menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2, politik Oscar) penyerangan empat kerajaan ke wilayah timur
Tak kala langkah kaki kasualku melangkah masuk melewati daun pintu kayu Ruang Rapat Agung Istana Aethelgard, sekujur saraf tubuh manusiaku bener-bener langsung dibuat terkejut setengah mati menyaksikan pemandangan taktis yang terhampar di dalam ruangan. Orbit ekspektasi awal di kepalaku mengira bahwa rombongan darurat ini hanya diisi oleh jajaran petinggi militer konvensional biasa. Namun kenyataannya jauh berkali-kali lipat lebih kritis; di atas kursi-kursi beledu panjang ruang rapat, telah duduk mematung sosok Sang Raja Utama dari Kerajaan Oscar bersama dengan seluruh barisan anak-anak kandungnya, serta didampingi oleh barisan sisa personil regu pahlawan reinkarnator bumi yang berhasil selamat dari petaka perang besar melawan faksi Raja Iblis luar tempo hari. Suasana di dalam ruangan bener-bener terasa teramat dingin, pekat, dan diselimuti oleh aura keputusasaan yang mencekam.
"Aghh... Yohhaaa... Selamat datang di markas besarku, Raja Oscar...!" Ucapku lantang dengan nada suara yang sengaja kubuat sedikit bercanda, mencoba memecah keheningan atmosfer yang terlalu tegang.
Mendengar suaraku menggema, sekujur tubuh lemas Raja Oscar beserta jajaran anak dan pahlawannya serentak langsung berdiri tegap dari posisi tempat duduk mereka masing-masing, memberikan penghormatan khusus ke arah siluet kasualku.
"Hehe... Kamu ini bener-bener ya, Miko..." Ucap Raja Oscar dengan nada suara baritonnya yang berat namun penuh wibawa karisma kepemimpinan sejati, menyunggingkan sebilah senyuman tipis yang getir. "Mau bagaimanapun kondisi bahaya mutlak yang sedang mengintai di depan mata, tetep aja kamu bisa meluncurkan kalimat becandaan santai seperti itu. Sumpah, aku bener-bener teramat kagum dengan kapasitas tingkat ketenangan batin yang kau miliki di dalam situasi sekritis ini..."
Raja tua itu menghela napas panjang, melangkah maju satu langkah dengan bahu yang nampak bergetar lesu.
"Namun... Huhh... Tampaknya untuk sementara waktu ke depan, aku sudah tidak memiliki hak lagi untuk dipanggil dengan gelar seorang Raja, Miko..." Ucapnya lirih dengan sorot mata yang teramat layu.
DEG!
"Eh...?" Aku tersentak kaget setengah mati, sepasang mata ungu menyalaku terbelalak lebar mendengar sebilah kalimat pengakuan yang baru saja meluncur dari bibir Sang Raja Oscar.
"Ahh... Anda ini bener-bener suka bercanda ya, Baginda... Tapi menurut kalkulasiku, gaya bercanda Anda kali ini bener-bener udah kelewatan batas deh kayaknya, haha..." Ucapku dengan nada suara yang agak ragu, mencoba menepis kemungkinan terburuk yang mulai berputar liar di dalam sirkulasi otakku.
"Aku sama sekali tidak sedang bercanda, Miko... Aku bener-bener berbicara serius 100% dari realitas fakta di lapangan saat ini," ucap Raja Oscar menatapku dengan tatapan mata yang teramat dalam nan hampa.
Melihat keseriusan mutlak dari raut wajah pucatnya beserta ekspresi tegang dari barisan pahlawan bumi di belakangnya, senyuman canggung di wajahku seketika langsung menguap lenyap tak berbekas. Atmosfer ruangan berubah menjadi dingin dalam sekejap.
"Hmmm... Kedengarannya masalah kali ini bener-bener beneran sangat berat..." Ucapku dengan nada suara yang serius nan berwibawa. "Kalau situasinya sudah sampai di titik koordinat ini, sepertinya memang ada hal-hal krusial berskala makro yang perlu segera Anda bahas bersamaku secara mendalam... Silakan, silakan duduk kembali semuanya," ucapku sembari melangkah tegap ikut menduduki salah satu sofa empuk di tengah ruang rapat agung.
