Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Nona Dian, Nona!"
Dian terkejut saat dirinya diguncang oleh seseorang.
"Maaf nona, saya mengagetkan anda. Saya sudah memanggil anda beberapa kali, tapi tidak ada jawaban." Dian melihat sekitar. Ternyata mereka sudah tiba di rumah Joshua.
"Ah, maaf Pak. Karena bengong, saya jadi tidak mendengar panggilan anda."
Dian keluar dari dalam mobil. Ia langsung berjalan menuju tempat kerja Joshua. Ternyata pria itu sudah menunggu. Dia duduk di tempatnya dengan tenang, sambil memperhatikan berkas-berkas kerjanya. Matanya pandanya menunjukkan, kalau ia tidak tidur semalaman.
"Permisi pak, maaf mengganggu."
"Ya, duduk saja."
Dian menaruh pantatnya pada sofa yang disiapkan khusus untuk tamu.
Pakaian itu, sepertinya sudah dari kemarin. Apa dia tidak sempat mengganti pakaiannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Anda terlihat bingung dari tadi?" Joshua yang awalnya serius pada berkasnya, mengalihkan pandangan nya pada Dian. Dari tatapan Joshua, terlihat dia sangat terganggu, saat sedang menghadapi masalah yang sangat serius.
"Baiklah. Jika memang kamu begitu yakin ingin membantu, apa kamu punya solusi untuk masalah yang sedang saya hadapi."
Joshua menyuruh Dian maju. Ia menunjukan beberapa berkas yang sedang dalam masalah.
"Kira-kira ini laporan mengenai apa-apa saja pak?"
"Jadi, yang pertama, mengenai proyek konstruksi, yang merupakan kerjasama antara perusahaan kami dan JayaSion, ada sedikit kendala pada pekerjaan dan hambatan waktu.
Kedua anak perusahaan kami, Pniol telah mengalami sedikit kemunduran.
Dan....."
Joshua menjelaskan panjang lebar. Dian berusaha mencerna, sambil membaca sendiri setiap sumber masalah yang terjadi.
Dan ia jadi sedikit tahu, ternyata perusahaan Joshua atau PT Joshua Karya Mandiri, memiliki anak perusahaan di berbagai bidang dan juga sangat banyak. Dalam hal ini, berarti Joshua merupakan CEO dengan nama besar, yang mampu mengurus segala bidang. Pantasan ayah angkat nya sangat ingin bergabung dengan mereka dalam hal ini.
Dian menaruh pantatnya pada sofa yang disiapkan khusus untuk tamu.
Pakaian itu, sepertinya sudah dari kemarin. Apa dia tidak sempat mengganti pakaiannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Anda terlihat bingung dari tadi?" Joshua yang awalnya serius pada berkasnya, mengalihkan pandangan nya pada Dian. Dari tatapan Joshua, terlihat dia sangat terganggu, saat sedang menghadapi masalah yang sangat serius.
"Baiklah. Jika memang kamu begitu yakin ingin membantu, apa kamu punya solusi untuk masalah yang sedang saya hadapi."
Joshua menyuruh Dian maju. Ia menunjukan beberapa berkas yang sedang dalam masalah.
"Kira-kira ini laporan mengenai apa-apa saja pak?"
"Jadi, yang pertama, mengenai proyek konstruksi, yang merupakan kerjasama antara perusahaan kami dan JayaSion, ada sedikit kendala pada pekerjaan dan hambatan waktu.
Kedua anak perusahaan kami, Pniol telah mengalami sedikit kemunduran.
Dan....."
Joshua menjelaskan panjang lebar. Dian berusaha mencerna, sambil membaca sendiri setiap sumber masalah yang terjadi.
Dan ia jadi sedikit tahu, ternyata perusahaan Joshua atau PT Joshua Karya Mandiri, memiliki anak perusahaan di berbagai bidang dan juga sangat banyak. Dalam hal ini, berarti Joshua merupakan CEO dengan nama besar, yang mampu mengurus segala bidang. Pantasan ayah angkat nya sangat ingin bergabung dengan mereka dalam hal ini.
Dian menutup berkas terakhir pelan-pelan. Matanya yang sedari tadi meneliti setiap baris angka dan catatan kini menatap lurus ke arah Joshua. Tidak ada ragu di wajahnya, meski ia sadar betapa besarnya beban yang dipikul lelaki itu.
