NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Malam merambat semakin pekat. Kabut tipis mulai menyelimuti halaman mansion saat jarum jam melewati tengah malam. Kabut tipis dan bayangan tentang dirinya saat kecil terlihat jelas.

"Tidak... jangan!"

Kaki Liora menendang ke udara. Keningnya dipenuhi keringat dingin meski udara kamar begitu sejuk. Dalam tidurnya, Audrey, ibu tirinya kembali muncul.

Hujan turun begitu deras. Liora kecil sedang berdiri di teras rumah sambil memeluk boneka kesayangannya yang telah basah kuyup. Air mata bercampur dengan air hujan di pipinya.

"Keluar dari rumah ini!" bentak Audrey dengan wajah penuh amarah.

"Tapi, aku tidak melakukan apa-apa hiks jangan hukum aku ibu," suara kecilnya teredam hujan.

"Sampai kapan pun kau bukan anak yang kuinginkan! Kau bukan putriku."

Brak!

Pintu rumah ditutup keras tepat di depan wajahnya. Liora kecil memukul-mukul pintu dengan kedua tangan mungilnya.

"Ibu... tolong... dingin..."

Tak ada jawaban. Petir menyambar langit, disusul gemuruh yang memekakkan telinga. Gadis kecil itu benar-benar ketakutan.

"Tidak, ibu tolong buka pintunya hiks."

Air mata terus mengalir. Tubuh kecilnya menggigil hebat hingga akhirnya kedua lututnya tak lagi sanggup menopang tubuh. Gaunnya yang ia kenakan sedikit basah terkena percikan air. Bayangan itu seketika memudar.

"Liora!"

Suara seseorang terdengar samar dari kejauhan.

"Liora, bangun!"

Tangan hangat mengguncang bahunya perlahan. Jemari kasar menepuk pipi gadis itu.

Liora membuka mata dengan napas memburu. Pandangannya masih kabur. Keringat sebesar biji jagung menetes pelan darin dahinya.

Dadanya naik turun cepat. Ia mendapati Marco duduk di sisi ranjang dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.

"Apa kau mimpi buruk," ucap Marco pelan.

Liora hanya mengangguk. Napasnya belum beraturan. Seluruh tubuhnya gemetar.

Marco mengambil segelas air putih dari nakas, lalu menyodorkannya.

"Minumlah."

Dengan tangan yang masih bergetar, Liora menerima gelas itu. Ia meneguk beberapa teguk sebelum akhirnya napasnya mulai perlahan stabil.

"Maaf," bisiknya lirih. "Apa aku membangunkanmu."

Marco menggeleng. "Aku memang belum tidur. Aku sedang membaca laporan di ruang kerja ketika mendengar kau berteriak."

Liora menundukkan kepala. Ia merasa malu karena memperlihatkan sisi rapuhnya. "Itu, hanya mimpi."

Marco tidak memaksanya bercerita. Ia hanya memperhatikan wajah gadis itu yang masih pucat.

"Kadang, luka yang paling dalam memang datang dari kenangan."

Kalimat sederhana itu membuat Liora perlahan mengangkat kepala. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Tidak ada rasa menghakimi di mata Marco. Yang ada hanyalah ketenangan yang sulit dijelaskan.

"Apa kau sudah lebih baik?" tanyanya.

Liora mengangguk pelan. "Sedikit."

Marco berdiri dari kursinya. "Kalau kau masih takut tidur sendiri, lampu kamarmu jangan dimatikan. Besok kita tetap jalan-jalan seperti yang sudah kujanjikan. Sekarang tidurlah. Semoga kau mimpi indah."

Ucapan itu membuat sudut bibir Liora terangkat tipis. "Terima kasih Marco."

Marco hanya mengangguk singkat sebelum melangkah menuju pintu. Namun tepat sebelum keluar, ia berhenti sejenak.

"Selamat malam, Liora."

"Selamat malam."

Pintu kamar kembali tertutup perlahan.

Liora memandang ke arah pintu itu beberapa saat. Entah mengapa, setelah kehadiran Marco tadi, rasa takut yang sempat mencekik perlahan menghilang.

Ia menarik selimut hingga sebatas dada, memejamkan mata sekali lagi.

Di luar jendela, bulan menggantung tinggi di langit Amsterdam, seolah menjadi saksi bahwa malam yang kelam perlahan akan berganti menjadi pagi yang penuh harapan.

entah mengapa, sejak kedatangan gadis itu Marco tidak pernah merasa kesepian. Liora seolah penghibur satu-satunya.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!