Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Mengubah sampah menjadi emas
Hujan deras baru saja reda ketika Cedric pulang. Pria itu berjalan dengan langkah berat, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari pagi harinya. Ia duduk di kursi kayu ruang tengah, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Elena, segera mendekat dan memegang bahu suaminya yang tegang.
"Tuan Karis," desis Cedric dengan suara parau. "Dia datang lagi. Membawa surat resmi dari Penguasa Wilayah."
Cedric mengeluarkan gulungan kertas perkamen yang sudah agak kusut dan melemparkannya ke meja dengan kasar. "Mereka mempercepat tenggat waktu. Pajak tambahan untuk 'pemeliharaan jalan wilayah' harus lunas dalam enam bulan. Bukan setahun lagi seperti janji sebelumnya. Enam bulan, Elena."
Wajah Elena memucat. Tangannya gemetar saat menyentuh kertas itu. "Enam bulan? Tapi panen gandum baru akan tiba delapan bulan lagi! Dari mana kita mendapat uang sebanyak itu?"
"Aku tidak tahu," Cedric menggeleng, tatapannya kosong. "Jika kita gagal, mereka akan menyita tanah ini. Termasuk rumah ini. Kita akan diusir ke pinggiran kota, menjadi buruh kasar."
Arlen, yang duduk di sudut ruangan sambil pura-pura membaca buku, mendengar setiap kata dengan jelas. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut. Melainkan karena kemarahan dingin yang mulai menyala.
Enam bulan.
Waktu yang sangat singkat. Ia belum cukup kuat untuk menghadapi pasukan bersenjata Penguasa Wilayah, apalagi jika mereka mengirim penyihir bayaran. Kekuatan fisiknya masih dalam tahap awal, dan eksperimen Aura-Mana tadi justru menambah daftar misteri yang harus ia pecahkan, bukan solusi instan.
Namun, Arlen tidak panik. Ia meletakkan bukunya perlahan. Otaknya yang telah ditempa oleh pengalaman hidup ribuan tahun mulai bekerja, mencari celah di antara keputusasaan.
Malam harinya, Arlen duduk di ambang jendela kamarnya. Angin malam menerpa wajahnya, membawa kesegaran setelah hujan. Ia menatap bulan purnama yang tergantung tinggi.
Pikirannya kembali pada eksperimen siang tadi. Mana menyebar ketika dipaksa.
Lalu, pandangannya beralih ke lahan luas milik keluarganya yang tandus. Tanah Ashford dikenal miskin hara , sulit ditanami tanaman pangan biasa. Itulah sebabnya pajak mereka rendah, dan itulah sebabnya Penguasa Wilayah menganggap tanah ini tidak berharga.
Tapi Arlen ingat sesuatu dari bacaan buku-buku tua di gudang. Ada jenis tanaman langka bernama Moonleaf atau Daun Bulan, yang justru tumbuh subur di tanah yang "keras" dan kaya akan residu mineral tertentu—tanah yang dianggap sampah oleh petani biasa. Tanaman ini membutuhkan konsentrasi Mana yang stabil di akarnya untuk berkembang, dan harganya sangat mahal di pasar gelap para alkemis dan penyihir.
Masalahnya, menanam Moonleaf secara alami membutuhkan waktu bertahun-tahun agar tanah menyerap cukup Mana.
Tapi... Arlen menatap telapak tangannya lagi, mengingat bagaimana Aura-nya berinteraksi dengan Mana.
Meskipun penyatuan langsung gagal dan menyebabkan penyebaran, Arlen menyadari satu hal: Auranya bisa mengarahkan aliran Mana. Jika ia tidak mencoba menyatukannya, tetapi menggunakan Aura sebagai "pagar" atau "saluran" untuk memfokuskan Mana alam agar terkonsentrasi di satu titik tanah...
"Mungkin aku tidak perlu menyatukannya," gumam Arlen pelan, sebuah ide brilian mulai terbentuk. "Aku hanya perlu menjadi konduktor. Menggunakan Aura untuk memadatkan Mana di area bukit belakang rumah. Memaksa tanah itu menjadi subur bagi tanaman langka dalam waktu singkat."
Itu risiko besar. Menggunakan Aura secara terus-menerus untuk memanipulasi lingkungan bisa menarik perhatian jika ada sensor sihir di dekatnya. Tapi ini satu-satunya jalan. Menjual tanah berarti kalah. Bertarung langsung berarti bunuh diri.
Satu-satunya pilihan adalah mengubah "sampah" menjadi "emas".
