"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan belas
"aa..apa..maksudmu?"
Diandra masih syok, matanya masih membola lebar.
Xavier mengusap wajahnya, jelas kalau dia juga sedang gugup.
"xavi..!" panggil diandra, suaranya tak lagi bergetar.
"maaf, di..! Anggap saja tadi kamu salah dengar!"
Diandra menghela nafasnya, percuma saja tadi detak jantungnya yang berdebar kencang. Ternyata xavier hanya salah ngomong, diandra tersenyum tipis, sedikit miris.
'emangnya apa yang kamu harapkan, di'
"ayo..lian, kita pulang!"
Diandra meraih pergelangan tangan putranya, yang sedari tadi berdiri terperangah mengamati mereka berdua.
"maaf, xavi. Kami pamit pulang!"
"tunggu, di!" cegah xavier cepat, tanpa sadar tangannya mencengkeram pergelangan tangan diandra.
Diandra mengernyitkan keningnya, menoleh terkejut. Cengkeraman tangan pria itu terasa sedikit kuat di pergelangan tangannya.
"aku ingin bicara padamu, bisa?"
Diandra masih menautkan kedua alisnya, namun kepalanya mengangguk tipis, seakan ragu.
"sekarang?"
"ya.." angguk xavier cepat, " kita cari tempat, yang tenang dan lian bisa main tanpa mendengar pembicaraan kita"
"oke.." sahut diandra pendek, perlahan ia melepaskan genggaman tangan xavier dari pergelangan tangannya. Xavier sedikit tersentak, ada rasa malu tersirat di wajah tampannya.
Beriringan mereka berjalan, namun killian lebih memilih memegang tangan xavier. Pria itu memegang erat tangan bocah lima tahun itu, sesekali terdengar celetukan dari mulut killian yang ditimpali xavier dengan penuh perhatian.
Di dalam mobil, suasana canggung sangat menguasai mereka, untungnya killian selalu berbicara. Xavier benar-benar bersyukur dengan keberadaan bocah itu, tak dapat ia bayangkan jika tak ada killian, entah bagaimana awkwardnya.
Xavier mengarahkan mobilnya ke sebuah taman kota, suasana sore di taman itu lumayan ramai, sangat cocok dengan keinginannya.
Xavier memarkirkan mobilnya di dekat sebuah foodcourt, ia memesan beberapa makanan dan meminta diantarkan ke tempat duduk yang sedikit jauh.
Diandra masih memegangi putranya, mengikuti xavier yang berjalan menuju tengah taman.
Ada beberapa saung kosong di sana, di dekat saung itu ada tempat anak-anak berkumpul melukis.
Diandra tersenyum, ternyata xavier paham bagaimana mengurus seorang bocah.
"bocah tampannya om xavi, mau melukis di sini kan?"
Killian mengangguk senang, dengan segera bocah itu duduk di sebuah kursi yang kosong. Seorang penyedia datang mengantarkan alat lukis untuk killian.
"kita kesana, di!" ajak xavier, menunjuk saung yang kosong tak jauh dari tempat killian, jadi mereka masih bisa mengawasi bocah laki-laki itu.
Diandra tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah xavier, kepalanya menoleh sekali lagi menatap putranya yang begitu senang.
"apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya diandra begitu mereka duduk berhadapan.
Xavier yang sepertinya memang sudah siap dengan pertanyaan diandra, mengangguk mantap.
"apakah kamu mengundurkan diri dari sweet night?"
Diandra menelan salivanya, dari mana pria ini tahu dia mengundurkan diri dari restoran itu.
"lian yang ngomong ke aku" ujar xavier pelan, " tadi bocah itu bilang, jangan sampai kamu tahu kalau aku tahu dari dia"
Diandra kembali menatap ke arah putranya, terdengar desah nafasnya berat.
Ternyata killian jauh lebih dewasa dari umurnya, kembali desah nafas diandra berhembus kesal.
Ya, ia kesal jika mengingat kembali kejadian di depan pintu kantor elang. Ia tak tahu berapa banyak yang killian dengar saat itu, diandra tak berani menanyakannya, ia takut mendengar dari bibir killian.
Diandra takut hal yang killian dengar, akan membekas di hati putranya itu dan menjadi trauma nantinya.
"di.." panggil xavier hati-hati, diandra menatap mata xavier lekat.
"apa saja yang kamu dengar dari lian?"
Xavier menggeleng pelan, "tak banyak, tapi ada satu yang sedikit membuat sakit hati!"
