Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bayangan Yang Tak Pernah Pergi
Di balik jendela kaca kamar yang lebar, langit sore tampak berwarna jingga yang perlahan memudar menjadi kelabu seiring matahari yang mulai turun ke peraduannya.
Cahaya lembut yang masuk ke dalam ruangan menerangi wajah Alden yang sedang berbaring diam di atas tempat tidur. Sinar temaram itu menyoroti garis-garis tegas di wajahnya, yang kini tampak sedikit lebih pucat dari biasanya.
Namun, setidaknya untuk sore ini, ketegangan di wajah itu sedikit mengendur. Tubuhnya sudah merasa lebih nyaman dan untuk sementara rasa nyeri tidak menyerangnya.
Matanya menatap langit-langit putih tanpa benar-benar melihat apa pun. Pandangannya kosong, terpaku pada satu titik putih di atas sana, namun fokusnya justru terlempar jauh dari realitas saat ini.
Pikirannya melayang jauh, menembus dinding-dinding kamar, melewati sekat-sekat tahun, dan kembali ke masa remaja yang dipenuhi amarah, pemberontakan, dan luka yang belum pernah benar-benar sembuh. Masa-masa di mana ia merasa seluruh dunia adalah musuhnya, dan setiap nasihat adalah serangan yang harus ia lawan dengan tameng ego yang tinggi.
Dan di antara begitu banyak kenangan itu, ada satu sosok yang selalu muncul paling jelas.
Anjani Lestari.
Gadis yang dulu sering membuat darahnya mendidih karena kesal. Mengingat namanya saja terkadang masih bisa memanggil kembali sensasi panas yang dulu sering singgah di dadanya.
Gadis yang tak pernah kehabisan kata, selalu punya komentar untuk segala hal, dan gemar mengomel seolah seluruh dunia membutuhkan nasihat darinya. Tidak peduli seberapa keras Alden memasang wajah dingin atau seberapa tajam ia membalas ucapannya, gadis itu seperti memiliki cadangan energi yang tidak terbatas untuk terus berbicara.
Bagi Alden muda, Anjani adalah sumber gangguan yang tak ada habisnya. Kehadirannya laksana lalat di musim panas, berdengung tanpa henti dan sangat sulit diusir. Ia terlalu cerewet, mengomentari cara Alden berpakaian, cara Alden berbicara, apa yang dikerjakannya, hingga teman-teman di sekelilingnya.
Ia juga terlalu peduli, sebuah sifat yang bagi Alden saat itu terasa sangat palsu dan mencampuri urusan orang lain.
Dan yang paling menyebalkan dari semuanya, Anjani terlalu sering melaporkan semua kenakalannya kepada ayahnya.
Setiap kali Alden mencoba membolos, pulang larut malam, atau terlibat perkelahian kecil di luar sekolah, wajah Anjani selalu muncul sebagai informan pertama yang merusak semua rencana pelariannya.
Anjani justru terang-terangan mengakuinya jika memang dia yang melaporkan.
Di masa ketika hubungannya dengan orang tua sedang dipenuhi kemarahan dan penolakan, kehadiran Anjani terasa seperti beban tambahan yang membuat kepalanya semakin pening. Alden merasa dikepung dari segala arah. Di rumah ia ditekan oleh ekspektasi dan situasi baru yang ia benci, sementara di luar rumah, Anjani berdiri seperti polisi moral yang siap mengawasi setiap gerak-geriknya dengan mata bulatnya yang penuh selidik.
Namun kini, setelah bertahun-tahun berlalu dan kedewasaan memaksa Alden melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, ia menyadari sesuatu yang dulu tidak pernah ingin ia akui. Sebuah kebenaran pahit yang tertimbun di bawah tumpukan gengsi masa mudanya.
Di balik semua pertengkaran, adu mulut, dan kekesalan yang melelahkan itu, Anjani adalah bagian yang tak terpisahkan dari masa mudanya.
Gadis itu adalah benang merah yang mengikat sisa-sisa kewarasannya. Tanpa gadis itu, mungkin kenangan remajanya hanya akan berisi kemarahan, pemberontakan, dan kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
Anjani adalah satu-satunya orang yang tetap ada, tetap berdiri kokoh di tempatnya, bahkan ketika Alden dengan sengaja memasang tembok tinggi dan berusaha menjauhkan semua orang dari hidupnya.
