NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kereta tanpa muatan

Jayengrana tidak terburu-buru menutup kitab logistik di hadapannya. Ia membalik beberapa lembar rumbia sebelumnya secara perlahan.

Seluruh catatan tersusun amat rapi: tanggal pengiriman, jumlah karung, nama pengirim, hingga pihak penerima. Namun setiap kali tulisan "Gedung Utara" tertera, selalu ada kejanggalan yang menyertainya.

Muatan: Kosong. Kusir: Dirahasiakan. Pemeriksa: Perintah Khusus.

Jayengrana mengunci jadwal tersebut dalam ingatannya. Kereta rahasia itu selalu bertolak tepat saat lonceng malam berdentang tiga kali—tanpa pernah terlambat, tanpa pernah lebih cepat.

Menjelang sore, Rakai Sindura melangkah masuk ke ruang pencatatan. Seluruh juru ketik serta-merta bangkit berdiri.

"Tetap lanjutkan tugas kalian," perintahnya tenang seraya menyusuri lorong meja.

Ia mengamati beberapa rumbia catatan, memberikan koreksi singkat jika menemukan kesalahan. Begitu tiba di depan meja Jayengrana, langkahnya terhenti.

"Saka."

"Saya, Pak."

"Bagaimana penyesuaian tugas barumu?"

"Masih banyak hal yang harus saya pelajari, Pak," jawab Jayengrana rendah.

Sikap rendah hati itu membuahkan anggukan puas dari Rakai Sindura. "Sikap yang bijak. Orang yang merasa sudah menguasai segalanya biasanya justru menjadi sumber kegagalan."

Jayengrana membungkuk hormat.

Rakai Sindura lantas meletakkan sepotong gulungan rumbia kecil di sudut meja. "Lusa akan ada pengiriman bahan khusus. Kau yang bertanggung jawab memeriksa catatannya."

"Baik, Pak."

Sepeninggal Rakai Sindura, Jayengrana menatap gulungan yang belum dibuka itu. Intuisinya menegaskan bahwa pengiriman khusus tersebut terikat erat dengan keberadaan Gedung Utara.

Malam pun jatuh merengkuh Kotaraja.

Di pelataran belakang gudang, kereta tanpa muatan mulai disiapkan. Empat prajurit berzirah tampak bersiaga di sekelilingnya, sementara seorang kusir tua sibuk memeriksa kekencangan pasak roda.

Jayengrana memikul dua karung kosong, berjalan menyisir tepi pelataran seolah hendak menyimpannya ke gudang belakang.

"Awas, singkirkan jalanmu!" bentak salah seorang prajurit.

Jayengrana membungkukkan tubuhnya seketika. "Maaf, Pak."

Saat melewati roda belakang kendaraan tersebut, matanya menangkap sebuah kejanggalan: lempatan lumpur kemerahan menempel pekat pada celah kayu roda. Itu bukan jenis tanah dari sekitar kompleks gudang—warnanya jauh lebih gelap, pekat, dan masih basah.

Jayengrana membangkitkan Mata Pemburu.

Penglihatannya melompat tajam. Warna lumpur itu memudar terang di matanya, menyingkap serpihan halus berwarna putih keabu-abuan yang terselip di sela kayu roda.

Jayengrana mengernyitkan dahi. 'Apa itu...'

Bisikan Penunggang Perjanjian bergaung tipis. "Abu tulang."

Jayengrana menahan riak wajahnya, terus melangkah wajar seolah tak menemukan apa pun. Namun, benaknya berputar cepat. Mengapa pasak roda kereta memboyong abu sisa pembakaran tulang? Gedung Utara bukan sekadar tempat mengurung tawanan—ada sesuatu yang sengaja dibakar dan dilenyapkan di sana.

Tak lama kemudian, kereta misterius itu bertolak menembus kegelapan malam. Jayengrana tak lantas mengejarnya. Ia sadar, menyerbu tanpa peta pengawasan yang utuh hanya akan berujung pada kegagalan.

