NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30_Bayangan Masa Lalu dan Amukan Sang Penguasa

...BAB 30_Bayangan Masa Lalu dan Amukan Sang Penguasa...

Udara di dalam kamar suite mewah Hotel Grand Capital terasa semakin menipis, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis oleh ketegangan yang kian mencekik.

Dari sudut pandang Lea, detik-detik ini terasa seperti siksaan neraka yang berjalan lambat. Punggungnya menempel erat pada dinding dingin, sementara Ethan berdiri begitu dekat di hadapannya, memenjarakannya dengan tatapan penuh tuntutan, frustrasi, dan keputusasaan yang melebur menjadi satu.

Pria berambut pirang itu sama sekali tidak mau mendengarkan alasan logis apa pun yang coba dirangkai Lea; satu-satunya hal yang berputar di dalam kepala Ethan saat ini adalah membawa gadis itu pergi, terbang jauh kembali ke Australia, dan menghapus seluruh bayang-bayang Jakarta yang telah merebut kekasihnya.

Bagi Ethan, kepulangan Lea ke Melbourne adalah harga mati. Ia menatap manik mata gadis itu dengan mata yang menyiratkan luka mendalam.

`"Kumohon, Lea... jangan buat aku gila seperti ini,"` suara Ethan terdengar serak, nyaris seperti bisikan memohon yang menyayat hati. Ia mengangkat tangannya yang bergetar, hendak menyentuh pipi Lea untuk meyakinkan gadis itu bahwa cinta mereka masih bisa diselamatkan. `"Kita lupakan semuanya. Biar aku yang urus tiketnya malam ini."`

Namun, sebelum jemari Ethan sempat mendarat di kulit wajahnya, sebuah suara hantaman keras tiba-tiba menggema dari arah luar pintu utama kamar hotel.

`Brak! Brak! Brak!`

Suara gedoran itu bukan sekadar ketukan tamu hotel biasa. Hantaman tersebut begitu brutal, kuat, sarat akan amarah yang membara, hingga membuat daun pintu kayu jati tebal berpanel ganda itu bergetar hebat. Getarannya bahkan merambat sampai ke lantai marmer tempat mereka berdiri.

Lea dan Ethan tersentak bersamaan, refleks melepaskan jarak di antara mereka. Jantung Lea seakan berhenti berdetak seketika, dan aliran darah di seluruh tubuhnya mendadak membeku menjadi es. Ia tahu persis siapa pemilik tenaga destruktif, aura kematian, dan kemusnahan mutlak di balik pintu itu.

`Julian!` batin Lea menjerit histeris dalam kepanikan yang teramat sangat.

`Bagaimana mungkin Julian bisa menemukannya secepat ini? Apakah pria itu membuntutinya sejak ia meninggalkan penthouse? Atau... koordinat ponselnya terlacak oleh sistem keamanan canggih yang tidak ia ketahui?` Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat cepat, membawa teror yang jauh lebih mengerikan daripada pertemuan tak terduga dengan Teo Ozawa di kafe sore tadi.

`"Sialan, siapa yang berani menggedor pintu kamar hotelku separah itu?!"` gerutu Ethan dengan nada emosi yang meledak-ledak, alisnya bertaut kesal karena momen pribadinya dikacaukan oleh orang tak dikenal.

Tanpa memikirkan ancaman atau bahaya apa pun di balik pintu, Ethan melangkah meninggalkan sudut ruangan menuju pintu utama dengan napas memburu.

`"Jangan dibuka, Ethan! Jangan!"` seru Lea dengan suara berbisik panik, matanya membelalak lebar memperingatkan. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu betul watak Julian. Jika pria berdarah dingin itu membuka pintu dan melihat Ethan bersama dirinya di dalam kamar hotel tertutup, maka nyawa Ethan tidak akan selamat bahkan dalam hitungan detik.

Namun, peringatan Lea sudah terlambat sepersekian detik.

Sebelum tangan Lea sempat meraih lengan Ethan untuk menariknya menjauh, pria berambut pirang itu sudah meraih gagang pintu, memutar slot kunci, dan membuka lebar daun pintu kamar suite.

`Cklek.`

 

Dari sudut pandang Julian, detik-detik pintu itu terbuka adalah puncak dari ledakan amarah yang sudah ia tahan mati-matian sejak ia melihat titik merah di layar ponselnya.

Jantung Julian berdegup dalam ritme yang salah—bukan karena rasa takut, melainkan karena amarah murni yang membakar setiap jengkal saraf di tubuhnya. Layar ponsel pintar di genggamannya masih menyala terang, memancarkan koordinat kamar suite lantai dua puluh delapan itu sebagai bukti nyata dari kebohongan murahan yang baru saja disuapkan oleh gadis kecilnya.

