Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"AAA ZIVAAAA!"
"KARLOTAAAA!"
Greb!
Kedua gadis itu langsung berpelukan erat di tengah koridor, persis seperti Teletubbies yang baru saja bertemu setelah terpisah berabad-abad. Karlota mengguncang bahu Ziva dengan wajah penuh kecemasan yang luar biasa.
"Aaa Ziva, lo nggak apa-apa kan? Nggak diapa-apain kan sama makhluk itu?" tanya Karlota beruntun, matanya meneliti setiap inci tubuh Ziva, takut kalau ada bagian yang lecet atau hilang.
Ziva melepaskan pelukan itu perlahan, menundukkan kepalanya, dan memasang wajah paling melas yang pernah ia miliki. "Kar... gue dikeluarin dari sekolah," bisik Ziva sedih.
"WHAT?!" Karlota melotot sampai matanya hampir keluar dari kelopak.
"Lo? Lo ngapain sampai dikeluarin dari sekolah, bodoh!" Karlota mengerang frustrasi, bibirnya bergetar. Meskipun mereka berdua sering membuat onar, Karlota tidak pernah membayangkan sekolah tanpa sahabat karibnya itu.
"Gue ngehamilin anak orang, Kar..." lirih Ziva makin menunduk dalam.
"Bodoh! Lo ngapain hamilin anak orang, bego!" Karlota berteriak refleks, ikut menunduk mengikuti arah pandang Ziva yang lebih pendek darinya.
Ziva seketika menegakkan tubuhnya dan menatap Karlota dengan tatapan datar. "Yang ada elo yang bodoh, Karlota!"
"Loh, kok gue?" Karlota cengo. Bukannya Ziva yang baru saja mengaku menghamili orang, kenapa malah dia yang dikatai bodoh?
"Ya elo lah! Ya kali gue ngehamilin cewek sedangkan gue aja juga cewek! Gimana konsep biologinya, Malih?!" ketus Ziva sambil berkacak pinggang.
Karlota menepuk jidatnya keras-keras. Butuh waktu tiga detik sampai otaknya memproses logika sederhana itu. "Iya juga ya... kan lo cewek. Mana bisa ngehamilin cewek. Kalau lo yang hamil baru bener... eh maksud gue, ya nggak gitu juga!" Karlota mendelik kesal.
"Ck, lagian gue nanya serius lo jawabnya begitu! Gue panik beneran tahu nggak! Jangan sampai lo dikeluarin dari sekolah, Ziv. Gue nggak ada temen lain, mana utang Daniel sama Demian ke gue masih banyak lagi!"
"Makanya hidup itu jangan serius-serius banget, nanti cepat keriput!"
"Ck, sudahlah! Tadi lo dibawa ke mana sama makhluk jadi-jadian itu, Ziv?" tanya Karlota penasaran setengah mati.
"Makhluk jadi-jadian siapa, Kar?" Ziva bingung. Memangnya ada siluman di SMA Cakra Buana?
"Itu loh, cowok yang tadi bawa lo dari kelas. Gue nggak tahu namanya, jadinya gue panggil makhluk jadi-jadian. Tapi nyeremin sih, apalagi tatapan matanya, beh, kayak orang mau makan daging manusia. Udah buruan ceritain!"
Ziva mendesah panjang. "Ck, minimal suruh duduk kek. Ke kantin aja yuk, gue pengen makan seblak Bik Nur nih."
"Pikiran lo isinya makan melulu! Ya sudah, ayo kantin."
Kantin sekolah sedang sangat ramai karena hujan deras baru saja mengguyur bumi, membuat para siswa lebih memilih mencari kehangatan di depan mangkuk makanan daripada berkeliaran di lapangan. Ziva dan Karlota duduk di pojok belakang, tempat favorit mereka agar bisa bergosip dengan leluasa.
"Udah kan? Sekarang ceritain sama gue, ke mana makhluk jadi-jadian itu bawa lo pergi. Semuanya!" desak Karlota.
"Gue dibawa ke rooftop, Kar. Namanya kalau nggak salah... Mahen... Mahen siapa gitu, belakangnya ada 'dra-dra'-nya. Gue lupa, hehe."
"Ceritain yang bener, Ziva! Jangan bertele-tele, gue udah kepo bin penasaran!"
"Iya, iya, tapi janji nggak boleh potong cerita gue." Ziva pun mulai menceritakan kronologi di rooftop tadi, dari mulai dia dipaksa duduk di pangkuan, dipaksa makan banyak, sampai pernyataan sepihak bahwa dia sekarang adalah pacar Mahendra.
"WHAT LO—emm!"
Dengan sigap, Ziva membekap mulut Karlota dengan kedua tangannya. "Aduh Kar, jangan teriak-teriak! Gue tahu kita itu malu-maluin, tapi please jangan di sini! Malu, ini ramai orang!" bisik Ziva sambil meringis melihat beberapa siswa mulai menoleh.
