NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

​Sambil menunggu lift bergerak turun dari lantai dua puluh, Zara terus-menerus melirik ke arah tas ransel usang milik Fahri. Pikirannya kembali berputar pada kemewahan kamar Suite Room yang baru saja mereka tinggali selama beberapa jam. Desain interior berlapis marmer, pemandangan Bundaran HI dari ketinggian, hingga sarapan bubur ayam premium yang disajikan dengan nampan perak, walaupun hanya beberapa jam semuanya terasa terlalu tidak masuk akal untuk ukuran dompet seorang santri kampung.

​"Fahri..." panggil Zara saat pintu lift tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruang kubus berlapis cermin tersebut.

​"Hmm? Kenapa lagi, Neng? Jangan bilang mau minta balik ke kamar lagi gara-gara ada barang yang ketinggalan? Lift-nya udah terlanjur turun nih," sahut Fahri santai, matanya fokus menatap angka lantai yang terus berkurang di layar digital.

​"Bukan... bukan itu," Zara menoleh, menatap suaminya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam.

 "Aku cuma kepikiran dari tadi. Kamu beneran gak lagi bohongin aku, kan?"

​"Bohong soal apa? Ketampanan saya? Wah, kalau itu mah fakta alami, Zar, gak ada rekayasa," ucap Fahri percaya diri sambil merapikan letak peci hitamnya di depan cermin lift.

​"Ih, serius, Fahri! Ini soal hotel mewah ini!" Zara melipat tangan di dada, menghadapkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Fahri.

 "Kita ini baru aja menginap di hotel bintang lima paling mahal di pusat Jakarta. Kamar yang kita pakai tadi itu tipe Suite, Fahri! Aku tahu banget tarifnya, semalam itu bisa sampai lima atau tujuh juta rupiah! Belum lagi bubur premium yang kamu pesan tadi. Kamu beneran gak bakal ditangkap satpam hotel kan pas kita melewati lobi nanti?"

​Fahri langsung tertawa lepas, menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Astagfirullah, Zara Amanta... jadi dari tadi otak kamu sibuk menghitung tarif hotel? Kamu mengira suamimu ini bakal diseret ke pos satpam karena gak bisa bayar?"

​"Ya iyalah! Logikanya di mana coba? Kamu itu santri di Cisayong, tiap hari ngajar anak-anak, pakai baju koko, sarungan. Terus tiba-tiba datang ke Jakarta bawa black card dan check-in di tempat ginian seolah-olah ini losmen murah di pinggir jalan! Uang dari mana, Fahri? Jangan-jangan itu kartu hasil... ya ampun, kamu gak beneran ngepet kan, Fahri?!" pekik Zara tertahan, matanya membelalak panik.

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai lobi utama yang megah. Fahri tidak langsung menjawab, ia malah melangkah keluar terlebih dahulu sambil menenteng ranselnya dengan santai.

​"Ayo, buruan ikut. Kalau jalan kamu lambat begitu, nanti malah beneran dicurigai sama manajer hotelnya," panggil Fahri tanpa menoleh.

​Zara buru-buru menyamakan langkah kakinya yang setengah berlari di atas karpet tebal lobi. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Fahri berjalan lurus menuju meja Front Office yang dijaga oleh tiga petugas resepsionis berseragam rapi.

​Duh, mampus... kalau kartunya ditolak gimana? Mau ditaruh di mana muka aku! batin Zara panik, bersiap mengambil langkah seribu jika situasi memburuk.

​"Selamat pagi, Pak Fahri. Ada yang bisa kami bantu kembali?" sapa salah satu petugas resepsionis pria dengan senyum super ramah dan membungkuk hormat, bahkan sebelum Fahri mengeluarkan kartunya.

​"Pagi. Saya mau check-out dari kamar 2012. Ini kuncinya," ucap Fahri tenang, menyodorkan kartu akses kamar di atas meja marmer.

​Petugas itu menerima kunci dengan kedua tangan, lalu jemarinya bergerak cepat di atas keyboard komputer. "Baik, untuk kamar Suite atas nama Pak Fahri Ahmad, seluruh biaya penginapan, sarapan, dan fasilitas tambahan sudah diselesaikan secara penuh melalui corporate billing pemilik jaringan hotel kami, Haji Sulaiman. Tidak ada tagihan tambahan apa pun, Pak."

​Zara yang berdiri di belakang Fahri langsung melongo. Haji Sulaiman? Lilis dan Umil pernah bercerita jika Donatur terbesar pesantren Abah yang punya gurita bisnis properti di Jakarta itu bernama Haji Sulaeman?! Jadi beneran Fahri gak bohong dong?!

