NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:994
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: KAMAR POJOK BELAKANG GUDANG

Bab 2: Kamar Pojok Belakang Gudang

Ketukan sol sepatu kain murah milik Valerie Vespera menggema pelan di atas lantai marmer impor Italia yang berkilau bak cermin. Setiap langkah kaki Valerie membawa aura yang berbeda dari apa yang dibayangkan oleh para penghuni istana emas itu. Tidak ada keraguan, tidak ada binar mata kagum, dan tidak ada tubuh yang membungkuk gugup karena minder.

Di ruang tamu utama yang langit-langitnya dihiasi lampu kristal gantung seharga miliaran rupiah, sepasang suami istri paruh baya duduk di atas sofa beludru premium. Di antara mereka, seorang gadis cantik dengan gaun renda berwarna putih gading duduk dengan posisi yang sangat anggun, menggenggam sehelai saputangan kecil seolah ia adalah makhluk paling rapuh di dunia.

Gilbert Elrod dan Victoria Elrod. Orang tua kandung yang di kehidupan lalu sangat Valerie puja, namun berakhir membuangnya demi menjaga perasaan Alethea Belmont—si cewek pick-me yang sekarang sedang menunduk dengan mata berkaca-kaca.

"Jadi, ini anak itu?" suara Gilbert memecah keheningan. Dingin, berat, dan tanpa ada nada kehangatan seorang ayah yang baru pertama kali bertemu putri kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah. Sepasang matanya menilai Valerie dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan kerutan samar di dahinya menunjukkan rasa tidak puas yang kentara saat melihat sweter rajut pudar Valerie.

Victoria, sang ibu, hanya menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya. "Thomas sudah memperingatkanmu untuk berganti pakaian yang lebih layak sebelum masuk ke rumah ini, bukan? Mengapa kamu masih memakai baju lusuh dari panti asuhan itu, Valerie? Kamu mempermalukan nama Elrod."

Di kehidupan pertamanya, kalimat pertama dari ibu kandungnya ini sukses membuat Valerie muda menangis tersedu-sedu di tempat. Dia akan langsung meminta maaf, merasa bersalah karena telah terlahir miskin, dan berjanji akan menjadi anak yang baik.

Namun sekarang, Valerie justru mengulas senyum tipis yang teramat hambar. Dia bahkan tidak sudi melepaskan ransel kanvasnya dari bahu.

"Baju ini dibeli dari hasil keringat saya sendiri, Nyonya Victoria," jawab Valerie. Nada suaranya datar, tanpa beban emosi, namun sebutan 'Nyonya' yang keluar dari bibirnya membuat pasang suami istri itu tersentak. "Jika kain usang ini merusak pemandangan mata Anda yang berkelas, saya bisa langsung berbalik dan pergi dari sini sekarang juga. Pintu keluar masih terbuka lebar."

"Valerie! Jaga lancangmu!" Gilbert menggebrak lengan sofa dengan wajah yang mulai memerah. Dia tidak menyangka anak yang dibesarkan di lingkungan kumuh akan memiliki keberanian untuk membalas ucapannya dengan begitu tenang dan tajam.

"Mama... Papa... tolong jangan marah pada Kak Valerie," Alethea tiba-tiba menyela, suaranya bergetar dengan nada yang sangat manis dan penuh kepedulian palsu. Gadis itu bangkit dari sofa, melangkah mendekati Valerie dengan tangan yang terulur seolah ingin merangkul. "Kak Valerie pasti masih syok dan belum terbiasa dengan lingkungan baru. Ini semua salah Alethea... andai saja Alethea bukan anak yang tertukar, Kak Valerie tidak akan menderita di panti asuhan..."

Air mata Alethea mulai menetes dengan waktu yang sangat presisi. Sebuah akting kelas atas yang selalu berhasil membuat keluarga Elrod bertekuk lutut demi melindunginya.

Melihat "putri kesayangan" mereka menangis, Victoria langsung berdiri dan menarik Alethea ke dalam pelukannya. "Ini bukan salahmu, Alethea sayang! Kamu adalah permata keluarga ini, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu. Jangan menangis, Nak, jantung Mama bisa kambuh melihatmu sedih."

Victoria kemudian menatap Valerie dengan pandangan penuh kilat kemarahan. "Lihat apa yang kamu lakukan! Baru satu menit kamu menginjakkan kaki di rumah ini, kamu sudah membuat adikmu menangis! Di mana sopan santunmu?!"

