Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman diBalik Kaku Tubuhnya
Pukul tujuh pagi pesawat yang membawa jenasah Kolonel dokter Ezra Pratama spesialis onkologi tiba di Bandara Soekarno Hatta. Di dalam pesawat itu juga ada mamanya Calista yang datang dari Belanda. Christian yang datang menjemput di bandara bersama Daniel Caleb Wijaya anaknya.
Di kargo bandara, Pihak tentara sangat banyak mereka sudah siap menanti Jenasah. Daniel langsung menangis memeluk peti jenasah papinya. Akhirnya Christian bersama Daniel dan mamanya Calista berada di mobil jenasah yang membawa Tama. Iring - iringan mobil tentara mengawali pengantaran jenasah menuju ke kediaman rumah pribadi Kolonel Dokter Ezra Pratama dengan dokter Calista Gunawan spesialis bedah.
Hati Calista semakin sedih, air matanya mengalir waktu mendengar suara sirine yang semakin mendekat.
"Mas, bukan pulang seperti ini yang aku mau. Aku hancur mas. Kamu tega sekali."
"Adek, sabar sayang. Kakak tahu ini berat. Tetapi kamu harus kuat." Melany kakaknya Christian menguatkan Calista mami dari keponakannya.
Melany Wijaya, juga ditinggal meninggal oleh suami dan anaknya. Mereka mengalami kecelakaan maut di Laos Angels Amerika. Hanya dia yang berhasil selamat. Setelah pemakaman suami dan anaknya dia memilih kembali pulang ke Indonesia, meskipun mertua dan kakak - kakak iparnya menahan dia. Setiap bulan dia ke Amerika untuk sekedar melihat kuburan suaminya. Melany sangat menyayangi Calista, waktu tahu perpisahan Calista dengan Christian dia langsung pulang ke Indonesia.
Mobil Jenasah sudah ada di depan rumah. Calista pingsan. Liam memeluk maminya sambil menangis. Si kecil Eliana hanya kebingungan akan apa yang terjadi karena dia masih sangat kecil dan belum mengerti. Daniel melompat langsung memeluk maminya dan mengendong maminya ke kamar. Anak tujuh belas tahun ini sangat kuat ototnya karena dia rajin olah raga gym dan renang.
Semua mata memandang kepada mereka, Liam membantu kakaknya memegang mami mereka. Eliana yang melihat maminya pingsan langsung menangis. Tian langsung mengendong.
"Ade sama papa ya."
"Iya papa."
Hati Tian tergerak, apa seperti ini maksud kamu Tama. Hati Tian bertanya - tanya. Eliana tertidur dalam pelukan Tian. Calista sudah sadar, dia bersama kedua anak laki - lakinya menghampiri peti jenasah. Selesai berdoa oleh pendeta. Peti itu dibuka. Calista, Daniel dan Liam menangis. Tian menangis, tetapi tidak mengeluarkan suara. Dia tetap memeluk gadis kecil buah cinta Tama dengan Calista.
Calista mulai tenang, Daniel dan Liam terus mendampingi mami mereka. Ibadah akan segera dimulai. Sampai ibadah penguatan selesai masih banyak anggota yang berjaga di rumah kediaman almarhum.
"Kak, biar Eliana dengan saya dulu. Baru kaka mandi."
"Ngak mau mami, adek mau sama papa."
"Ngak papa, malam saja jika dia sudah tidur."
"Terima kasih kak sudah ada bersama kami."
Tian hanya memandang Calista dengan senyumannya. Calista tidak tahu, bahwa Tian sedang mengalami dilema yang besar, karena laki- laki yang tersenyum di dalam peti ini, yang tubuhnya sudah kaku sedang menitipkan sesuatu yang berat baginya.
Meyakinkan anak - anak mungkin bisa. Tetapi kembali merebut dan meyakinkan hati perempuan yang masih dia cintai ini sangat sulit. Tian memandang Tama.
"Lihat bro putri kecilmu seketika tidak mau jauh dari pelukanku. Aku berjanji akan menjaganya, menjaga mereka sampai maut memisahkan."
Tian berbicara sangat kecil kepada jasad itu. Pukul sepuluh baru Eliana tertidur. Tian meminta Liam menjaga adiknya di kamar. Dan dia mandi sebentar. Selesai dia melihat Eliana masih tertidur.