`Urusan keluarga? Sepupu dari luar kota?`

Sumpah demi Tuhan, Julian sudah mencoba menahan diri. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan ruang, membiarkan Lea bermain-main dengan dendam kekanak-kanakannya pada keluarga Ozawa, dan memperlakukannya seperti ratu di penthouse-nya. Tapi kesabarannya jauh lebih tipis dari selembar tisu basah. Dan hari ini, Lea baru saja membakar sisa-sisa kewarasan terakhirnya.

Langkah kaki Julian menghantam lantai marmer lobi hotel dengan aura kematian yang membuat para staf melangkah mundur ketakutan. Lift pribadi membawanya naik ke lantai atas dalam keheningan yang mematikan, ditemani oleh pistol dingin yang terselip pas di balik pinggang jas hitamnya. Jika ada pria sialan yang berani menyentuh miliknya... Julian pastikan peluru itu menembus kepala tanpa ampun.

Begitu pintu lift terbuka, Julian menyusuri koridor karpet tebal hingga menemukan nomor kamar yang tertera di layar ponselnya. Tanpa mengetuk dengan sopan, ia melayangkan tinju dan hantaman keras bertubi-tubi ke daun pintu kayu jati tebal itu.

`Brak! Brak! Brak!`

`"Buka pintunya!"` geram Julian rendah, suaranya nyaris seperti geraman binatang buas yang mendesak keluar.

Tak lama kemudian, kunci berputar dari dalam. Pintu terbuka lebar.

Seorang pria berambut pirang dengan wajah pucat dan penampilan berantakan berdiri tepat di hadapannya, mencoba memasang ekspresi sok berani. Tapi Julian bahkan tidak memandangnya lama. Matanya langsung menerobos melewati bahu pria sialan itu, fokus sepenuhnya pada sosok yang berdiri gemetar di sudut ruangan.

`Lea.`

Gadis itu berdiri mematung dengan gaun hitam elegannya. Rambut panjang yang tergerai indah kelihatan sangat kontras dengan wajahnya yang sepucat mayat. Ketakutan yang telanjang terpampang jelas di manik matanya—ketakutan yang bukan ditujukan untuk pria di hadapannya, melainkan untuk Julian.

`Bagus. Setidaknya gadis itu masih tahu siapa yang memegang kendali atas hidupnya.`

`"J-Julian...?"` suara Lea tercekat di tenggorokan, begitu lirih nyaris tak terdengar.

Julian menatapnya tajam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat. Napasnya memburu, menghirup udara kamar hotel yang dipenuhi aroma ketegangan ini.

Pria berambut pirang di depannya mendadak menegakkan tubuh, berusaha menghalangi pandangan Julian. `"Hei! Siapa kamu?! Berani sekali mendobrak kamar orang sembarangan—"`

`Bugh!`

Sebelum pria bodoh itu sempat merampungkan kalimatnya, Julian sudah mencengkeram kerah jasnya dan melayangkan satu pukulan telak ke rahang Ethan hingga pria itu terhuyung jatuh membentur dinding.

`"Kau..."` suara Julian tercekat rendah penuh ancaman, melangkah maju mendekati pria yang mengerang kesakitan di lantai sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Julian menatapnya tajam dari atas, lalu mengalihkan pandangan kembali ke arah Lea yang semakin menciut di sudut. `"Kau berani menyentuh apa yang menjadi milikku, ha?"`

`"Julian, stop!"` teriak Lea panik, berlari kecil menghampiri mereka dan mencengkeram lengan jas Julian dengan jemari yang bergetar hebat. Air mata nyaris tumpah di pelupuk matanya. `"Jangan apa-apakan dia... kumohon, Julian. Ini salah paham..."`

Julian menunduk, menatap wajah cantik gadis yang baru saja mengkhianati kepercayaannya. Jemarinya terulur, mencengkeram dagunya dengan lembut namun penuh tekanan mutlak, memaksa wajah Lea mendongak menatapnya lekat-lekat.

`"Salah paham?"` bisik Julian tepat di bibir gadis itu, suaranya dingin bagai es batu. Ia tersenyum miring, senyuman paling mematikan yang ia kubur dalam-dalam di hadapan Lea selama ini. `"Sayang sekali, sweetheart... aku benci kesalahpahaman. Dan sekarang, kita akan pulang. Berdua saja. Di sana, kita akan meluruskan semua kebohongan manis ini."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!