Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. langkah Nekat
Hendrik masih diam terpaku di dalam kegelapan saluran pembuangan itu, tak berani bergerak sedikit pun selagi samar-samar suara langkah kaki serempak itu masih terdengar menggema di atas sana. Dinding beton yang dingin dan lembap menempel di punggungnya, namun ia tak merasakannya. Seluruh kesadarannya terpusat pada satu hal: memastikan kawanan mayat hidup yang aneh itu benar-benar telah menjauh.
Waktu terasa berjalan begitu lambat, seakan detik berganti menjadi jam. Setiap kali masih terdengar samar suara geraman rendah atau gesekan pakaian yang compang-camping, jantungnya kembali berdegup kencang, napasnya tertahan di kerongkongan hingga dadanya terasa perih. Ia mencoba menenangkan diri, mengingat kembali wajah istri dan anak perempuannya—satu-satunya alasan yang membuatnya masih bertahan berdiri tegak di tengah dunia yang sudah runtuh ini.
Perlahan namun pasti, suara itu makin mengecil, hilang tertelan keheningan malam yang pekat. Hening kembali menyelimuti segalanya, begitu sunyi hingga suara aliran air di bawah sana terdengar begitu nyaring.
Namun Hendrik tak langsung bergerak. Ia masih ingin memastikan sepenuhnya. Perlahan ia kembali mendekatkan wajahnya ke celah sambungan lempengan besi, matanya menyipit berusaha menembus kegelapan malam. Jalanan di atas sana kini tampak lengang, tak ada lagi bayangan yang bergerak beriringan, tak ada lagi mata kosong yang melotot lurus ke depan. Hanya reruntuhan dan bangunan yang gelap gulita yang menyambut pandangannya.
Dengan hati-hati, ia meraba perlengkapan yang ia miliki: senapan laras panjang yang ia temukan di pos polisi yang sudah ditinggalkan, kini tergantung kokoh di punggungnya, dan sebilah golok tajam yang terselip rapi di sarung kulit di pinggang kanannya. Perlengkapan itu tak banyak, namun baginya itu adalah nyawa kedua. Ia sadar sepenuhnya, melangkah keluar saat ini adalah keputusan yang sangat nekat. Bahaya kini bukan lagi sekadar makhluk yang kelaparan, melainkan sesuatu yang jauh lebih terorganisir dan mematikan. Namun, ketakutan akan kehilangan kesempatan bertemu keluarganya jauh lebih menyakitkan daripada rasa takut pada kematian itu sendiri.
"Aku harus menemukan kalian... apa pun yang terjadi..." bisiknya lirih, seakan menguatkan tekadnya sendiri.
Dengan perlahan, ia kembali mencengkeram pegangan besi penutup. Kali ini ia bergerak lebih hati-hati, menggesernya sedikit demi sedikit agar tak menimbulkan suara bising yang dapat memancing perhatian. Celah itu terbuka cukup lebar baginya untuk menyelinap keluar. Ia mengintip sekali lagi ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada satu pun sosok yang tertinggal atau bersembunyi di balik bayangan bangunan.
Setelah merasa cukup yakin, Hendrik mendorong tubuhnya naik perlahan keluar dari lubang itu. Kakinya menginjak permukaan aspal yang dingin dan berdebu. Segera setelah seluruh tubuhnya berada di luar, ia kembali menutup rapat lempengan besi itu, menyembunyikan jejak tempat persembunyiannya seandainya ia harus kembali berlari menyelamatkan diri nanti.
Malam itu begitu dingin, angin berhembus kencang menerpa wajahnya, membawa bau anyir darah dan debu reruntuhan. Hendrik berdiri tegak, menarik napas panjang dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang masih tersisa. Ia memeriksa kembali senapan laras panjangnya, memastikan peluru masih siap, lalu menggenggam gagang golok erat-erat sejenak sebelum melepaskannya kembali.
Ia tahu, jalannya masih sangat panjang. Kota Bandung yang dulu ia kenal kini telah berubah menjadi ladang maut yang tak terduga. Namun di ujung perjalanan ini, ada harapan yang tak boleh ia padamkan. Dengan langkah yang mantap namun tetap penuh kewaspadaan, Hendrik mulai kembali melangkah. Ia memilih jalan setapak yang lebih gelap dan tersembunyi, menjauhi jalan raya tempat barisan mayat hidup tadi lewat, menuju arah perumahan tempat terakhir kali ia melihat sosok istri dan anaknya sebelum kekacauan meledak.
Setiap langkah yang ia ambil adalah perjuangan. Setiap bayangan yang bergerak membuatnya berhenti sejenak, siap siaga dengan senjata di tangan. Namun di dalam hatinya, satu janji terus bergema: ia tak akan berhenti, tak akan menyerah, sampai ia menemukan mereka—hidup atau mati.
Bayangan itu terus bergerak perlahan di balik tembok bangunan yang rusak, membuat nadi Hendrik kembali berpacu cepat. Ia tak bisa memastikan apa yang ada di sana—apakah makhluk yang tak lagi berakal, atau sesama manusia yang mungkin lebih berbahaya daripada mayat hidup itu sendiri. Tanpa pikir panjang, tangannya bergerak sigap mencabut sebilah golok tajam dari sarungnya. Matanya menatap tajam ke setiap sudut gelap di sekelilingnya, waspada sepenuhnya.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" serunya dalam hati, namun bibirnya terkunci rapat. Ia menunggu, membiarkan pendengarannya bekerja sepenuhnya, mencoba membedakan suara langkah kaki itu—apakah berat dan tersendat, atau tegap dan teratur.
"Hei, turunkan senjatamu..."
Suara itu terdengar tenang, namun jelas berasal dari kejauhan. Hendrik tak terpancing.