"Pak Joshua, izin saya bicara terus terang," ucapnya tenang, suaranya tegas namun tetap sopan. "Masalah ini sebenarnya bukan hal yang tidak bisa diatasi, hanya saja butuh langkah yang lebih terarah dan tidak setengah-setengah."
Joshua menyandarkan punggungnya, menatap Dian dengan pandangan yang mulai berubah—tidak lagi sekadar merasa terganggu, melainkan penuh rasa ingin tahu. "Silakan. Saya ingin mendengar pendapatmu."
Dian menunjuk lembaran laporan proyek konstruksi dengan ujung jari. "Untuk kerja sama dengan JayaSion: keterlambatan ini bukan semata soal pasokan atau cuaca. Dari catatan ini, terlihat tidak ada pembagian tanggung jawab yang tertulis tegas di perjanjian awal. Solusinya: besok kita panggil mereka, susun ulang jadwal dengan penambahan dua shift kerja. Tapi yang paling penting—masukkan klausul denda keterlambatan dan insentif penyelesaian lebih awal. Biar mereka juga punya dorongan kuat untuk bergerak cepat. Material cadangan sudah ada di jaringan pemasok Anda, tinggal kita pastikan pengiriman terjadwal ketat."
Ia kemudian memindahkan telunjuknya ke berkas bertanda merah—laporan Pniol. "Sedangkan untuk anak usaha ini: kemunduran mereka terjadi karena terlalu banyak cabang dan lini usaha yang tidak menguntungkan, tapi tetap didanai terus-menerus. Kita harus lakukan pemangkasan. Tutup cabang yang sudah dua tahun berturut-turut rugi, fokuskan seluruh sumber daya ke produk dan wilayah yang permintaannya tinggi. Selain itu, kirim tim manajemen dari kantor pusat selama tiga bulan untuk menyusun ulang sistem kerja. Berikan target jelas, dan ganti pemimpinnya jika dalam waktu itu belum ada perubahan nyata. Jangan biarkan satu bagian lemah menyeret seluruh kelompok usaha Anda."
Dian mengangkat kepalanya sedikit, menatap Joshua lebih dalam.
"Yang ketiga...." Dian menjelaskan panjang lebar, namun tetap yang terbaik dari setiap ide yang dia punya, untuk semua masalah yang ada. Mungkin sekitar 6 masalah yang harus ia benah. Joshua tidak mengalihkan pandangan, ia pernah dikejutkan dengan Dian pernah menyelesaikan 40-an berkas masalah yang ada di kantornya. Dan semua ide-idenya terselesaikan dengan baik.
"Dan satu hal lagi: karena PT Joshua Karya Mandiri punya banyak anak usaha di berbagai bidang, sebaiknya dibuat sistem pemantauan terpadu. Setiap bulan laporan masuk, ada tim khusus yang menilai kinerja—jadi masalah seperti ini tidak menumpuk sampai begini."
Ruangan itu hening sejenak. Joshua diam, menatap Dian dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, kekaguman, dan sedikit rasa lega yang perlahan tumbuh. Beban berat di bahunya seolah terasa sedikit lebih ringan, sejak kata-kata pertama Dian terucap.
Dan entah kenapa setelah diperhatikan lagi. Saat wanita di depannya itu begitu serius menjelaskan, dirinya terlihat sangat cantik.
Joshua kembali menyadarkan dirinya saat tahu bahwa ia diam-diam mengagumi Dian. Semuanya salah, Ia harus tetap membalas dendam. Tidak ada kata maaf untuk siapapun. Baik Dian, maupun keluarga nya.
Dian bingung melihat tingkah Joshua yang berubah menjadi aneh. Pria itu menggeleng tiba-tiba, seolah-olah berpikir sendiri.
Apa ia tidak mendengar penjelasan panjang lebar ku dari tadi.
"Ada apa pak, bagaimana dengan ide saya? Apa anda kurang yakin?"
Joshua sadar, Dian telah salah paham.
"Ah, tidak. Saya hanya memikirkan sesuatu."
"Jadi, anda tidak mendengar saya dari tadi. Dan malah memikirkan hal lain?"
"Tidak. Tentu saya mendengar mu. Kamu sangat pintar Dian. Bagaimana bisa, dalam hitungan menit, kamu bisa merancang semua ide itu jadi satu."
"Saya memang sudah dilatih seperti ini dari dulu."
Kepercayaan diri yang ditunjukkan Dian, membuat dirinya terlihat lebih berwibawa dengan pesona tersendiri.