NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Karena di antara semua kemungkinan yang Keira bayangkan, ia tidak sempat memikirkan bahwa lelaki tua yang baru diselamatkannya akan menawarkan keluarga baru tepat di depan ibu kandungnya sendiri.

Mei Lin berdiri kaku di samping ranjang.

Wajahnya masih cantik dan terkendali, tetapi jemarinya mencengkeram tali tas hingga buku jarinya memutih. Ia menatap Engkong Tedjo, lalu Keira, lalu kembali ke Engkong Tedjo.

"Engkong," suaranya terlalu tenang. "Tidak bisa."

Engkong Tedjo mengangkat alis. "Tidak bisa kenapa?"

Dokter Jason memijat pangkal hidung. "Engkong, secara medis, pasien ICU sebaiknya tidak mengadakan rapat keluarga di kamar pasien lain."

"Jas, nanti kamu bisa marah. Sekarang aku sedang bicara."

"Saya sudah marah sejak Engkong minta kursi roda."

Keira hampir tertawa kalau dadanya tidak sedang sesak. Humor kering Dokter Jason membuat suasana sedikit bergerak, tetapi tidak cukup untuk menghapus ketegangan dari wajah Mei Lin.

"Keira tidak bisa menjadi cucu angkat Engkong," kata Mei Lin akhirnya. "Karena dia..."

Kalimat itu terputus.

Keira menunggu. Ia tidak tahu apakah ia ingin Mei Lin mengatakannya atau tidak. Bagian dewasa dari dirinya tahu fakta harus dibuka. Bagian kecil yang tersisa di tubuh ini takut mendengar ibunya ragu lagi.

Engkong Tedjo menatap Mei Lin lama.

"Karena dia apa, Mei?"

Bibir Mei Lin bergetar sangat tipis.

"Karena Keira anak kandung saya."

Udara di kamar seperti berhenti.

Pak Chen yang berdiri di dekat pintu langsung menundukkan kepala, seolah tidak sengaja mendengar rahasia yang terlalu besar. Dokter Jason, yang biasanya seperti batu es, mengalihkan pandangan dari monitor ke Keira dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Engkong Tedjo tidak tampak terkejut selama yang Keira duga. Lelaki tua itu hanya menarik napas panjang, lalu tertawa pelan.

"Begitu."

Mei Lin menatapnya. "Engkong sudah tahu?"

"Belum. Tapi kalau kamu bereaksi sekeras itu, pilihannya tidak banyak." Engkong menatap Keira, matanya melunak. "Kalau begitu lebih sederhana. Dia tidak perlu jadi cucu angkatku karena kasihan. Dia memang cucuku, lewat kamu."

Kata cucu jatuh pelan, tetapi memberi getaran aneh di dada Keira.

Cucu.

Keluarga.

Dua kata yang semalam terasa begitu jauh, sekarang mendadak terlalu dekat hingga membuatnya tidak tahu harus memegang apa.

Mei Lin menarik napas. "Saya perlu bicara dengan Keira."

Engkong Tedjo mengangguk. "Bicara. Tapi jangan terlambat lagi belasan tahun."

Kalimat itu membuat mata Mei Lin merah.

Beberapa menit kemudian, kamar menjadi lebih sepi. Engkong kembali dibawa Dokter Jason ke ruang observasi dengan wajah tidak puas. Pak Chen keluar lebih dulu dan menutup pintu dari luar.

Keira dan Mei Lin tinggal berdua.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

Mei Lin berdiri di dekat jendela. Cahaya pagi menempel di sisi wajahnya, membuat garis halus di sudut matanya terlihat jelas. Ia tampak seperti wanita yang selama bertahun-tahun memilih rapi agar tidak runtuh.

"Dulu," kata Mei Lin pelan, "di ruang sidang, kamu bilang tidak mau ikut Mama."

Keira menggenggam tepi selimut. "Saya tahu."

"Kamu bilang Mama jahat. Kamu bilang Mama meninggalkan rumah karena tidak sayang keluarga." Suara Mei Lin tertahan. "Kamu bilang ingin tinggal dengan Papa."

Tubuh Keira bereaksi sebelum pikirannya selesai. Dada sesak, mata panas, tenggorokan seperti diganjal kain basah. Itu bukan hanya emosinya. Itu milik Keira kecil yang selama ini terkubur tanpa pernah sempat menjelaskan.

"Gunawan yang menyuruh saya bilang begitu."

Mei Lin menoleh.

Keira memaksa suaranya tetap stabil. "Malam sebelum sidang, dia bilang kalau saya ikut Mama, dia tidak akan pernah menandatangani surat cerai. Dia akan membuat Mama terikat di rumah Santoso selamanya. Dia bilang Tante Lina akan tetap tinggal di sana, dan Mama akan menderita seumur hidup karena saya egois."

Wajah Mei Lin kehilangan warna.

"Tidak..."

"Saya masih kecil. Saya tidak mengerti hukum. Saya cuma tahu Mama sering menangis diam-diam, dan setiap kali Mama melihat Tante Lina, wajah Mama seperti orang yang menelan pecahan kaca." Keira menunduk. "Jadi saya pikir kalau saya memilih Papa, Mama bisa pergi. Mama bisa bebas."