Ia kembali ke kamar sewanya di belakang warung Mbok Sari. Baru saja ia meletakkan palang pintu, terdengar ketukan halus dari luar.

Tok... Tok... Tok...

Jemari Jayengrana serta-merta menggenggam gagang tombak berbungkus kainnya. "Siapa?"

"Buka saja pintunya," sahut suara parau dari luar.

Jayengrana menggeser palang pintu. Di ambang pintu, Pengemis Tua berdiri santai sambil menyampirkan kendi araknya.

"Aku membawa warta penting," ucapnya tanpa ragu.

Jayengrana mempersilakannya masuk. Tanpa canggung, lelaki tua itu duduk bersila di lantai kayu, meneguk sisa araknya sebelum bersuara.

"Besok malam... Gedung Utara bakal kedatangan seorang tamu."

"Siapa? Pejabat atau bangsawan kerajaan?"

Pengemis tua itu tersenyum tipis, memancarkan sorot mata dingin. "Bukan keduanya... melainkan seorang algojo pencabut nyawa."

Keheningan seketika mencengkeram kamar sempit itu. Jayengrana merasakannya—hawa dingin merayap perlahan menelusuri tulang belakangnya.

"Siapa yang akan dieksekusi?"

Pengemis tua itu menggeleng pelan. "Itu yang belum berhasil kusingkap. Namun satu hal yang pasti..." Ia mengunci pandangannya lurus ke mata Jayengrana. "...jika sosok yang akan dieksekusi besok malam adalah orang yang tengah kau cari, maka esok adalah kesempatan terakhirmu."

Di sudut kamar, nyala api lampu minyak bergoyang pelan ditiup angin malam. Jayengrana membisu tanpa membalas sepatah kata pun.

Namun di dalam hatinya, sebuah tekad bulat telah membeku sempurna. Waktunya untuk menanti telah habis.

Jayengrana membisu untuk beberapa saat, menatap lekat-lekat sosok Pengemis Tua di hadapannya.

"Mengapa kau begitu gencar membantuku?"

Pengemis Tua terkekeh pelan seraya menggoyang-goyangkan kendi araknya. "Jika kukatakan semua ini karena rasa iba, kau pasti tak akan percaya."

"Tentu saja."

"Dan jika kubilang ini semata-mata karena aku merasa bosan, itu pun hanya separuh benar."

"Lantas?"

Lelaki tua itu mengangkat bahunya santai. "Ada orang-orang di Kotaraja ini yang sama sekali tak boleh memenangkan permainan. Wiradipa adalah salah satunya."

Jayengrana berniat menggali keterangan lebih dalam, namun Pengemis Tua itu sudah keburu bangkit berdiri.

"Jangan buang energimu untuk menyingkap identitasku. Lebih baik fokuskan pikiranmu untuk menembus benteng batu Gedung Utara besok malam."

Tanpa menunggu sautan, lelaki tua itu melangkah keluar kamar. Hanya dalam beberapa tindak, sosoknya menguap menembus pekatnya kegelapan gang.

Malam berikutnya...

Kompleks gudang kerajaan tetap berdenyut seperti biasa. Tak ada tanda-tanda mencolok bahwa sebuah peristiwa berdarah bakal berkobar.

Jayengrana menjalankan tugas pencatatannya hingga jam pergantian pengawal tiba. Tepat saat lonceng malam berdentang tiga kali, kereta tanpa muatan itu kembali disiapkan di halaman belakang.

Empat prajurit berzirah, seorang kusir tua, serta dua pekerja gudang bersiap di sekelilingnya—persis seperti pola malam sebelumnya.

Dari balik bayangan tumpukan peti, Jayengrana mengamati pergerakan mereka. Matanya menangkap dua karung rumbia berukuran besar diangkut ke atas geladak kereta. Karung-karung itu sekilas tampak kempis, namun cara para pekerja mengangkatnya terlampau berhati-hati—seolah memboyong muatan yang amat ringkih, atau sesosok tubuh manusia.

