NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Kuning Dan Bayangan Masa Lalu

Pagi berikutnya, apartemen pengawasan kembali menjadi pusat kegiatan utama bagi tim investigasi khusus. Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup perlahan melalui celah jendela ruang tengah, menerangi permukaan meja kayu yang sudah dipenuhi oleh tumpukan map kasus, laptop Elena yang masih terbuka, beberapa cangkir kopi yang sudah mendingin setengah, serta papan bukti yang semakin hari semakin penuh oleh catatan kecil dan tempelan foto korban. Udara di dalam ruangan masih terasa sejuk, aroma pekat dari kopi hitam yang baru saja diseduh menyebar luas ke seluruh ruangan, bercampur dengan bau gurih roti bakar mentega yang sempat Manuel buatkan sebagai menu sarapan pagi mereka.

Arthur Rutherford berdiri tegak tepat di depan papan bukti, kedua belah tangannya tampak memegang dua kantong plastik klip kecil berisi barang bukti penting yang berhasil ia amankan secara diam diam sejak proses sesi interogasi kemarin malam. Rambut hitamnya masih terlihat sedikit acak acakan, sejalan dengan kaos hitam longgar yang menempel ketat di tubuh atletisnya setelah menyelesaikan sesi olahraga pagi. Sepasang mata hijaunya menyipit fokus, menampilkan ekspresi wajah yang serius namun tetap terlihat sangat tenang.

Manuel Vin baru saja melangkah keluar dari dalam kamarnya sambil mengenakan jaket kulit cokelat andalannya, rambut pendeknya masih tampak basah setelah mandi pagi. Sementara itu, Elena Kuznetsova sudah duduk santai di atas sofa dengan sebuah laptop perak di atas pangkuannya. Rambut pirangnya tampak diikat asal ke belakang, berpadu dengan pakaian hoodie oversized abu abu yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih muda dan santai dari biasanya.

"Aku berhasil mengamankan sesuatu yang sangat penting untuk penyelidikan kita," kata Arthur tiba tiba memecah keheningan, nada suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan bobot informasi.

Ia kemudian meletakkan kedua kantong plastik bukti tersebut di atas meja kerja dengan gerakan yang sangat hati hati. Kantong plastik pertama tampak berisi sehelai benang berwarna kuning terang sepanjang sekitar 5 sentimeter, sebuah benda yang tampak biasa namun terlihat sangat jelas saat terpapar di bawah cahaya lampu meja. Sementara kantong plastik kedua berisi beberapa helai rambut berwarna cokelat gelap yang masih utuh, di mana beberapa helai di antaranya bahkan masih memiliki bagian akar rambut yang jelas.

Manuel langsung melangkah mendekat dengan gerakan cepat, kedua belah alisnya bertaut rapat karena heran. "Dari mana kau bisa mendapatkan semua barang bukti ini, Arthur?"

"Aku mengambilnya langsung dari pundak jaket Thabo saat sesi interogasi kemarin," jawab Arthur dengan nada suara pelan. "Saat tubuh Thabo mulai bergetar hebat dan kepalanya menunduk dalam karena mengalami tekanan mental, aku tidak sengaja melihat serat benang kuning terang ini menempel di bahu jaket kainnya. Aku segera mengambilnya secara diam diam menggunakan pinset kecil yang selalu kusimpan di saku. Untuk helai rambut cokelat ini juga sama, karakteristiknya jelas bukan milik Thabo yang berambut hitam pendek dan bertekstur kasar. Ini adalah jenis rambut yang jauh lebih halus, mungkin saja milik orang asing yang berada sangat dekat dengan posisi Thabo pada malam kejadian."

Elena meletakkan laptop peraknya ke sofa lalu mengambil kedua kantong bukti tersebut dengan bantuan pinset kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Ia mulai memeriksa serat benang kuning tersebut dengan sangat teliti di bawah paparan lampu meja. "Benang kuning ini bisa saja berasal dari kain pakaian kerja, seragam tertentu, atau jaket khusus pekerja luar ruangan. Tekstur seratnya tergolong kasar, mirip seperti karakteristik kain murah yang sering kali dipakai oleh para pekerja pelabuhan atau para pekerja jagal hewan. Sementara untuk helai rambut cokelat ini, ukurannya sedang dengan warna pigmen yang alami. Benda ini bisa jadi milik sang pembunuh asli atau milik orang asing yang bertugas membantu membersihkan tempat kejadian perkara."