Karlota memukul tangan Ziva agar dilepaskan. "Eh sorry, Kar, lupa gue," balas Ziva nyengir.
"Tangan lo bau dosa," celetuk Karlota sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
"Tapi cerita lo tadi beneran? Lo jadian sama pangeran es itu? Kabar apa ini, Miskah? Sulit dipercaya!"
"Entahlah Kar, gue juga bingung. Padahal di diri gue nggak ada yang menarik sedikit pun. Hidup gue aja monoton," ucap Ziva lesu.
"Kenapa nggak lo tolak aja?"
"Percuma, Kar. Dia tipe orang yang keras kepala. Apapun yang dia mau harus dituruti. Huft, mungkin mulai sekarang hidup gue akan banyak tekanan lagi," keluh Ziva menerawang.
Karlota menatap sahabatnya dengan iba. Ia tahu Ziva adalah gadis yang kuat, tapi berurusan dengan Mahendra adalah masalah lain. "Maaf Ziv, gue nggak bisa bantu lo kalau urusannya sama manusia itu. Tapi kalau orang lain yang macem-macem sama lo, gue bakal hajar mereka duluan!"
Ziva tersenyum tulus. "Nggak apa-apa Kar, gue bisa sendiri."
"Permisi neng, ini seblak sama es tehnya," ucap Bik Nur menghidangkan dua mangkok seblak merah merona yang mengepul panas.
"Wah, terima kasih Bik Nur!" Ziva langsung bersemangat. Apalagi Karlota secara sukarela memindahkan ceker ayam dari mangkoknya ke mangkok Ziva, tahu betul sahabatnya itu sangat menggilai ceker.
Saat mereka sedang asyik menyeruput kuah pedas, tiba-tiba kantin menjadi riuh. Suara teriakan para siswi memekakkan telinga.
"WOY BISA DIEM NGGAK SIH LO PADA? GUE MAU MAKAN NIH!" teriak Karlota meledak. Seketika kantin menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara hujan di luar.
Ekhem.
Ziva mendongak dan hampir tersedak kerupuk seblak. Di depannya berdiri Mahendra bersama dua temannya. Mahendra dengan santainya mengusap rambut Ziva di depan ratusan mata yang memandang.
"Hai, Sayang," sapa Mahendra tenang.
Ziva gugup setengah mati. "Nga-ngapain ke sini?"
"Mengunjungi pacar," jawab Mahendra pendek lalu duduk di samping Ziva. Teman-temannya, David dan Arga, ikut bergabung. David yang ceria langsung mengajak Karlota berkenalan, sementara Arga hanya duduk dengan wajah jutek.
"Makan apa, Sayang?" tanya Mahendra melirik mangkok Ziva.
"Seblak," gumam Ziva.
"Semp*k?" ulang Mahendra dengan raut bingung yang sangat polos namun terdengar frontal.
Ziva dan Karlota melongo serempak. "SEBLAK, Mahen!" koreksi Ziva cepat sebelum Mahendra makin melantur.
Mahendra mengernyit. Ia mengambil sendok Ziva dan mencicipi kuahnya. Sedetik kemudian, wajahnya memerah dan ia meletakkan sendok itu dengan kasar. "Ck! Pedas! Makanan macam apa ini!"
"Jangan dimakan lagi, Sayang. Ini tidak sehat," tegas Mahendra.
"Tapi se—"
"Aku tidak menerima bantahan, Ziva!" Mahendra menatap Arga.
"Arga, cari informasi tentang makanan ini."
Arga dengan sigap mengutak-atik ponselnya.
"Dapat, Bos. Seblak adalah makanan khas Jawa Barat yang didominasi rasa kencur dan cabai. Tingkat kepedasannya bisa memicu diare, iritasi lambung, hingga gangguan pencernaan kronis. Level tiga saja sudah dianggap berbahaya bagi yang tidak terbiasa, apalagi level tinggi."
Mahendra menatap Ziva tajam. "Level berapa ini?"
Ziva meneguk ludah. "Li... lima."
Aura di sekitar Mahendra mendadak mendingin.
"Jangan pernah sentuh makanan ini lagi. Mengerti?"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi, Ziva. Cukup turuti keinginanku dan jangan membantah. Mengerti!"
Ziva hanya bisa mengangguk pasrah. Tak lama kemudian, David datang membawa nampan berisi tiga mangkok bakso yang lebih sehat menurut standar mereka. Mahendra menggeser mangkok seblak Ziva dan menggantinya dengan bakso.
"Makan punya aku. Segera habiskan, sebentar lagi bel," ucap Mahendra posesif.
Ziva melirik Karlota yang sedari tadi hanya diam membeku seperti patung pancoran. Karlota menendang kaki Ziva di bawah meja, memberi kode 'Mampus lo, Ziv' lewat tatapan matanya. Ziva hanya bisa menghela napas panjang dan mulai memakan baksonya, menyadari bahwa hidupnya sekarang benar-benar telah berubah menjadi drama kepemilikan seorang Mahendra.