"Baiklah, terima kasih, Miko..." Ucap Raja Oscar kembali mengempaskan tubuh tuanya di atas kursi bersama anak-anaknya.
"Huhh... Garius...!" Panggilku dengan nada suara yang tegas ke arah sesosok ksatria bayangan yang sedang berdiri siaga menjaga perimeter bagian dalam ruangan rapat.
"Siap, perintah diterima, Tuan Miko!" Ucap Garius tegap memberikan penghormatan militer.
"Segera pergi ke area dapur utama kastil, dan bawakan beberapa porsi hidangan kudapan kue serta minuman hangat terbaik untuk para tamu kita saat ini," perintahku sembari menatap lurus ke arah matanya.
"Siap dilaksanakan, Tuan!" Jawab Garius cepat, lalu berbalik tubuh melangkah pergi keluar ruangan dengan sigap.
Seiring dengan tertutupnya pintu gerbang rapat oleh Garius, ruangan raksasa berdinding batu kuno itu kini bener-bener terisolasi sempurna. Tidak ada siapapun lagi di dalam sana kecuali aku, Raja Oscar, putri kandungnya, beserta barisan personil sisa regu pahlawan bumi yang tersisa.
"Baiklah... Kita mulai sirkulasi perbincangan darurat ini secara formal... Ada apa sebenarnya yang sedang menimpa tubuh Kerajaan Oscar?" Tanyaku dengan raut wajah yang teramat serius nan dingin.
Raja Oscar menarik napas dalam-dalam, menumpukan kedua telapak tangan tuanya yang gemetaran di atas meja kayu rapat.
"Baiklah... Kedatangan ku ke Istana Aethelgard kali ini murni ingin memberi informasi intelijen berskala global, dan sekaligus... aku bener-bener ingin memohon bantuan intervensi militer penuh darimu, Miko..." Ucap Raja Oscar penuh dengan keseriusan yang mencekam.
"Apa itu...? Katakan saja secara gamblang tanpa perlu ada yang ditutupi... Pihak faksi kami siap mendengarkan," jawabku tidak kalah serius, mengunci fokus pandanganku lurus ke arahnya.
"Baiklah, izinkan aku bercerita dari awal pemicunya... Tepat setelah momen kematian tragis Sang Raja Iblis luar yang kau bantai di angkasa kemarin, seluruh petaka berdarah ini resmi dimulai..." Ucap Raja Oscar mulai membuka tabir konspirasi. "Saat faksi kerajaanmu sedang sibuk melakukan proses pembersihan pasca-perang, secara misterius wilayah ibu kota kerajaanku mendadak terserang oleh sebuah wabah penyakit asing yang teramat sangat berbahaya parah. Seluruh rakyatku, tanpa pandang bulu dari kasta rendah hingga bangsawan, mendadak mengalami gejala demam tinggi yang luar biasa parah dan sekujur kulit tubuh mereka melepuh terkena sejenis bintik cacar mengerikan yang bener-bener gak bisa disembuhkan, baik menggunakan mantra sihir penyembuhan tingkat tinggi maupun ramuan obat-obatan medis terkuat yang dimiliki oleh tabib kerajaan...!"
Raja Oscar mengepalkan kuat tinjunya, giginya menggeram menahan emosi frustrasi. "Wabah penyakit buatan itu telah menggerogoti dan menyiksa seluruh rakyat di kerajaanku selama satu bulan lamanya tanpa ada titik terang... Hingga akhirnya, di tengah keputusasaan massal tersebut, mendadak muncul memanifestasikan diri sesosok manusia asing yang memiliki sirkulasi status kekuatan yang bener-bener gak normal bawaan lahir. Kapasitas energinya bener-bener kuat di luar nalar fana, dan setelah diselidiki oleh sisa intelijenku, aku menaruh kecurigaan tingkat tinggi bahwa dia termasuk ke dalam golongan orang-orang pilihan dari duniamu yang bereinkarnasi masuk ke dunia ini—sesosok pahlawan reinkarnator bumi faksi lain...!"
"Ya... Informasi dipahami. Teruskan ceritamu, Oscar," ucapku lirih, menahan gejolak rasa terkejut di batin sembari menyimak dengan jeli.
