NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Satu Pukulan

"Bintang Setiabudi tidak boleh hidup lewat dari besok."

Pukul 03.40, villa Hendry sudah bangun tanpa suara.

Dewi membagikan nasi kepal kecil, air hangat, dan garam sedikit untuk yang akan bertarung. Mawar memeriksa perban, antiseptik, dan kain bersih. Fajar berdiri di depan peta dengan dua orang patroli barunya, memberi arahan terakhir tanpa kalimat yang tidak perlu.

Yanto menunggu di jalan servis dengan truk Colt Diesel, mesin mati, lampu padam.

Bagus memutar bahu.

Melati menggenggam kedua tangannya, api kecil hidup lalu padam di sela jari.

Raja berdiri di dekat gerbang. Bulu hitamnya diam, tetapi listrik tipis sesekali menyambar tanah.

Nasi duduk di bahu Mawar. Untuk pertama kalinya sejak Bintang disebut, kucing kecil itu tidak menggeram. Ia hanya menatap barat.

Hendry memakai rompi, sarung tangan, parang di pinggang, pistol di sisi kanan. Senjata itu hampir tidak ia butuhkan, tetapi simbol penting. Orang baru perlu melihat bahwa pemimpin mereka tidak pergi ke perang dengan tangan kosong, meski tangan kosongnya sendiri lebih berbahaya daripada senjata.

"Satu jam," kata Hendry. "Bintang jatuh dulu. Setelah itu kontrol pecah. Jangan bunuh orang yang matanya kosong kalau bisa dilumpuhkan. Prioritas kedua: lantai dua."

Fajar mengangguk. "Jalur belakang saya kunci."

"Yanto?"

Suara radio masuk pelan. "Truk siap, Bos. Saya sudah parkir mundur. Kalau harus kabur, tinggal injak gas. Kalau harus angkut korban, bak kosong."

"Bagus."

Pukul 04.00, mereka bergerak.

Subuh belum muncul. Jalan barat luar cluster masih gelap, hanya diterangi sisa bara di drum penjaga roadblock. Dua penjaga menguap di balik karung pasir. Salah satu memegang senapan angin. Satu lagi menggenggam parang dengan tangan lemas.

Mereka tidak tahu kematian sudah berdiri di sisi jalan.

Fajar dan dua orangnya menyelinap ke belakang sesuai rencana. Raja bergerak lebih rendah dari bayangan. Bagus menunggu di balik mobil rusak. Melati berdiri lima langkah di belakang Hendry, napasnya stabil.

Hendry mengangkat tangan.

Melati melempar api.

Bukan bola besar. Hanya garis api padat yang menghantam tali paku dan kain berminyak di dekat roadblock. Api menjalar cepat, menyilaukan penjaga.

"Serangan!"

Teriakan itu belum selesai ketika Bagus menabrak karung pasir.

Brak!

Tubuhnya seperti palu manusia. Satu penjaga terpental. Raja melompat ke atas mobil terbalik, listrik menyambar kaki penjaga balkon. Orang itu jatuh sebelum sempat membidik.

Speaker portable di halaman menyala.

"Semua ke depan! Tahan mereka!"

Suara Bintang.

Tiga penjaga yang tadinya panik langsung berhenti. Mata mereka kosong. Tubuh mereka bergerak serempak, mengangkat senjata ke arah Bagus.

Hendry hilang.

Void Walk.

Udara di depan roadblock berkerut.

Satu detik berikutnya, Hendry berdiri di tengah halaman villa, tepat di depan kotak kayu tempat Bintang biasa berpidato.

Bintang baru mengangkat mikrofon ke mulutnya.

Mata mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, wajah rapi Bintang kehilangan senyum.

"Kau..."

Hendry tidak memberi ruang untuk kata kedua.

Satu langkah.

Satu pukulan.

Tinju Hendry menghantam dada Bintang.

Tidak ada ledakan besar. Tidak ada gerakan indah. Hanya suara pendek, seperti kayu basah patah dari dalam.

Energi ruang menekan ke depan, masuk lewat tulang dada, meremukkan organ di baliknya tanpa memberi tubuh luar waktu untuk bereaksi.

