"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Kebun Bunga Matahari Itu
Su Yi menatap Mo Han dengan mata yang melebar, jantungnya berdegup kencang hingga terasa berdenyut di pelipisnya. "Desa kakekmu... kebun bunga matahari?" Ia mengulang pelan, kata-kata itu terasa begitu asing namun sekaligus begitu akrab di telinganya, seakan pernah ia dengar ribuan kali di dalam mimpi yang sudah lama ia lupakan. "Bagaimana kau tahu tempat itu? Aku... aku hanya pernah pergi ke sana sekali, saat aku masih kecil. Dan hampir tidak ada orang yang tahu tentang tempat itu."
Mo Han menatapnya dalam-dalam, tatapannya lembut namun penuh kesedihan yang samar, seakan kenangan tentang tempat itu membawa rasa rindu yang tak terlukiskan. "Karena aku juga pernah berada di sana, Yi. Dan tempat itu... bukan hanya milik kakekku. Tempat itu adalah saksi dari segala sesuatu yang pernah terjadi di antara kita."
Ia berhenti sejenak, lalu mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, telapak tangannya terbuka dan hangat. "Kita bisa pergi sekarang. Jika kau siap. Mungkin di sana... kau akan mulai mengingat."
Su Yi menatap tangannya sebentar, lalu perlahan meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu. "Aku siap."
Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam, membelah jalan raya yang perlahan berubah menjadi jalan setapak yang dikelilingi perbukitan hijau dan ladang-ladang luas yang membentang sejauh mata memandang. Di sepanjang jalan, Su Yi menatap ke luar jendela mobil dengan rasa takjub sekaligus kerinduan yang perlahan tumbuh di dadanya — pemandangan ini, udara yang segar dan harum tanah basah, angin yang berhembus lembut membawa aroma rumput dan bunga... semuanya terasa begitu familiar, seakan ia pernah berada di sini dalam waktu yang sangat lama.
"Kau mulai mengingat?" Mo Han bertanya pelan, matanya tetap menatap jalan di depannya, namun tangannya yang berada di persneling bergerak perlahan hingga menyentuh punggung tangan Su Yi yang berada di pangkuannya.
"Beberapa bagian." Su Yi mengakui pelan, menatap wajah pria itu dari samping. "Aku ingat bukit ini. Aku ingat pohon besar di tikungan itu. Tapi sisanya... masih kabur. Seakan ada kabut tebal yang menutupi ingatanku tentang masa itu."
"Kabut itu akan hilang saat kita sampai di sana." Mo Han berkata dengan keyakinan yang teguh. "Tempat itu selalu punya cara untuk membangkitkan ingatan yang terkubur."
Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil berbelok ke sebuah jalan tanah yang sempit dan berhenti di depan gerbang kayu tua yang sudah mulai lapuk namun tetap kokoh berdiri. Saat mereka turun dari mobil, pemandangan di depan mata membuat Su Yi tertegun tak mampu berkata-kata — di sana, membentang luas di atas lereng bukit yang menghadap ke matahari, kebun bunga matahari yang tak terhitung jumlahnya berdiri tegak dan bermekaran cerah, seakan ribuan matahari kecil yang turun ke bumi. Angin berhembus pelan, membuat kelopak bunga-bunga itu bergoyang serempak, menciptakan gelombang kuning keemasan yang memukau mata.
"Ini..." Su Yi melangkah maju perlahan, kakinya bergerak tanpa sadar mendekati hamparan bunga itu. "Ini tempat itu. Ini tempat di mana aku bermain dulu."
Ia berjalan masuk ke tengah kebun itu, di mana bunga-bunga matahari tumbuh setinggi bahunya, melindunginya dari sinar matahari siang yang terang namun hangat. Ia berputar perlahan di tempat, menatap ke segala arah, air mata perlahan jatuh membasahi pipinya — bukan karena sedih, melainkan karena perasaan damai yang luar biasa yang menyelimuti hatinya, perasaan bahwa ia akhirnya pulang.
"Di sini..." Su Yi berbisik, tangannya menyentuh kelopak bunga matahari terdekat dengan lembut. "Di sini ada sebuah pohon besar. Di bawah pohon itu... aku pernah berjanji pada seseorang."
Mo Han berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan yang tak bisa disembunyikan lagi. Ia berjalan maju perlahan hingga berdiri tepat di samping gadis itu, menatap ke arah pohon besar yang berdiri kokoh di tengah kebun itu — pohon yang sudah berdiri di sana selama puluhan tahun, saksi bisu dari pertemuan dua anak kecil yang takdirnya sudah terikat sejak lama.
"Pohon itu masih ada." Mo Han berkata pelan, matanya menatap batang pohon yang besar dan kokoh itu. "Dan janji itu... masih ada juga. Di bawah bayang-bayang pohon itu, sepuluh tahun yang lalu, dua anak kecil berjanji satu sama lain — untuk selalu bersama, untuk saling melindungi, dan untuk tidak pernah melupakan satu sama lain."
Su Yi menatapnya lebar-lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berjalan perlahan mendekati pohon besar itu, menyentuh batangnya yang kasar namun hangat. Di sana, di bagian batang yang agak tersembunyi di balik dedaunan, terdapat goresan kecil yang sudah mulai samar namun masih bisa dilihat — dua nama yang digoreskan berdampingan, di bawah sebuah gambar bunga matahari yang sederhana.
Mo Han ♥ Su Yi
Air mata mengalir deras di pipi Su Yi saat melihat tulisan itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis yang ingin keluar. "Kau... kau anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang bermain denganku setiap hari di sini. Anak laki-laki yang selalu melindungiku dari anak-anak lain. Anak laki-laki yang berjanji akan selalu bersamaku."
