Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
BAB 32
KEJARAN DALAM GELAP
"Arka!"
Suara Ahber menggema di tengah gelapnya taman.
Namun pria itu tidak berhenti.
Ia terus berlari melewati jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering. Napasnya terdengar berat, seolah tenaganya sudah hampir habis.
"Arka! Berhenti!"
Ahber mempercepat langkahnya.
Di belakang mereka...
Belasan pria berbaju hitam terus mengejar.
"Jangan biarkan dia kabur!"
"Kejar!"
Suara teriakan mereka bersahut-sahutan.
Malam yang semula sunyi kini dipenuhi suara langkah kaki.
---
Arka melompati pagar pembatas taman.
Bruk!
Ia mendarat di tanah yang becek karena hujan semalam.
Ahber ikut melompat beberapa detik kemudian.
"Ka!"
Arka akhirnya berhenti.
Ia menoleh.
Wajahnya terlihat jauh berbeda dibanding lima belas tahun lalu.
Janggut tipis tumbuh di dagunya.
Kulitnya lebih gelap.
Tatapannya penuh kelelahan.
"Kenapa kamu ikut?" tanyanya sambil terengah.
"Aku mau dengar semuanya."
"Bukan sekarang."
"Kapan lagi?"
Arka menggeleng.
"Mereka nggak akan kasih kita waktu."
Belum selesai ucapannya...
Dor!
Satu peluru menghantam batang pohon tepat di samping Ahber.
Serpihan kayu beterbangan.
Ahber refleks menunduk.
"Tiara!"
teriak salah satu pria.
"Jangan tembak sembarangan! Bos maunya dia hidup!"
Arka langsung menarik tangan Ahber.
"Lari!"
Mereka kembali berlari memasuki hutan kecil di belakang taman.
---
Semakin jauh mereka masuk...
Semakin gelap suasananya.
Cahaya lampu taman sudah tidak terlihat lagi.
Hanya sinar bulan yang sesekali menembus sela pepohonan.
Napas Ahber mulai memburu.
"Ka..."
"Apa?"
"Siapa mereka?"
Arka tidak langsung menjawab.
Ia memastikan tidak ada orang di depan mereka.
Barulah ia berkata pelan.
"Mereka orang-orang yang selama ini mencariku."
"Kenapa?"
"Karena aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat."
Ahber mengernyit.
"Maksudmu?"
"Lima belas tahun lalu..."
Arka menghentikan langkahnya.
Tatapannya kosong.
"Hari kecelakaan Andkay..."
"Itu bukan kecelakaan."
Jantung Ahber serasa berhenti.
"Apa?"
"Itu pembunuhan."
Angin malam tiba-tiba berembus lebih kencang.
Ahber tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Jangan bercanda."
"Aku serius."
"Tapi polisi bilang..."
"Polisi cuma tahu apa yang mereka lihat."
Arka mengepalkan tangan.
"Aku melihat orang yang mendorong motor Andkay sampai masuk jurang."
Ahber membelalakkan mata.
"Siapa?"
"Aku nggak sempat lihat wajahnya."
"Lalu?"
"Aku cuma ingat..."
Arka memejamkan mata.
"...ada tato ular di tangan kirinya."
Ahber berusaha mengingat.
Tato ular?
Rasanya ia pernah melihat simbol itu.
Tapi di mana?
---
Tiba-tiba...
Sinar senter menyapu pepohonan.
"Mereka di sana!"
Suara itu membuat Arka kembali panik.
"Cepat!"
Mereka berlari lagi.
Namun kali ini Ahber mulai kelelahan.
Kakinya terpeleset akar pohon.
Bruk!
Ia jatuh cukup keras.
"Ber!"
Arka langsung kembali membantu.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Lanjut..."
Ahber berdiri sambil menahan nyeri di lututnya.
Belum sempat mereka melangkah...
Empat pria berbaju hitam sudah menghadang dari depan.
"Sudah selesai."
Salah satu pria tersenyum sinis.
"Kabur terus capek juga kan?"
Ahber dan Arka mundur beberapa langkah.
Dari belakang...
Enam pria lain juga muncul.
Mereka benar-benar terkepung.
Pemimpin kelompok itu melangkah maju.
Tubuhnya besar.
Di tangan kirinya...
Terlihat jelas gambar seekor ular melilit belati.
Arka langsung memucat.
"Itu dia..."
bisiknya.
"Itu orangnya."
Ahber ikut melihat tato tersebut.
Dadanya langsung berdebar.
"Dia pembunuh Andkay?"
Arka mengangguk pelan.
Pria bertato itu tertawa kecil.
"Masih ingat rupanya."
"Siapa kalian sebenarnya?" bentak Ahber.
Pria itu menepuk kedua tangannya.
"Ternyata setelah lima belas tahun..."
"...kalian tetap bodoh."
Ahber mengepalkan tangan.
"Apa maumu?"
Pria itu tersenyum dingin.
"Sederhana."
"Serahkan Arka."
"Lalu?"
"Kamu boleh pulang."
Ahber melirik Arka.
Pria itu hanya menundukkan kepala.
"Tidak, Ber."
"Jangan dengarkan dia."
Namun Ahber justru maju satu langkah.
"Kalau aku menolak?"
Senyum pria bertato itu perlahan menghilang.
"Berarti..."
Ia mengangkat pistolnya.
"...kamu mati bersama dia."
Suasana mendadak sunyi.
Angin berhenti berembus.
Tak ada satu pun yang bergerak.
Jari pria itu mulai menarik pelatuk.
Arka langsung berdiri di depan Ahber.
"Jangan!"
Dor!
Suara tembakan kembali memecah malam.
Namun...
Bukan Arka ataupun Ahber yang terkena.
Peluru itu justru mengenai tangan pria bertato hingga pistolnya terlepas.
"Aaargh!"
Semua orang menoleh ke arah datangnya tembakan.
Dari balik pepohonan...
Muncul beberapa orang berpakaian hitam.
Di barisan paling depan berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Rambutnya mulai memutih.
Tatapannya tajam.
Ia menurunkan pistolnya perlahan.
"Kalian sudah keterlaluan."
Pria bertato itu langsung mundur beberapa langkah.
"W... Wakil Ketua?"
Pria berambut putih itu tersenyum tipis.
"Bermain kotor selama lima belas tahun..."
"...akhirnya ketahuan juga."
Ahber menatap pria asing itu dengan bingung.
Sementara Arka justru membelalakkan mata.
"Pak..."
"Anda masih hidup?"
Pria itu mengangguk pelan.
"Lama tidak bertemu, Arka."
Malam itu...
Rahasia yang terkubur selama lima belas tahun mulai terbuka sedikit demi sedikit.
BERSAMBUNG...
like + bunga biar semangat deh/Smile/