Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tamu Tak Diundang di Dermaga
Sorot lampu halogen dari luar pintu seng gudang yang terbuka membelah kegelapan ruangan seperti pedang cahaya. Silau putih yang membutakan mata itu diiringi oleh deru mesin diesel dari beberapa kendaraan kelas berat yang sengaja dibiarkan menyala.
Debu-debu pelabuhan beterbangan di udara, menari-nari dalam sorotan lampu bagaikan serangga kecil yang panik.
Kael yang masih terduduk lemas di lantai beton refleks mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah. Peretas muda itu beringsut mundur, punggungnya menabrak kaki meja lipat aluminium dengan keras.
"Mereka... mereka melacakku..." Kael tergagap. Bibirnya bergetar hebat hingga suaranya nyaris terdengar seperti cicitan tikus. "Anomali server... saat kau mengaktifkan protokol penghapusan tadi, gelombang datanya memicu sistem peringatan dini majikanku!"
Hira tidak mundur satu sentimeter pun.
Matanya yang sedingin es menyipit tajam, menembus kilatan cahaya menyilaukan di ambang pintu. Tangannya dengan tenang merogoh tas, memastikan tablet digital dan flash drive baja milik Teran masih tersimpan aman di posisinya.
{Polisi? Bukan. Polisi tidak menggunakan SUV hitam tanpa plat nomor dan tidak pernah datang dalam diam tanpa sirine.}
Suara jiwa asli Hira menganalisis cepat di dalam kepalanya. Ada getaran kewaspadaan, namun tidak ada kepanikan. Sang alter ego telah membungkus saraf-saraf ketakutannya dengan lapisan arogansi yang sangat tebal.
{Ini anjing-anjing pembersih. Pion-pion kotor milik para politisi yang namanya ada di dalam buku besar Teran Honigan.}
Suara langkah kaki yang berat, teratur, dan memakai sepatu bot bersol tebal mulai terdengar menginjak lantai beton gudang. Tidak hanya satu atau dua orang. Hira bisa menghitung setidaknya ada lima bayangan tinggi besar yang melangkah masuk membelah cahaya terang di belakang mereka.
Orang yang berada di posisi paling depan melangkah keluar dari silau lampu.
Ia adalah seorang pria bertubuh gempal dengan setelan jas taktis berwarna abu-abu gelap. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka bakar yang memanjang dari rahang hingga ke balik kerah kemejanya. Di tangan kanannya, sebuah pistol semi-otomatis berwarna hitam pekat tergenggam dengan santai namun mematikan.
Empat pria lain menyebar di belakangnya, membentuk formasi setengah lingkaran yang secara otomatis mengurung Hira dan Kael di tengah gudang. Mereka semua memegang senjata api.
"Tutup pintunya," perintah pria berwajah luka itu. Suaranya serak dan dalam, menggema di dinding-dinding seng.
Salah satu anak buahnya segera berbalik, menarik tuas karatan pada pintu gudang.
Bunyi decitan logam beradu terdengar ngilu. Pintu seng raksasa itu tertutup rapat, memutus sorot lampu mobil dari luar. Ruangan kembali diselimuti keremangan, hanya menyisakan cahaya neon pucat dari langit-langit yang berkedip pelan.
"Kael."
Pria berwajah luka itu menatap peretas yang sedang meringkuk di lantai. Moncong pistolnya diangkat perlahan, diarahkan tepat ke kepala Kael.
"Kau dibayar ratusan ribu dolar untuk mengamankan jalur enkripsi server utama kami. Tapi sore ini, bukan saja kau gagal, kau malah membiarkan lima puluh persen dari jalur tersebut terhapus oleh perintah lokal."
Pria itu meludah ke lantai.
"Majikan kami di ibu kota sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau kecerobohan."
Kael mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang sepucat kertas.
"Itu bukan aku! Sumpah, itu bukan aku!" Kael menunjuk ke arah Hira dengan jarinya yang gemetar parah. "Wanita gila ini! Dia yang menanamkan protokol penghapusan itu menggunakan koin terminalku! Dia yang memancing kalian ke mari!"
Pria berwajah luka itu mengalihkan pandangannya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari keberadaan Hira yang berdiri hanya dua langkah dari Kael.
Mata pria itu memindai Hira dari ujung sepatu hak tinggi merah marun, setelan blus sutra hitam, hingga wajah cantiknya yang luar biasa tenang. Sama sekali tidak ada postur tubuh orang yang sedang ketakutan ditodong senjata api.
"Dan siapa wanita cantik yang salah memilih tempat kencan ini?" pria itu bertanya dengan nada mengejek.
"Namaku Hira Lione."
Suara Hira memecah keheningan gudang dengan nada yang sangat renyah, dominan, dan tidak memiliki getaran sedikit pun. Ia melangkah maju satu langkah, mengabaikan moncong pistol yang kini beralih menunjuk ke arah dadanya.
