Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"bisakah kau tetap tenang dan jangan menagis? Aku sangat tidak suka melihat perempuan menangis," kata Zavier yang kini memegang kedua pundak Sofia.
"Itu karena kau tidak punya hati dan sangat keras, tidak bisa merasakan apa itu cinta," kata Sofia marah dengan Zavier.
"Apa katamu? Beraninya kau mengatakan itu kepada ku? Siapa kau berani menilai ku seperti itu?" Zavier kini malah terbawa emosi karena ucapan Sofia barusan.
"Benar kan apa yang aku katakan? Kau tidak punya cinta, makanya kau tidak pernah bisa merasakan apa itu yang di namakan kasih sayang," ucap Sofia lagi.
"Diam! Kau tidak berhak mengatakan itu kepada ku," ucap Zavier.
Sofia menatap Zavier dengan tatapan takut, suara Zavier yang besar dan tatapan tajam itu tertuju kepada nya, hal ini membuat Sofia merasa takut dan bibir nya pun seketika bungkam.
"Sekarang kau keluar dari kamar ku," ucap Zavier sambil menujuk pintu keluar.
Sofia mengigit bibir bawah nya, untuk menahan rasa takut dan kemudian berlari keluar dari kamar sambil menagis.
Tidak tau harus kemana, Sofia berlari keluar dari kamar sambil menagis dan sesekali mengusap air matanya dia hanya ingin di mengerti tapi sayang sikap pemarah Zavier sangat tidak cocok dengan dirinya.
Brak ...
Tampa sengaja, Sofia yang tidak memperhatikan langkah kaki nya tiba-tiba menabrak seseorang yang berlawanan arah dengan nya.
Sofia terjatuh dengan suasana hati yang tidak baik-baik saja ia menatap siapa orang yang dia tabrak barusan.
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah malam," kata laki-laki tersebut yang menatap Sofia dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Astaga kenapa aku bertemu dengan nya lagi? Malah dalam keadaan seperti ini," batin Sofia sambil buru-buru mengelap air matanya.
"Berdiri lah," kata Siho sambil mengulurkan tangannya.
Ya, dia adalah Siho yang datang untuk melihat keadaan kakek Wiliam, karena tadi siang karena terbawa amarah dirinya tak bisa memeriksa sang Kakek.
Saat ini mereka berada di depan lift menuju lantai satu mansion. Sofia tak sengaja menabrak Siho saat Siho keluar dari lift.
Sofia mengabaikan uluran tangan Siho dan berdiri sendiri tanpa bantuan sambil mengelap sisa air mata nya.
"Kau menagis?" kata Siho sambil memasukkan dua tangan nya ke dalam saku celana dan menatap wajah Sofia.
"Tidak, aku tidak apa-apa, maaf sudah menabrak mu, aku tidak sengaja," kata Sofia.
"Kau bisa lebih sopan jika memangil ku dengan sebutan kak," kata Siho sambil tersenyum miring.
"Maaf, kak," kata Sofia lagi.
"Apa kau bertengkar dengan Zavier? Kau sudah melihat sikap aslinya?" kata Siho berusaha mengintrogasi Sofia.
"Apa maksud nya?" tanya Sofia tak mengerti dengan apa yang di katakan Siho barusan.
"Aku tau, kau tidak bisa berbohong Sofia, kau barusaja bertengkar dengan Zavier dan kau menangis kan? Mata mu terlihat semab," kata Siho lagi.
Tak hanya itu, Siho kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya dan kemudian memberikan kepada Sofia.
"Hapus lah sisa air mata mu itu," kata Siho sambil menyerahkan sesuatu yang ternyata adalah saputangan.
"Te-terima kasih," kata Sofia sambil menerima sapu tangan tersebut.
"Apakah kau ingin aku temani mengobrol? Siapa tau aku bisa membantu memecahkan masalahmu," kata Siho lagi.
"Boleh," jawab Sofia tak punya pilihan lain karena ingin menghormati tawaran dari Siho yang ia tau adalah sepupunya Zavier.
