NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tuduhan di Depan Keluarga

Hari Minggu seharusnya menjadi hari yang tenang.

Namun sejak pagi, rumah keluarga Arga sudah ramai.

Beberapa saudara datang untuk makan siang bersama.

Nadira sibuk di dapur sejak pukul sembilan.

Ia membantu menyiapkan makanan, mengatur meja, dan memastikan semua kebutuhan tamu tersedia.

Rani hanya duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel.

Sesekali ia memanggil Nadira.

“Nadira, ambilkan aku minum.”

Nadira menoleh.

“Di meja ada,Rani.”

“Aku sedang malas berdiri.”

Nadira menarik napas.

Ia tetap mengambilkan minuman.

“Ini.”

“Terima kasih.”

Nadira kembali ke dapur.

Tak lama kemudian, Bu Ratih memanggil.

“Nadira!”

“Iya, Bu?”

“Mana kue yang Ibu simpan di lemari?”

Nadira mengernyit.

“Kue yang mana?”

“Yang dalam kotak putih.”

Nadira membuka lemari.

Tidak ada.

“Tidak ada, Bu.”

“Apa?”

Bu Ratih ikut melihat.

“Kemarin masih ada.”

Nadira mulai mencari di rak lain.

Tetap tidak ditemukan.

Rani tiba-tiba berdiri.

“Aku tahu.”

Semua orang menoleh.

“Tadi pagi aku melihat Nadira membawa kotak putih ke kamar.”

Nadira membeku.

“Apa?”

Rani menunjuknya.

“Tadi pagi.”

“Aku tidak pernah membawa kue itu.”

“Kamu yakin?”

“Sangat yakin.”

Bu Ratih menghela napas.

“Nadira, kalau kamu memang ingin mengambilnya, bilang saja.”

Wajah Nadira memerah.

“Aku tidak mengambilnya, Bu.”

Beberapa anggota keluarga mulai saling pandang.

Nadira merasa malu.

Ia menoleh kepada Arga yang baru saja masuk dari luar.

“Ga…”

Arga segera menghampirinya.

“Ada apa?”

Bu Ratih menjelaskan.

“Kue Ibu hilang. Rani bilang melihat Nadira membawanya ke kamar.”

Arga menatap Nadira.

“Kamu mengambilnya?”

Nadira langsung menggeleng.

“Tidak.”

Arga mengangguk.

“Aku percaya kamu.”

Bu Ratih terdiam.

“Tapi kalau begitu, cari saja di kamar kalian.”

Nadira menatap Arga.

“Sekarang?”

“Biar semuanya jelas.”

Nadira mengangguk.

Mereka masuk ke kamar.

Arga sendiri membuka lemari.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian ia membuka meja samping tempat tidur.

Tetap kosong.

“Sudah kubilang,” kata Nadira lirih.

“Aku tahu.”

Arga menggenggam tangannya.

“Aku percaya kamu.”

Mereka kembali ke ruang keluarga.

Namun Rani masih berdiri di sana.

“Mas, mungkin kue itu sudah dipindahkan.”

Arga mengangguk.

“Ya, mungkin.”

Bu Ratih tampak kecewa.

“Sudahlah. Lupakan.”

Nadira menarik napas lega.

Namun saat semua orang mulai makan, salah satu sepupu Arga tiba-tiba berteriak.

“Bu! Ini bukan kue yang hilang?”

Ia menunjuk ke sebuah kotak di bawah meja.

Semua orang menoleh.

Bu Ratih mengambilnya.

Kue itu ada di sana.

Suasana langsung hening.

Nadira menatap Rani.

Rani terlihat terkejut.

“Lho…”

Bu Ratih mengerutkan kening.

“Kamu bilang melihat Nadira membawanya?”

Rani gugup.

“Aku… mungkin salah lihat.”

Nadira menahan amarah.

“Mungkin?”

Rani menatapnya.

“Maaf.”

Satu kata.

Selesai.

Seolah semua rasa malu yang Nadira rasakan bisa hilang hanya karena satu kata.

Nadira menoleh kepada Arga.

Ia berharap suaminya mengatakan sesuatu.

Arga memang menatap Rani.

“Ran.”

Rani menunduk.

“Maaf, Mas.”

Arga menghela napas.

“Lain kali lebih hati-hati.”

Nadira terdiam.

Hanya itu?

Tidak ada teguran.

Tidak ada pertanyaan kenapa Rani bisa menuduhnya.

Setelah semua tamu pulang, Nadira masuk kamar.

Arga menyusul.

“Kamu marah?”

Nadira duduk di tepi ranjang.

“Aku kecewa.”

“Karena Rani?”

“Bukan hanya Rani.”

Arga diam.

“Kamu tahu aku tidak salah.”

“Aku tahu.”

“Tapi ketika dia salah menuduhku, kamu hanya bilang, ‘lain kali lebih hati-hati’.”

Arga menghela napas.

“Aku tidak mau mempermalukan Rani di depan keluarga.”

Nadira menatapnya.

“Lalu siapa yang tadi dipermalukan?”

Arga terdiam.

“Aku.”

Nadira tersenyum pahit.

“Aku berdiri di depan semua orang dan dianggap mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu memilih menjaga perasaan adikmu.”

Arga langsung menggenggam tangannya.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku cuma tidak ingin masalah kecil menjadi besar.”

Nadira menarik tangannya perlahan.

“Masalahnya mungkin kecil bagi kamu.”

Ia menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi setiap kali keluargamu menyakitiku dan kamu memilih diam, luka kecil itu menumpuk.”

Arga tidak mampu menjawab.

Nadira berbaring membelakanginya.

Untuk pertama kalinya, Arga menyadari istrinya tidak sedang marah karena satu masalah.

Nadira sedang lelah karena terlalu sering merasa sendirian di dalam pernikahannya sendiri.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!