NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Juna dan David

Seketika itu juga, Kayla langsung melayangkan omelan andalannya tanpa rem. "Lo punya mata nggak sih?! Bawa motor kayak kesetanan begitu! Kalau anak ini kenapa-kenapa gimana, hah?! Sadar nggak sih lo hampir nabrak orang?!" cerocos Kayla dengan napas memburu, meluapkan seluruh rasa syok dan kekesalannya yang menumpuk sejak siang.

Juna tidak membalas omelan itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu berjongkok di hadapan anak kecil yang masih gemetar di pelukan Kayla.

"Maaf ya, Dek. Kakak nggak lihat tadi. Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?" tanya Juna lembut. Nada suaranya terdengar sangat parau, benar-benar datar tanpa ada sedikit pun cengiran jail yang biasa ia tunjukkan.

Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berlari tergesa-gesa seolah hampir menangis dan langsung menghampiri mereka. Wanita itu langsung memeluk erat sang anak. "Astaga, Doni! Kamu ke mana aja? Mama cariin dari tadi, Nak!"

Setelah memastikan anaknya tidak terluka, wanita itu mendongak menatap Kayla dan Juna bergantian dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak ya, Mbak, Mas. Terima kasih sudah menolong dan menjaga anak saya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau tidak ada kalian."

Setelah sedikit basa-basi dan menerima ucapan terima kasih yang tulus, wanita itu pamit pergi sambil menuntun anaknya. Kini, di tepi jalan raya yang mulai temaram, hanya tersisa Juna dan Kayla.

Juna bangkit berdiri, menatap Kayla lekat-lekat sebelum akhirnya membuka suara. "Sekarang giliran gue yang nanya. Lo ngapain di pinggir jalan malam-malam begini? Tumben amat," tanya Juna, mencoba mengalihkan perhatian dari kegundahan hatinya sendiri.

Kayla yang memegang mangkuk sereal kosong di dalam tasnya langsung salah tingkah. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengaku bahwa ia baru saja kabur dari dua kos-kosan horor. "Gue... gue abis jalan-jalan sore! Cari angin! Iya, sekalian olahraga malam biar sehat!" jawab Kayla asal ceplos sambil membuang muka.

Juna hanya menatapnya datar, sama sekali tidak percaya dengan kebohongan yang terdengar sangat bodoh itu. Namun, baru saja Juna hendak membuka mulut untuk menyindir, sayup-sayup terdengar suara deru mobil mewah yang berjalan mendekat dari arah belakang mereka.

Sebuah mobil sedan hitam mengilat berukuran besar perlahan menurunkan kecepatan, lalu berhenti tepat di belakang motor sport Juna. Lampu depannya yang terang benderang sempat membuat Kayla silau.

Kayla mengernyitkan dahi penuh penasaran. "Mobil siapa tuh, Jun? Kenalan lo?"

Juna tidak menjawab. Tubuh cowok SMA itu mendadak kaku, dan rahangnya mengeras sempurna begitu melihat pintu belakang mobil itu terbuka.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas biru tua itu melangkah turun. Tatapan matanya yang sedingin es langsung mengunci sosok Juna. Aura intimidasi yang dibawanya begitu pekat, membuat atmosfer di sekitar jalan itu mendadak terasa mencekik. Ya itu ayah Juna, David.

Baru beberapa langkah pria itu mendekat tanpa aba-aba—

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Juna hingga wajah cowok itu terlempar ke samping. Suara hantaman kulit itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan jalan.

Kayla tersentak, matanya membelalak sempurna karena terkejut yang luar biasa. "Astaga!" pekiknya refleks menutup mulut dengan kedua tangan.

Belum sempat Juna membetulkan posisinya, pria itu sudah mengangkat tangannya kembali, hendak memukul Juna untuk yang kedua kali. Melihat hal itu, insting Kayla langsung bergerak. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Kayla maju dan merentangkan kedua tangannya di depan Juna, mencoba menalangi pukulan pria paruh baya itu. "Stop! Om jangan main hakim sendiri dong!"

Namun, dengan cepat Juna menarik lengan Kayla, menyembunyikan tubuh gadis itu di balik punggung tegapnya. "Pulang, Kay. Ini urusan gue," bisik Juna dengan nada suara yang sangat rendah, namun penuh penekanan yang tidak boleh dibantah.

Di tengah kebingungan dan kepanikan Kayla, sang ayah justru sama sekali tidak peduli dengan kehadiran orang asing. Pria itu menaruh tatapan tajam yang sarat akan kebencian langsung ke arah Juna, lalu memarahinya habis-habisan di tempat umum tanpa tahu malu.