Mo Han berjalan mendekat hingga berdiri tepat di belakangnya, suaranya bergetar penuh emosi yang tertahan. "Dan kau adalah gadis kecil yang selalu tersenyum padaku, yang memberiku bunga matahari pertama, yang membuatku merasa bahwa hidup ini indah meskipun aku tidak memiliki apa-apa. Saat kau pergi... aku kehilangan seluruh duniaku. Sepuluh tahun, Yi. Sepuluh tahun aku mencari setiap sudut kota, setiap desa, setiap tempat yang mungkin bisa membawaku kembali kepadamu. Dan saat akhirnya aku menemukanmu... kau tidak mengenalku lagi."
Su Yi berbalik perlahan, menatap pria di hadapannya — pria yang selama ini ia anggap orang asing, ternyata adalah orang yang paling ia rindukan di masa kecilnya. Pria yang telah menunggunya selama sepuluh tahun penuh kesepian dan kerinduan yang tak terucap.
"Maafkan aku..." Su Yi berbisik, air mata terus mengalir tanpa henti. "Maafkan aku karena melupakanmu. Maafkan aku karena tidak mengenalimu saat pertama kali kita bertemu. Aku... aku tidak tahu. Aku tidak tahu bahwa kau adalah orang yang selalu ada di sudut hatiku yang paling dalam, orang yang selalu kurindukan meski aku tidak bisa mengingat wajahmu."
Mo Han mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, menghapus air matanya dengan jari-jarinya yang hangat. "Jangan minta maaf. Kau tidak salah. Yang penting sekarang... kita bertemu lagi. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Tidak peduli apa pun yang terjadi, tidak peduli siapa yang mencoba memisahkan kita. Kita akan tetap bersama. Seperti yang kita janjikan di bawah pohon ini sepuluh tahun yang lalu."
Ia menarik Su Yi ke dalam pelukannya perlahan, memeluknya dengan lembut namun erat, seakan takut jika ia melepaskannya, gadis itu akan hilang lagi seperti dulu. Su Yi menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak kencang namun teratur, merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya — kehangatan yang membuatnya merasa aman, dicintai, dan di rumah.
"Aku ingat semuanya sekarang, Mo Han." Su Yi berbisik di pelukannya, suaranya terdengar tenang dan bahagia. "Aku ingat bagaimana kau selalu menungguku di gerbang setiap pagi. Aku ingat bagaimana kau membuatkan mahkota bunga matahari untukku. Aku ingat bagaimana kau menangis saat aku harus pergi, dan berjanji akan mencariku sampai ke ujung dunia. Aku ingat semuanya."
Mo Han menunduk, menatap wajah gadis itu yang kini bersinar cerah di antara hamparan bunga matahari yang keemasan, persis seperti senyumnya sepuluh tahun yang lalu — senyum yang menjadi cahaya dalam hidupnya yang gelap. Ia mengusap rambutnya dengan lembut, lalu berkata dengan suara yang penuh ketulusan dan cinta yang tak terhingga.
"Dan sekarang... biarkan aku menepati janjiku yang lain. Biarkan aku menjagamu, mencintaimu, dan menemanimu sampai akhir hayat. Bukan lagi sebagai anak laki-laki yang kau kenal dulu... tapi sebagai suamimu. Sebagai orang yang akan mencintaimu setiap hari, tanpa henti, tanpa syarat, selamanya."
Su Yi mendongak, menatap matanya yang dalam dan penuh cinta, lalu perlahan tersenyum — senyum yang paling tulus dan paling bahagia yang pernah ia berikan kepada siapa pun. Ia mengangkat tangannya, menyentuh wajah pria itu dengan lembut, seakan ingin memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ya, Mo Han. Aku mau. Aku mau kau menjadi suamiku. Aku mau kau menjagaku. Dan aku mau mencintaimu juga... selama sisa hidupku."
Di bawah pohon besar itu, di tengah kebun bunga matahari yang bermekaran cerah di bawah sinar matahari siang yang hangat, dua orang yang telah terpisah selama sepuluh tahun akhirnya bersatu kembali — bukan lagi sebagai dua anak kecil yang penuh keraguan, melainkan sebagai dua orang dewasa yang tahu betul apa yang mereka inginkan, dan apa yang mereka miliki adalah cinta yang tak pernah mati, bahkan waktu pun tak mampu memadamkannya.
Namun di kejauhan, di balik bukit yang berhadapan dengan kebun bunga matahari itu, sebuah mobil hitam berhenti diam di tempat yang tersembunyi. Di dalamnya, seorang pria mengenakan kacamata hitam menatap pasangan itu melalui lensa kamera jarak jauh, lalu perlahan menurunkan kameranya dan tersenyum tipis — senyum yang dingin dan penuh perhitungan.
"Jadi akhirnya... kalian bertemu kembali." Pria itu berbisik pelan, suaranya tajam dan mengancam. "Semakin indah kebangkitan kalian... semakin menyakitkan saat semuanya hancur. Tunggu saja... waktuku akan tiba. Dan saat itu tiba... aku akan mengambil semuanya darimu, Mo Han. Termasuk wanita itu."
Mobil itu perlahan melaju pergi, meninggalkan debu tipis di jalan tanah, sementara di kebun bunga matahari itu, dua hati yang akhirnya menemukan rumahnya masih berdiri berpelukan, belum menyadari bahwa bahaya baru saja mencatat keberadaan mereka — dan bahwa ujian terbesar cinta mereka baru saja dimulai.
salam interaksi thor😉