"apa itu?" mata diandra memicing penasaran, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.
"aku tak tahu siapa yang mengucapkan, tapi tadi lian bertanya padaku, apa arti anak har*m"
Diandra terperangah, kepalanya dengan cepat menoleh kembali menatap putranya. Seketika mata diandra berkaca-kaca, ada rasa amarah yang ingin dimuntahkan dari hatinya saat ini.
"wanita sial*n!" desis diandra mengusap ujung matanya, tiba-tiba berdiri.
"aku ijin sebentar, xavi. Bisakah kamu menjaga killian?"
Xavier yang tersentak melihat reaksi diandra ikut berdiri, " kamu mau kemana?"
"aku harus ketemu dengan seseorang"
"di.." xavier meraih tangan diandra yang hendak berbalik, "jangan pergi dalam keadaan marah!"
Diandra hendak menggeleng, namun xavier menuntunnya untuk duduk kembali.
"boleh aku tahu, siapa yang ngomong begitu?"
Diandra menatap lekat bola mata kebiruan xavier, entah mengapa hatinya mendadak dingin.
"hhhhhhh" desah diandra kasar, "aku kesal!"
"wajar.." angguk xavier, tangan pria itu masih mengenggam jemari diandra.
"aku juga kesal waktu lian bisikin itu padaku, rasanya aku kepengen menonjok mulut orang yang ngomong begitu!"
Diandra menatap lekat, mencari sesuatu dari mata kebiruan itu. Tak ada kepura-puraan, nada suara pria ini tulus.
"kenapa kamu kesal?" tanya diandra, matanya masih menatap lekat.
"orang dewasa nggak boleh ngomong sembarangan di depan anak kecil, apalagi kata-kata kasar seperti itu!" ucap xavier berapi-api, jelas terdengar kekesalan dari suaranya.
"kalau yang mengucapkan itu laki-laki, aku akan memberi perhitungan padanya!"
Diandra terkesima, xavier benar-benar kesal. Pria itu, sorot matanya benar-benar geram.
"lian itu bocah pintar, dia menyimpan kata-kata aneh di dalam kepalanya"
"mengapa, kamu begitu peduli pada kami?"
Xavier tersentak, ia langsung terdiam menatap mata diandra yang memandanginya.
"kita baru saja kenal, mengapa kamu begitu perhatian pada lian?"
Xavier menghela nafasnya, duduknya sesaat gelisah.
"boleh aku tahu siapa ayah lian?" tanyanya hati-hati.
Diandra memalingkan wajahnya sesaat, dia tahu pertanyaan ini suatu saat akan keluar juga.
"di...! apakah kamu sudah menikah?"
"menurutmu bagaimana bisa aku memiliki lian?" tanya diandra, mengamati reaksi xavier yang sedikit canggung.
"hhahah..pertanyaanmu aneh?" tawa diandra pendek, sebenarnya diandra sedang menutupi kegugupannya ini.
Ia tak mau xavier tahu siapa killian, "hhhhhhhhh" dengus diandra sembari berdiri, "sepertinya kami harus, pulang sudah sore"
"kamu menghindari pertanyaanku, di?" xavier sedikit menengadah, karena diandra berdiri.
"tidak.." geleng diandra cepat, "untuk apa aku menghindari pertanyaanmu?, bukankah di antara kita tidak ada apa-apa, sehingga aku wajib menjawab pertanyaanmu"
Xavier tersenyum tipis, sedikit misterius. Perlahan tubuh besarnya itu ikut berdiri, tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari diandra.
"kamu gugup, di!, dan kamu menutupi sesuatu dariku!"
"hahahahha" tawa diandra terdengar sumbang, kini matanya menatap tajam.
"ternyata kamu narsis yah?, emang apa urusannya hidupku bagimu?"
Xavier ikut tertawa, gelak tawanya sedikit keras hingga memancing perhatian dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Diandra menoleh tak enak hati, banyak mata menatap ke arah mereka dengan sorot penasaran.
"kamu terlalu naif, di!"
Diandra menaikkan alisnya sebelah, menatap xavier tak suka.
"menurutmu mengapa aku perhatian dengan kalian?, diandra.., diandra..., aku mengenalimu, aku mengingatmu"
Diandra terkejut luar biasa, mulutnya sampai terperangah dengan mata membola sempurna, wajahnya memias seketika.
"ka..kamu..mengenaliku?"
Bersambung....