"Kak, malam ini kamu menjaga Eliana ngak masalah."
"Ngak, adek kaka mau bicara."
Dia menunjukan chat terakhir Tama kepadanya. Untuk dibacakan oleh Calista, didepan mamanya juga mama dan papanya Tian, serta Melany kakaknya Tian. Air mata Calista bercucuran.
"Ini berat kak."
"Kakak tahu."
"Kalau kalian malu, kalian bisa membawa anak - anak kita pindah ke Selandia Baru disana ada usaha papa disana. Kamu bisa melayani di rumah sakit disana." Papanya Tian bersuara.
"Urusan kantor disini ada Melany yang mengurus, sesekali kamu bisa ke Jakarta. Mama dan papa juga akan pindah disana."
"Mama setuju nak."
Semua orang yang tahu masalah Calista dengan Tian pasti sedih. Bagaimana Calista dipermalukan oleh Lisa perempuan perusak rumah tangga. Perempuan play victim. Sehingga Calista harus bercerai dengan Christian. Masalah mereka ini melibatkan orangtua mereka saat itu. Sosok perwira dokter Ezra Pratama inilah yang kembali mengangkat dan menyatukan dua keluarga yang saling membenci. Meskipun dia tubuh dan besar pada sebuah panti asuhan. Bagi seorang dokter yang bernama Calista Gunawan ini, sangat beruntung memiliki lelaku pengertian itu. Air mata Calista kembali bercucuran mengingat setiap moment kebersamaannya bersama Daniel dan Tama.
Kembali Calista membaca pesan dari Tama pada handphone Tian.
Kak, aku menitipkan Calista bersama anak - anakku. Aku tahu rasa cinta kakak kepada Calista tidak perna berubah. Aku akan tenang di tempatku nanti, jika kamu bisa menjaga mereka. Tolong saya kakak, hanya kamu yang bisa mencintai mereka dengan tulus. ~~Ezra Pratama~~
Malam ini, Calista tidak bisa tidur, dia bangun dan duduk disebelah peti mati suaminya. Di pengang muka suaminya. Suasana rumah masih sangat ramai. Anggota masih berjaga. Makanan yang dipesan Tian masih banyak dan datang terus menerus. Sehingga semua anggota tentara bisa menikmatinya.
"Mas... Terima kasih ya. Sepuluh tahun lebih itu waktu yang lama, waktu yang Tuhan berikan kepadaku untuk bersama orang hebat ini. Kamu sungguh luar biasa bagi anak - anakku. Dokter onkologi andalan Daniel sejak berusia empat tahun. Aku yakin Daniel dan Liam tidak akan melupakan sosok papi yang hebat ini. Bawalah cintaku pergi bersamamu sayang."
"Aku tahu, kamu sepertinya sudah merasa bahwa kasih sayang Tuhan sangat lebih kepada kamu. Ternyata ini maksud pembicaraan kamu terkahir kepadaku. Ternyata kamu menitipkan aku kepada sosok papanya anak - anak cinta pertamaku yang sudah menyakitkan hatiku. Kenapa kamu percaya sekali kepadanya. Kenapa mas??? Kenapa bukan kamu saja yang menjaga kami."
Calista tertidur disamping peti Jenasah suaminya. Daniel kaget karena tidak ada maminya disamping dia. Ternyata maminya ada tertidur disamping peti papinya.
"Pa, biar kakak yang mengendong mami."
"Iya sayang. Kamu hati - hati."
"Iya pa, mami ini baru sehari bersedih, berat badannya sudah turun banyak."
Semua menggunakan baju berwarna putih hanya Tian yang menggunakan baju kemeja berwarna hitam.
"Papa gendong adek. Adek takut." Tian langsung mengendong Eliana.
"Adek takut sama siapa??"
"Itu. Papi."
"Iya itu papi. Papi sudah bobo dan sudah bersama Yesus. Masa adek takut."
Ibadah di rumah duka sudah selesai. Dan jenasah sudah diserakan kepada negara dalam hal ini kesatuan angkatan darat tempat Kolonel Ezra Pratama bekerja.Calista sendiri yang menyerahkan jasad suaminya.Dan Tama suaminya dimakamkan di taman makam pahlawan.