NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Surat Cinta

Jantung Keira melewatkan satu detak.

Xavier masih menatapnya di koridor lantai 16, menunggu jawaban untuk pertanyaan yang seharusnya tidak terdengar sejujur itu.

`Kalau suatu hari... sandiwara ini jadi kenyataan, kamu mau tidak?`

Keira membuka mulut.

Tidak ada suara.

Ia bisa saja tertawa. Ia bisa saja bilang, "Jangan kebanyakan makan lapis legit." Ia bisa saja menyelamatkan mereka berdua dengan candaan, seperti biasa.

Tapi karena mata Xavier terlalu serius, candaan itu tersangkut.

Akhirnya Keira menunduk pada kotak kue di tangannya. "Kalau pertanyaan begini masuk tugas Bu Ratna, aku akan protes."

Xavier tidak tertawa.

Hening satu detik terlalu lama.

Keira memaksa senyum kecil. "Aku masuk dulu. Kuenya berat."

Ia membuka pintu unitnya, masuk, lalu menutupnya pelan sebelum keberaniannya habis total. Di balik pintu, ia menempelkan punggung ke kayu dan memejamkan mata.

Jawaban pengecut.

Tapi setidaknya ia belum menghancurkan apa pun.

Masalahnya, pertanyaan itu mengikuti Keira sampai Kamis berikutnya, tepat saat tugas paling kejam dari Bu Ratna harus dikumpulkan.

Surat cinta.

Keira sudah menulis enam versi dan membuang semuanya.

Versi pertama terlalu formal, seperti proposal kerja sama.

Versi kedua terlalu puitis, membuatnya ingin pindah identitas.

Versi ketiga terdengar seperti caption Instagram yang gagal viral.

Versi keempat membuatnya menangis sedikit, jadi ia langsung menghapusnya.

Pada Rabu malam, ia membawa laptop ke kos Tania. Celine sedang tidak ada, Bianca tidur lebih awal, jadi hanya Tania yang duduk di lantai sambil melipat baju.

"Kak," kata Keira dengan wajah kalah perang, "bagaimana cara menulis surat cinta yang tidak memalukan?"

Tania mengangkat wajah. "Untuk tugas Bu Ratna?"

"Iya."

"Untuk Xavier?"

Keira tersedak. "Untuk partner."

"Partner yang namanya Xavier."

"Kak Tania."

Tania tertawa kecil, lalu menepuk lantai di sampingnya. "Sini."

Keira duduk dan memutar laptop. Dokumen kosong masih menunggu.

Tania membaca judul file: `surat_cinta_final_semoga_tidak_mati.docx`.

"Dramatis."

"Aku menderita."

"Tulis aja dari hati, tidak perlu lebay."

"Itu nasihat yang terdengar mudah dari orang yang tidak harus menyerahkan suratnya ke cowok yang..."

"Yang?"

Keira menutup mulut.

Tania tersenyum tipis. "Nah. Tulis bagian yang hampir kamu katakan itu."

Keira menatap layar. "Kalau terlalu jujur?"

"Kalau terlalu palsu, dia juga akan tahu."

Kalimat itu membuat Keira diam.

Malam itu, ia menulis pelan-pelan. Bukan surat cinta seperti film. Tidak ada kata `aku cinta kamu`. Tidak ada janji selamanya. Ia bahkan tidak menulis nama Xavier.

Tapi setiap kalimat terasa seperti menggesek bagian dadanya yang paling rahasia.

Keesokan siang, kelas Bu Ratna terasa lebih panas dari biasanya.

Semua mahasiswa membawa amplop kecil. Beberapa tertawa malu, beberapa mengeluh, beberapa jelas menikmati. Keira duduk di sebelah Xavier dengan amplop krem di dalam tas, berharap Bu Ratna hanya mengumpulkan lalu melupakannya.

Harapan itu, seperti banyak harapan Keira lainnya, mati muda.

Bu Ratna berdiri di depan kelas sambil membawa kotak karton kecil. "Masukkan surat kalian ke sini. Tanpa nama di luar amplop. Nanti kita akan baca beberapa secara acak untuk latihan memahami ekspresi afeksi dalam bahasa tertulis."

Kelas langsung ribut.

Keira membeku. "Baca?"

Xavier menoleh. "Kamu tidak tahu?"

"Tidak."

"Kamu tidak membaca instruksi?"

"Aku sibuk selamat dari instruksinya."

