Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Gala sekolah berakhir lebih cepat dari jadwal.
Pihak hotel berusaha menjaga suasana, pihak sekolah sibuk meminta orang tua tidak menyebarkan rekaman, dan keluarga Wiratama pergi lewat pintu samping seperti buronan. Namun tentu saja, di era ponsel, tidak ada skandal yang benar-benar bisa dikunci di dalam ballroom.
Video layar donasi Maheswari tersebar sebelum tengah malam.
Nama Maya tidak disebut langsung, tetapi yayasan miliknya terlihat jelas. Dalam waktu dua jam, orang-orang mulai menghubungkan yayasan itu dengan beberapa acara amal lama, termasuk proyek yang dananya tidak pernah dilaporkan transparan.
Baskara tidak bicara sepanjang perjalanan pulang.
Maya menangis di mobil lain.
Dinda tidak ikut ibunya. Ia duduk di mobil Raka bersama Alya, wajahnya kosong, seolah tangisnya sudah habis.
Raka menyetir sendiri. Rafi mengikuti dengan mobil lain.
Setelah beberapa menit diam, Dinda berkata pelan, "Kakak puas?"
Alya menatap jendela. "Belum."
Dinda tertawa kecil, tetapi suaranya pecah. "Apa lagi? Mama sudah dipermalukan. Aku juga. Semua orang melihat."
"Eyang juga dilihat orang asing dari balik pagar."
Dinda menggenggam tasnya. "Aku tidak tahu soal itu."
"Tapi setelah tahu, kamu masih menyalahkanku."
Dinda menunduk.
Raka berkata dari depan, "Dinda, kali ini kamu tidak bisa membela Mama."
"Mas tidak mengerti."
"Jelaskan."
Dinda diam lama. Lalu ia berbisik, "Kalau Mama jatuh, aku ikut jatuh."
Raka melihatnya lewat kaca spion. "Tidak harus."
"Harus." Dinda mengangkat wajah, matanya merah. "Aku bukan anak kandung Papa. Semua orang tahu, tapi mereka pura-pura lupa selama Mama kuat. Kalau Mama jatuh, aku hanya anak bawaan yang tidak punya apa-apa."
Kata-kata itu akhirnya telanjang.
Alya tidak iba, tetapi ia mengerti.
Ketakutan Dinda nyata. Yang salah adalah cara ia melampiaskannya.
"Kamu punya pilihan," kata Alya.
Dinda menoleh. "Pilihan apa?"
"Berhenti menyerangku."
"Lalu Kakak membiarkanku tetap tinggal?"
"Aku tidak mengusirmu."
"Tapi Kakak akan mengambil semuanya."
Alya menatapnya. "Yang mana milikmu?"
Dinda seperti tertampar.
Raka menahan napas.
Alya melanjutkan, "Aku tidak mengambil hidupmu. Aku mengambil kembali namaku, hak ibuku, dan tempat yang sejak lahir diambil dariku. Kalau selama ini kamu hidup dari semua itu, wajar kamu merasa kehilangan. Tapi jangan sebut itu milikmu."
Dinda menunduk lagi. Air matanya jatuh tanpa suara.
Sesampainya di rumah, Baskara menunggu di ruang tengah. Maya tidak ada. Mungkin langsung naik ke kamar.
"Dinda, naik," kata Baskara.
Dinda mematung sebentar, lalu naik tanpa membantah.
Baskara menatap Alya. "Kamu tahu akibat dari perbuatanmu?"
"Tahu."
"Yayasan Maya bisa diperiksa."
"Bagus."
"Nama keluarga terseret."
"Nama keluarga sudah dipakai untuk mengancam Eyang."
Baskara memukul meja. "Kamu selalu punya jawaban."
Alya menatapnya. "Karena Papa selalu bertanya hal yang salah."
Raka berdiri di sampingnya. "Pa, kali ini Maya kelewatan. Ancaman ke Eyang tidak bisa dibela."
"Kamu pikir Papa membela?"
"Papa lebih marah pada Alya daripada pada Maya."
Baskara terdiam.
Itu benar. Semua orang di ruangan itu tahu.
Baskara duduk, wajahnya tampak lebih tua. "Kalian tidak mengerti. Keluarga ini dibangun puluhan tahun. Satu skandal bisa menghancurkan banyak orang."
Alya berkata, "Kalau keluarga ini hanya bisa bertahan dengan menutup kejahatan, mungkin memang perlu hancur sebagian."
Baskara menatapnya lama. "Kamu mirip ibumu."
Itu pertama kalinya ia berkata begitu.
Alya tidak bergerak.