Arlen berdiri, mengepalkan tangan kecilnya dengan determinasi besi. Matanya yang abu-abu kini bersinar dengan tekad yang mengerikan.
"Enam bulan," katanya pada keheningan malam. "Kalian mengira kami terjepit? Kalian mengira tanah ini tidak bernilai? Baiklah. Aku akan menunjukkan pada kalian, bahwa di tangan yang tepat, bahkan tanah mati pun bisa melahirkan kekayaan yang membuat kalian tergila-gila."
Perjuangannya kini memiliki dua front: melatih tubuh dan jiwanya untuk bertahan hidup, serta memanfaatkan rahasia alam yang terlupakan untuk menyelamatkan rumahnya. Arlen tersenyum tipis, senyuman seorang ahli strategist yang baru saja menemukan kartu as-nya.
Langkah pertama dimulai besok fajar.
Pagi itu, kabut tipis masih menyelamatkan seluruh permukaan tanah saat Arlen berjalan perlahan menjauhi rumahnya. Ia berjalan sendirian, berpakaian sederhana, membawa sebatang tongkat kayu pendek di tangannya. Karena berusia hampir enam tahun, langkahnya pendek, namun ia berjalan mantap menuju ujung paling jauh dari wilayah kekuasaan keluarga Ashford—sebuah bukit baru yang tanahnya berwarna gelap, tandus, dan tidak ditumbuhi tanaman apa pun kecuali semak berduri yang kering.
Orang-orang di sekitar menyebut Bukit Tanpa Nama, dan mengira sebagai tempat yang terkutuk atau tidak berguna. Tanah di sana terlalu keras, terlalu dingin, dan benih apa pun yang ditanam pasti akan mati dalam waktu singkat.
Namun Arlen memiliki pandangan yang berbeda. Semakin dekat ia ke bukit itu, semakin ia merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Tubuhnya yang kini dilapisi lapisan Aura Perunggu secara alami peka terhadap getaran halus di sekitarnya. Semakin dia mendaki lereng bukit itu, semakin dia merasakan ada aliran energi yang pelan namun stabil naik dari dalam perut bumi.
Ia berhenti tepat di puncak bukit yang datar. Di sana, tanah berwarna hitam pekat dan kasar tampak sedikit berkilau jika terkena cahaya matahari pagi yang lemah. Arlen berjongkok, lalu mengusap permukaan tanah itu dengan telapak tangannya yang kecil. dingin. Lebih dingin dari tanah di tempat lain, seolah-olah ada suatu sumber energi jauh di bawah sana.
"Tanah ini tidak tandus karena tidak subur..." gumamnya pelan sambil memejamkan mata untuk merasakan lebih dalam. "Melainkan karena energi yang ada di sini terlalu padat dan kasar bagi tanaman biasa untuk menyerapnya."
Ia teringat kembali apa yang pernah ia baca atau ketahui ribuan tahun silam. Ada jenis tanah khusus yang terbentuk dari pengendapan energi purba yang mengendap selama ribuan tahun. Tanah seperti ini tidak baik untuk pertanian biasa, namun sangat berharga bagi pembuat senjata atau perajin sihir.
Arlen mengangkat tangannya sedikit ke atas. Ia memusatkan perhatian, lalu perlahan memancarkan sedikit aliran Aura berwarna tembaga keluar dari telapak tangannya, membiarkannya meresap ke dalam tanah hitam itu.
Pada saat itu juga, tanah di sekitarnya bergetar pelan. Butiran-butiran halus yang berkilau sedikit ke udara, lalu jatuh kembali perlahan. Arlen tersenyum tipis. Dugaannya benar. Di bawah lapisan tanah ini terkandung banyak sekali serbuk Besi Bintang—bahan baku logam yang sangat dicari karena ringan namun lebih keras dari baja terbaik sekalipun, dan sangat peka terhadap energi.
Namun ada hal lain yang menarik perhatiannya. Saat ia merasakan kesadarannya lebih dalam lagi ke bawah tanah, ia merasakan ada rongga kosong, dan di dalamnya... ada sesuatu yang berputar lembut, seolah-olah bernapas.
Ia segera berhenti memancarkan aura nya. Jika ia terus melakukannya, ada risiko ia akan menarik perhatian pada sesuatu yang mungkin tersembunyi di sana, atau membuat getaran itu terasa sampai jauh ke luar bukit.
“Masih terlalu dangkal pengetahuanku tentang tambang dan sejenisnya,” pikirnya sambil berdiri kembali. "Apalagi aku masih terlalu kecil untuk menggali sedalam itu sendirian. Tapi setidaknya sekarang aku tahu... tanah yang ingin direbut Tuan Karis itu sebenarnya menyembunyikan kekayaan yang tak terbayangkan."