Valerie menyaksikan drama keluarga yang menjijikkan itu dengan tatapan kosong. Di masa lalu, dia akan merasa cemburu setengah mati dan mencoba menjelaskan bahwa Alethea sedang berbohong. Tapi sekarang? Valerie hanya merasa mereka semua sangat bodoh dan membuang-buang waktunya yang berharga. Jarum jam terus berputar, dan sesi pasar saham dunia akan segera berganti dalam beberapa jam. Dia butuh tempat pribadi yang tenang untuk mulai bekerja.

"Saya tidak punya waktu untuk menonton sandiwara air mata," potong Valerie dengan dingin, memotong kalimat Victoria yang hendak memaki lebih lanjut. "Tunjukkan saja di mana kamar saya. Saya ingin istirahat."

Gilbert mendengus kasar, wajahnya mengeras oleh otoritas yang mutlak. "Kamar? Mengingat sikapmu yang kasar dan tidak tahu aturan ini, jangan harap kamu bisa mendapatkan fasilitas mewah di rumah ini. Demi menjaga ketenangan Alethea yang kondisi mentalnya sedang sensitif karena kedatanganmu, kamu akan ditempatkan di kamar pojok lantai dasar. Kamar di dekat gudang belakang."

Gilbert sengaja menjeda kalimatnya, bersedekap dada sembari menatap Valerie dengan pandangan merendahkan, menunggu gadis itu memohon atau mengamuk karena diberikan kamar pembantu. "Jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa bersikap penurut dan tidak membuat masalah selama beberapa bulan ke depan, Papa baru akan mempertimbangkan untuk memindahkanmu ke lantai atas."

Kamar pojok lantai dasar. Bekas gudang penyimpanan barang-barang rusak yang pengap, lembap, kotor, dan terletak di sudut paling belakang kediaman Elrod—terisolasi total dari bangunan utama. Di kehidupan lalu, keputusan ini adalah tamparan paling menyakitkan yang membuat Valerie merasa seperti sampah yang tidak diinginkan.

Namun, di kehidupan ini, mendengar keputusan Gilbert, sepasang mata hitam pekat Valerie justru berkilat dengan kepuasan yang luar biasa.

Terisolasi total? Di dekat gudang belakang yang tidak akan pernah dilewati atau diperiksa oleh siapa pun? batin Valerie. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang teramat misterius. Sempurna. Tempat itu adalah markas paling strategis yang bisa aku minta.

"Baik. Kamar pojok belakang gudang. Saya terima," jawab Valerie tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Gilbert dan Victoria sesaat terpaku, merasa aneh dengan respons Valerie yang justru kelihatan sangat puas alih-alih menderita. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Valerie menoleh ke arah Supir Thomas yang berdiri kaku di dekat pintu lobi. "Thomas, antarkan saya ke kamar itu sekarang."

Langkah kaki Thomas membawa Valerie melewati lorong-lorong panjang yang semakin lama semakin menyempit dan temaram. Kemegahan marmer Italia perlahan digantikan oleh lantai keramik putih polos yang dingin. Bau parfum premium berganti menjadi aroma debu dan kelembapan yang pekat.

Thomas membuka sebuah pintu kayu tua yang catnya sudah mulai mengelupas di sudut lorong paling ujung. Krieeet... Suara engsel pintu yang berkarat berdecit memilukan.

Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, hanya ada sebuah ranjang kayu tunggal dengan kasur tipis yang dilapisi seprei abu-abu usang, sebuah lemari pakaian kecil yang pintunya sudah miring, dan sebuah jendela kecil berteralis besi yang menghadap langsung ke arah tembok pembatas luar rumah. Debu tebal berterbangan di bawah temaram cahaya lampu bohlam kuning yang redup.

"Ini kamar Anda, Nona Valerie," ujar Thomas dengan nada formalitas yang dingin. "Mulai besok, Anda harus bangun jam lima pagi untuk bersiap berangkat ke sekolah baru Anda. Tuan Besar juga berpesan, Anda tidak akan diberikan kartu kredit tambahan atau tunjangan tunai bulanan sampai sikap Anda berubah. Semua kebutuhan pokok dan seragam sekolah sudah disiapkan di dalam lemari ini. Saya permisi."

Thomas berbalik pergi dan menutup pintu kayu itu dengan dentuman pelan, meninggalkan Valerie dalam kesunyian yang mencekam.

