NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Dua hari setelah Navara Tech menang, Kiana menerima telepon dari Mama Lily.

Saat itu ia baru keluar dari rapat vendor Vista Home. Di layar ponsel, nama Mama muncul bersama foto lama yang belum pernah ia ganti: Lily Lim duduk di taman, tersenyum lembut, seperti perempuan yang seumur hidupnya dilatih untuk tidak membuat siapa pun tidak nyaman.

"Kia," suara Mama terdengar terlalu tenang. "Pulang makan malam, ya."

Kiana berhenti di depan lift. "Mama baik-baik saja?"

"Baik. Hanya saja Papa-mu sedang... sulit diajak bicara."

Kalimat itu diucapkan pelan, tetapi Kiana mendengar sesuatu di belakangnya. Bukan takut. Bukan juga pasrah.

Seperti pintu yang selama bertahun-tahun tertutup akhirnya dikunci dari dalam oleh orang yang benar-benar berhak atas rumah itu.

Sore itu, Kiana kembali ke Vila Lim.

Begitu memasuki ruang makan, ia langsung tahu Mama sedang menyatakan perang dengan cara paling halus yang mungkin dilakukan seorang nyonya Tionghoa terdidik.

Semua hidangan di meja adalah makanan kesukaan Kiana.

Ikan tim jahe yang ringan, tumis buncis dengan udang kecil, tahu telur saus tiram, sup iga bening, dan satu piring ayam rica yang harum pedas. Tidak ada satu pun menu favorit Hendro. Tidak ada daging sapi lada hitam yang selalu ia minta, tidak ada sup herbal pahit yang biasa ia pakai untuk menunjukkan bahwa selera laki-laki di rumah ini harus didahulukan.

Bi Lan berdiri di sisi meja dengan wajah sangat lurus, tetapi matanya berbinar.

Hendro duduk di kursi kepala meja. Wajahnya gelap sejak Kiana masuk.

"Kamu sekarang susah sekali dipanggil pulang," katanya.

Kiana menarik kursi di sebelah Mama. "Saya sedang mengurus Vista Home."

"Hasilnya bagus, kan?" Hendro menyandarkan tubuh. "Jangan lupa, kalau bukan karena Papa memindahkan kamu ke Navara Tech, kamu tidak akan dapat kesempatan itu."

Sendok di tangan Kiana berhenti.

Mama Lily meletakkan sepotong ikan ke piring Kiana. "Makan dulu, Kia. Ikan masih hangat."

Hendro mengerutkan kening. "Lily, aku sedang bicara."

"Aku juga," jawab Mama tanpa melihatnya. "Anakku belum makan."

Udara di ruang makan berubah.

Hendro menatap istrinya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu punya tulang belakang.

Kiana mengambil ikan itu dan memasukkannya ke mulut. Rasanya lembut, hangat, sangat rumah. Setelah beberapa minggu hidup di antara ruang rapat, rumah sakit, dan berkas hukum, rasa jahe di lidahnya membuat matanya hampir panas.

Hendro mengambil ayam rica, lalu langsung meletakkan sendok dengan suara keras.

"Ini terlalu pedas."

Mama Lily mengangkat cangkir tehnya. "Kalau tidak cocok, silakan makan yang lain."

"Semua makanan hari ini tidak ada yang cocok."

"Kalau begitu, silakan pergi."

Bi Lan hampir menjatuhkan mangkuk sup.

Kiana menatap Mama.

Lily Lim duduk dengan punggung lurus, rambut disanggul rapi, gelang giok di pergelangan tangan berkilau lembut. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada air mata. Justru karena itulah kalimatnya terasa seperti pisau yang sangat tajam.

Wajah Hendro memerah. "Kamu bicara seperti itu kepada suamimu?"

"Aku bicara kepada orang yang mengeluh di meja makan yang aku siapkan."

"Lily!"

"Jangan berteriak di depan Kia."

Hendro menoleh ke Kiana, mencari dukungan atau setidaknya rasa takut yang dulu selalu ia dapatkan dari putrinya. Yang ia temukan hanya wajah tenang.

"Kiana, kamu juga jangan besar kepala." Ia menunjuk meja dengan sumpit. "Menang satu proyek kecil bukan berarti kamu sudah lebih hebat dari Vanya. Vanya lulusan MIT. Dia punya visi global. Kamu baru menyelamatkan perusahaan kecil yang hampir mati."

Kiana baru hendak menjawab, tetapi Mama Lily lebih dulu meletakkan cangkirnya.

Suara cangkir menyentuh tatakan terdengar sangat pelan.

