NovelToon NovelToon
Jangan, Dia Datang!

Jangan, Dia Datang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.

Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…

Entitas urban legend itu akan datang.

Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.

Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Andre dan Rehan Sama Saja

Naja memang membiarkan Pak Rehan lumpuh total. Akan tetapi, dia tidak mencabut nyawa kepala sekolah itu secara cuma-cuma.

Dia ingin ini menjadi pembelajaran untuk semua orang bagi yang bermain-main dengan korupsi.

Sekarang, sekolah dibuat guncang oleh kelumpuhan pak Rehan yang seperti orang sekarat. Bukan hanya kaki yang lumpuh, tapi tangan juga buntung, sementara mulut juga rusak. Mereka takut melihat kondisi pria itu. Bahkan, saat mereka berusaha menolong dan membawa ke rumah sakit, mereka mati-matian menahan rasa mual dan menutup mata.

Kondisi Pak Rehan yang hancur dan membawa reputasi buruk bagi sekolah. Para guru dan staf pun memilih kandidat lain untuk dijadikan kepala sekolah. Kali ini, mereka tidak menunjuk secara cuma-cuma seperti kemarin, melainkan dengan tes dan juga evaluasi.

Kepala sekolah baru pun akhirnya datang, sementara Pak Rehan sekarang di rumah sakit meratapi hidupnya yang hancur. Sepanjang, hari Rehan hanya mengerutu dalam hati dan menangis. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Minum obat tidak bisa, mau tidur juga tidak nyenyak.

Kondisinya bagaikan orang yang mati tak bisa, hidup juga tidak bisa. Benar-benar menyiksa batin. Pria itu menyesal saat teringat bagaimana ia mencoba main-main dengan hidup orang lain dulu.

Mengetahui kondisi mantan kepala sekolah yang hancur, Pak Andre merasa sangat berempati. Dia mengingat semua kenangan bagaimana Pak Rehan membantunya menyelesaikan masalah. Namun, pria itu jarang menolong dan lebih senang berfoya-foya. Itu yang membuat dia terlihat sebagai orang tamak tidak peduli hidup orang lain.

"Kamu mau ke mana?" tanya seorang wanita berparas cantik dengan lembut, suaranya sedikit cemas saat Andre memakai pakaian rapi di waktu menjelang malam ini.

Andre merapikan jasnya sekilas, lalu tersenyum menoleh pada wanita itu. Dia mendekat pelan sambil menjawab, "Aku cuma mau ke rumah sakit sebentar. Mau menjenguk Pak Rehan. Beliau sakit parah."

Wanita itu menghela napas panjang. "Apa kamu tidak takut, Mas? Kondisinya terlihat menyeramkan. Banyak yang bilang itu juga karena kutukan," gumamnya.

Andre tersenyum, dia mengusap kepala wanita itu. "Tidak, lagi pula Pak Rehan juga sudah banyak membantu kita kan selama ini?"

Mendengar balasan dari sang suami, wanita itu pun hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Dia menatap Andre dengan rasa khawatir. Ada sesuatu harapan di matanya tapi tersembunyi oleh rasa takut dan tidak percaya.

"Iya, aku percaya. Kalau begitu, pergilah tapi ingat jaga diri baik-baik," pesan wanita itu, suaranya lirih tapi terdengar jelas.

Andre tersenyum. "Iya, kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku bisa menjaga diri," ujarnya, berusaha menenangkan sang istri.

Pria itu pun segera pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya. Cuaca saat ini tidak cukup baik dan mendung tapi tidak menghentikan niatnya untuk menemui mantan kepala sekolah itu. Dalam hati, dia jauh lebih mencemaskan kondisi Pak Rehan dan berharap pria itu lekas sembuh.

***

Kepala sekolah yang baru disambut hangat oleh banyak orang. Bukan karena dia terlihat lebih pintar tapi karena dia lebih baik daripada kepala sekolah sebelumnya. Kepala sekolah yang sekarang dikenal suka menolong orang, baik hati, dan tidak pernah diam-diam mencuri uang pekerja atau berbuat seenaknya seperti yang dilakukan pak Rehan.

Di taman sekolah, kepala sekolah itu juga senang membantu petugas kebersihan membersihkan halaman. Jas cokelat yang dikenakannya tampak sedikit kusut karena debu dan tanah. Namun, pria itu tidak terlibat terganggu sama sekali. Dia justru tersenyum karena bisa ikut merapikan.

"Pak, sudah tidak perlu repot-repot," ucap tukang kebun itu sambil berusaha mengambil sapu yang saat ini dipegang oleh kepala sekolah itu.

Pria itu tersenyum ramah menatap tukang kebun sambil menggelengkan kepala. "Tidak apa, Pak. Saya senang membantu bapak," jawabnya. Dia menghela napas, melanjut ucapan, "Lagipula saya juga sedang tidak ada kesibukan."

Tukang kebun itu menggaruk tengkuk sambil mengerutkan kening. "Tapi tidak biasa seorang kepala sekolah mau mengotori diri dengan bersih-bersih kebun seperti ini," ujarnya seolah membandingkan.

"Jangan samakan saya sama mereka, Pak. Saya di sini bukan hanya ingin mengajar siswa atau memerintah di sekolah. Namun, saya ingin melayani juga dengan membantu bapak dan orang-orang yang ada di sekitar sekolah ini," tegas pria itu dengan tersenyum, matanya menatap dalam tukang kebun itu.