"Semakin hari kamu semakin menjadi-jadi ya Juna! Sampai kapan kamu akan keras seperti batu, hah?!"

"Kamu kira kamu terlihat hebat? Tinggal sendiri di kos-kosan kumuh seperti itu, berlagak orang sukses dan hanya mengandalkan pekerjaan yang ngga ada kejelasan seperti itu?!" bentak ayahnya, suaranya menggelegar penuh amarah, membuat beberapa pejalan kaki di sekitar sana mulai menoleh curiga.

Juna hanya diam, membiarkan pipinya yang mulai memerah berdenyut kesakitan.

"Bisa jadi apa kamu tanpa Ayah? Kamu hanya akan jadi pecundang yang berjalan kesana-kemari tanpa tujuan!"

Kayla menyaut cepat, tak tahan dengan ucapan pedas yang keluar dari mulut pria itu. "Om, jangan kayak gitu dong! Om ngga lihat ini tempat umum?! Om ngga malu di cap sebagai orang tua sadis hanya karena om sendiri ngga bisa jaga bicara disini?"

"Siapa kamu? Kamu bukan siapa-siapa, dan tidak perlu ikut campur dengan urusan saya dan anak saya!" kata David dengan nada tak kalah tinggi.

"Dengar ya, Juna! Semua pakaian yang kamu pakai, motor yang kamu kendarai, bahkan nama besar yang kamu sandang sekarang, itu semua punya Papa! Tanpa uang Papa, kamu itu bukan siapa-siapa! Kamu cuma bocah sok tahu yang tidak punya masa depan!" pria itu menunjuk dada Juna dengan jari telunjuknya, menekannya dengan kasar. "Mau jadi apa kamu? Jadi pemusik jalanan? Mau hidup luntang-lantung di ruko kosong? Jangan bikin malu nama keluarga!"

Kayla yang berdiri di samping Juna benar-benar syok mendengar rentetan makian itu. Tangannya yang memegang tali tas sampai gemetar menahan emosi. Matanya menatap pria berjas itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa seorang ayah kandung menghina, merendahkan, dan menghancurkan mental darah dagingnya sendiri dengan kata-kata sekasar itu di pinggir jalan raya? Benar-benar tidak tahu malu dan tidak punya hati, pikir Kayla berang. Rasanya ia ingin sekali maju dan menendang kaki pria tua itu, tapi cekalan tangan Juna di pergelangan tangannya terasa sangat erat—seolah menahannya untuk tetap diam.

Pria paruh baya itu mendengus sinis melihat Juna yang hanya membisu. "Papa kasih kamu waktu sampai besok malam untuk kemas semua barang-barang kamu dan pulang ke rumah. Turuti semua kemauan Papa kalau kamu masih mau diakui sebagai anak. Paham?!"

Juna tetap diam untuk beberapa saat. Kepalanya yang semula tertunduk perlahan mendongak. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, Kayla bisa melihat sudut bibir Juna sedikit terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang terkesan mati rasa.

"Papa sudah selesai bicaranya?" akhirnya Juna mengeluarkan suara.

Juna melangkah maju, melepaskan cekalannya pada tangan Kayla, lalu menatap lurus mata ayahnya dengan berani. "Kalau sudah, silakan Papa kembali ke mobil mewah Papa. Karena sampai kapan pun... Juna tidak sudi menginjakkan kaki ke rumah setan itu!"

"Dan perlu papa tahu, Juna bukan Kak Alexa yang bisa papa peras sesuka hati papa hanya untuk kepentingan papa sendiri!"

"Papa ngga ingat? Apa yang sudah papa lakukan sama dia? PAPA PURA-PURA LUPA?!" Juna tak dapat menahan emosinya.

"Dan sekarang papa berlagak pura-pura peduli dan seolah memojokkan bahwa aku adalah anak ngga tahu diri, padahal papa yang memang tidak bisa mendidik anak dengan benar!"

"Jadi jangan salahkan Juna kalau sekarang Juna bersikap seperti ini, karena yang memulai semua ini adalah Papa!"

Kayla hanya terdiam di posisinya. Entah apa yang harus dia lakukan, apa sekarang dia harus berdiri di tengah keduanya dan memisahkan mereka agar tidak membuat keributan kembali, atau kabur saja mumpung bus nya bentar lagi datang.

Juna berbalik lalu menggandeng Kayla dan membawanya pergi mendekati motornya. "Ayo kita pulang,"

1
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!