"Huhh... Lalu, sosok orang bumi keparat itu menggunakan sebilah kemampuan magis misteriusnya untuk menyembuhkan seluruh wabah penyakit rakyatku dalam sekejap mata. Namun, itu hanyalah umpan taktis!" Ucap Raja Oscar dengan nada suara yang bergetar hebat menahan frustrasi yang teramat dalam. "Pasca-kesembuhan massal tersebut, dia mulai bergerak menyebarkan propaganda busuk, mengotori dan meracuni pikiran seluruh rakyatku mengenai kepemimpinanku. Secara mekanis, kemampuannya bener-bener seperti sedang menghipnotis seluruh sirkulasi kesadaran otak rakyatku secara massal! Alhasil? Detik ini juga, seluruh rakyat di Kerajaan Oscar bener-bener berada di bawah pengaruh kendali mutlak hipnotis miliknya...!"
"Sungguh sebuah krisis politik yang teramat sangat berat..." Ucapku ketat menahan geram.
"Ya...! Dan pada saat puncak dari pengaruh hipnotis massal itu terjadi, aku pun secara sepihak langsung dilengserkan dari kursi takhta oleh rakyatku sendiri atas perintahnya... Tidak berhenti sampai di situ, aku, anak-anakku, beserta seluruh barisan pahlawan bumi setiaku yang berada di ruangan ini sempat ditangkap dan hampir saja dijatuhi hukuman mati yang kejam olehnya dengan cara digantung di atas alun-alun kota! Beruntung, berkat aksi nekat dan kelincahan teknik sisa pahlawanku, kami semua berhasil melarikan diri menembus barikade kota dan melesat menuju ke mari..." Ucap Raja Oscar mengusap wajah tuanya lesu.
"Begitu ya... Situasi di lapangan bener-bener sudah bergeser menjadi zona merah. Lalu, informasi apa lagi yang berhasil kalian himpun selama pelarian?" Tanyaku lurus penuh selidik.
"Ya... Selama pergerakan senyap pelarian kami menembus perbatasan, kami berhasil mengumpulkan berbagai macam dokumen informasi rahasia yang mengerikan. Fakta taktis membuktikan bahwa sosok orang bumi yang melakukan kudeta di negaraku itu sebenarnya adalah sesosok utusan suci yang dikirim langsung dari Kerajaan Sihir—atau yang sering dilabeli oleh dunia luar sebagai Kerajaan Berkah Dewa! Gerakan kudeta ini disokong penuh oleh persekutuan raksasa antara Kerajaan Petra dan Kerajaan Victoria! Di dalam sistem aliansi terkutuk itu, Kerajaan Sihir bertindak sebagai pemasok utama seluruh sirkulasi energi sihir makro, sementara Kerajaan Victoria dan Kerajaan Petra bertindak sebagai penyuplai sumber bahan-bahan mentah material berkualitas tinggi untuk memproduksi persenjataan massal mereka...!"
Raja Oscar mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan tatapan yang teramat tegang. "Dan yang paling mengerikan, Miko... wilayah yang sudah berhasil ditaklukkan dan diratakan oleh agresi militer mereka bukan cuma negeriku saja. Wilayah perbatasan bagian Utara dan Selatan bener-bener sudah jatuh total ke tangan mereka, yaitu Kerajaan Samuel dan Kerajaan Rostaria... Kedua Raja yang memimpin di dua kerajaan malang itu bener-bener tertimpa kejadian akhir hayat yang teramat sangat mengenaskan parah! Raja Rostaria ditangkap lalu dibakar hidup-hidup di tengah alun-alun oleh faksi mereka, sedangkan Raja Samuel dieksekusi kejam dengan cara dipenggal kepalanya di depan umum sebagai tontonan propaganda... Dan kami semua yang berada di ruangan ini bener-bener hampir saja dijadikan sebagai bagian dari pertunjukan eksekusi kejam berikutnya oleh bajingan itu...!" Ucap Raja Oscar bergidik ngeri mengingat maut.
"Lalu... apa target operasi makro dari faksi aliansi langit itu selanjutnya...?" Tanyaku ketat, sepasang mataku menyipit tajam.