Sementara itu di kamar Zavier.
"Kenapa aku masih tidak bisa mengontrol emosi ku? Argh sekarang kemana perginya Sofia? Kenapa dia tidak kembali? Apa jangan-jangan dia tersesat? Astaga apa yang di lakukan gadis bodoh itu," umpat Zavier yang kemudian berjalan keluar dari kamar nya untuk mencari Sofia.
Beberapa menit berjalan, namun ia tak menemukan Sofia sama sekali.
"Tuan muda, ada yang anda butuhkan?" tanya kepada pelayan yang kebetulan baru saja mengantarkan obat untuk kakek Wiliam di kamar.
"Bik Rua, kau melihat Sofia?" tanya Zavier.
"Tidak tuan muda, saya baru saja keluar dari kamar tuan," kata bik Rua jujur.
"Apakah Siho sudah datang untuk memeriksa kakek?" tanya Zavier lagi.
"Nah itu dia, saya di suruh tuan Wiliam untuk menelpon tuan muda Siho karena dia belum datang," kata bik Rua lagi.
"Bagaimana bisa? Apakah dia marah dengan ku dan sampai melibatkan kakek?" ucap Zavier.
"Tuan muda, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan," ujar bik Rua terlihat sedikit gugup dan khawatir.
"Ada apa?" tanya Zavier penasaran.
"Anu, tadi pagi, saat saya membawa nona untuk berkeliling mansion, kami bertemu dengan tuan muda Siho, dan mereka berkenalan lalu ..." Bik Rua menghentikan ucapannya.
Zavier terdiam, dari sini lah dia mengetahui dari mana Siho tau kalau dirinya sudah menikah, ternyata Sofia dan Siho sudah bertemu tadi siang, awalnya Zavier penasaran dari mana Siho bisa mengetahui hal ini, namun kini rasa penasaran nya sudah terjawab oleh bik Rua.
"Tidak perlu di teruskan bik, aku akan mencari Sofia dulu," kata Zavier yang kemudian melangkah cepat pergi meninggalkan bik Rua.
Sementara bik Rua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku tuan muda nya itu.
Sementara itu di sisi mansion yang lain, letaknya di lantai paling atas mansion di mana ada tempat di sana yang begitu indah dan bisa melihat langit seperti lebih dekat dari balkon kamar Zavier.
Angin berhembus kencang menyibak rambut Sofia yang lurus nan panjang itu.
"Bagaimana? Di sini sangat nyaman kan?" tanya Siho kepada Sofia.
Sofia menoleh ke arah Siho dan tersenyum tipis serta mengangguk kan kepala nya untuk menjawab pertanyaan Sofia barusan.
"Mustahil orang yang baru menikah bisa bertengkar, aku sedikit bingung, apakah kalian punya masalah?" tanya Siho berusaha mengorek informasi dari Sofia.
Sofia teridam, ia khawatir jika ia salah bicara ini akan bisa membahayakan dirinya dan juga Zavier.
"Itu wajar saja karena aku mungkin keras kepala," kata Sofia tak ingin salah bicara dia tidak mau kalah Siho menaruh kecurigaan.
"Ck, bisa saja, kau jangan khawatir, aku ini sepupunya Zavier, aku sangat mengetahui sikapnya seperti apa, jadi aku bisa melihat kalau kau membohongi ku," kata Siho lagi.
Sofia kembali menoleh ke arah Siho, dia benar-benar sedikit gugup melihat Siho yang duduk di samping nya, ia juga merasa sangat ragu untuk banyak bicara dengan Siho.
"Sofia," ucap Zavier yang tiba-tiba muncul di tempat tersebut.
Seketika Sofia kaget dan kemudian berdiri lalu menatap Zavier yang kini berjalan ke arah mereka.
Benar-benar seperti tercium aroma tubuh sang istri, Zavier di tuntun langsung ke tempat tersebut dan menemukan Sofia di sana.
Bersambung ....