"Cukup."

Hendro tertawa pendek. "Apa lagi?"

"Jangan sebut nama perempuan lain untuk merendahkan anakku di rumahku."

Ruang makan mendadak sunyi.

Hendro membeku.

Mama Lily menatapnya penuh. "Kia memenangkan proyek dengan kemampuannya sendiri. Kalau kamu tidak bisa bangga, setidaknya diam. Aku sudah terlalu lama membiarkan rumah ini menjadi tempat kamu membandingkan anakku dengan siapa pun yang ingin kamu angkat."

"Kamu mulai terpengaruh dia." Hendro menunjuk Kiana. "Sejak dia menikah sembarangan, kamu juga ikut tidak masuk akal."

"Pernikahan Kia jauh lebih sah daripada kesetiaanmu."

Kali ini, bahkan Kiana pun menahan napas.

Wajah Hendro berubah dari merah menjadi pucat. "Apa maksudmu?"

"Maksudku, makan malam selesai kalau kamu hanya datang untuk menghina anakku."

Hendro berdiri begitu keras sampai kursinya bergeser. "Kalian ibu dan anak benar-benar tidak tahu diuntung."

Ia pergi dengan langkah besar. Pintu ruang makan ditutup kasar beberapa detik kemudian.

Tidak ada yang bergerak sampai suara mobilnya menjauh dari halaman.

Bi Lan memegang dada. "Nyonya..."

Mama Lily baru menghela napas. "Bi Lan, tolong siapkan teh krisan untuk Kia."

"Baik, Nyonya."

Setelah Bi Lan pergi, Kiana meraih tangan Mama di bawah meja. Tangan itu dingin.

"Mama gemetar."

"Tentu saja." Lily tertawa kecil, tetapi matanya basah. "Mama bukan patung. Mama hanya baru ingat bahwa diam terus juga melelahkan."

Mereka pindah ke taman belakang setelah makan. Udara malam Vila Lim membawa aroma melati dan tanah basah. Lampu taman menyala lembut di antara tanaman yang dulu sering dipakai Kiana bersembunyi ketika kecil.

Mama Lily membuka map cokelat dari kursi panjang.

"Pengacara Tjen mengirim ini sore tadi. Mama minta dia menelusuri rekening yang kamu sebutkan."

Kiana membuka map itu.

Deretan angka dan tanggal memenuhi halaman pertama. Transfer bertahap, perusahaan cangkang, rekening luar negeri, nama penerima yang muncul berulang dalam pola berbeda.

Kiara Pai.

Jumlah akhirnya membuat ujung jari Kiana dingin.

"Puluhan miliar rupiah," katanya pelan.

"Dan itu baru yang mudah dilacak." Mama memandang kolam kecil di depan mereka. "Selama ini Mama pikir Hendro hanya egois, hanya tidak peka, hanya terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ternyata dia sedang mengeluarkan isi rumah ini sedikit demi sedikit."

Kiana menutup map. "Mama mau bagaimana?"

Dulu, pertanyaan seperti itu akan membuat Lily menunduk, lalu berkata tunggu dulu, jangan ribut, kasihan Papa-mu. Malam ini, Mama Lily memegang map itu dengan kedua tangan dan menatap Kiana tanpa kabur sedikit pun.

"Kia, Mama tidak akan membiarkan siapa pun menindasmu lagi." Suaranya lembut, tetapi tidak goyah. "Dan Mama tidak akan membiarkan laki-laki itu memakai barang keluarga Lim untuk membiayai perempuan di luar sana."

Dada Kiana terasa penuh.

Di kehidupan sebelumnya, Mama tidak pernah sempat sampai ke titik ini. Mama mati terlalu cepat, terlalu sendirian, terlalu penuh salah paham. Sekarang perempuan itu duduk di bawah lampu taman, masih lembut, masih anggun, tetapi matanya sudah berubah.

Kiana menggenggam tangan Mama lebih erat.

"Kita lakukan pelan-pelan," katanya. "Dengan bukti. Dengan pengacara. Dengan cara yang membuat dia tidak bisa lolos."

Mama mengangguk. "Kali ini Mama ikut."

Malam hampir pukul sembilan ketika Kiana meninggalkan Vila Lim. Mobilnya baru keluar dari gerbang saat ponselnya bergetar.

Voice note dari Vani.

Kiana menekan tombol play.

Suara Vani terdengar buru-buru, napasnya kacau.

"Kia, lo jangan panik dulu. Sepupu kayaknya cedera pas tugas..."

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!