Namun Besi Bintang saja belum cukup. Untuk mengumpulkan jumlah pajak yang besar dalam waktu enam bulan, ia membutuhkan sesuatu yang nilainya lebih tinggi dan lebih cepat didapat.
Saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu yang tumbuh di celah bebatuan di sisi lain bukit. Tanaman itu kecil, berbahan tebal berwarna hijau gelap dengan urat berwarna keperakan, berdiri kokoh meski tumbuh di tempat yang sepertinya tidak ramah itu.
Arlen mendekat perlahan, matanya menyipit saat mengenali siluet tanaman kecil yang tersembunyi di antara semak belukar. Itu adalah Daun Perak Dingin. Tanaman langka yang konon hanya tumbuh di persimpangan aliran energi bumi (Ley Lines) yang pekat namun stabil. Bagi para penyihir elemen udara atau alkimis, daun ini adalah harta karun; ia mampu menstabilkan ledakan Mana dan menyembuhkan luka bakar spiritual.
Di pasar hitam ibu kota, seikat daun keringnya bisa ditebar dengan harga yang setara dengan pendapatan keluarga Ashford selama setahun penuh.
Masalahnya, tanaman ini sangat pemilih. Ia tidak bisa dibudidayakan di tanah biasa karena membutuhkan konsentrasi Mana murni yang terus-menerus mengalir ke akarnya. Jika dibiarkan alami, pertumbuhannya memakan waktu bertahun-tahun.
Tapi Arlen tersenyum tipis. Ia memiliki alat yang tidak dimiliki petani atau penyihir mana pun.
Ia tidak akan memaksakan Auranya ke dalam tanaman—ia tahu dari eksperimen sore tadi bahwa Aura dan Mana memiliki struktur yang berbeda dan bisa saling menolak jika dipaksa bersatu secara kasar. Sebaliknya, ia akan menggunakan Aura sebagai jaring penangkap dan saluran fokus.
"Kau lapar, kan?" bisik Arlen pada tunas hijau pucat itu. "Kau butuh makan, tapi akar-akarmu terlalu lemah untuk menarik Mana dari udara yang tersebar."
Arlen berjongkok. Ia tidak menyentuh tanamannya. Sebagai gantinya, ia menempatkan kedua telapak tangannya di atas tanah, beberapa inci di sekitar akar tanaman. Ia menutup mata, merasakan jutaan partikel Mana biru yang melayang liar di udara sekitarnya—partikel-partikel yang sebelumnya ia sadari bersifat chaos dan sulit diatur.
Lalu, ia membangkitkan Aura Perunggu-nya.
Cahaya tembaga samar meresap dari pori-porinya, namun kali ini tidak membentuk lapisan pelindung. Aura itu menyebar keluar seperti jaring halus tak kasat mata, menciptakan medan gravitasi mikro di area kecil tersebut. Sifat Aura yang disiplin dan terstruktur bertindak sebagai "corong".
Arahkan... Fokuskan... Kumpulkan.
Perlahan, partikel-partikel Mana biru di udara mulai tertarik ke arah jaring Aura Arlen. Alih-alih menyebar, mereka dipaksa berkumpul, memadat, dan dialirkan turun melalui tanah, tepat menuju akar Daun Perak Dingin.
Tanaman itu seolah menghela napas lega. Daun-daunnya yang layu seketika berdiri tegak, warnanya berubah dari hijau pucat menjadi perak mengkilap yang sehat. Arlen tidak memberi energi hidupnya sendiri; ia hanya menjadi jembatan yang memungkinkan alam memberikan apa yang dibutuhkan tanaman itu dengan efisiensi seratus persen.
"Ini jauh lebih efisien," pikir Arlen sambil memantau aliran energi. "Aku tidak membakar energiku. Aku hanya mengatur lalu lintasnya."
Jika ia bisa mempertahankan teknik "Pengumpulan Mana" ini di area tersembunyi, ia bisa mempercepat pertumbuhan tanaman ini hingga sepuluh kali lipat. Dalam enam bulan, ia bisa memanen hasilnya tanpa merusak induk tanaman.
Setelah memastikan aliran Mana sudah stabil dan tanaman itu tampak segar, Arlen menarik kembali Auranya. Jaring energi itu lenyap, dan partikel Mana kembali melayang liar di udara, meski kini area di sekitar tanaman itu terasa sedikit lebih "padat" daripada sebelumnya.
"Berkembang lah perlahan," bisiknya. "Nanti aku akan datang lagi untuk memberimu makan."