"Eksekutif Independen PT. Gemilang Solusi Bersama. Dan aku rasa, majikanmu di ibu kota justru harus berterima kasih padaku sore ini."
Alis pria berwajah luka itu berkerut tipis. Jarinya masih berada di pelatuk. "Eksekutif Teran? Kau punya nyali besar menyebut nama perusahaan itu di depanku. Majikanku sedang bersiap untuk membakar perusahaanmu minggu depan."
Hira menyilangkan lengannya di depan dada. Senyum miring yang mematikan merekah di bibirnya.
"Membakar perusahaanku?" Hira tertawa pelan. "Kalian bisa membakar gedungnya. Tapi jika kalian menarik pelatuk itu kepadaku sekarang, kalian juga akan membakar buku besar berisi seluruh daftar nama politisi yang menampung aliran dana kotor Teran Honigan."
Suasana di dalam gudang itu mendadak membeku.
Pria berwajah luka itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, mencoba menembus gertakan wanita di hadapannya.
"Omong kosong," geram pria itu. "Buku besar itu masih terkunci di server pribadi Teran. Anak ini—" ia menendang meja lipat Kael hingga laptop di atasnya bergeser, "—bahkan belum berhasil menembusnya."
Hira merogoh tas tangannya perlahan.
Dua anggota bersenjata di belakang pria berwajah luka itu serentak menaikkan senapan mereka, bersiap menembak.
"Santai, Tuan-tuan." Hira mengangkat tangannya dengan elegan, memperlihatkan sebuah tablet digital tipis. "Aku tidak membawa senjata api murah seperti kalian."
Hira menekan layar tablet tersebut. Cahaya dari layarnya menerangi wajahnya, menonjolkan sepasang mata predator yang sedang menatap para pemburu itu.
Ia mengarahkan layar tabletnya agar bisa dilihat jelas oleh pria berwajah luka.
"Ini adalah keistimewaan memiliki akses penuh dari CEO yang bodoh," ucap Hira dengan nada merdu yang penuh racun.
"Teran Honigan memberiku akses ke seluruh database untuk menjadikanku kambing hitam. Tapi aku mengambil buku besar itu, mengenkripsinya di bawah ID milikku, dan menghubungkannya dengan sistem pemantau detak jantung di jam tanganku."
Hira mengangkat pergelangan tangan kirinya, memamerkan sebuah smartwatch hitam elegan yang melingkar di sana.
"Jika jantungku berhenti berdetak karena timah panas dari senjata kalian," Hira memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan tatapan menantang, "atau jika dalam lima belas menit aku tidak memasukkan kode pembatalan, hitung mundur di tablet ini akan mencapai angka nol."
Pria berwajah luka itu menelan ludah. Wajahnya yang keras mulai menunjukkan tanda-tanda keraguan.
{Predator tidak pernah menyerang jika mangsanya dilapisi racun.}
Alter ego Hira berbisik di kepalanya. Kepuasan melihat para algojo bayaran ini kehilangan taringnya terasa sangat luar biasa.
"Apa isi datanya?" pria itu bertanya dengan nada yang jauh lebih berhati-hati dari sebelumnya.
Hira mengetuk layar tabletnya satu kali.
"Sebuah sampel kecil," Hira tersenyum. "Empat puluh lima miliar rupiah untuk Fraksi Selatan. Aku yakin majikanmu mengenal kode itu dengan sangat baik."
Mata pria berwajah luka itu membelalak. Ia tahu persis siapa penerima dana itu. Jika data tersebut bocor ke Kejaksaan Agung besok pagi, separuh dari anggota parlemen yang menjadi penyokong dana kelompoknya akan hancur lebur.
"Kau..." pria itu menggertakkan giginya. Ia menunjuk Hira dengan senjatanya, tapi tangannya kini terlihat ragu. "Kau gila! Kau menggali kuburanmu sendiri dengan memegang data itu!"
"Aku tidak menggali kuburan, Tuan." Hira melangkah maju lagi, ujung sepatunya kini nyaris menyentuh sepatu bot pria itu. "Aku sedang membangun tahta."
||||
Hira menatap lurus ke dalam sepasang mata pria berwajah luka itu tanpa berkedip. Jarak mereka kini kurang dari satu lengan. Jika pria itu menarik pelatuknya, kepala Hira akan hancur berantakan.
Namun sang alter ego memancarkan aura dominasi yang membuat pria terlatih itu justru merasa terintimidasi.
"Turunkan senjatamu," perintah Hira mutlak.
Keheningan yang sangat panjang menyelimuti gudang. Hanya suara napas Kael yang tersengal-sengal di lantai yang terdengar.
Perlahan, pria berwajah luka itu menurunkan senjatanya sepenuhnya. Ia memberikan isyarat tangan ke belakang, dan keempat anak buahnya segera menurunkan senapan mereka.
