Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Aku, aku benar-benar tidak?" ucap nya sambil menatap sang dokter penuh harap.
"Ya, selama ini kau sehat dan kau juga tergolong wanita yang subur serta mudah mendapatkan keturunan, tapi maaf Lilian, aku harus mengatakan hal pahit itu Alen, dia tidak bisa punya anak, sampai kapan pun," jelas sang dokter dengan wajah sedih.
Lilian yang mendengar itu segera membuka kertas milik Alen, dia pun terkejut dengan hasil tes tersebut, ternyata dugaannya selama ini benar, di antara mereka yang bermasalah adalah Alen, bukan dirinya.
"Kalau begitu, aku permisi," sang dokter menepuk pundak Lilian pelan dan kemudian kembali masuk kedalam ruang kerja nya.
"Sudah kuduga, selama ini aku lah yang menerima cacian makian di keluarga Bayron karena mereka selalu mengira akulah yang mandul, ternyata semua ini bukan salahku," lirih Lilian merasa sangat sakit hati karena selama ini dia menanggung semua kesalahan yang tidak ada di dirinya itu sendirian, sedangkan yang sebenarnya mandul hidup bahagia di puja-puji.
"Cih, setelah kalian semua tau ini, aku yakin tidak ada lagi yang bisa membuat kalian sangat bangga dengan mas Alen," ucap Lilian dengan sorot mata penuh dendam.
Dia menyembunyikan hasil tes tersebut ke dalam tasnya.
Sementara itu ...
"Pasien terlalu banyak kehilangan darah, dia butuh donor darah secepatnya, tapi stok darah A+ di rumah sakit sudah habis," ucap salah satu suster yang mendampingi dokter di dalam ruangan di mana Tasya sedang di tangani.
"Apa? Bagaimana bisa? Maksud ku bagaimana bisa menemukan pendonor secepat mungkin," ucap Alen yang tau kalau di antara ibu Sinta dan dirinya tidak ada yang memiliki golongan darah tersebut.
"Alen, apa kau lupa, darah Lilian, dia juga A+," ucap Bu Sinta tanpa pikir panjang.
"Tapi bu, dia tidak akan bersedia," ucap Alen tau betul bagaimana Lilian sekarang.
"Coba saja, kalau tidak mau paksa dia seret saja, ini demi nyawa Tasya dan bayinya, apa kau mau melihat mereka berdua mati? Ingat Alen kau berhutang budi kepada Tian," ucap Sinta lagi sambil mengguncang tubuh Alen.
Mendengar itu, Alen pun segera berlari menghampiri Lilian yang pada saat itu hendak pergi dari rumah sakit tersebut setelah mengurus biaya administrasi atas konsultasi nya barusan.
"Lilian tunggu," ucap Alen sambil memegang erat pergelangan tangan Lilian.
"Ada apa?" tanya Lilian sedikit kaget karena ia di sergap secara tiba-tiba.
"Tasya kehilangan banyak darah, dia membutuhkan pendonor," ucap Alen lagi.
"Lalu apa hubungannya dengan ku?" tanya Lilian.
"Stok darah di rumah sakit sedang kosong, dia memiliki golongan darah yang sama dengan mu, ayo ikut aku untuk berikan beberapa kantong darah mu untuk nya," ucap Alen yang hendak menyeret Lilian dari sana.
"Lepaskan!" ucap Lilian seketika menepis tangan Alen.
"Apa kau gila? Kondisi ku sekarang juga tidak cukup stabil, mendonorkan darah untuk nya? Sebaiknya kau cari orang lain saja," ucap Lilian menolak keras permintaan tersebut.
"Sudah tidak punya banyak waktu, ayolah jangan egois, Tian menyelamatkan nyawaku, anggap saja kau membantuku balas budi, ayo cepat," ucap Alen lagi.
Kali ini Lilian tidak bisa menolak, dia di tarik paksa oleh Alen untuk melakukan transfusi darah kepada Tasya.
Tiga puluh menit kemudian.
Lilian keluar dari ruang rawat dengan tubuh yang tampak pucat dan sangat lemah.
