berada di tangan Ibu sampai sumber kebocoran ditemukan.”

Kalimat itu menarik potongan ingatan lain ke kepala Kaluna.

Suara kursi bergeser. Tangannya menarik map menjauh dari seorang lelaki.

Saya belum menuduh siapa pun. Tapi saya tidak akan menyerahkan ini sebelum angkanya diperiksa ulang.

Kaluna menekan pelipis.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Naren.

“Hanya ingatan kecil.”

“Jangan dipaksa.”

Kaluna mengabaikan ucapan itu dan kembali bertanya kepada Lidia.

“Menurut catatan hotel, konsumsi dipesan untuk empat orang.”

Lidia mengangguk.

“Kalau Revan sudah pergi, tinggal aku, kamu, dan Fadli. Jadi siapa orang keempat?”

Pandangan Lidia bergeser ke pintu ruang pertemuan.

“Saya harap kalian tidak sampai menanyakan itu.”

“Kami datang untuk itu,” kata Salindri.

Lidia berdiri dan memeriksa pintu yang sebenarnya sudah tertutup rapat. Ia juga memeriksa kaca kecil di sampingnya sebelum kembali duduk.

“Orang itu datang belakangan.”

“Namanya?” tanya Kaluna.

“Saya tidak melihat namanya di daftar.”

“Siapa dia?”

Lidia menggeleng.

“Saya tidak mau menuduh orang tanpa bukti.”

“Kamu melihat wajahnya?”

“Hanya sebentar.”

“Kamu kenal dia?”

Lidia meremas ujung kertas daftar hadir.

“Dia masuk melalui pintu samping ruang pertemuan. Pintu itu menuju lorong layanan hotel.”

“Kenapa memakai pintu samping?”

“Saya tidak tahu.”

“Apa dia berbicara denganku?”

“Iya.”

“Apa yang dikatakan?”

Lidia terdiam cukup lama.

“Dia menyuruh Ibu menghentikan pemeriksaan.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sesak bagi Kaluna.

“Terus aku jawab apa?”

“Ibu bilang masalah itu tidak bisa diselesaikan sebagai urusan keluarga karena uang yang hilang adalah uang perusahaan.”

Naren langsung mengangkat wajah.

“Urusan keluarga?”

Lidia mengangguk pelan.

“Orang itu anggota keluarga Mahardika?” tanya Salindri.

“Saya tidak bilang begitu.”

“Tapi dia menyebut urusan keluarga.”

“Bisa berarti banyak hal.”

Kaluna menatapnya tajam.

“Kamu mengenal orang itu.”

Lidia tidak menjawab.

“Apakah Arsen?”

“Bukan.”

“Miranti?”

“Bukan perempuan.”

“Bramasta?”

Lidia menegang sesaat. Reaksinya hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat Kaluna yakin. Lidia mengenal nama Bramasta.

“Saya tidak ingin menyebut siapa pun,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena setelah pertemuan itu, semuanya berubah.”

“Apa yang terjadi kepadamu?”

“Dua hari kemudian, Ibu mengalami kecelakaan. Seminggu setelah itu, akses saya ke laporan pengadaan dicabut. Beberapa bulan kemudian, saya diminta menandatangani surat bahwa tidak ada pelanggaran dalam proses pembelian.”

“Kamu menandatanganinya?”

Lidia menunduk.

“Iya.”

“Padahal kamu tahu ada masalah?”

“Saya punya dua anak. Waktu itu suami saya baru kehilangan pekerjaan.”

Kaluna menahan amarah. Berapa banyak orang yang memakai keluarga sebagai alasan untuk diam ketika namanya dihancurkan?

Kaluna tetap bisa melihat ketakutan yang dibawa Lidia selama tiga tahun terakhir.

“Kenapa sekarang mau bicara?” tanya Kaluna.

“Karena saya melihat Ibu masih hidup.”

“Kalau aku benar-benar mati waktu itu, kamu akan tetap diam?”

Lidia tidak mampu menjawab.

Salindri menunjuk daftar peserta.

“Selain Arsen, apakah ada nama lain yang tidak sesuai dengan orang yang hadir?”

Lidia memeriksa nama Fadli.

“Pak Fadli hadir. Tapi saya tidak ingat daftar itu sudah mencantumkan nama Pak Arsen saat saya menandatanganinya.”

“Siapa yang menyiapkan daftar?”

“Revan meletakkannya di meja sebelum pergi.”

“Apakah waktu itu ada empat nama?”

“Saya tidak memperhatikan.”

“Orang yang masuk lewat pintu samping itu tidak menandatangani daftar?”

“Tidak.”

“Berapa lama dia berada di ruangan?”

“Sekitar lima belas menit.”

“Apa yang terjadi setelah dia pergi?”

Lidia menelan ludah.

“Ibu memasukkan semua dokumen ke dalam map merah. Ibu bilang rapat selesai.”

“Map itu dibawa olehku?”

“Iya.”

“Apakah Fadli ikut keluar?”

“Dia keluar lebih dulu.”

“Lalu kamu?”

“Saya ikut turun ke lobi bersama Ibu.”

“Ke mana aku pergi setelah itu?”

Lidia menggeleng.

“Saya tidak tahu. Saya dijemput suami saya. Ibu masih menunggu di dekat pintu.”

Potongan ingatan lain muncul. Pintu hotel, hujan tipis, telepon yang bergetar, lalu mobil gelap berhenti di depan lobi. Wajah pengemudi dan nomor kendaraannya masih kabur dalam ingatan Kaluna.

“Apakah orang kelima itu masih bekerja di Mahardika Medika?” tanya Naren.

Lidia melepas kacamatanya lagi, kali ini tanpa mencoba membersihkannya.

“Dia bukan pegawai biasa.”

“Anggota dewan?”

“Saya tidak mengatakan itu.”

“Lidia,” kata Kaluna, “anakku diancam oleh orang yang memakai kendaraan perusahaan. Kalau kamu tahu siapa yang memulai semua ini, diam tidak akan melindungi siapa pun.”

Mata Lidia tampak berkaca-kaca.

“Saya tidak mendengar namanya disebut di ruangan,” katanya. “Saya juga tidak punya foto.”

“Tapi kamu pernah melihatnya lagi.”

Lidia mengangguk pelan.

“Di mana?”

“Beberapa minggu setelah Ibu dinyatakan meninggal, saya melihat mobil yang sama menjemputnya dari lantai khusus dewan.”

Kaluna mencondongkan tubuh.

“Mobil apa?”

“Sedan hitam. Pelatnya waktu itu ditutup bingkai perusahaan.”

“Siapa yang naik mobil itu?”

Lidia memandang Kaluna dengan ketakutan yang tidak lagi bisa disembunyikan.

“Orang kelima dari pertemuan hotel.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!