"Apa yang kau inginkan?" pria itu bertanya, nada suaranya kini terdengar seperti orang yang sedang bernegosiasi bisnis, bukan lagi seorang algojo.
"Pertama, peretas rongsokan ini," Hira menunjuk Kael dengan ujung tabletnya. "Bawa dia. Lakukan apa pun yang kalian mau padanya. Dia sudah tidak berguna bagiku."
"Tunggu! Jangan! Hira, kau tidak bisa melakukan ini!" Kael berteriak histeris, merangkak maju mencoba meraih kaki Hira, namun ditendang menjauh oleh salah satu anak buah pria berwajah luka itu.
"Kedua," Hira mengabaikan jeritan Kael. "Beri tahu majikan kalian di ibu kota. Teran Honigan sudah tidak lagi memegang kendali atas buku besar mereka. Aku yang memegangnya sekarang."
Hira mengetikkan sesuatu di tabletnya.
"Aku tidak tertarik untuk menjadi pahlawan yang menyerahkan data ini ke kejaksaan." Hira memasukkan tabletnya kembali ke dalam tas dengan gerakan anggun. "Aku adalah seorang pengusaha. Dan aku sedang melakukan pengambilalihan paksa PT. Gemilang Solusi Bersama."
Pria berwajah luka itu mendengus pelan. Ia menyarungkan pistolnya ke pinggang. "Kau ingin majikan kami diam saat kau memotong kepala Teran Honigan?"
"Tepat," jawab Hira. "Biarkan aku membereskan Teran dan mengambil alih jajaran direksi. Begitu aku memegang posisi CEO, jalur pencucian uang majikan kalian akan tetap aman. Lebih rapi, dan jauh lebih bersih daripada yang pernah Teran lakukan."
Hira merapikan kerah jas pria di depannya dengan gerakan yang sangat merendahkan, lalu menepuk dadanya dua kali.
"Tapi jika majikan kalian mencoba ikut campur, atau mencoba mengirim anjing-anjing pesuruh seperti kalian lagi ke hadapanku..." Hira mencondongkan wajahnya, berbisik dingin. "Aku akan memutar kunci brankas itu dan mengirim kalian semua ke neraka bersama-sama."
Pria berwajah luka itu menatap Hira cukup lama. Ada campuran antara kebencian, rasa segan, dan pengakuan profesional di matanya.
"Bawa peretas itu," pria itu memberi perintah tanpa melepaskan pandangannya dari Hira.
Dua anak buahnya langsung menyeret Kael yang meronta-ronta dengan sisa tenaga. Laptop dan peralatannya diberangus masuk ke dalam tas ransel dengan kasar.
"Kau memiliki nyali iblis, Nyonya Lione," pria itu berkata sambil melangkah mundur. "Akan kusampaikan pesanmu. Tapi ingat, jika majikan kami memutuskan bahwa kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup, tidak ada sistem keamanan jantung yang bisa menyelamatkanmu."
"Aku akan menunggu kabar dari mereka." Hira tersenyum.
Pria itu berbalik. Kelima bayangan itu melangkah keluar dari gudang, menyeret Kael yang terus memohon ampun hingga suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil.
Pintu seng gudang dibiarkan terbuka. Beberapa detik kemudian, bunyi decit ban terdengar melesat pergi meninggalkan dermaga utara, mengembalikan keheningan pelabuhan yang dingin.
Hira berdiri sendirian di tengah gudang yang kosong.
Tubuhnya mendadak terasa luar biasa ringan. Angin laut yang dingin berhembus masuk, menerpa wajahnya.
Tangan kanannya perlahan merogoh saku celana, mengeluarkan flash drive baja tempat seluruh kontrak fiktif dan buku besar Teran Honigan tersimpan.
Sebuah tawa pelan meluncur dari bibir Hira. Tawanya perlahan membesar, menggema keras memantul di dinding-dinding seng gudang. Tawa yang penuh dengan kemenangan absolut dan kekejaman yang tak terbatas.
{Bahkan anjing penjaga para politisi pun bertekuk lutut di hadapan kita.}
Sang alter ego bersorak penuh gairah. Permainan ini sudah berubah. Bukan lagi sekadar balas dendam pada manajer cabang kelas teri atau suami yang tidak berguna. Hira baru saja memegang tali kekang dari sebuah konspirasi raksasa di tingkat nasional.
Hira mengepalkan tangannya kuat-kuat, menggenggam flash drive baja itu seolah menggenggam jantung Teran Honigan.
"Waktumu sudah habis, Teran."
Hira melangkah keluar dari gudang, berjalan mantap menyongsong langit sore yang mendung. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk aspal jalanan, setiap bunyinya adalah genderang perang yang siap membumihanguskan siapa pun yang berdiri di hadapannya.
"Sekarang, giliran kepalamu yang akan kuletakkan di atas meja."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