Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Marah? Mas Minta Maaf Ya
Loh, Mas Cakra.... masa sih? Batin Tara bertanya-tanya, tapi dia masih memutuskan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah.
"Ya sudah, bareng aku saja, aku mie ayam." Jawab suara laki-laki yang hampir mirip dengan Cakra. "Pak, pesan!" Panggilnya.
Tara mendongak. Dia melihat ke arah pria yang membelakanginya. Celana cargo hitam dan sweter abu-abu. Dia hafal betul gaya itu. Dan benar saja, saat pria itu selesai memesan dan berbalik.... itu memang Cakra.
'Oh pantesan chat-ku centang satu, rupa-rupanya kamu makan di sini bareng cewek barumu ya... Kurang ajar sampean Cak!.... Awas ya, tak kasih bogem mentah biar tahu rasa kamu.' Maki Tara geram setengah mati.
Dia ingin marah dan melampiaskan kejengkelannya, tapi sekuat mungkin dia tahan. Sekali lagi ingat! Ini tempat umum.
Tak lama setelah menunduk diam, Tara mendengar namanya dipanggil.
"Mbak Tara! Ini pesanannya sudah jadi." Panggil Pak Slamet dengan suara sangat keras.
Seketika Cakra dan teman-temannya menoleh. Terlebih Cakra yang langsung membulatkan matanya, terkejut melihat ke arah Tara yang langsung berdiri di sudut ruangan. Tara menatap tajam ke arah Pak Slamet, dia sengaja tidak melirik sedikit pun ke arah Cakra, membuat Cakrawala merasa tertampar.
Tara berjalan acuh mendekati Pak Slamet. "Berapa Pak?" Tanya Tara dingin.
"Ndak usah, tapi bayarannya, anakku minta nomor WhatsApp-mu." Jawab Pak Slamet menggoda.
"Siapa?" Tanya Tara bingung.
"Angga, Tar. Teman SMA-mu." Jawabnya.
"Oalah, boleh. Ini nomorku... Mana Angga-nya?" Tanya Tara. Dia jadi semangat, pasalnya Angga memang teman seperjuangan era SMA. Bersama Angga, Tara lebih dekat, karena pria itu sangat penurut dan mau saja dijadikan babu Tara....
"Di belakang. Sek! Tak panggilin." Ucapnya.
Cakra yang melihat dan mendengar interaksi itu sangat geram.... 'Apa Tara ndak lihat aku? Wah kelewatan, apa dia ndak ingat aku tah?' Batinnya kesal bukan main.
"Angga, ini Tara cari..." teriak Pak Slamet.
Tiba-tiba terdengar suara orang batuk seolah menetralkan debaran jantungnya, lalu perlahan, seorang pria tampan dengan kulit putih melangkah keluar. Pria itu masih memakai celemek masaknya.
Tara terbengong melihatnya. Dia tak kuasa menahan tawanya.
"Hahaha, opo iki rek? Kamu masak?...." ucapnya tak percaya.
"Lah terus ngopo?.... Iniloh jalan ninjaku, biar kalau kamu jadi istriku ndak perlu repot masak-masak segala." Jawab pria itu. Suaranya kecil, cukup rendah, dan serak. Memang suara Angga ini bukan yang deep voice banget, tapi suaranya spek yang halus dan nagihin.
"Cangkemmu, mau tak tampol." Jawab Tara salting.
Pasalnya, melihat Angga kali ini cukup membuatnya terkejut. Angga tak ubahnya seperti opa-opa Korea—sopo ki namane... Kim-kim... lah author ndak ngerti, Kim Sojong atau apalah, pokoknya mirip ya!
Cakra tak kuasa mendengar keakraban itu. Dengan cepat dia bangkit berdiri, hal itu membuat teman-temannya bingung. Cakra tak peduli. Dengan cepat dia mendekati Tara.
"Tara!" Panggilnya datar.
Tara yang mendengar panggilan itu pura-pura tuli. Males banget!
"Ngga, aku pulang dulu, makasih traktirannya." Ucap Tara cepat.
Angga menjawab dengan anggukan dan acungan jempolnya. Tara lalu berbalik. Tanpa mau melihat Cakra yang berdiri di belakangnya, wanita itu melenggang santai menuju luar warung.
Cakra bertambah geram. Pria itu berbalik mengejar Tara.
"Tara, tunggu Mas." Tahannya cepat, sampai-sampai pria itu berdiri tepat di depan motor Tara.
Tara masih diam, malas berbicara.
"Tar, kamu kok tega sama Mas sih? Tadi ada Mas... masa diacuhkan saja." Protes Cakra.
Tara makin kesal. "Awas, aku mau pulang," ucapnya datar.
"Nggak. Mas masih mau ngomong sama kamu," tolak Cakra kekeh.
"Awas ndak? Kalau ndak mau minggir, tak tabrak kamu ya!" Ucap Tara kasar. Dia benar-benar sakit hati dan masih jengkel pada Cakra.
Cakra terkejut. Dia baru mendengar Tara berkata 'kamu' padanya. Padahal biasanya, walau agak judes, wanita itu masih menyempatkan menyematkan kata 'sampean'.
"Kamu marah sama Mas?" Tanya Cakra lembut. "Maaf ya... tapi Mas beneran ndak tahu salah Mas apa?" Ucap pria itu memelas.
Tara masih acuh tak acuh.
"Ayok sekarang turun dulu, kita bicara baik-baik ya." Pinta Cakra.
Namun Tara tak bergeming. Wanita itu justru memutar kunci kontak motornya menjadi On.
"Tar, tolong.... Bicara dulu sama Mas, jangan begini lah. Mas minta maaf kalau ada salah." Tahan Cakra panik.
"Awas gak? Aku mau pulang!... Kalau enggak, aku teriak ya!" Ancam Tara.
Cakra tak kehilangan akal. Pria itu dengan cepat merampas kunci motor Tara, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Mas Cakra apa-apaan sih! Kembaliin gak, aku mau pulang!" Ucap Tara kesal setengah mati. Wanita itu bangkit dari motor lalu berdiri menantang Cakra.
Cakra yang melihat kesempatan itu langsung bertindak nekat. Dengan cepat dia menggendong Tara lalu membawanya berlari kecil menuju belakang pos ronda yang agak sepi.
sukses slalu y 🫶🫶🫶