Manuel langsung menyambar kedua kantong plastik tersebut dengan gerakan yang sangat hati hati. "Aku akan segera membawa seluruh sampel ini menuju ke laboratorium tim forensik pusat sekarang juga. Jika karakteristik benang kuning ini terbukti cocok dengan serat kain yang ditemukan di lokasi kejadian atau di tubuh mendiang Jennifer, dan helai rambut ini cocok dengan sampel DNA dari orang yang kita curigai, maka kita resmi memiliki sebuah bukti langsung yang sangat kuat untuk menjerat pelaku."

Manuel bergegas mengambil kunci mobil dan melangkah keluar dari dalam apartemen, pintu kayu depan tertutup dengan suara embusan pelan di belakangnya, meninggalkan Arthur dan Elena kini hanya tinggal berdua saja di dalam ruangan yang sunyi.

Elena menatap lurus ke arah sepasang mata hijau Arthur dengan tatapan mata birunya yang tajam, memancarkan campuran rasa kekaguman yang mendalam sekaligus sedikit rasa kesal pada ekspresi wajahnya. "Kau benar benar berani mengambil tindakan nekat untuk mencuri barang bukti langsung dari tubuh seorang tersangka tanpa memberi tahu kami berdua terlebih dahulu? Nyali tindakanmu besar sekali, Wales. Jika Thabo sampai menyadari aksimu kemarin, proses interogasi penting yang sudah kita bangun bisa berantakan total dalam sekejap."

Arthur menyunggingkan senyum miringnya yang khas sambil mendudukkan diri tepat di sebelah Elena, posisi duduk mereka begitu dekat hingga kedua belah bahu mereka hampir bersentuhan secara fisik. "Jika aku memilih untuk memberi tahu kalian terlebih dahulu di dalam ruangan, gerakan tubuhku justru bisa membuat Thabo curiga dan dia bisa saja langsung membersihkan seluruh pakaiannya saat kembali ke dalam sel tahanan. Tindakan diam diam jauh lebih aman untuk dilakukan. Lagipula, kau harus ingat bahwa aku adalah seorang spesialis dalam hal mengambil barang barang berukuran kecil tanpa pernah ketahuan oleh korbanku, meskipun dulu kemampuan ini sering kali kugunakan untuk tujuan yang jauh lebih buruk."

Elena menggelengkan kepalanya perlahan mendengar pembelaan Arthur, namun sudut bibirnya perlahan terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman tipis. "Kau memang sosok pria yang sangat menyebalkan untuk dihadapi. Namun harus kuakui, caramu berpikir itu cukup pintar juga pada akhirnya."

Mereka berdua kemudian terdiam selama beberapa saat menikmati keheningan yang nyaman. Arthur meraih sepotong apel segar dari atas piring meja lalu menggigitnya pelan, sementara Elena kembali memfokuskan pandangan matanya ke arah layar laptop, jari jari lentiknya mulai menari dengan sangat cepat di atas papan ketik.

"Saat ini aku sedang mencoba mendalami lebih jauh perihal aliran transfer uang misterius yang masuk ke dalam rekening pribadi milik Thabo," kata Elena tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari layar monitor. "Dana tersebut dikirim dari sebuah rekening perusahaan cangkang yang tingkat keamanannya sangat sulit untuk dilacak oleh sistem biasa. Namun, aku berhasil menemukan sebuah pola transaksi yang konstan. Sang pengirim diketahui menggunakan sistem jaringan internet bertingkat dan beberapa proxy dari negara yang berbeda beda. Meskipun demikian, ada satu celah kecil yang bocor di dalam log server data lama yang berhasil kutemukan."

Arthur menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat lagi, hingga bahunya kini benar benar bersentuhan dengan bahu Elena. Aroma wangi sabun mandi floral yang lembut dan segar dari tubuh Elena seketika tercium samar oleh indra penciuman Arthur. "Coba tunjukkan detail celah itu kepadaku."

