Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drop Out? 21.
Pukul sepuluh pagi, suasana sekolah yang biasanya tertib mendadak pecah.
Tidak ada suara bel istirahat, melainkan dengung bisikan yang menjalar cepat bagai virus di sepanjang koridor. Semua mata tertuju pada layar ponsel masing-masing. Di forum angkatan kelas tiga, sebuah unggahan foto dan video masih hangat menduduki peringkat teratas kurasi publik.
Video berdurasi sepuluh detik itu memperlihatkan rincian kartu keluarga dan foto akta nikah. Nama yang tertera di sana tertulis jelas dalam tinta hitam legalitas negara: Affan Pradipta dan Monisha Zara Kusuma. Dua murid kelas dua belas satu.
"Ini gila. Affan? Mona? Mereka berdua... menikah?!" Seru salah satu murid kelas dua di pojok koridor, memecah keheningan yang mencekam.
Sampai pagi ini, Sampai seluruh sekolah gempar. Video dan Foto itu yang awalnya hanya di angkatan kelas tiga saja, kini menyebar luas ke grup adik-adik kelas.
Kelompok-kelompok kecil berkumpul di depan mading, di kantin, hingga di depan kelas Dua belas A. Mereka menuntut kebenaran.
Affan, ketua OSIS yang perfeksionis, dan Mona, siswi yang suka terlambat datang ke sekolah. Selama ini dikenal sering bertengkar, bahkan jarang terlihat mengobrol. Bagaimana mungkin keduanya terikat komitmen sakral yang biasanya hanya milik orang dewasa?
Di dalam kelas, Mona duduk mematung. Jemarinya bergetar hebat di bawah kolong meja, meremas ujung rok abu-abunya hingga kusut. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di sudut lain, Affan berdiri. Wajah cowok itu mengeras, rahangnya mengetat menahan amarah yang siap meledak. Ia menatap tajam setiap pasang mata yang mencoba menghakimi mereka melalui jendela kelas.
Pintu kelas tiba-tiba digeser kasar dari luar. Pak Bambang, guru bimbingan konseling, berdiri di sana dengan napas memburu dan wajah merah padam.
"Affan. Mona. Ikut saya ke ruang Kepala Sekolah. Sekarang!"
**
Langkah kaki mereka menggema di koridor yang mendadak sunyi saat mereka lewat. Ratusan pasang mata mengintip dari balik jendela kelas, menonton mereka layaknya pesakitan yang digiring menuju ruang eksekusi.
Mona menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang mulai luruh. Di sampingnya, Affan melangkah tegap, seolah menolak untuk terlihat kalah, meski tangannya diam-diam mengepal erat di saku celana.
Ruang Kepala Sekolah terasa begitu dingin saat mereka melangkah masuk. Di balik meja kayu jati yang besar, Pak Surya, sang Kepala Sekolah, duduk dengan tatapan sepersis belati. Di atas mejanya, sebuah laptop menampilkan gambar akta nikah yang viral tersebut.
"Duduk," perintah Pak Surya, suaranya berat dan penuh penekanan.
Affan dan Mona duduk berdampingan di kursi sofa kulit. Jarak yang biasanya mereka jaga ketat di sekolah, kini terasa lenyap. Mereka duduk sebagai sepasang suami istri di hadapan hukum sekolah yang mengancam akan mendepak mereka.
"Saya tidak pernah menyangka," Buka Pak Surya, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "SMA Pancasila adalah institusi terhormat. Kita memegang teguh nilai moral. Dan hari ini, saya mendapati satu murid terbaik saya ternyata sudah melanggar aturan paling mendasar. Pernikahan usia sekolah. Mengapa kalian menyembunyikan hal menjijikkan ini dari institusi?!"
"Kami tidak melakukan hal menjijikkan, Pak," potong Affan cepat, suaranya tenang namun sarat akan nada menantang. "Kami menikah sah secara hukum dan agama."
"Affan! Jaga bicaramu!" bentak Pak Bambang yang berdiri di sudut ruangan.
"Sah atau tidak, kalian tetap melanggar aturan yayasan!" Suara Pak Surya meninggi, memukul meja. "Siswa yang sudah menikah tidak boleh melanjutkan sekolah di sini. Hari ini juga, saya akan mengeluarkan surat pemecatan untuk kalian berdua!"