Xavier hampir tersenyum.

Keira memasukkan amplopnya ke kotak dengan perasaan seperti melepas bom. Ia kembali duduk, kedua tangan dingin.

Bu Ratna mengocok kotak itu. "Kita mulai dari... Xavier, tolong ambil satu."

Keira berhenti bernapas.

Xavier maju ke depan kelas, memasukkan tangan ke kotak, lalu mengambil satu amplop.

Amplop krem.

Keira mengenali ujungnya yang sedikit tertekuk karena semalam ia terlalu gugup memasukkannya ke tas.

Tidak.

Tidak mungkin.

Semesta tidak sejahat itu.

Xavier membuka amplop.

Keira menunduk sampai rambut hampir menutupi wajah.

Bu Ratna berkata, "Baca perlahan. Kita dengarkan pilihan katanya."

Xavier melihat kertas di tangannya.

Lalu mulai membaca.

"Untuk seseorang yang datang ke hidupku dengan cara yang tidak rapi."

Kelas langsung sunyi.

Suara Xavier datar pada awalnya, tetapi Keira bisa mendengar ada jeda kecil setelah kalimat pertama.

"Awalnya, aku mengira kamu hanya kebetulan. Kebetulan muncul di tempat yang salah, waktu yang salah, dengan pakaian yang terlalu mirip. Aku tidak tahu bahwa kebetulan bisa berubah menjadi kebiasaan."

Jari Keira mencengkeram ujung kursi.

Xavier berhenti sejenak.

Bu Ratna tidak menyela.

Ia membaca lagi, lebih pelan.

"Aku mulai mengingat hal-hal kecil. Cara kamu minum kopi tanpa gula. Cara kamu menatap orang seperti semua jawaban bisa ditemukan kalau dilihat cukup lama. Cara kamu diam ketika khawatir. Cara kamu pura-pura tidak peduli, padahal kamu menggeser gelas air hangat lebih dekat tanpa diminta."

Beberapa mahasiswa menoleh satu sama lain.

Keira ingin menghilang.

Xavier membaca bagian berikutnya dengan suara yang lebih rendah.

"Aku tidak tahu apakah ini surat cinta. Aku hanya tahu, beberapa orang membuat hari yang berat terasa sedikit lebih bisa dilewati. Beberapa orang tidak banyak bicara, tapi membuat kita merasa tidak sendirian. Kalau suatu hari semua hal yang pura-pura ini harus diberi nama, aku berharap aku punya keberanian untuk tidak lari duluan."

Kelas benar-benar hening.

Keira tidak berani mengangkat kepala.

Xavier menatap kertas itu cukup lama sebelum membaca kalimat terakhir.

"Terima kasih sudah membuatku ingin tinggal sedikit lebih lama."

Suara Xavier hampir tidak terdengar di akhir kalimat.

Bu Ratna menarik napas pelan. "Bagus. Sangat jujur, tapi tidak berlebihan. Ini contoh afeksi yang disampaikan lewat observasi detail."

Keira ingin berkata pada Bu Ratna bahwa ia tidak butuh analisis akademik atas isi hatinya.

Di baris depan, Celine menoleh pelan. Wajahnya tidak menggoda seperti biasa. Ia hanya melihat Keira dengan mata yang seolah berkata, `jadi itu yang selama ini kamu tahan`.

Beberapa mahasiswa lain masih diam. Tidak ada tawa, tidak ada siulan. Bahkan orang yang biasanya ribut di pojok hanya menatap meja. Keira justru lebih malu karena mereka tidak bercanda. Surat itu diperlakukan seperti sesuatu yang sungguhan.

Dan yang paling membuatnya sulit bernapas, Xavier tidak segera mengembalikan kertas itu.

Xavier melipat kertas itu kembali. Ia tidak melihat ke arah Keira saat kembali ke tempat duduk, tetapi rahangnya tampak tegang.

Sisa kelas berjalan seperti kabut.

Saat bel selesai, Keira memasukkan barang ke tas secepat mungkin dan keluar sebelum Celine sempat menangkapnya dari baris depan. Ia berjalan cepat menyusuri koridor, hampir berlari.

"Keira."

Suara Xavier menghentikannya.

Ia berhenti di dekat jendela koridor.

Xavier menyusul, memegang amplop krem itu di tangannya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Lalu Xavier bertanya, suaranya lebih pelan dari biasa.

"Surat itu... untuk aku?"

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!