"Jangan sampai ada yang menderita lagi seperti kejadian kepala sekolah lama," ujar pria itu, suaranya pelan tapi tegas. Ada kelembutan di baliknya.

Tukang kebun itu merasa tersentuh dengan kebaikan kepala sekolah baru. Dia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca sambil tersenyum tipis. Sapu yang dipegangnya ditaruh di dinding.

"Terimakasih banyak, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa," lirih tukang kebun itu sambil menundukkan pandangan.

Kepala sekolah baru itu tersenyum tipis sambil memegang pundak tukang kebun. "Jangan berpikir khawatir, lakukan saja pekerjaan mu dengan baik," nasehat pria itu lembut tapi tegas.

"Iya, terimakasih banyak, Pak."

Diam-diam, Naja melihat sikap kepala sekolah baru itu dari balik pohon yang ada di taman. Saat ini, dia tidak lagi datang dalam wujud seram tapi dengan menyamar menjadi siswi seperti biasanya lagi. Senyuman yang terukir di bibir menghiasai wajahnya yang cantik bagaikan dewi.

"Aku senang melihat semua sekarang baik-baik saja, semoga tidak ada lagi manusia rusak seperti si Rehan," gumam Naja sambil tersenyum tipis.

“Kamu ngapain Naj?” Satria tiba-tiba menghampiri Naja yang sedang duduk di balik pohon. Ia memberikan sekotak susu coklat favorit yang biasa diminum makhluk jadi-jadian itu.

“Aw… thankyou, soo sweetttt.” Ujar Naja.

Satria menatap serius ke kepala sekolah baru itu, entah kenapa instingnya mengatakan hal sebaliknya.

“Aku curiga sama Pak Andre, Naj. Dia sepertinya… aneh.”

***

Di rumah sakit, Pak Rehan mencoba untuk berdiri sendiri mengambil segelas air. Dia ingin rasa panas yang membakar di tenggorokan dan jantungnya terpadam. Namun, baru saja mau turun dari ranjang, tubuhnya malah ambruk sehingga dia tersungkur lemas di lantai.

"Pak, apa yang terjadi?" tanya Andre yang baru saja sampai di kamar rawat pak Rehan. Dia bergegas menghampiri pria itu dan segera memapahnya ke atas ranjang lagi. Raut wajahnya tampak cemas dan peduli.

Pak Rehan setelah duduk di atas ranjang tidak bisa berkata apa-apa. Kedua matanya hanya bisa berbinar dan sedikit berkaca-kaca menatap Andre. Tangan pria itu terangkat secara gemetar, menunjuk segelas air yang ada di atas nakas.

Seolah memahami bahasa isyarat Pak Rehan, Andre pun segera mengambil air tersebut dan membantu pria itu untuk minum secara perlahan. Setelah itu, Rehan mengerutkan kening menatap Andre, seolah bertanya kenapa pria itu datang ke mari.

"Aku merasa simpati dengan apa yang terjadi padamu, Pak. Aku tidak tahu jika kerakusan yang kamu pikir menyenangkan hidupmu sekarang justru menjadi senjata yang membuat hidupmu hancur..." ujar Andre lirih. Dia menghela napas.

Pria itu merangkul Pak Rehan, berusaha menenangkannya. Dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Pak Rehan masih diam tidak menjawab. Tidak tahu kenapa, hati Andre pedih. Bayangan masa lalu kembali menghantui benaknya.

Bayangan yang membuat dia tidak ada bedanya dengan Pak Rehan.

1
SuryaNingsih
tuh kann ini tu tanah mereka tapi mau di rampas gitu
SuryaNingsih
Mau digusur demi bangun mall? ga ad hati klian ni
SuryaNingsih
Manaa🤣🤣
SuryaNingsih
naja itu santai tapi ngeselin tapi lucu🤣
SuryaNingsih
ooh si Naja nya mah udah tau ya🤣 cuma bru gentayangin aja
SuryaNingsih
sempet ketawa sama tepuk tangan🤣 lucu bgt ya🤣🤣
SuryaNingsih
jalur kakaen di desa penari kali ni andre🤭
SuryaNingsih
ramah pas ada maunya
SuryaNingsih
Lah yo si Andre dlu nganu 😡
Rosalina Ayyaee
Enak bgt jd Naja? dia smacem utusan tuhan ya?
Rosalina Ayyaee
Hadehh pak kepala dinasnya malah ky gt
Rosalina Ayyaee
Berhati lembut🤣 dia abis bunbun org🤣🤣
Rosalina Ayyaee
dia ngga mau kasus evan keulang lg salah tangkep
Rosalina Ayyaee
Hmm kek nya pembangunannya di tanah ilegal ya😡
Rosalina Ayyaee
seperti biasa mba Naja ini ngeselin tingkahnya🤣 tp bner sih kan yg di bully ya cewe itu
Rosalina Ayyaee
ooh semacem urban legend gt ya thor jd dy bales smua org gk cuma yg dsklh ini sj
Rosalina Ayyaee
Masih bgitu ya cuma dpn org dy pura2 pncitraan doang
Rosalina Ayyaee
Ya ampun andre kaya gitu dulunya😡
Rosalina Ayyaee
ya pasti wong korupsi kok
Wulandarry
Lhaa mala lari dy🤣 sukur dh d ksi sangsi sosial😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!