Bintang terangkat setengah jengkal dari tanah.

Mikrofon jatuh.

Speaker memekik.

Lalu tubuh Bintang ambruk di kotak kayu yang selama ini ia pakai untuk memerintah orang.

Mati.

Kontrol pecah.

Tiga penjaga di depan roadblock tersentak seperti orang baru terbangun dari mimpi buruk. Seorang menjatuhkan parang. Seorang lagi muntah. Di tangga, Awan Permata terhuyung, satu tangan mencengkeram pagar, mata kosongnya retak menjadi kesadaran yang sakit.

"Bintang jatuh!" suara Fajar terdengar dari belakang. "Tahan yang sadar! Jangan bunuh yang bingung!"

Kekacauan meledak.

Awakener Earth-type mencoba mengangkat dinding batu kecil dari tanah. Melati membakar sisi matanya dengan api pendek, cukup membuatnya menjerit dan kehilangan fokus. Bagus menghantam bahunya sampai ia jatuh.

Wind-type perempuan kurus mencoba kabur ke balkon. Raja menyambar dari samping. Thunder Tail menghantam kakinya, membuatnya jatuh berguling tanpa luka fatal.

Dua pria lain menyerang Hendry dengan panas dan listrik lemah.

Hendry menghilang setengah langkah.

Void Walk pendek.

Ia muncul di belakang mereka. Dua pukulan ke tengkuk. Dua tubuh jatuh.

Di garasi samping, sesuatu mengaum.

Bintang rupanya menyimpan kartu lain.

Pintu garasi jebol dari dalam. Zombie besar keluar dengan rantai di lehernya, tubuhnya bengkak, kulitnya hitam-abu, matanya menyala lapar. Ada bekas luka lama di dada, tanda ia sudah dipakai berkali-kali sebagai alat teror. Aura busuknya jauh lebih berat dari zombie Level 2.

Level 5.

Beberapa orang langsung mundur, termasuk mantan penjaga Bintang.

"Bos!" Bagus berteriak.

Zombie Level 5 itu menyerbu Hendry.

Cepat.

Terlalu cepat untuk manusia biasa.

Hendry berdiri diam sampai jaraknya tinggal tiga meter.

Lalu ia mengangkat tangan.

Ruang di depan telapak tangannya menegang seperti kaca tak terlihat.

Zombie itu menabrak.

Untuk sepersekian detik, tubuh besarnya berhenti di udara.

Hendry maju dan memukul tepat ke dahi.

Satu pukulan lagi.

Kali ini suara retaknya lebih keras. Bukan tulang biasa, tetapi ruang yang menekan satu titik, menembus dahi, merusak inti gerak di dalam kepala.

Zombie Level 5 jatuh.

Tidak bangun lagi.

Halaman villa langsung sunyi.

Orang-orang Bintang yang masih sadar menatap mayat zombie itu, lalu menatap Hendry. Ketakutan mereka berubah bentuk. Bukan lagi takut pada Bintang yang memerintah lewat suara. Ini takut pada pria yang tidak perlu berteriak untuk membunuh sesuatu yang mereka kira monster.

Hendry menarik napas.

Pelipisnya berdenyut akibat Void Walk dan pukulan ruang beruntun, tapi ia tetap berdiri lurus.

"Bintang mati," katanya. "Yang mau hidup, jatuhkan senjata."

Satu parang jatuh.

Lalu pipa besi.

Lalu pistol lama.

Dalam sepuluh detik, halaman itu dipenuhi suara logam menyentuh lantai.

Awan Permata turun dari tangga dengan langkah tidak stabil. Es tipis menyebar di pegangan tangga, lalu retak. Wajahnya pucat seperti orang baru lepas dari demam panjang.

"Lu..." Suaranya serak. "Siapa?"

"Hendry Wijaya."

Awan menatap mayat Bintang, lalu menutup mata sebentar. Saat membukanya lagi, ada amarah dan malu yang belum punya tempat.

"Dia masuk ke kepala gue."

"Sudah selesai."

"Belum." Awan menoleh ke lantai dua. "Mereka di atas."

