Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Hari ini belum ada kegiatan outing, semua staff masih diberi waktu untuk istrirahat karena baru saja melewati perjalanan panjang untuk sampai di tempat tersebut.
Dinzy, Siska dan beberapa staff dari divisi yang sama terlihat sedang berada di sebuah restaurant di resort tersebut.
Semua terlihat bahagia dan bahkan saling bercanda satu sama lain. Hari ini ada 3 divisi yang melakukan outing di daerah tersebut. Restaurant yang biasanya sepi sekarang terlihat ramai dan penuh.
"Mba Siska, aku mau ke toilet dulu" ucap Dinzy
"Perlu di temani?" tanya Siska
"Gak Mbak, ada disitu kok toiletnya" ucap Dinzy sambil menunjuk arah toilet, yang kemudian di angguki pelan oleh Siska.
Setelah Dinzy meninggalkan meja, Hendra terlihat menatap kearah Siska.
"Kenapa Hen?" tanya Siska
"Tumben bisa akrab sama orang lain" tanya Hendra
"Dia anaknya polos banget, apa adanya, dan gak banyak drama. Gak ada salahnya berteman sama dia, dan sejauh ini aku nyaman sih" jelas Siska
Staff lain mengangguk kemudian mereka melanjutkan makan sambil menunggu Dinzy kembali.
Sementara Dinzy di toilet sedang terlihat membantu seseorang yang tengah kesakitan.
"Pak, saya bantu telfonkan ambulance ya" ucap Dinzy
"Tidak, tidak perlu. Saya hanya alergi, saya sudah minum obat" jawabnya sambil menahan sakit
Dinzy tidak bisa melakukan banyak hal, dia juga tidak bisa meninggalkan pria itu sendirian. Dinzy menemaninya hingga kondisi pria itu terlihat membaik.
"Mungkin mau dibantu dipanggilkan staff Pak? Atau Bapak dengan siapa disini, saya bisa bantu carikan keluarga Bapak"
"Tidak, terimakasih. Saya sudah merasa oke, dan terimakasih sudah peduli sampai harus menunggu disini untuk beberapa menit"
"Tidak masalah Pak, karena saya lihat Bapak juga sedang kesakitan. Bapak sudah yakin merasa lebih baik?"
"Iya, saya sudah oke. Nama kamu siapa?"
"Saya Dinzy Pak"
"Saya Luca. Kamu ada kegiatan disini?"
"Iya Pak, saya ada outing"
"Oh acara kantor. Have fun Dinzy, sekali lagi terimakasih. Kamu bisa kembali ke rombongan kamu, sebelum mereka berfikir kamu tersesat"
"Baik Pak, saya permisi dulu. Bapak hati-hati"
Dan benar saja, semua orang menunggu Dinzy. Saat Dinzy datang semua bertanya apakah Dinzy baik-baik saja atau tidak. Bahkan mereka sempat menuju toilet tapi mereka tidak menemukan Dinzy.
"Maaf Mbak, Mas tadi tolongin orang di ujung sana" Jelas Dinzy
"Astaga Dinzy, aku pikir kamu kemana. Lain kali bawa ponsel kamu ya, jadi biar gampang kalau ada sesuatu" Ucap Siska lembut
"Iya Mbak, sekali lagi maaf"
"Gak apa-apa Dinzy, tenang saja. Kita kembali ke kamar?" tanya Hendra
"Oke, kita istirahat deh" sahut Siska
Rimbongan itu meninggalkan restaurant, dari jauh Luca melihat rombongan tersebut dan dia mengenali sosok perempuan yang mengguanakan kaos putih tersebut.
"Dinzy" gumam Luca
"Maaf Pak?" ucap Rosa
"Oh gak, wanita itu. Namanya Dinzy" ucap Luca kepada Rosa, sekretarisnya.
Rosa hanya mengangguk perlahan, kemudian tersenyum tipis sambil menatap wanita yang di maksud oleh Luca namun Rosa tidak tahu wanita yang mana yang bernama Dinzy.
Luca dan Rosa meninggalkan resort tersebut kemudian menuju mobil dimana mereka memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka kembali ke kota dan meninggalkan tempat tersebut.
Berbeda dengan Luca dan Rosa yang lebih dulu hengkang, rombongan Dinzy terlihat sedang menikmati suasana alam yang tidak bisa mereka nikmati saat berada di kota.
Sejuk, udara segar, dan suara burung yang bersahutan menambah kesempurnaan tentang tempat itu. Jika biasanya mereka hanya mendengar suara klakson dan sirine ambulance, kali ini yang mereka dengar hanya suara daun yang bergesek karena angin dan suara burung yang saling bersahutan.