"Aku akan membalas kalian semua, lihat saja nanti, aku akan mengambil kembali setiap tetes darah yang hari ini telah kalian ambil dari tubuhku," gumam Lilian sambil berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut dengan sempoyongan.
Sakit hati yang di rasakan Lilian saat ini berubah menjadi segumpal dendam yang akan dia tuntut di kemudian hari.
Sore harinya ...
Tasya kini telah sadar dan kondisinya sedikit lemah karena terlalu banyak kehilangan darah.
"Aku dimana?" lirih nya sambil melihat sekeliling.
"Kau di rumah sakit, Tasya sebenarnya apa yang sudah kau coba lakukan? Kenapa kau melukai dirimu sendiri?" tanya Alen sambil memegang tangan Tasya dan duduk di samping ranjang nya.
"Aku, aku minta maaf, aku tiba-tiba kembali mengingat mas Tian, aku merindukan nya dan aku memutuskan untuk pergi menyusulnya membawa anakku," ucap Tasya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Astaga kau ini kenapa? Jangan pernah melakukan hal itu lagi di kemudian hari, di sini ada aku, Raya dan Alen, aku tidak boleh gelap mata," ucap Bu Sinta tampak sangat perhatian.
"Bibi, maafkan aku, Raya aku juga minta maaf membuat kalian khawatir," ucap Tasya lagi.
"Kak Tasya sudah jangan banyak bicara kau masih sakit," ucap Raya menenangkan.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir, kondisinya sudah stabil, dia bisa pulang hari ini juga yang terluka hanya tangan nya, dia juga sudah menerima darah jadi sebaiknya kalian tenang," ucap sang dokter yang merawat Tasya.
Ya, sebenarnya kondisi Tasya tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi suster yang bersamanya itu adalah teman masa SMA nya Tasya, dia tau banyak tentang kehidupan Tasya, karena sebelumnya mereka sempat bertemu di luar kota di tempat Alen melakukan perjalanan bisnis. Semua ini adalah akal-akalan mereka berdua agar Lilian tersiksa.
Seharian penuh Alen dan keluarga nya merawat dan menjaga Tasya di rumah sakit sampai membawanya pulang ke rumah.
Malam harinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Mas Alen, apa kau ada di dalam?" ucap Tasya yang saat ini berdiri di depan kamar Alen sambil mengetuk pintu kamar tersebut.
"Ya, ada apa? Silahkan masuk," ucap Alen mengenali suara Tasya.
Tasya yang mendengar itu segera membuka pintu dan melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mas Alen, apa kau sedang sibuk?" tanya Tasya dengan lembut.
"Tidak ada, apa ada yang bisa aku bantu? Kenapa kau tidak beristirahat? Bukan kah pergelangan tangan mu masih sakit?" tanya Alen terlihat sangat perhatian.
"Ah aku melupakan sesuatu, tadi pagi seseorang dari perusahaan mengantar dokumen ini, dia bilang meminta mu untuk menandatangani nya," ucap Tasya sambil memberikan dokumen itu kepada Alen.
"Astaga, hanya karena ini saja, bukan kah besok juga bisa?" ucap Alen sambil menerima dokumen tersebut.
"Aku tau, tapi sepertinya ini sangat penting, langsung tanda tangan saja, setelah itu aku bantu kamu mengirimkan nya kembali ke perusahaan," ucap Tasya sambil tersenyum.
"Oh astaga, kau ini benar-benar mempedulikan pekerjaan ku mesti sedang sakit, baiklah, cuma tanda tangan kan? Aku akan menandatangani nya sekarang," ucap Alen tampa rasa curiga dia juga langsung menandatangani surat tersebut tanpa membacanya.
"Aku sudah terbiasa membantu Tian sebelumnya, jadi ini juga menjadi kebiasaan ku di sini sekarang membantu mu," ucap Tasya lagi yang kemudian kembali menerima dokumen tersebut. "Kalau aku permisi," ia membawa dokumen itu dan kemudian berlalu pergi dari ruangan Alen.
"Andai saja Lilian seperti Tasya, aku pasti akan sangat senang," ucap Alen sambil memikirkan perubahan sikap Lilian sekarang.
Sementara itu, Tasya yang sudah berhasil dengan misinya kini bergegas menuju kamar Lilian.
Bersambung....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