Elena memperbesar tampilan gambar di layar monitor laptopnya. Selama hampir 40 menit berikutnya, kedua insan itu tampak bekerja bahu membahu di depan layar komputer. Elena menjelaskan setiap detail lapisan sistem enkripsi data yang berhasil ia bobol satu per satu, sementara Arthur memberikan beberapa masukan dari sudut pandang psikologis mengenai karakteristik pola pengiriman uang yang mencurigakan. Setelah melalui proses pengerjaan yang rumit, Elena akhirnya berhasil membobol pertahanan lapisan data yang terakhir.

"Aku berhasil mendapatkannya," kata Elena dengan suara pelan yang sarat akan rasa kepuasan emosional yang mendalam. "Nama asli dari pemilik rekening pengirim dana ini adalah Richard Rick Harlan. Berdasarkan data sipil, dia adalah seorang mantan pasukan perang Vietnam yang saat ini sudah berusia 78 tahun. Ia tercatat pernah bertugas aktif di kota Saigon pada kisaran tahun 1968 hingga tahun 1970 yang lalu. Setelah masa peperangan selesai, ia menjalani kehidupan sebagai seorang pria tua biasa yang hidup dengan sangat sederhana di area pinggiran pelabuhan."

Arthur menyipitkan kedua belah matanya, roda gigi di dalam otaknya seketika berputar dengan sangat cepat untuk menyusun teori baru. "Seorang mantan tentara perang Vietnam yang kini hidup sebagai pria tua biasa. Karakteristik usianya jelas bukan tipe ideal untuk sosok pembunuh profesional yang mengeksekusi Jennifer secara fisik, namun ada kemungkinan besar bahwa dia terlibat aktif sebagai seorang perantara atau mungkin saja ia sedang berada di bawah tekanan paksaan dari pihak lain. Kita harus bergerak mendalami lebih jauh mengenai siapa sebenarnya sosok pria tua ini."

Elena mengangguk setuju dengan kesimpulan Arthur. "Aku akan segera memeriksa lebih lanjut mengenai seluruh riwayat masa lalu dan rekam jejak kehidupannya. Mungkin saja dia hanyalah sesosok tersangka baru yang ikut terjebak di dalam pusaran lingkaran hitam ini."

Arthur bersandar nyaman di sandaran sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kerja bagus, Elena. Manuel pasti akan sangat senang saat mendengar temuan berharga ini ketika ia kembali dari laboratorium forensik nanti."

Tidak berselang lama kemudian, pintu apartemen kembali terbuka dan Manuel melangkah masuk dengan ritme kaki yang sangat cepat dan tergesa gesa.

"Karakteristik serat benang kuning yang kau temukan terbukti cocok sempurna dengan jenis serat kain yang tertinggal di lokasi kejadian perkara!" kata Manuel dengan nada suara yang terdengar sangat bersemangat. "Tidak hanya itu, sampel helai rambut cokelat tersebut juga terbukti cocok dengan profil data DNA milik Harlan yang sudah terdaftar di dalam database veteran militer negara. Kita resmi mengantongi sebuah bukti langsung yang sangat kuat sekarang."

Arthur langsung berdiri dari posisi duduknya. "Sebuah pencapaian yang bagus untuk tim kita. Ayo kita segera berkumpul untuk menyusun strategi penangkapan selanjutnya. Harlan saat ini statusnya adalah tersangka baru kita, seorang pria tua yang tampaknya biasa. Kita harus tetap bergerak dengan sangat hati hati agar tidak sampai melakukan tindakan salah tangkap."

Mereka bertiga akhirnya menghabiskan sisa waktu sepanjang pagi hari itu untuk mendiskusikan setiap langkah penyelidikan berikutnya secara mendetail. Elena terus bergerak aktif melacak seluruh informasi digital mengenai latar belakang Harlan, Manuel sibuk melakukan koordinasi lanjutan dengan tim forensik pusat kota, sedangkan Arthur terus memberikan analisis psikologis mendalam mengenai kemungkinan besar peran yang dijalankan oleh pria tua itu di dalam misteri kasus ini.

Waktu siang perlahan mulai berganti menuju sore hari. Kerja sama di antara anggota tim investigasi khusus ini terasa semakin solid dan menyatu, dan sehelai serat benang kuning kecil yang berhasil ditemukan oleh kecerdikan Arthur kini resmi menjadi kunci paling krusial bagi mereka untuk menyingkap tabir kebenaran yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!