"Nadira juga selalu bicara seolah dunia bisa bersih kalau dia cukup keras kepala." Baskara tertawa pahit. "Akhirnya apa? Dia mati. Dunia tetap kotor."
Raka menegang. "Pa."
Alya berjalan mendekat. "Mama mati karena melahirkan aku, atau karena sesuatu yang lain?"
Baskara langsung mengangkat wajah.
Terlambat.
Reaksinya sudah cukup.
Alya menatapnya. "Papa tahu sesuatu."
"Kamu lelah. Naik ke kamar."
"Jawab."
"Alya!"
"Jawab, Pa."
Baskara berdiri. Untuk pertama kali, di matanya bukan hanya marah. Ada takut.
"Jangan menggali hal yang sudah lama dikubur."
Alya merasakan darahnya menjadi dingin.
Di kehidupan lalu, sebelum membunuhnya, Dinda pernah mengatakan ibu Alya tidak mati sesederhana yang ia pikir. Saat itu Alya tidak sempat mencari tahu. Sekarang Baskara sendiri hampir mengaku.
Raka berkata pelan, "Apa maksud Papa?"
Baskara menutup wajahnya sejenak. "Tidak ada."
"Pa."
"Aku bilang tidak ada!" Baskara membentak. "Mulai besok, tidak ada yang membahas Nadira."
Alya tersenyum dingin. "Kalau Papa melarang, berarti memang ada yang harus dibahas."
Ia naik ke kamar tanpa menunggu jawaban.
Di kamar, Rafi sudah menunggu. Ia tampak baru selesai menerima telepon.
"Eyang aman. Orang yang ditangkap sudah diserahkan ke polisi setempat dengan bukti transfer."
"Bagus."
"Ada lagi." Rafi menatapnya. "Orang itu menyebut nama perantara. Namanya bukan orang Maya."
Alya berhenti.
"Siapa?"
"Seseorang dari pihak Santoso."
Alya menutup mata sebentar.
Jadi Maya membayar melalui yayasan, tetapi Santoso mungkin ikut menggerakkan orangnya. Atau seseorang sengaja membuat dua jejak agar mereka saling curiga.
"Kita punya terlalu banyak musuh," kata Rafi.
"Tidak apa-apa. Mereka juga punya terlalu banyak rahasia."
Malam itu, Alya tidur hanya dua jam.
Pagi harinya, ia pergi ke sekolah seperti biasa. Di gerbang, semua mata menatapnya. Video gala membuatnya menjadi pusat gosip. Ada yang takut, ada yang kagum, ada yang makin benci.
Seleksi olimpiade dilakukan setelah jam pelajaran.
Kesha duduk dua meja di depan Alya. Sebelum soal dibagikan, ia menoleh dan berbisik, "Hari ini masih pura-pura bodoh?"
Alya mengambil pensil. "Tidak."
Kesha tersenyum. "Akhirnya."
Soal seleksi jauh lebih sulit daripada tes penempatan. Dua puluh soal logika dan sains, waktu dua jam. Sebagian siswa menyerah di menit keempat puluh. Alya menulis tanpa berhenti.
Ketika hasil diumumkan sore itu, Pak Harun membacanya sendiri.
"Peringkat pertama, Alya Wiratama."
Ruangan hening.
Kesha yang berada di peringkat kedua menepuk meja. "Aku sudah bilang!"
Beberapa siswa menatap Alya seolah baru melihatnya.
Dinda yang berdiri di pintu ruang seleksi tampak pucat. Ia datang mungkin untuk melihat Alya gagal.
Pak Harun menyerahkan lembar hasil. "Selamat. Mulai minggu depan kamu masuk tim inti."
Alya menerima. "Terima kasih, Pak."
Di ponselnya, pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Kamu pintar. Tapi orang pintar pun tidak bisa menjaga semua orang.
Lalu foto kedua muncul.
Foto makam ibunya.
Di batu nisan, ada satu tangkai bunga kamboja hitam yang tidak pernah Alya letakkan.
Pesan berikutnya hanya satu kalimat:
Tanya ayahmu bagaimana ibumu benar-benar mati.
Kesha yang masih berada di ruang seleksi melihat wajah Alya berubah untuk pertama kalinya. Bukan takut, bukan marah besar, melainkan diam yang terlalu dalam. Ia tidak berani bercanda.
"Alya," panggilnya pelan.
Alya mengunci layar. "Aku pulang dulu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Tidak terlalu."
Jawaban jujur itu membuat Kesha terdiam.
Alya berjalan keluar dengan langkah tetap tenang. Namun kali ini, tenang itu bukan strategi. Ia sedang menahan sesuatu agar tidak pecah di depan orang-orang yang tidak berhak melihat lukanya.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