"Hmm... Berdasarkan draf dokumen rahasia rencana mereka, aliansi empat kerajaan itu akan terus-menerus meluncurkan invasi militer berskala masif untuk mencaplok seluruh wilayah Timur secara total! Target sasarannya tersusun linier: mulai dari Kerajaan Samuel, Kerajaan Rostaria, Kerajaan Oscar, faksi Shadow Aethelgard milikmu, teritorial Dark Aethelgard di Lembah Kegelapan, dan target akhir paling krusial mereka adalah merebut pusat sumber energi mana terbesar di bagian Timur, yaitu Kerajaan Clowndia—wilayah kekuasaan absolut milik Joker...!" Ucap Raja Oscar penuh dengan keseriusan yang memuncak.
DEG!
"Ahh... Sialan...! Jadi posisi faksi kerajaanku juga bener-bener ikut diincar masuk ke dalam draf pembantaian mereka...!" Ucapku tegang, sekujur darah tiraniku mendadak bergejolak panas. "Tetapi dari semua runtunan target itu, hal yang paling berbahaya dan kritis saat ini... jangan sampai Joker mengetahui tentang adanya kejadian agresi invasi militer di wilayah Timur ini, kan...?"
"Ya... Benar-benar tepat sekali kalkulasimu, Miko! Joker bener-bener jangan sampai mengendus atau tahu sedikit pun mengenai kejadian petaka ini...!" Jawab Raja Oscar dengan raut wajah yang sama tegangnya denganku.
"Jika sampai monster gila seperti dia tahu, sirkulasi keadaan benua bisa langsung kacau lebur rata tanah! Dia pasti akan bertindak gegabah secara brutal menggunakan kekuatan sihir kunonya, dan itu hanya akan memperburuk keadaan!" Ucapku dan Raja Oscar berbicara bersamaan secara serentak dengan nada suara yang teramat serius nan pekat.
Aku menyandarkan punggung kasualku di sofa, mengembuskan napas dingin. "Huhh... Kalau aliansi musuh berniat menggunakan taktik wabah penyakit buatan untuk melumpuhkan pertahanan di dalam wilayah Kerajaan Aethelgard milikku, mereka dipastikan gak bakal mungkin bisa berhasil. Karena ketika wabah penyakit itu sampai di perbatasanku, semua penyakit nya akan terserap pada para undeadku yang kebal penyakit! Maka dari itu, kerajaan ini salah satu kerajaan dengan jumlah penyakit yang sedikit. Justru yang sulit dan merepotkan adalah... jika ketiga faksi kerajaan besar itu menyerang dengan jumlah yang gak masuk akal... Itu bener-bener akan merepotkan..." Gumamku taktis memeras otak.
"Miko..." Panggil Raja Oscar mendadak memotong gumamanku, suaranya terdengar teramat kering nan gemetar.
"Ya...? Ada informasi tambahan lagi?" Tanyaku melirik ke arahnya.
"Bukan tiga faksi Kerajaan yang akan menggempur pertahananmu, Miko... Melainkan empat...!" Ucap Raja Oscar meledakkan informasi finalnya.
"Hah...?! Empat Kerajaan Besar bersatu...?! Sialan, sama faksi raksasa mana lagi?!" Ucapku tegang, sekujur ototku seketika mengetat hebat mendengar angka tersebut.
Raja Oscar dengan cepat merogoh bagian dalam saku jubah pelariannya, mengeluarkan sebilah gulungan peta taktis benua berskala makro lalu membentangkannya lebar-lebar di atas meja rapat agung.
"Lihat dan perhatikan baik-baik koordinat peta ini, Miko...! Utara Victoria... Selatan Kerajaan Sihir... Barat Petra... Dan ujung Barat ada kerajaan modern baru, bukan? Yang pemimpin nya seorang reinkarnator dan itu jadi kerajaan reinkarnator dengan penduduk 60% orang dari dunia lain yang disebut Bumi... Kerajaan itu... adalah..."
Raja Oscar penghentikan kalimatnya, jarinya menunjuk telak ke satu titik lambang modern di ujung peta.
DEG!
"Kerajaan Eldiana..." Bisikku lirih dengan nada suara yang bergetar kaku menahan pandangan tak percaya yang teramat sangat membeku di dalam sunyinya Ruang Rapat Agung.