​"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Mas," ucap Fahri ramah.

​"Sama-sama, Pak Fahri. Salam hormat untuk Abah Mukhlas di Tasikmalaya. Semoga perjalanan Bapak dan Ibu di Jakarta lancar," balas petugas itu dengan sikap yang sangat hormat.

​Fahri mengangguk, lalu berbalik menatap Zara yang masih berdiri kaku dengan mulut sedikit terbuka. Fahri merangkul pundak Zara santai—memanfaatkan status halalnya—dan menuntun gadis itu berjalan keluar menuju pintu lobi utama di mana taksi pesanan mereka sudah menunggu.

​"Gimana, Teteh Jakarta? Udah percaya kalau suamimu ini aman dari jangkauan kepolisian?" bisik Fahri usil tepat di samping telinga Zara saat mereka berjalan melewati pintu kaca otomatis.

​Zara langsung melepaskan rangkulan Fahri dengan wajah merona merah, malu sekaligus kesal karena sudah berpikiran buruk. "Ih! Lagian kamu gak cerita dari awal kalau hotel ini punya Haji Sulaiman! Bikin orang jantungan aja!"

​"Lah, kan tadi di kamar udah saya bilang, ini fasilitas dari donatur besar pesantren Abah. Kamunya aja yang udah traveling duluan mikirin saya ngepet," Fahri terkekeh puas, membukakan pintu taksi untuk Zara. "Udah, gak usah dipikirin lagi masalah duniawi begitu. Sekarang, fokus utama kita ada di depan mata."

​Fahri menutup pintu taksi setelah mereka berdua masuk ke kursi belakang. Suasana jenaka di dalam mobil mendadak bergeser menjadi lebih serius saat supir taksi mulai menginjak gas menuju daerah Salemba, Jakarta Pusat.

​Taksi biru itu berhenti tepat di depan lobi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta. Suasana di luar tampak ramai oleh hilir mudik kendaraan dan pengunjung. Zara menatap gedung bertingkat di depannya dengan dada yang kembali bergemuruh kencang. Ia meremas tali tas kecilnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tadi sempat dibangun di hotel.

​"Ayo, Zar. Jangan ditahan napasnya, nanti pingsan duluan sebelum ketemu Ibu," celetuk Fahri lembut sambil membuka pintu taksi.

​Zara menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah turun. Begitu kakinya menginjak lantai lobi rumah sakit yang beraroma khas obat-obatan dan disinfektan, hawa dingin mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, sebuah sentuhan hangat di pundaknya langsung membuat Zara menoleh. Fahri tersenyum tipis, mengangguk kecil seolah berkata, 'Ada saya di sini.'

​Mereka melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis. Lobi rumah sakit tersebut cukup megah, dengan deretan kursi tunggu yang hampir penuh. Fahri mengedarkan pandangannya mencari papan petunjuk arah atau meja informasi.

​"Zar, ruang ICU atau kamar VIP-nya di lantai berapa? Di SMS Lilis kemarin gak ada nomor kamarnya, kan?" tanya Fahri sambil berjalan beriringan di samping Zara.

​"Biasanya kalau urusan jantung di gedung utama lantai tiga, Fahri. Tapi kita harus tanya ke bagian informa—"

​"Wah, wah... lihat siapa yang datang."

​Langkah kaki Zara dan Fahri seketika terhenti. Sebuah suara yang sangat familiar memotong kalimat Zara dari arah samping kanan, dekat deretan mesin ATM.

​Reza melangkah anggun dengan kemeja flanel mahal yang lengannya digulung hingga siku, tangan kanannya memegang sebuah cup kopi dari kedai ternama. Di wajahnya bertengger senyum sinis yang sarat akan kepuasan saat melihat Zara. Namun, begitu matanya menangkap sosok Fahri yang berdiri kokoh di samping gadis itu, senyum Reza mendadak agak menyusut.

​"Zara... akhirnya kamu pulang juga," ucap Reza, mengubah nadanya menjadi sok dramatis dan cemas dalam sekejap. Ia melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Fahri.

"Kamu tahu gak, Tante kritis di atas gara-gara kepikiran kamu? Untung aku langsung bawa ke rumah sakit terbaik di Jakarta. Kamu ke mana aja sih, Zar?"

​Zara mengepalkan tangannya di samping tubuh, rasa muak bergejolak di dadanya saat melihat akting Reza yang begitu rapi. "Gak usah sok peduli kamu, Za! Di mana Ibu sekarang? Aku mau ketemu Ibu!"

