NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Tujuan

"Ada lagi yang ingin Anda sampaikan?" Rendra berdiri tegak sambil menatap Aiden yang masih berada di dekat jendela.

"Ada." Aiden mengalihkan pandangannya. "Kerjakan pekerjaan Anda dengan baik."

"Itu saja?" Rendra mengernyit.

"Untuk sekarang." Aiden mengangguk singkat.

Rendra tidak langsung bergerak, tatapan pria itu tetap tertuju pada CEO di hadapannya seolah sedang berusaha mencari sesuatu yang tidak terlihat namun semakin lama ia memperhatikan Aiden, semakin sadar bahwa pria tersebut tidak akan mengatakan lebih banyak dari yang diperlukan.

"Kalau begitu saya permisi." Rendra merapikan jasnya.

"Silakan." Aiden kembali mengambil dokumen di atas meja.

Rendra akhirnya keluar dari ruangan, begitu pintu tertutup suasana langsung kembali sunyi namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Gavin masuk tanpa mengetuk seperti biasanya.

"Bos sedang mengintimidasi orang?" Gavin menutup pintu di belakangnya.

"Tidak." Aiden membuka berkas baru.

"Wajah Bos mengatakan sebaliknya." Gavin duduk di kursi depan meja.

"Wajahku tidak mengatakan apa-apa."

"Itu masalahnya." Gavin mengangguk serius.

Aiden menghela napas pelan, kadang-kadang ia merasa Gavin memiliki kemampuan khusus untuk membuat percakapan sederhana terasa melelahkan.

"Ada pekerjaan?" Aiden mengangkat pandangan.

"Ada." Gavin mengangguk.

"Lalu kenapa kamu di sini?"

"Saya sedang menghindarinya," jawab Gavin.

Aiden langsung mengambil pulpen.

"Saya pergi." Gavin berdiri secepat kilat.

.

Di sisi lain kantor, Kirana sedang menyelesaikan laporan bulanan ketika Dita kembali menghampiri mejanya. Wanita itu membawa dua gelas kopi dan ekspresi yang terlalu penasaran untuk disembunyikan.

"Aku membawa perdamaian." Dita meletakkan salah satu gelas di meja.

"Aku tidak sedang berperang." Kirana tetap fokus pada layar laptop.

"Itu sebabnya aku membawa kopi." Dita menarik kursi kosong.

Kirana akhirnya menerima gelas tersebut.

"Terima kasih." Kirana mengangguk pelan.

"Sama-sama." Dita tersenyum puas.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan, namun Kirana sudah mengenal sahabatnya cukup lama untuk tahu bahwa ketenangan seperti itu biasanya tidak bertahan lama.

"Kamu bertemu Selina kemarin?" Dita akhirnya membuka suara.

"Iya." Kirana menyesap kopinya.

"Lalu?"

"Dia mengatakan sesuatu yang aneh."

"Seberapa aneh?" Dita langsung tertarik.

Kirana meletakkan gelasnya sebelum menceritakan kembali percakapan yang terjadi di kafe, semakin banyak yang ia ceritakan, semakin dalam kerutan di dahi Dita.

"Jadi dia pindah bukan hanya karena kamu?" Dita menyandarkan tubuh ke kursi.

"Katanya begitu." Kirana mengangguk.

"Itu justru lebih menyeramkan."

"Aku juga berpikir begitu."

Dita terdiam beberapa saat sambil memikirkan kemungkinan yang ada, selama ini ia selalu mengira alasan Rendra mengajukan mutasi sangat sederhana namun jika benar ada motif lain di baliknya berarti masalah mereka jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

"Kamu mau mencari tahu?" Dita menatap sahabatnya.

"Tidak."

Jawaban itu keluar terlalu cepat, Dita langsung mengangkat sebelah alis.

"Kamu bohong." Dita menunjuk wajah Kirana.

"Aku tidak bohong."

"Kamu penasaran."

Kirana mengembuskan napas pelan, ia memang penasaran namun rasa penasaran itu tidak mengubah fakta bahwa ia sudah terlalu lelah berurusan dengan semua kebohongan Rendra.

"Aku hanya ingin bekerja dengan tenang." Kirana memutar pulpen di tangannya. "Kalau itu memungkinkan."

"Di kantor ini?" Dita tertawa kecil.

"Aku tahu." Kirana menggeleng.

Keduanya sama-sama sadar bahwa keinginan tersebut terdengar terlalu optimistis.

.

Sementara itu, Rendra sedang menata barang-barangnya di ruang kerja baru ketika seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun menghampiri mejanya. Dari kartu identitas yang tergantung di dada, pria itu adalah kepala divisi tempat Rendra ditempatkan.

"Selamat datang." Pria itu mengulurkan tangan.

"Terima kasih." Rendra berdiri dan membalas jabat tangan tersebut.

"Saya Armand."

"Saya Rendra."