Ketika orang lain memilih mundur karena lelah menghadapi temperamennya, Anjani justru melangkah maju, menantang badai amarah Alden dengan keberanian yang keras kepala.
Ingatan Alden perlahan menyusun kembali potongan-potongan masa lalu itu.
Anjani adalah anak tunggal Bu Rahayu, seorang janda yang telah membesarkannya seorang diri sejak perceraian yang terjadi saat Anjani masih kecil. Ayah kandungnya nyaris tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka. Karena itulah Bu Rahayu menjadi satu-satunya sandaran bagi putrinya.
Di lingkungan tempat tinggal mereka, Bu Rahayu dikenal sebagai perempuan pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Ia mengelola usaha katering rumahan sekaligus memasok kue ke warung-warung dan pasar sekitar. Kerja keras serta kejujurannya membuat banyak orang menghormatinya.
Termasuk keluarga Alden.
Kedekatan antar keluarga yang telah terjalin sejak mereka masih mengenakan seragam merah putih membuat ruang gerak Alden untuk menghindari Anjani menjadi nyaris mustahil.
Mereka bermain di lingkungan yang sama. Bersekolah di tempat yang sama. Dan terus berada dalam lingkar kehidupan yang saling beriringan sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Ke mana pun Alden melangkah, rasanya Anjani selalu ada di sana.
Yang membedakan mereka adalah cara menghadapi hidup.
Anjani tumbuh dalam keterbatasan, tetapi tetap mampu menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Anjani mudah tertawa, mudah bersyukur dan selalu menemukan alasan untuk tetap tersenyum meski hidup tidak selalu berpihak kepadanya.
Sedangkan Alden memiliki semua yang tampaknya lebih sempurna. Dirinya tumbuh dalam keluarga yang utuh. Memiliki ayah yang menyayanginya. Tidak pernah kekurangan apa pun. Masa kecilnya dipenuhi kebahagiaan yang sederhana namun lengkap. Ia memiliki keluarga yang hangat. Dan memiliki teman masa kecil bernama Anjani yang selalu hadir dalam setiap tahap hidupnya.
Namun semuanya berubah ketika ibunya meninggal dunia. Kehilangan itu meninggalkan luka yang terlalu besar untuk dipahami oleh seorang remaja. Dan ketika ayahnya memutuskan menikah lagi beberapa bulan kemudian dengan, kemarahan yang selama ini ia pendam akhirnya meledak tanpa kendali.
Sejak saat itu, dunia Alden perlahan kehilangan warnanya. Memasuki masa SMA, ia berubah menjadi pribadi yang berbeda dari dirinya yang dulu. Anak yang pernah dikenal rajin, cerdas, dan berprestasi itu mulai tenggelam dalam amarahnya sendiri. Ia menjadi keras kepala. Mudah tersulut emosi. Dan semakin sering membuat masalah.
Belajar tidak lagi menjadi hal yang penting baginya.
Lembar-lembar buku pelajaran berganti menjadi lembaran kertas peringatan dari guru bimbingan konseling.
Nilai pelajaran sekolah mulai ia abaikan. Nasihat orang lain, entah itu dari gurunya maupun dari ayahnya yang kebingungan, ia tolak mentah-mentah dengan sikap sinis.
Seolah dengan menghancurkan dirinya sendiri, dengan merusak masa depannya, ia bisa melampiaskan semua rasa kecewa, protes, dan kesedihan yang selama ini tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia ingin dunia tahu bahwa ia sedang terluka, meski caranya salah total.
Di saat teman-temannya dulu mulai menjaga jarak karena takut terkena masalah, atau karena lelah menghadapi sikapnya yang tak lagi bersahabat, ada satu orang yang justru tetap membandel. Satu orang yang menolak untuk menyerah pada kegelapan Alden. Ia tetap muncul ke mana pun Alden pergi, berdiri di antara Alden dan kehancuran yang sedang ia tuju.
Anjani Lestari.
Gadis itu tetap ada di sana, menghalangi langkahnya dengan omelan-omelan setianya, menatapnya dengan mata yang tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh dengan rasa cemas dan luka yang mendalam melihat sahabatnya hancur.
Dan justru dari sanalah, dari penolakan Alden terhadap kepedulian tulus itu, kisah yang paling ia sesali dalam hidupnya perlahan dimulai. Sebuah penyesalan yang kini, di dalam kamar yang temaram ini, kembali menghantui pikirannya yang lelah.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