Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Suami Nggak Ada Akhlak
Desas-desus tentang alasan Yudha menikah makin santer terdengar. Bisik-bisik itu dengan cepat mulai menular bak virus. bahkan sampai juga di telinga staff Keuangan, divisi yang dipimpin oleh Yudha.
Sebagian dari mereka kaget mengetahui issue yang melibatkan atasannya. Rasa tak percaya pun menghinggapi mereka. Namun, pernikahan mendadak Yudha seolah memperkuat berita tersebut.
Chika yang biasanya paling sibuk dengan laporan arus kas, kini mencondongkan tubuhnya ke meja milik Lena.
"Kamu udah dengar gosip tentang pernikahan Pak Yudha, Len?" tanya Chika dengan suara ditekan, memastikan tidak akan ada yang mendengar ucapannya selain mereka berdua. Matanya waspada melirik ke arah ruangan kaca, ruang kerja Yudha. Meskipun pagi ini baru mereka berdua yang ada di ruangan itu.
Lena menghentikan ketukannya pada papan tik. Netranya mengikuti arah pandang Chika. "Yang nikah gantiin kakaknya itu?" tanyanya memastikan jika apa yang dikatakan Chika sesuai dengan pemikirannya. "Iya, kamu percaya nggak?" tanyanya kemudian,
Chika mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, tampak ragu. "Kalau melihat pernikahan Pak Yudha yang mendadak, kemungkinan sih iya. Apalagi sebelumnya Pak Yudha 'kan lagi gencar-gencarnya pendekatan sama Yumi, Len." Ia mengingat-ingat kembali interaksi pasangan pengantin baru beberapa hari lalu yang kini menjadi topik hangat kantor mereka.
"Tapi, kalau lihat interaksi Pak Yudha sama istrinya, mereka kelihatan fine-fine aja. Nggak seperti orang yang terpaksa menikah. Pak Yudha malah sering menggoda Bu Kanaya tanpa malu-malu. Mereka kelihatan happy banget di pesta kemarin," sambungnya.
"Tapi katanya foto undangan pernikahan Bu Kanaya sama kakaknya Pak Yudha juga ada, lho. Kamu ingat nggak waktu Pak Yudha izin cuti? Pak Yudha 'kan bilangnya ada kakaknya yang mau nikah. Ujung-ujungnya, kabar Pak Yudha sendiri yang menikah." Lena menggaruk kepala dengan bingung. Di satu sisi, ia menyaksikan sendiri bagaimana romantisnya Yudha memperlakukan Kanaya. Di sisi lain ada kabar jika Yudha hanya pengantin pengganti.
"Atau... jangan-jangan mereka sebenarnya sudah pacaran lama?" Lena menjentikkan jari. Sebuah asumsi liar melintas di kepalanya. "Mungkin Bu Kanaya yang dijodohkan dengan Kakaknya Pak Yudha. Nah, menjelang akad, kakaknya sadar kalau mereka saling cinta, akhirnya dia mundur dan membiarkan mereka menikah!"
"Entahlah ..." Chika mengedikkan bahunya. "Tapi, emang benar, ya? Usia istri Pak Yudha beda jauh sama Pak Yudha? Kemarin kok nggak kelihatan, ya? Malah serasi-serasi aja kelihatannya. cantik dan ganteng." sambungnya menganggap Yudha dan Kanaya adalah pasangan yang cocok dan saling melengkapi.
"Iya juga, ya. Apa karena pakai make up?" Kening Lena berkerut. Sementara Netranya melihat siluet Ayumi dari balik kaca jendela ruangan. "Sssttt! Udah, jangan bahas lagi!" Dia menempelkan telunjuknya dekat bibir, ingin menghentikan percakapan mereka tentang gosip seputar bos mereka, karena beberapa rekan staff yang lain sudah mulai berdatangan.
***
Di balkon ruang tengah lantai yang menghadap hutan buatan, Kanaya duduk santai di kursi rotan yang berayun pelan. Sementara matanya fokus pada novel fiksi dalam genggamannya.
Udara jelang sore terasa sejuk dengan hembusan semilir angin yang sesekali menerbangkan helaian rambutnya, membuat Kanaya begitu menikmati momen senggang Sabtu sore ini.
Tanpa mengalihkan pandangan dari baris-baris kalimat di buku novel yang ia baca, tangan kanannya sesekali memetik sebutir anggur lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Sementara suara gemericik air terdengar dari bawah. Tepat di halaman rumah, Yudha mencuci mobil kesayangannya.
"Ehh!"
Ketenangan Kanaya menikmati sore langsung buyar begitu merasakan cipratan air menerpa kulitnya.
Awalnya, ia mengira itu hanya ketidaksengajaan. Mungkin air dari selang yang dipakai mencuci mobil menyembur terlalu kuat hingga memercik ke atas.
"E-eh!" Namun, begitu sadar air itu sengaja diarahkan kepadanya dari bawah, Kanaya spontan bangkit dan berkacak pinggang. Kekesalannya makin memuncak begitu melihat sang suami malah terbahak puas.
"Hahaha!" Yudha kembali mengarahkan ujung selang, menyemprot Kanaya tanpa ampun.
"Yudha! Jangan kayak anak kecil, deh!" Kanaya buru-buru menghindar dari serangan Yudha. *Yudha, bajuku, Aku udah mandi, tahu!" omelnya, gemas melihat kelakuan kekanak-kanakan suaminya.
"Mandi lagi aja nanti. Sekalian kita mandi bareng," goda Yudha dengan seringai usil.
Kanaya tersentak panik. Matanya langsung melirik ke kanan dan kiri, berharap tidak ada tetangga atau orang lewat yang mendengar ucapan absurd suaminya.
"Kalau ngomong dijaga, ya!" ketus Kanaya dengan suara tertahan sambil mendelik tajam.
"Mau nggak?" Tak merespon ucapkan istrinya. Yudha masih fokus dengan ritual mandi bareng. "Mumpung aku lagi semangat, nih. Selesai gosok body mobil sampai kinclong, lanjut gosok body kamu yang mulus." Yudha semakin menjadi-jadi. Kalimat vulgarnya meluncur begitu saja tanpa peduli mereka sedang berada di area terbuka.
"Astaga, Yudha!" Bola mata Kanaya melebar, memberi tatapan mengintimidasi agar suaminya itu berhenti bicara sembarangan.
"Lagian, suami lagi repot cuci mobil, istri malah asyik santai-santai di atas, bukannya bantuin cuci mobil," gerutu Yudha, mulai protes karena merasa tidak dibantu.
"Aku kan udah bilang, bawa aja ke car wash Tapi kamu yang menolak, bilangnya mau nyuci sendiri. Sekarang malah nyalahin istri. Dasar suami nggak ada akhlak!" balas Kanaya tak mau kalah dengan berkacak pinggang.
"Eh, ngomong apa tadi?" Yudha melepas slang yang ada dalam genggamannya lalu bergegas masuk ke rumah.
Melihat langkah terburu-buru Yudha, Kanaya tahu betul siapa yang sedang diincar suaminya itu.
"Gawat! Bisa-bisa aku kena hukuman," batinnya panik. Menyadari bahaya yang mengintai, Kanaya langsung berlari meninggalkan balkon menuju kamar untuk menghindari Yudha. Sebenarnya ia pun merasa ucapannya tadi cukup keterlaluan. Namun, itu ia ucapkan secara spontan untuk membalas keusilan Yudha tanpa bermaksud merendahkan suaminya sendiri.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
auto mandi keramas lagi kamu nay🤣🤣
Awas Kanaya kena hukuman.tapi hukumannya yang bikin enak😁
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.