NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Beberapa hari berlalu sejak pesta itu. Stella tidak membuang waktu. Seperti yang dia katakan, dia tidak akan tinggal diam. Dengan tekad yang membara, dia mulai bergerak aktif mencari tahu segala informasi tentang Damar.

Dia mencari di internet, bertanya-tanya pada teman-temannya yang bekerja di rumah sakit, bahkan mencoba menyelidiki latar belakang keluarga pria itu.

Namun... semakin dalam dia mencari, semakin besar rasa kaget dan kekagetan yang dia rasakan.

"Gila... siapa sebenarnya pria ini?!" batin Stella terpana sekaligus gemetar.

Ternyata Damar bukanlah orang sembarangan. Dia bukan cuma sekadar dokter atau direktur biasa. Keluarganya sangat terpandang, kaya raya, dan memiliki pengaruh besar tidak hanya di dunia medis tapi juga di berbagai bidang bisnis. Profil Damar sangat tertutup, privasinya dijaga ketat, dan akses untuk bisa mendekatinya sangat sulit. Hampir tidak ada celah.

Berbeda sekali dengan Ezra.

Ezra memang dokter yang baik dan tampan, tapi levelnya masih bisa dijangkau, masih bisa didekati dengan cara biasa, dan mudah digoda. Tapi Damar... dinding yang melindungi Damar begitu tinggi dan tebal.

"Ezra itu mudah... gampang banget didekatin," gumam Stella dengan nada kesal. "Tapi Damar?! Ini susah banget! Bahkan buat nemuin nomor HP-nya aja gak ada yang punya! Aksesnya dibatasin banget!"

Stella merasa frustrasi. Tapi rasa frustrasi itu justru memicu ambisinya makin besar. Dia tidak mau menyerah hanya karena sulit. Justru karena sulit dan berkelas, dia makin ingin memilikinya.

"Tidak masalah... semakin sulit didapat, semakin aku ingin memilikinya," bisik Stella dengan mata berkilat. "Aku akan terus cari cara. Aku akan pastikan dia melihatku, notice aku, dan sadar kalau aku ada di sini! Aku lebih pantas buat dia daripada Adera!"

Stella mulai merencanakan berbagai skenario, berpura-pura tidak sengaja bertemu, mencoba mencari koneksi, melakukan apa saja demi bisa menarik perhatian sang Direktur.

 

Namun... di sisi lain, di ruang kerjanya yang mewah dan dingin...

Damar yang sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap layar komputernya dengan senyum tipis yang sangat sulit diartikan.

Di layar itu, terlihat data dan laporan yang sangat detail. Siapa yang mencari informasinya, siapa yang mencoba menyelidiki latar belakangnya, bahkan gerak-gerik orang tersebut selama beberapa hari terakhir tercatat jelas di sana.

Damar mengetikan jarinya pelan di atas meja, matanya menatap tajam nama yang muncul di layar yaitu Stella Anggraini.

"Hmm... ternyata ada tikus kecil yang sedang sibuk mengendus-endus di sini," gumam Damar pelan dengan nada dingin.

Damar sangat menyadari sepenuhnya. Dia tahu persis kalau ada orang yang sedang menyelidikinya dengan sangat detail. Dengan kekuasaan dan sistem keamanan yang dia miliki, mustahil ada gerakan sedikit pun yang luput dari pengawasannya.

Dia tahu siapa pelakunya. Dia tahu sepupu Adera itu diam-diam sedang berusaha mencari celah dan berusaha menarik perhatiannya.

"Lucu..." desis Damar pelan. "Kamu pikir kamu bisa bermain api denganku? Kamu pikir kamu bisa merebut apa yang sudah jelas-jelas jadi milik orang lain?"

Damar menutup layar itu dengan kasar. Tatapannya berubah tajam dan membeku.

"Silakan saja kamu berusaha sekuat tenaga... tapi ingat baik-baik... aku bukan mainan yang bisa kamu rebut seenaknya. Dan matamu yang penuh dengki itu... jangan harap bisa melihat apa-apa selain kekalahan," ucap Damar penuh penekanan.

Damar sama sekali tidak terganggu. Justru dia sudah siap bermain permainan yang jauh lebih licik untuk melindungi apa yang dia sayang!

 

Hari-hari berlalu, Damar kembali aktif seperti sedia kala. Setelah masa pemulihannya selesai, pria itu kembali memegang kendali penuh di Rumah Sakit Adisakti.

Permintaan operasi yang mengarah padanya membludak tak henti. Banyak orang kaya, pejabat, hingga orang penting lainnya rela menunggu berbulan-bulan hanya untuk bisa ditangani langsung oleh tangan emas sang Direktur.

