NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018

Putra Konglomerat

Bunga berkata, "Kalau begitu kita cari tubuhmu."

Kalimat itu terdengar sangat berani selama tiga detik.

Pada detik keempat, otaknya mulai bekerja.

Tubuh Rangga Wicaksana bukan dompet hilang yang bisa dicari di bagian informasi mal. Ia putra kedua Keluarga Wicaksana, salah satu nama yang membuat orang-orang di acara sosial meluruskan punggung. Tubuhnya dirawat di fasilitas medis keluarga, dijaga staf, dokter, mungkin pengacara, mungkin kamera, mungkin ayah yang reaksinya saja bisa membuat Rangga hampir lenyap dari kepala Bunga.

Bunga menatap layar artikel, lalu menatap dinding kos yang catnya mengelupas.

"Aku baru saja bilang akan mencari tubuh putra konglomerat," gumamnya. "Dengan modal ponsel pinjaman dan blouse diskon."

Rangga menjawab pelan, "Karena itu saya bilang jangan gegabah."

"Kamu bilang itu setelah aku tahu kamu konglomerat."

"Saya tidak memakai kata itu."

"Tidak perlu. Nama keluargamu sudah memakai lampu sorot sendiri."

Bunga berdiri, berjalan dua langkah, lalu kembali duduk. Kamar kosnya terlalu sempit untuk menampung rasa panik. Ia membuka notes, melihat daftar nama: Prabu, Sekar, Arjuna. Di bawahnya ada Wicaksana Group, rumah sakit keluarga, tanda tangan.

Ia menambahkan satu baris:

`Rangga \= high branch asli. Cabangnya mungkin berduri.`

Rangga membaca melalui matanya. "Cabang berduri?"

"Kamu pikir aku akan menulis `kesempatan strategis tingkat premium`?"

"Itu lebih akurat."

"Itu lebih menyebalkan."

Ia menutup notes dan menekan ponsel ke dada. Tiba-tiba ia ingin tertawa. Bukan karena lucu, tetapi karena hidupnya terlalu tidak masuk akal untuk ditangisi terus. Selama berminggu-minggu ia berusaha masuk ke lingkaran elite dengan baju pinjaman, jawaban setengah palsu, dan piring steak. Sementara itu, orang yang paling elite justru sudah tinggal di kepalanya sejak malam pertama.

"Aku benar-benar berhasil meraih cabang tinggi," katanya.

Rangga diam.

"Bukan Baskara. Bukan Melati. Bukan Anindya. Langsung Wicaksana."

"Kamu terdengar terlalu senang."

"Aku juga takut."

Kejujuran itu membuat ruang di antara mereka berhenti bercanda.

Bunga menarik lutut ke dada. "Keluargamu bisa menghancurkan aku, kan?"

"Ya."

Jawaban itu terlalu cepat, tetapi setidaknya tidak manis.

"Kalau mereka tahu aku membawa kesadaranmu, apa yang akan mereka lakukan?"

"Mereka mungkin tidak percaya."

"Kalau percaya?"

"Mereka akan mengendalikanmu."

"Caranya?"

"Uang, ancaman hukum, pengawasan, mungkin tuduhan bahwa kamu memanfaatkan kondisi saya."

Bunga menelan ludah. "Padahal kamu yang numpang."

"Tidak ada bukti."

"Ada aku."

"Dalam ruang hukum keluarga seperti Wicaksana, kesaksianmu akan diperlakukan sebagai gangguan."

Bunga merasakan dingin naik di punggungnya. Inilah perbedaan antara menjadi miskin dan berhadapan dengan orang kaya. Orang miskin punya cerita. Orang kaya punya pengacara untuk membuat cerita itu terdengar seperti kebohongan.

Ia membayangkan namanya muncul di berita sebagai perempuan tak dikenal yang mengganggu keluarga besar, kosnya didatangi orang, Melati ikut terseret karena pernah meminjamkan ponsel. Bayangan itu membuat perutnya lebih dingin daripada saat Ratih menumpahkan anggur.

"Jadi kita tidak bisa langsung datang," katanya.

"Tidak."

"Kita perlu tahu lokasi, penjagaan, siapa yang boleh masuk, kondisi tubuhmu, dan apakah keluargamu benar-benar ingin kamu bangun."

Rangga hening.

Bunga menangkapnya. "Kamu tidak yakin?"

"Saya yakin Arjuna ingin saya hidup."

"Kakakmu."

"Ya."

"Ayahmu?"

Rangga tidak menjawab.

"Oke," kata Bunga, lebih pelan. "Pertanyaan ditunda."