Armand tersenyum tipis sebelum duduk di kursi seberang meja.

"Anda terlihat tidak nyaman." Armand menyilangkan kedua tangannya.

"Begitu jelas?" Rendra tersenyum tipis.

"Cukup jelas."

Rendra tidak membantah, sejak pagi pikirannya memang tidak pernah benar-benar tenang.

"Kalau boleh jujur, saya sempat terkejut saat membaca berkas Anda." Armand membuka map yang dibawanya.

"Karena apa?" tanya Rendra.

"Reputasi Anda cukup bagus."

Rendra hanya mengangguk.

"Biasanya orang dengan posisi seperti Anda tidak mudah pindah perusahaan." Armand menatapnya penuh arti.

Pertanyaan itu terdengar santai, tetapi Rendra bisa merasakan rasa ingin tahu yang tersembunyi di baliknya.

"Saya hanya mencari tantangan baru." Rendra memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.

"Kalimat itu terdengar sangat resmi." Armand tersenyum.

"Itu memang jawaban resmi."

"Kira-kira begitu." Armand tertawa kecil.

Percakapan mereka terhenti ketika seorang staf datang membawa beberapa dokumen yang harus segera diperiksa, namun sebelum pergi Armand sempat mengatakan satu hal yang membuat Rendra berpikir.

"Kadang-kadang alasan sebenarnya selalu lebih menarik daripada alasan resmi." Armand berdiri sambil membawa mapnya.

Rendra tidak menjawab karena kali ini ia setuju.

.

Menjelang sore, suasana kantor mulai lebih tenang. Sebagian besar pekerjaan penting hari itu sudah selesai, sementara beberapa karyawan mulai bersiap pulang. Kirana sedang merapikan dokumen di mejanya ketika interkom kantor berbunyi.

"Kirana." Suara Aiden terdengar dari seberang.

"Iya, Tuan?" Kirana menghentikan pekerjaannya.

"Masuk sebentar."

"Baik." Kirana langsung berdiri.

Beberapa pasang mata mengikuti langkahnya menuju ruang CEO, hal itu sudah sering terjadi sehingga Kirana tidak lagi memedulikannya.

"Ada yang perlu diperiksa?" Kirana masuk sambil membawa tablet kerjanya.

"Ada." Aiden mengangguk.

"Apa?"

Aiden tidak langsung menjawab, ia justru mendorong sebuah map ke arah Kirana.

"Apa ini?" Kirana menerimanya.

"Buka saja."

Kirana membuka map tersebut perlahan, beberapa lembar dokumen terlihat sangat biasa sampai matanya berhenti pada satu halaman tertentu. Nama Rendra tertulis di sana.

"Kenapa saya membaca ini?" Kirana mengangkat pandangan.

"Karena saya ingin pendapatmu."

"Ini berkas evaluasi awal."

"Aku tahu."

Kirana kembali melihat isi dokumen tersebut, tidak ada masalah berarti semua data terlihat normal.

"Saya tidak mengerti." Kirana menutup mapnya.

"Ada satu bagian yang hilang." Aiden menyandarkan tubuh ke kursi.

Kirana langsung membuka kembali halaman terakhir.

"Apa yang hilang?" Kirana mengernyit.

"Referensi dari pekerjaan sebelumnya."

"Itu bisa menyusul."

"Biasanya tidak."

Kirana terdiam, sebagai sekretaris CEO ia cukup paham proses administrasi perusahaan. Jika sebuah berkas sampai ke tahap akhir tanpa dokumen tertentu, biasanya ada alasan di baliknya.

"Tuan curiga?" Kirana meletakkan map di atas meja.

"Aku tidak suka bagian yang kosong." Aiden menjawab singkat.

"Itu belum tentu berarti apa-apa."

"Benar."

"Kalau begitu?"

Aiden menatapnya beberapa detik.

"Instingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres."

Kirana tidak langsung membalas, selama bekerja bersama pria itu ia sudah berkali-kali melihat insting Aiden terbukti benar dan itulah yang membuatnya mulai merasa tidak nyaman.

"Tuan." Gavin masuk tanpa mengetuk sambil membawa sekotak donat.

"Apa lagi?" Aiden memijat pelipis.

"Saya membawa kabar."

"Kamu selalu begitu."

"Karena hidup saya penuh informasi." Gavin meletakkan kotak donat di meja.

Kirana langsung punya firasat buruk.

"Ada apa?" Kirana bertanya.

"Seseorang datang mencarimu." Gavin menunjuk ke arah luar ruangan.

"Siapa?"

Gavin tersenyum aneh, senyum yang selalu muncul sebelum masalah besar datang.

"Selina." Gavin mengangkat kedua bahunya.

Kirana membeku, Aiden langsung menoleh dan Gavin seperti biasa memilih langkah paling aman.

"Saya akan makan donat dulu." Gavin membuka kotaknya.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!