Mendengar kata 'pemecatan', pertahanan Mona runtuh. Isak tangannya pecah. "Pak, tolong jangan keluarkan kami. Sebentar lagi ujian nasional. Kami tidak berniat mencoreng nama sekolah..."
"Aturan adalah aturan, Mona. Tidak ada pengecualian!" Tegas Pak Surya, meraih lembar kertas kosong untuk menulis surat Drop Out alias DO.
BRAK!
Pintu ganda ruang Kepala Sekolah dihantam terbuka dari luar hingga membentur dinding besi. Dua sosok paruh baya melangkah masuk dengan aura yang begitu dominan, menghentikan gerakan tangan Pak Surya seketika.
Arman Pradipta, pengusaha properti raksasa sekaligus donatur tunggal gedung olahraga baru SMA Pancasila, berjalan masuk dengan setelan jas formalnya yang rapi. Di sampingnya, Sisi Pradipta, sang istri. Berjalan Anggun namun dengan tatapan mata yang mampu membekukan ruangan.
"Siapa yang berani mengeluarkan putra dan menantu saya?" Suara berat Arman Pradipta menggelegar, memenuhi ruangan.
Pak Surya langsung berdiri dari kursinya, wajah nya yang tadi garang mendadak pias. "Tuan... Tuan Pradipta? Dan Nyonya? Bagaimana Anda bisa ada di sini?"
"Pihak keamanan memberi tahu saya ada kekacauan mengenai anak saya," Ucap Arman Pradipta dingin, melangkah mendekat lalu berdiri persis di belakang kursi Affan dan Mona. Beliau meletakkan sebelah tangannya di bahu Affan, menegaskan posisi perlindungan.
"Tuan Pradipta, Anda harus mengerti. Peraturan yayasan melarang keras adanya siswa yang sudah menikah..." Pak Surya mencoba membela diri, meski suaranya kini bergetar.
"Peraturan?" Bu Sisi melangkah maju, melipat tangannya di dada. "Peraturan itu dibuat oleh dewan yayasan, dan jangan lupa, Pak Surya, keluarga Pradipta memegang saham tujuh puluh persen di yayasan sekolah ini. Pernikahan mereka adalah keputusan kami, orang tua mereka. Perjodohan keluarga demi kelangsungan bisnis dan hubungan baik."
Mona mendongak, menatap ibu mertuanya yang selama ini bersikap galak kalau ke rumah, namun kini berdiri tegak membelanya di depan pihak sekolah.
"Tapi Nyonya, ini menjadi skandal di kalangan murid. Seluruh sekolah gempar," sela Pak Bambang memberanikan diri.
Arman menatap Pak Bambang dengan pandangan meremehkan. "Tugas Anda sebagai pendidik adalah menertibkan murid yang bergosip, bukan malah ikut menghakimi anak saya. Jika ada satu saja media luar yang mengendus berita ini, saya pastikan dana operasional sekolah ini akan diputus detik itu juga. Mengerti?"
Pak Surya menelan ludah. Ancaman itu nyata. Kehilangan donasi keluarga Pradipta berarti kemunduran besar bagi SMA Pancasila.
"Kami... kami hanya menjalankan prosedur, Tuan," cicit Pak Surya, perlahan duduk kembali ke kursinya, menjauhkan lembar surat DO yang tadi hendak ditulisnya.
"Sederhana saja," ucap Arman Pradipta, suaranya kini kembali tenang namun mutlak. "Ini urusan internal keluarga yang tidak akan mengganggu kegiatan belajar. Affan dan Mona akan tetap sekolah di sini sampai lulus. Jika mereka tidak lulus dengan nilai terbaik, baru Anda boleh mendatangi saya lagi."
Arman Pradipta kemudian menatap Affan dan Mona bergantian. "Berdiri. Kalian pulang hari ini. Tenangkan diri kalian. Papa akan rapat dengan dewan yayasan"
"Baik pah" Affan berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Mona. Mona menyambut tangan itu. Untuk pertama kalinya di lingkungan sekolah, Affan menggenggam jemari Mona dengan erat, sangat erat, di hadapan Kepala Sekolah dan guru BK mereka.
Saat mereka melangkah keluar dari ruangan, dipayungi oleh kuasa kedua orang tua mereka, Mona tahu bahwa rahasia mereka memang sudah hancur. Namun, melihat punggung tegap Affan yang menggandengnya keluar menembus kerumunan murid di koridor, ia sadar satu hal: mereka tidak lagi menghadapi badai ini sendirian.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan