Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Masa lalu
Nayra memutuskan untuk keluar sambil membawa botol serta gelas kecil yang sejak masuk kamar sudah di nikmatinya. Angin langsung menampar wajahnya ketika ia membuka pintu pembatas balkon pelan, takut putranya yang kemungkinan belum tidur terbangun lalu melihat apa yang di lakukan ibunya, membuatnya sedikit gemeteran.
"Harusnya aku pakai jaket, tapi ya sudahlah, lama-lama juga terbiasa." Wanita itu meletakkan bawaannya ke atas meja, kemudian menatap lampu-lampu kota membentang indah sejauh mata memandang, tapi anehnya tak bisa membuat pemikirannya tenang.
Kepalannya berisik mengulang pembicaraan serta tatapan anaknya sangat ingin memiliki seorang ayah yang sebenarnya belum bisa di turutinya. Dulu Nayra memang menjalani hubungan dengan beberapa pria, tapi semua itu di jalaninya dengan setengah hati.
Sikapnya juga sempat membuatnya percaya kalau pria-pria itu pergi bahkan saat anaknya sudah menyayangi mereka, tapi setelah di telusuri, alasan mereka pergi bukan cuma itu.
Nayra menghela nafas kasar, nyatanya mau sekeras apapun tidak ingin melibatkan keinginan putranya, tetap saja ia kesulitan tidur karna memikirkannya.
Rayyan, apa ngga bisa kita hidup berdua aja? Mama lihat kamu bahagia tanpa sosok laki-laki dewasa di antara kita," gumam Wanita yang mengunakan tanktop dan celana pendek lalu menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas dan menyesapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari lampu-lampu kota.
Tiba-tiba bayangan masa lalu ketika suaminya masih ada terbayang. Saat itu hidup mereka memang susah, tapi tangki cintanya selalu penuh dan mereka hidup dengan kebahagiaan.
Yudha yang kala itu memilih bersabar maka bisa saja menyelesaikan kuliahnya, tapi nyata pria itu tidak bisa melihat istrinya lebih lama menderita karna satu atap dengan orang tuanya. Suaminya tidak masalah kerja apa saja, yang penting hari-hari mereka tanpa kepura-puraan seperti saat mereka belum di terima keluarga.
Suaminya sudah meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu adalah titik paling terendah di hidup Nayra, tapi mengingat Rayyan membuatnya tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya.
Kemudian dengan tertatih ia bangkit tanpa kenal lelah dan perlahan, ekonomi mereka jauh lebih baik. "Andai saja kamu masih ada, aku ngga mungkin melewati semua ini sendirian, Mas." Gumam Nayra tak kuasa menahan air matanya lagi.
Dulu Nayra lebih banyak mengeluh tentang kehidupan mereka pada suaminya, tapi Yudha selalu menguatkan dan mereka menjadi sepasang manusia yang sempurna keesokan hari untuk putra satu-satunya.
Tapi walaupun begitu ia tak pernah menyesali semua yang pernah mereka lalui bersama-sama. Jika tak merasakan kehidupan seperti ini, mungkin Nayra tak akan pernah tahu bagaimana sifat asli dari orang yang katanya menyayanginya.
Malam ini begitu menyedihkan, suasana hatinya semakin memburuk karna tuntutan putranya. Nayra tak pernah menyalahkan anak itu yang ingin memiliki ayah, tapi masalahnya ada padanya yang tidak yakin dengan mereka.
Sampai di tengah kesedihannya tiba-tiba saja mencium aroma asap tembakau yang membuatnya menutup hidung. Tak lama terdengar suara batuk yang membuatnya menatap sekitar dengan takut karna kemungkinan hantu dan sejenisnya yang menganggu.
"Maaf, saya ngga bermaksud buat nguping." Kata seseorang belum bisa membuat Nayra tenang. Sampai kemudian, ia menyadari suara itu berasal dari dinding sebelah kanannya. "Tapi saya sudah ada di balkon lebih dulu dari pada kamu."
Nayra menghela nafas lega, ternyata manusia, tidak seperti yang di bayangannya. Tapi sekarang Nayra malah malu karna mungkin saja orang itu mendengar semua curahan hatinya.
"Tapi tenang saja, anggap saja saya ngga pernah dengar," tambahnya sedikit menenangkan Nayra.
"Saya ngga berhak marah karna semua itu memang salah saya. Ngomong-ngomong Mas Gatra ngerokok?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Iya, kok bisa tahu?"
"Asapnya sampai di sini, Mas."
"Maaf-maaf, kamu terganggu ya? Tunggu saya mati–"
"Ngga papa, ngga perlu, Mas. Saya ngga terganggu."
Lalu hening tak ada yang membuka suara. Baik Nayra dan Gatra yang di batas oleh dinding balkon sibuk dengan pemikiran masalah masing-masing.
"Rayyan udah tidur?" Tanya Gatra setelah mereka diam cukup lama.
"Udah," balas Nayra sambil memutar otak mencari topik pembicaraan lain.
"Saya sebenarnya mau minta maaf dan pengen bicara langsung sama kamu, tapi ngga tahu kapan kamu ngga sibuknya. Jadi di sini aja, maaf, kemarin saya ngga sengaja marahin Rayyan," kata Gatra penuh sesal. "Rayyan pasti cerita kan?"
"Dia ngga cerita apa-apa," sahutnya antara marah pada Gatra serta kecewa karna Rayyan menutup-nutupi, tapi untuk malam ini ia sangat lelah karna semua masalah yang ada.
"Untuk anak seperti Rayyan... kayaknya ngga mungkin ngga cerita." Gatra ragu, tapi bukan tidak percaya dengan Nayra, hanya saja mengingat terbukanya anak itu padanya yang baru kenal, tidak mungkin Rayyan bisa menyembunyikan apapun dari orang terdekatnya.
Setelahnya mereka sama-sama diam, Nayra mengakui sejak bekerja memang merasa ada sedikit jarak dengan putranya yang tak terbuka seperti dulu lagi. Rayyan hanya mengatakan cerita yang bahagia dan selalu mengelak bahkan mengalihkan pembicaraan ketika di tanya.
Dulu Nayra tak masalah karna pernah mendengar semakin besar anak laki-laki maka banyak dari mereka malu bersikap seperti anak kecil lagi pada Ibunya. Tapi berbeda jika dengan ayah, mereka tanpa ragu akan bertanya atau mengatakan apapun tanpa malu yang tanpa sadar membuat Nayra kembali meneteskan air mata. Betapa kasihan putranya itu.