Namun kenyataannya pahit. Damar tidak bisa menangani semua orang. Jadwalnya padat, dan dia sangat selektif. Tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan layanan darinya.

Hanya kasus-kasus tertentu atau orang-orang yang memang beruntung yang bisa mendapatkan jasa keahlian dokter terbaik itu.

 

Di tempat lain, suasana di rumah keluarga Nindy terasa begitu mencekam dan menyedihkan.

Papa Nindy tiba-tiba jatuh sakit parah dan harus segera dirawat inap. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa kondisi ayahnya sangat serius dan harus segera dioperasi agar nyawanya bisa tertolong.

"Dokter, bagaimana kondisi suami saya? Apakah ada harapan?" tanya Mama Nindy dengan suara bergetar, air matanya tak henti mengalir.

Dokter yang menangani tampak serius namun berusaha menjelaskan dengan pelan.

"Keadaannya cukup kritis, Bu. Operasi ini sangat rumit dan berisiko tinggi. Tapi... ada satu kabar baik. Secara medis, dokter yang paling ahli, paling berpengalaman, dan tingkat keberhasilannya hampir mendekati 100% untuk kasus seperti ini adalah Dokter Damar," ujar dokter tersebut.

"Dokter Damar?" tanya Nindy lemah.

"Betul, Beliau adalah yang terbaik saat ini. Kalau pasien bisa ditangani langsung oleh beliau, kemungkinan besar operasinya akan berhasil sangat baik," jelas dokter.

Namun senyum harap itu segera pudar saat dokter itu menambahkan dengan nada berat.

"Tapi... sejujurnya saya harus jujur. Dokter Damar itu sangat sibuk sekali. Beliau tidak mudah ditemui dan tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan jadwalnya. Banyak yang mengantre tapi jarang yang diterima. Akses untuk beliau sangat terbatas," imbuh dokter.

Mendengar itu, dunia seakan runtuh bagi Nindy dan mamanya. Harapan satu-satunya seakan tertutup rapat.

"Tidak... tidak boleh begitu! Suami saya harus selamat!" isak Mama Nindy histeris. "Apa saja akan kami lakukan Dok! Tolong carikan jalan! Kami mohon..."

Melihat mamanya menangis dan keadaan papanya yang kian melemah, Nindy yang berdiri di sudut ruangan merasa dadanya sesak luar biasa. Air matanya turun membasahi pipi.

Pikirannya bekerja keras mencari solusi. Sampai akhirnya... nama Damar yang disebutkan dokter tadi terus terngiang di kepalanya.

"Damar... Dokter Damar..."

Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul di benaknya.

"Tunggu dulu! Damar itu... Damar yang lagi deket sama Adera kan?! Damar calon suaminya Adera!!!" batin Nindy berusaha menebak dengan benar.

Jantung Nindy berdegup kencang. Itu satu-satunya harapan! Hanya Adera yang punya akses khusus ke pria itu!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nindy segera menghapus air matanya, meraih ponselnya, dan langsung berlari menemui sahabatnya itu.

"Der!!! Adera!!!" seru Nindy saat bertemu dengan wajah penuh keputusasaan. "Tolongin gue Der! Tolong Papa gue! Satu-satunya harapan kami cuma Lo sekarang!"

"Ada apa Nin? Kenapa lo nangis begini?" tanya Adera kaget.

"Papa gue... Papa harus operasi Der! Dan dokter bilang cuma Dokter Damar yang bisa tangani kasus ini dengan aman!" cerita Nindy terbata-bata sambil menangis. "Tapi kata orang dia susah banget ditembus dan gak semua orang bisa minta jasa dia! Der... tolong ya... lo kan kenal dekat sama dia! Lo kan calon istrinya! Tolong minta tolong dia ya biar mau operasi Papa gue! Gue mohon banget sama lo!"

Adera terbelalak kaget mendengarnya. Situasinya genting sekali. Dia tahu betul betapa sibuknya Damar dan betapa tinggi posisi pria itu. Tapi melihat sahabatnya yang putus asa dan mengingat betapa baiknya Papa Nindy padanya... Adera mengangguk tegas.

"Tenang Nin... tenang dulu..." ucap Adera berusaha menenangkan. "Lo jangan khawatir, gue janji... akan bantu sebisa mungkin. Gue akan berusaha bicara sama Damar."

"Gue gak tahu dia bakal bisa atau enggak, tapi demi lo dan demi Papa lo... Gue akan minta dia bantuin. Gue janji Nin!"

"Terima kasih banyak Adera, gue hanya bisa bergantung pada Lo," ujar Nindy lega namun masih cemas.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!