"Aku tak akan menurunkannya jika kau berniat melakukan hal di luar nalar!" balasnya tegas.
Tak ada sahutan lagi. Yang terdengar kini hanyalah suara langkah kaki yang perlahan mendekat, mantap dan tak ragu. Hendrik mengeratkan genggamannya pada gagang golok, siap mengayunkan kapan saja.
Psstt...
Suara pelan itu datang dari arah kanannya. Hendrik memutar kepala seketika, dan di bawah remang cahaya bulan yang sesekali muncul di balik awan kelabu, ia melihat sesosok pria bertubuh tinggi tegap. Di punggungnya tersampir senapan, di pinggangnya tergantung belati dan perlengkapan lain—persenjataan yang lengkap dan terawat dengan baik.
"Hei... jangan kau naikkan golok mu, kau membuatku ikut tegang," ucap pria itu sambil mengangkat kedua tangannya perlahan tanda tak bermusuhan. "Aku bukan orang jahat. Tadi aku tak sengaja melihatmu berjalan sendirian di sini, dan kupikir kau butuh teman di tengah malam yang mengerikan ini."
"Siapa kau?" tanya Hendrik pendek, belum sepenuhnya melepaskan kewaspadaan.
Pria itu menghela napas panjang, lalu memperkenalkan diri dengan nada yang tulus. "Namaku Toni. Aku juga penyintas, sama sepertimu. Sedang berusaha mencari jejak keluargaku yang entah berada di mana sekarang."
Mendengar itu, ketegangan di bahu Hendrik perlahan merenggang. Perlahan ia menurunkan goloknya dan menyelipkannya kembali ke sarung di pinggang.
"Tujuanku ke Lembang," ucap Hendrik pelan. "Aku berharap istri dan anakku ada di sana. Katanya ada tempat evakuasi yang disiapkan pemerintah sebelum kekacauan ini benar-benar tak terkendali."
Toni mengangguk mantap. "Tujuan kita sama. Aku juga ke sana. Karena aku menemukan jejak panah yang tertancap di tubuh salah satu mayat hidup yg sudah tidak bergerak."
"Panah..." gumam Hendrik tak percaya.
"Ya," lanjut Toni dengan sorot mata yang berbinar penuh harap. "Adikku sangat menyukai serial "The Walking Dead", dan dia sangat mengagumi karakter "Daryl Dixon". Dia bahkan sempat membuat busur panah sendiri sebelum wabah datang. Jadi aku yakin sepenuhnya... itu adalah jejak adikku."
Hendrik terdiam sejenak, menyadari betapa takdir mempertemukan mereka di saat yang tepat.
"Kalau begitu... bolehkah aku ikut bersamamu?" tanyanya.
"Sudah kubilang, tujuanku memang untuk mencari orang yang masih hidup," jawab Toni mantap sambil memberi isyarat tangan. "Ayo kita segera pergi ke sana. Kita tak boleh berlama-lama di sini. Aku takut kawanan yang tadi lewat berbalik arah kembali ke sini."
Keduanya segera melangkah cepat menjauhi tempat itu.
"Maksudmu... mereka bergerak berbaris begitu teratur dan bisa kembali lagi ke sini?" tanya Hendrik tak habis pikir.
"Iya," jawab Toni dengan nada berat. "Sudah tiga hari ini aku mengamati mereka. Mereka bergerak kompak, seolah-olah ada komando yang mengatur langkah mereka. Dan pola gerakannya... mereka akan berputar balik ke arah sini, lalu bergerak lurus menuju daerah Lembang."
Hendrik tertegun. "Kau yakin mereka benar-benar menuju ke sana?"
"Aku sudah mengikutinya dari kejauhan," ucap Toni pelan. "Dan ada sesuatu yang membuatku curiga... seolah ada tangan manusia yang mengendalikan mereka."
Hendrik menatap tajam ke arah jalanan yang sepi. "Aku juga berpikir begitu. Mungkin ada sekelompok orang yang berusaha memanfaatkan wabah ini untuk menguasai keadaan, menjadikan mereka pasukan pembasmi bagi siapa saja yang tak mau tunduk."
"Kita harus sangat berhati-hati, Hendrik," peringat Toni serius. "Jika benar ada manusia di balik semua ini, mereka jauh lebih berbahaya daripada sekadar mayat hidup. Mereka punya akal, rencana, dan niat jahat yang terencana."
"Kau benar..."
Mereka pun tiba di sebuah mobil sedan tua yang masih tampak layak pakai, terparkir di balik tumpukan puing tembok agar tak terlihat dari jalan raya. Keduanya segera masuk ke dalam kendaraan. Toni menyalakan mesin dengan hati-hati, memastikan suaranya tak terlalu keras, lalu menginjak gas perlahan melaju membelah jalanan yang sebagian tergenang air sisa hujan semalam.
Di dalam mobil yang remang itu, harapan menyala kembali di hati Hendrik. Ia sungguh berharap laporan yang ia dengar tentang tempat evakuasi di Lembang benar adanya, dan bahwa istri serta anak perempuannya sudah berada di tempat yang aman. Sementara di sisi lain, hati Toni berdebar menahan harap yang sama besarnya—ia sempat berpikir adiknya sudah tiada, namun jejak anak panah itu kembali memberinya alasan untuk terus melangkah. Adiknya, Rafli... entah bagaimana caranya, ia harus menemukannya.
Namun di balik harapan itu, bayangan ancaman yang tak terduga terus membayangi. Apakah mereka akan benar-benar menemukan orang yang mereka cari di sana? Atau justru mereka akan terjebak dalam bahaya yang jauh lebih besar, yang telah menanti dengan rapi di tempat yang mereka kira sebagai pelabuhan terakhir?
Bersambung