Valerie tidak membuang waktu. Ia tahu, uang fisik tiga ratus ribu rupiah di saku sweternya adalah modal mati jika tidak segera dikonversi. Sebelum Thomas menjemputnya tadi, Valerie sengaja menyelinap ke gerai minimarket di depan gerbang utama perumahan Elrod. Dengan tangan gemetar—bukan karena takut, tapi karena menahan amarah—ia melakukan top-up saldo melalui kasir minimarket untuk mengisi akun e-wallet miliknya. Itu adalah langkah awal yang berisiko karena ia harus menukarkan uang sisa jerih payahnya menjadi aset digital agar bisa masuk ke sistem bursa. Beruntung, sistem verifikasi akun sekuritas mikro yang ia pilih tidak menuntut KTP fisik, melainkan hanya verifikasi wajah dan data dasar yang bisa ia manipulasi secara teknis.

Valerie menurunkan tas ransel kanvasnya dari bahu, melemparnya ke atas ranjang tua yang berderit ringkih. Dia tidak memedulikan debu yang mengotori sweternya. Dengan gerakan cepat, Valerie mengunci pintu kamar dari dalam, lalu berjalan menuju jendela kecil untuk memastikan tidak ada kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar area buangan ini.

Aman. Tempat ini benar-benar area buta yang terbebas dari radar keluarga Elrod.

Valerie duduk di tepi ranjang, meraba saku sweternya, dan mengeluarkan ponsel pintar berlayar retak seribu miliknya. Dia menyalakan daya ponsel tersebut. Sinar dari layar digital memantul di sepasang bola mata Valerie yang kini memancarkan aura kegelapan dan ambisi yang mengerikan.

Jemari Valerie yang ramping bergerak dengan kecepatan tinggi di atas layar yang retak. Dia membuka peramban rahasia, mengakses situs pendaftaran sekuritas mikro online yang legal, dan memasukkan seluruh data identitas aslinya yang belum tersentuh oleh sistem hukum korporasi Elrod Corp.

Melalui aplikasi e-wallet, Valerie melakukan deposit modal terakhirnya itu ke dalam akun trading yang baru saja aktif.

Saldo Akun: Rp300.000,00.

Mata Valerie menyipit tajam saat dia membuka papan bursa saham spekulatif lokal. Otaknya yang menyimpan memori masa depan berputar dengan kecepatan penuh, memanggil kembali data-data pergerakan bursa efek yang terjadi tepat lima tahun lalu di tanggal ini.

"Besok pagi, tanggal 15 Juni," gumam Valerie, suara rendahnya terdengar begitu dingin di dalam kamar yang pengap. "Perusahaan semikonduktor raksasa asal Korea Selatan secara rahasia akan menandatangani kontrak akuisisi atas emiten kecil berkode INOV (PT Inovasi Semesta Tbk). Berita itu baru akan bocor ke publik pada jam dua siang."

Saat ini, saham INOV dianggap sebagai saham sampah atau penny stock yang harganya tertidur mati di angka terendah regulasi bursa: Rp50 per lembar saham. Tidak ada satu pun investor waras yang mau menyentuh saham mati tersebut saat ini.

Namun Valerie tahu, begitu berita akuisisi itu meledak besok siang, saham INOV akan langsung mengalami lonjakan nilai yang tidak masuk akal selama beberapa minggu ke depan.

Dengan ketukan jemari yang mantap tanpa keraguan, Valerie memasukkan seluruh modal Rp300.000 rupiah miliknya untuk memesan antrean beli di saham INOV pada harga Rp50 per lembar saham untuk pembukaan bursa esok pagi. Uang tiga ratus ribu rupiah itu berhasil membeli tepat 60 lot (6.000 lembar saham) INOV.

Klik. Transaksi pemesanan berhasil dikunci.

Valerie menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin, menatap langit-langit kamar gudang dengan seulas senyuman yang sangat mengerikan—sebuah senyuman yang menandai lahirnya sang penguasa finansial bayangan.

"Isolasi total. Rp0 dari keluarga Elrod. Bagus," bisik Valerie Vespera pada kegelapan malam. "Kalian pikir kalian sedang menghukumku dengan membuangku di kamar gudang ini? Justru dari kamar pojok yang kotor inilah, aku tidak akan menyisakan hak moral atau hukum sedikit pun bagi kalian untuk mencicipi triliunan rupiah yang akan aku hasilkan. Nikmati sisa kejayaan kalian, Elrod... karena roda takdirku sudah mulai berjalan."

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

......................

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!