Mei Lin menutup mulut dengan tangan.

Ingatan lama muncul di antara mereka seperti pintu yang akhirnya dibuka paksa. Keira kecil berdiri di ruang sidang dengan sepatu merah muda. Gunawan di belakangnya, tangan berat di bahunya. Mei Lin di seberang sana, air mata sudah jatuh tetapi masih mencoba tersenyum, mungkin berharap putrinya berlari ke arahnya.

Keira kecil tidak berlari.

Ia menyelamatkan ibunya dengan cara paling kejam yang bisa dipikirkan anak kecil.

"Saya tidak membenci Mama," bisik Keira. "Dia tidak pernah membenci Mama."

Kata dia keluar tanpa rencana. Mei Lin mendengarnya, tetapi tidak bertanya. Mungkin ia hanya mengira Keira sedang membicarakan dirinya yang kecil.

Air mata Mei Lin akhirnya jatuh.

"Kei..."

Panggilan itu membuat pertahanan terakhir Keira retak.

Mei Lin bergerak lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang dan memeluk Keira dengan sangat hati-hati, seolah tubuh putrinya masih bisa pecah. Keira kaku satu detik, dua detik, lalu tangannya terangkat perlahan dan menggenggam punggung blus Mei Lin.

Aroma parfum lembut dan teh melati memenuhi hidungnya.

Di dalam pelukan itu, dua kesadaran seperti bertemu di satu titik. Keira yang dewasa merasa lega karena kebenaran akhirnya keluar. Keira kecil di tubuh ini menangis tanpa suara karena akhirnya, akhirnya, Mama tahu.

"Maaf," Mei Lin berbisik berkali-kali. "Mama minta maaf, Kei. Mama seharusnya mencari tahu. Mama seharusnya tidak percaya pada Gunawan."

Keira menutup mata.

"Mama juga korban dia."

Mei Lin memeluknya lebih erat.

Tiga hari kemudian, Keira keluar dari RS Ananda.

Dokter Jason memaksanya membawa obat, vitamin, dan nomor kontak IGD pribadi. Pak Chen menawarkan mengantar sampai pintu rumah Santoso. Mei Lin awalnya ingin ikut, tetapi Keira menolak dengan lembut. Ia hanya perlu mengambil HP, laptop, dan beberapa dokumen kuliah. Setelah itu ia tidak berniat tinggal lebih lama dari perlu.

"Kalau ada apa-apa, telepon Mama," kata Mei Lin di mobil.

Keira menyentuh ponsel baru sementara yang diberikan Mei Lin. "Saya cuma ambil barang. Tidak lama."

"Kei."

Keira menoleh.

Mata Mei Lin lembut, tetapi ada baja di dalamnya. "Kamu tidak harus menghadapi mereka sendirian lagi."

Kalimat itu hangat. Terlalu hangat.

Keira mengangguk. "Saya tahu."

Rumah keluarga Santoso di Pondok Indah tampak sama seperti ingatan tubuh ini. Pagar tinggi, halaman rapi, kaca besar yang selalu dipoles, dan aroma bunga mahal yang tidak pernah berhasil membuat rumah itu terasa hidup.

Saat Keira masuk, seorang ART terkejut melihatnya. Belum sempat wanita itu bicara, suara manis terdengar dari arah tangga.

"Kak Keira?"

Seline Santoso berdiri di anak tangga ketiga dengan gaun rumah warna krem. Rambutnya jatuh rapi, wajahnya terkejut dengan cara yang terlalu indah untuk disebut spontan.

"Kak, kamu ke mana saja? Aku khawatir sekali!"

Ia berlari turun dan mencoba memeluk Keira.

Keira mundur setengah langkah.

Pelukan Seline jatuh kosong di udara.

Senyum gadis itu goyah hanya sekejap, lalu kembali lembut. "Kakak masih marah sama Papa? Sebenarnya Papa juga khawatir. Cuma Papa gengsi."

Keira menatapnya. "HP dan laptop saya di kamar?"

"Kak..." Seline menggigit bibir. "Kenapa dingin sekali? Aku cuma mau bantu."

Di balik tubuhnya, tangan Seline bergerak cepat. Layar ponselnya menyala sebentar.

Keira melihat pantulan samar di vas kaca dekat tangga.

WhatsApp terbuka.

Pesan terkirim ke grup kecil yang namanya disembunyikan sebagian.

Kak Keira sudah pulang.

Keira menurunkan pandangan, lalu tersenyum tipis. "Kalau mau memanggil mereka, setidaknya jangan berdiri di depan vas."

Wajah Seline membeku.

Dari lantai dua, terdengar pintu dibuka keras.

Langkah kaki berat menuruni tangga. Bukan satu orang. Dua.

Keira berdiri di ruang tamu, punggung tegak, tangan kosong, dan untuk pertama kalinya sejak dilahirkan kembali di tubuh ini, ia tidak merasa perlu mundur.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!