​"Tenang dulu, Zar, jangan emosi. Tante lagi ditangani dokter spesialis di lantai empat, kamar VIP Kartika," jawab Reza santai, lalu pandangannya beralih sepenuhnya ke arah Fahri. Ia menatap Fahri dari ujung peci hitamnya sampai ujung sepatu ketsnya dengan tatapan merendahkan. "Tapi... ngomong-ngomong, ngapain si santri kampung ini ikutan ke Jakarta? Mau minta sumbangan buat pesantren ya?"

​Fahri tidak terpancing. Ia malah terkekeh kecil, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket flanelnya dengan gaya yang sangat santai.

​"Aduh, Mas Batik... eh, sekarang lagi gak pakai batik ya? Mas Kopi Mahal aja deh," sahut Fahri dengan banyolan khasnya yang menyebalkan.

 "Salam kelon dari Tasikmalaya ya. Kedatangan saya ke sini tuh murni mau menjenguk mertua yang katanya lagi sakit keras. Masa menantu yang berbakti gak boleh ikut?"

​Reza mengernyitkan dahi, tawanya langsung pecah mendengar ucapan Fahri. "Hah? Mertua? Menantu? Kamu kesambet jin di jalan tol ya sampai otaknya makin geser begini? Jangan ngelindur di rumah sakit, gak lucu!"

​"Siapa yang ngelindur? Muka saya kelihatan kayak orang kurang tidur?" Fahri menoleh ke arah Zara, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Zar, tolong keluarin mainan baru kita dari tas. Kasihan nih Mas Kopi Mahal, mukanya butuh asupan fakta biar gak kebanyakan halusinasi."

​Zara yang sejak tadi tegang, entah kenapa merasa ingin tertawa melihat wajah Reza yang mulai berubah kesal. Dengan gerakan mantap, Zara membuka tas kecilnya, merogoh sebuah buku kecil berwajah cokelat tua dengan lambang garuda emas di depannya, lalu menunjukkannya tepat di depan wajah Reza.

​"Ini, Za. Buku nikah sah kami. Kami udah menikah semalam di depan Abah Mukhlas," ucap Zara dengan nada suara yang sangat tegas dan puas, membuat Reza seketika membeku di tempatnya.

​Mata Reza membelalak sempurna melihat buku nikah tersebut. Cup kopi di tangan kanannya tanpa sadar tercengkeram kuat hingga agak penyok. Wajah gantengnya mendadak berubah menjadi merah padam menahan syok dan amarah yang luar biasa.

​"N-nikah?! Kamu gila, Zara?! Kamu nikah sama orang miskin begini?!" bentak Reza, suaranya mulai meninggi hingga memancing perhatian beberapa pengunjung lobi rumah sakit. "Ini pasti palsu! Kamu sengaja kan mau bikin skenario konyol ini buat menghindari aku?!"

​"Heh, Mas Kopi... jaga mulutmu ya," potong Fahri, maju satu langkah memblokir pergerakan Reza yang hendak merebut buku nikah dari tangan Zara. Kali ini, tidak ada senyum jenaka di wajah Fahri, matanya dingin dan tajam menatap Reza.

 "Buku nikah ini asli, terdaftar resmi di KUA. Jadi, secara hukum agama dan negara Indonesia, Zara Amanta adalah istri sah saya. Segala urusan tentang dia, sekarang harus lewat saya. Paham?"

​Reza mencengkeram kerah kemejanya sendiri, napasnya memburu berhadapan dengan posisi tegak Fahri. "Kurang ajar... kalian benar-benar cari mati ya! Pak Rahmad gak bakal tinggal diam soal ini! Pernikahan konyol kalian gak bakal diakui sama keluarga!"

​"Gak diakui juga gak papa, yang penting diakui sama malaikat pencatat amal," sahut Fahri santai, kembali ke mode tengilnya yang mematikan. "Ya udah, Mas... minggir dulu ya. Kami mau ke atas nemuin Ibu. Permisi, orang sukses mau lewat."

​Fahri langsung menggandeng jemari tangan Zara yang hangat, menuntunnya melewati Reza yang masih berdiri mematung di tengah lobi dengan wajah yang sudah sewarna udang rebus karena menahan malu dan dendam yang memuncak. Rencana licik yang sudah disusun Reza di dalam mobil sepanjang jalan tol kemarin kini mendadak hancur berantakan bahkan sebelum dimulai.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!