NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Basah Kuyup

Apartemen Shafira Maharani.

Di luar jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, pemandangan malam kota terbentang megah. Lampu-lampu neon berkelap-kelip seperti lautan bintang buatan, namun keheningan di dalam ruangan begitu pekat hingga suara lalu lintas jauh di bawah sana tak mampu menembusnya.

Di dalam, hanya satu lampu suasana yang menyala—memancarkan cahaya kuning redup yang sendu dan sugestif.

Shafira Maharani berdiri di tengah ruang tamu, hanya mengenakan gaun tidur sutra berwarna perak-putih. Tali tipisnya bertumpu longgar di bahunya, memperlihatkan lekuk bahu yang bulat dan kulitnya yang pucat. Rambut keritingnya yang biasanya ditata sempurna kini terurai agak berantakan, mencerminkan kekacauan dalam hatinya.

Ia berjalan mendekati meja kopi, di mana sebuah vas kristal berisi beberapa tangkai mawar merah diletakkan. Bunga-bunga itu tampak segar, kelopaknya penuh dan menjuntai elegan.

Dengan gerakan mekanis, Shafira mengambil botol semprot di samping vas.

*Psh— Psh—*

Kabut air menempel merata di kelopak bunga yang merah pekat. Tetesan-tetesan transparan terbentuk, perlahan mengalir ke ujung kelopak sebelum menghilang ke dalam lipatan-lipatan dalam yang gelap.

Shafira menatap mawar yang paling indah. Pandangannya kabur.

*Apakah aku merasa lega?*

*Tentu saja.*

Bekas merah di pergelangan tangannya—akibat cengkeraman besi Arjuna Pratama tadi malam—masih terasa nyeri samar. Rasa sakit itu adalah pengingat nyata akan konfrontasi tegang di koridor belakang panggung.

Dia telah memenangkan taruhan itu. Dia tidak membiarkan pria itu bertindak sesuka hatinya. Tidak membiarkan dirinya direduksi menjadi mainan siap pakai yang bisa dibuang begitu saja setelah digunakan.

Dia masih ingat keterkejutan di mata Arjuna. Bahkan kemarahan karena egonya tersinggung.

*Ini bagus.*

Kemarahan selalu lebih baik daripada ketidakpedulian total. Setidaknya, di hati Arjuna Pratama yang arogan, Shafira Maharani bukan lagi objek tanpa nama. Dia punya nama. Punya temperamen. Dia berhasil meninggalkan jejak—sekecil apa pun—di dunia pria itu.

*Tapi apakah aku menyesal?*

*Bagaimana mungkin tidak.*

Ujung jarinya tanpa sadar mengencang. Botol semprot di tangannya berbunyi mendesis lebih cepat, tetesan air bahkan memercik ke lengannya yang halus—terasa dingin menusuk tulang.

Kelopak bunga yang jenuh air itu berubah menjadi merah tua yang hampir hitam di bawah cahaya redup. Bunga itu bergetar halus, seolah akan layu kapan saja karena beratnya kelembapan yang menimpanya.

Bayangan Arjuna Pratama muncul di benaknya.

Garis-garis otot bahu dan punggungnya yang menonjol di balik kemeja hitam. Suhu tubuhnya yang panas, terasa bahkan melalui lapisan kain. Aroma maskulin bercampur wiski dan kayu gaharu premium yang khas.

Dan hasrat yang tak terselubung di balik tatapan elangnya yang dalam. Begitu intens. Begitu... dahsyat.

Ketertarikan Arjuna jelas sangat tinggi malam itu. Momentum tekadnya hampir menghancurkan kepura-puraan Shafira. Energi primitif itu—

Shafira memejamkan mata. Tenggorokannya terasa kering.

*Siapa yang akan mendapat manfaat dari itu sekarang?*

Wanita penggoda mana yang akan menggantikannya dan menanggung nafsu Arjuna yang dahsyat? Salah satu aktris figuran yang sering menatapnya dengan kerinduan di lokasi syuting? Atau Raka Hadiputra sudah menyiapkan "barang baru" lagi untuk sahabatnya itu?

Kelopak mawar di bawah ujung jarinya melengkung karena berat tetesan air. Batangnya yang rapuh tampak kewalahan menahan beban keindahan yang terlalu basah.

Shafira melepaskan botol semprot itu. Dengan kesal, ia memainkan kelopak mawar yang paling indah—kukunya yang tajam menggores tepi kelopak, meninggalkan bekas kerusakan kecil yang tidak bisa diperbaiki.

Ia mengambil gelas anggur merah di atas meja dan meneguknya dalam-dalam. Cairan dingin itu meluncur ke tenggorokan, namun gagal memadamkan secercah kebencian dan kerinduan terpendam di dadanya.

*Gluk.*

Gelas itu dibanting kembali ke meja dengan bunyi dentingan tajam yang memecah keheningan.

Shafira memandang mawar-mawar itu. Basah kuyup. Tampak subur, namun rapuh. Tatapannya rumit—sulit ditebak bahkan oleh dirinya sendiri.

*Semoga pilihanku adalah pilihan yang tepat,* batinnya pahit.

---

Sore berikutnya.

Sinar matahari sore menerobos celah-celah tirai tebal, memancarkan seberkas cahaya keemasan ke atas karpet. Udara di kamar suite masih menyimpan aroma sisa wangi gaharu dingin Arjuna Pratama—bercampur suasana dekaden yang belum sepenuhnya menguap.

Bulu mata panjang Citra Lestari berkedip beberapa kali sebelum ia akhirnya berhasil membuka matanya.

Mata almondnya masih menyimpan rasa kantuk dan kebingungan, seolah diselimuti kabut tipis pasca-badai. Ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari di mana ia berada.

Ia sendirian di ranjang besar itu. Seprai putih di sampingnya sudah lama terasa dingin.

Arjuna telah pergi.

Citra mencoba menyangga tubuhnya yang sakit untuk duduk. Selimut sutra putih meluncur turun dari bahunya, mengekspos kulitnya yang kini dipenuhi bekas-bekas merah samar.

"Desis..."

Sebuah desahan lemah keluar dari bibirnya yang masih bengkak.

Sekadar gerakan duduk saja sudah menyebabkan rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya. Pinggangnya terasa sangat lemah, seolah-olah tulang-belulangnya telah dirakit ulang dengan cara yang salah. Setiap sendi protes bahkan terhadap gerakan paling kecil sekalipun.

Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya yang panas di antara kedua lengan. Ingatan tentang malam sebelumnya menyerbu masuk—panas, dominasi, air mata, dan janji-janji kosong yang terbisikkan di telinga.

Citra menutup mata erat-erat.

*Ia berhasil bertahan. Ia tidak hancur.*

Tapi harganya... harganya jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan.

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!