Begitu para pekerja berlalu, Jayengrana bergerak secepat bayangan. Memanfaatkan celah sudut gelap, ia merayap mendekati bagian belakang kereta, lalu mengoyak sedikit ikatan salah satu karung.

Bagian dalam karung itu memang kosong, namun alasnya telah dimodifikasi berlubang. Celah tersebut terhubung langsung ke sebuah kompartemen rahasia yang tersembunyi di bawah geladak lantai kereta—cukup lapang untuk memuat tubuh seorang dewasa yang berbaring.

"Rancangan yang amat rapi," gumam Jayengrana pelan.

Tanpa membuang waktu, ia meluncur masuk ke dalam kompartemen sempit tersebut dan merapatkan kembali penutupnya dari dalam.

Gelap, pengap, dan menyengat oleh aroma kayu lapuk.

Tak lama kemudian, kereta mulai bergerak. Derit roda kayu yang beradu dengan ubin batu memekakkan telinganya. Jayengrana memejamkan mata, mengendalikan ritme napasnya sedemikian rupa agar tetap tenang.

Di tengah perjalanan yang memakan waktu cukup lama, samar-samar ia mendengar percakapan dua prajurit pengawal di luar.

"Apakah sang algojo sudah tiba di lokasi?"

"Sudah. Kudengar ia memboyong perlengkapan khususnya malam ini."

"Benda itu? Berarti—"

"Bicara pelan-pelan! Kau mau lidahmu dipotong?"

Suasana kembali senyap seketika.

Beberapa saat kemudian, laju kereta perlahan memelan hingga terhenti total. Dering engsel besi berderit berat terbuka. Jayengrana paham betul: kendaraan ini telah menerobos gerbang luar Gedung Utara.

Kereta bergeser beberapa puluh langkah sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya. Suara gemerincing rantai terdengar saat pintu belakang dihenyakkan. Para prajurit mulai menurunkan karung-karung rumbia tersebut.

Jayengrana tetap bergeming di dalam persembunyiannya.

Baru setelah derap langkah para pengawal memudar menjauh, ia perlahan menggeser papan kayu penutup di atas kepalanya. Lewat celah sempit yang terbuka, ia mengamati sekeliling.

Kereta itu kini terparkir di dalam sebuah gudang bawah tanah yang luas namun lengang. Hanya ada beberapa rak kayu dan peti pelindung yang berjejer di sudut ruangan. Tak tampak ada pengawal yang bersiaga.

Jayengrana meluncur keluar tanpa menimbulkan desis sedikit pun. Namun, begitu kedua telapak kakinya menginjak ubin batu yang dingin...

Simpul perjanjian di dadanya menyengat hangat secara mendadak.

Bisikan Penunggang Perjanjian menggema keras di benaknya. "Berhenti!"

Jayengrana membeku di tempat seketika.

Sret!

Sedetik kemudian, sebuah anak panah beracun melesat tajam menembus udara, melintas persis di depan dadanya dan tertancap dalam pada dinding batu di sampingnya.

Jayengrana menoleh tajam.

Ubin batu di hadapannya ternyata dihiasi oleh rajutan benang pengintai yang teramat tipis—hampir mustahil tertangkap oleh mata telanjang.

Ia segara membangkitkan Mata Pemburu.

Seketika itu pula, puluhan benang jebakan berpendar terang dalam penglihatannya. Jaring-jaring halus itu terhubung langsung pada pelatuk panah rahasia, genta bahaya, dan mekanisme batu runtuh.

Jayengrana mengembuskan napas perlahan. Jika ia memaksakan melangkah satu tindak saja tadi, seluruh sistem pertahanan Gedung Utara dipastikan bakal terbangun untuk memburunya.

Suara Penunggang Perjanjian kembali terngiang, membawa nada kepuasan yang tipis.

"Pecahan simpul ketiga... mulai membuktikan keunggulannya."

Jayengrana mengangguk samar. Kemampuan indra penglihatannya memang belum purna, namun malam ini, serpihan kekuatan gaib itu baru saja menyelamatkan nyawanya dari maut.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!