Ia mengambil napas panjang. "Kita mulai dari berita. Rumah sakit keluarga mana yang biasa dipakai Wicaksana?"

"Mereka punya beberapa fasilitas mitra. Untuk kasus saya, kemungkinan fasilitas pribadi di bawah yayasan kesehatan Wicaksana. Tidak tercantum terbuka sebagai rumah sakit umum."

"Jadi bukan tempat yang bisa aku masuki pakai alasan mau cek darah."

"Tidak."

"Keren. Cabangnya bukan cuma berduri, ada satpamnya."

"Ada banyak satpam."

Bunga menatap langit-langit. "Aku rindu saat masalahku cuma garpu."

Untuk beberapa detik, Rangga tidak menjawab. Lalu ia berkata, "Saya minta maaf."

Bunga menoleh ke samping seolah bisa melihatnya. "Yang mana? Karena bohong? Karena tinggal di kepalaku? Karena kamu ternyata aset nasional berjalan?"

"Semuanya."

Jawaban itu membuat amarahnya kehilangan tempat berpijak.

Bunga tidak ingin terlalu cepat memaafkan. Ia masih kesal. Ia masih merasa ditelanjangi oleh fakta bahwa pria ini tahu seluruh kelemahannya sementara ia baru tahu namanya sekarang. Namun ia juga ingat rasa kosong di mal, suara Rangga saat berkata takut tidak ada yang keberatan kalau ia tidak kembali.

"Aku marah," katanya.

"Saya tahu."

"Tapi aku juga butuh kamu."

"Saya tahu."

"Dan kamu butuh aku."

"Saya sangat tahu."

Bunga mendengus. "Bagus. Akhirnya ada yang kamu tahu tanpa membuatku ingin memukul."

Ponsel kembali bergetar. Kali ini pesan dari Melati.

`Kalau kamu perlu datang ke rumahku besok, datang saja. Aku tidak akan tanya dulu.`

Bunga memandangi pesan itu. Melati mungkin belum tahu apa-apa, tetapi ia sudah membuka pintu.

"Melati bisa membantu akses ke Prawira, bukan Wicaksana," kata Rangga.

"Aku tahu. Tapi Melati punya satu hal yang keluargamu mungkin tidak punya."

"Apa?"

"Dia percaya aku sebelum aku punya bukti."

Rangga terdiam.

Bunga membalas Melati singkat:

`Besok aku datang. Ada yang harus kupikirkan.`

Setelah itu, ia mencari berita lama tentang Wicaksana Group. Banyak sekali. Terlalu banyak. Foto keluarga di acara penghargaan. Artikel tentang Prabu yang keras. Profil Arjuna sebagai pewaris utama. Sekar yang jarang muncul tetapi selalu disebut menjaga kehormatan keluarga. Dan beberapa foto Rangga sebelum insiden: jas rapi, wajah dingin, mata yang tampak seperti sudah lelah bahkan saat tersenyum untuk kamera.

Bunga memperbesar salah satu foto.

"Kamu lebih sombong di foto."

"Foto perusahaan dibuat untuk menakuti pemegang saham."

"Berhasil."

Ia menyimpan foto itu ke galeri ponsel, lalu memberi nama folder baru: `Cari Tubuh Tuan`.

"Judul folder itu buruk," kata Rangga.

"Mau diganti `Operasi Pangeran Koma`?"

"Lebih buruk."

"Kalau begitu diam."

Untuk pertama kalinya malam itu, Bunga merasakan Rangga hampir tersenyum di dalam kepalanya.

Namun rasa ringan itu tidak bertahan lama. Di salah satu artikel lama, Bunga menemukan foto Arjuna berdiri di depan sebuah gedung medis kecil dengan logo yayasan Wicaksana di belakangnya. Caption menyebut acara peresmian fasilitas perawatan privat untuk kasus neurologis dan rehabilitasi eksekutif.

Bunga memperbesar logo.

"Ini?" tanyanya.

Rangga membaca bersama matanya.

Emosinya menegang.

"Mungkin," katanya.

Bunga menyimpan alamat yang tercantum di artikel.

Besok, ia akan datang ke rumah Melati. Besok, ia akan mulai bertanya tanpa terlihat bertanya. Besok, ia akan mencari cara mendekati gedung tempat tubuh Rangga mungkin berbaring tanpa suara.

Malam itu, sebelum tidur, Bunga menatap langit-langit kos dan berkata, "Tuan Besar Misterius."

"Jangan panggil saya begitu."

"Konglomerat tidak boleh pilih-pilih panggilan dari orang yang menyelamatkan jiwanya."

"Kamu belum menyelamatkan saya."

"Belum."

Bunga memejamkan mata.

"Tapi aku sudah mulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!