Mawar datang bersama Dewi dan Nasi setelah Fajar memberi sinyal aman. Begitu pintu lantai dua dibuka, ruangan itu mengeluarkan bau tertutup: keringat, darah kering, ketakutan, dan udara yang terlalu lama tidak diganti.

Sekitar dua puluh perempuan berada di dalam.

Tidak ada yang langsung percaya ketika pintu dibuka.

Beberapa mundur ke sudut. Beberapa menutup wajah. Satu mencoba berdiri lalu jatuh lagi. Mawar masuk paling depan, kedua tangannya terbuka, suaranya lembut.

"Kami bukan orang Bintang. Kami bawa air dan obat."

Dewi berlutut di dekat perempuan paling tua dan memberikan botol air sedikit demi sedikit. Nasi duduk di ambang pintu, tidak menggeram. Raja tetap di luar, menjaga agar tidak ada mantan penjaga masuk.

Cahaya emas Mawar menyala kecil, berpindah dari luka paling parah ke luka berikutnya. Ia tidak menyembuhkan semua sekaligus. Hendry sudah mengajarinya batas. Tapi cahaya kecil itu cukup untuk membuat ruangan percaya bahwa pintu yang terbuka bukan jebakan baru.

Di halaman, Fajar mengikat para loyalis Bintang yang masih berbahaya. Bagus mengumpulkan senjata. Melati membakar speaker portable sampai plastiknya meleleh.

"Benda sialan," katanya.

Hendry membelah dahi Bintang.

Kristal Level 3 keluar dari sana, abu-abu pekat dengan garis putih terang yang berputar di dalamnya. Kristal control-type. Berbahaya. Berharga.

Ia menyimpannya.

Lalu ia menyuruh Bagus dan Fajar menggantung tubuh Bintang di gerbang luar villa, bukan untuk kesenangan, tetapi untuk pesan.

Di bawah tubuh itu, Hendry menulis dengan cat merah dari gudang Bintang:

YANG MEMPERBUDAK MANUSIA AKAN MATI DI SINI.

Tidak perlu pidato panjang.

Semua orang yang melihat paham.

Menjelang siang, truk Yanto membawa korban, Awan, barang medis, beberapa karung beras curian, senjata, dan amunisi terbatas kembali ke Cluster Pondok Indah. Orang-orang yang dulu dikendalikan Bintang diberi pilihan: ikut sebagai pekerja biasa di bawah aturan Hendry, atau pergi setelah diberi air dan makanan dasar. Sebagian besar memilih ikut.

Di villa Hendry, Dewi langsung menyalakan dapur. Mawar hampir pingsan setelah terlalu banyak memakai cahaya, tetapi Hendry menahannya sebelum ia memaksa lebih jauh.

"Cukup."

"Masih ada yang sakit."

"Besok lu lanjut. Kalau lu jatuh, semua kehilangan healer."

Mawar ingin membantah, lalu akhirnya duduk.

Awan menunggu sampai ruang tengah lebih sepi.

Ia mendekati Hendry dengan langkah pelan. Di sekitar jarinya, serpihan es kecil muncul lalu hilang, seperti tubuhnya belum percaya sudah bebas.

"Komandan."

Hendry menoleh.

Panggilan itu membuat Bagus yang sedang lewat mengangkat alis. Tapi Awan tidak sedang bercanda.

"Bintang sebelum mati pernah menyebut satu nama." Awan menatap peta di meja. "Surya Permadi. Katanya di Jakarta selatan ada kelompok lebih besar. Seratus orang lebih. Ada senjata api. Ada beberapa Awakener."

Ruangan yang baru saja mulai hangat kembali dingin.

Awan melanjutkan, suaranya lebih rendah.

"Mereka sudah dengar tentang cluster ini. Tentang stok makanan. Tentang orang yang bisa muncul dan hilang."

Hendry menatap peta.

Ancaman tidak pernah berhenti.

Ia hanya naik level.

"Mereka mengincar kita?" tanya Bagus.

Awan mengangguk.

"Bukan nanti," katanya. "Mereka sudah menatap area ini."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!