Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jejak Penebusan di Atas Debu Masa Lalu
Keputusan Zarthus untuk memilih cahaya ternyata hanyalah sebuah pintu masuk menuju labirin yang jauh lebih berat dan menyesakkan. Baginya, penebusan bukan sekadar ucapan maaf yang meluncur dari bibir, melainkan sebuah pendakian terjal di atas tebing yang licin dengan beban dosa ribuan tahun di punggungnya. Ia kini tidak lagi mengenakan jubah sutra hitam yang sombong dan memancarkan aura kematian; ia mengenakan linen sederhana berwarna abu-abu—warna yang melambangkan masa transisi jiwanya yang sedang berada di antara bayang-bayang dan fajar.
Bulan-bulan awal di Hutan Lumina adalah siksaan batin yang nyata bagi Zarthus. Ia harus belajar kembali “bernapas” secara magis. Sihirnya yang dulu meledak-ledak, haus akan kehancuran, dan dipicu oleh kebencian, kini harus dijinakkan dengan ketenangan yang asing baginya. Sering kali, saat ia mencoba bermeditasi, energi kegelapan di dalam dirinya memberontak, membuat jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
“Jangan melawannya dengan kekerasan, Zarthus,” bisik Sena suatu pagi di bawah naungan pohon Oak raksasa yang akarnya menyerap energi murni bumi. “Kegelapan dalam dirimu tidak bisa dibuang begitu saja, karena itu adalah bagian dari sejarahmu. Tapi, kegelapan itu bisa diubah. Anggap itu seperti air sungai yang keruh; kau tidak perlu membuang seluruh airnya, kau hanya perlu menyaring lumpurnya dengan kesabaran.”
Zarthus duduk bersila, peluh mengucur deras di dahinya hingga membasahi jubah linennya. Ia mencoba membentuk sebuah bola cahaya kecil di telapak tangannya. Namun, setiap kali percikan cahaya itu muncul, bayang-bayang hitam dari ingatan masa lalunya seolah ikut merayap keluar, mencoba mencekik api kecil tersebut. Pengendalian diri adalah otot yang sudah berabad-abad tidak ia gunakan, dan sekarang, mencoba melatihnya kembali terasa lebih menyakitkan daripada luka tebasan pedang mana pun.
Perang Melawan Bayang-Bayang Sendiri
Malam-malam yang dilalui Zarthus tidak kalah menyiksa. Tidur telah berubah menjadi musuh yang paling ia takuti. Begitu matanya terpejam, ia kembali ke desa-desa yang pernah ia bakar habis. Ia mendengar jeritan melengking yang sama dari orang-orang tak bersalah, melihat tatapan mata ketakutan yang menghantui mimpinya. Ia sering terbangun dengan tangan yang gemetar hebat, meraba-raba jemarinya seolah-olah cairan merah kental masih membasahi kulitnya, meski sebenarnya tangan itu kini bersih, kering, dan mulai keriput dimakan usia manusia.
“Aku tidak pantas berada di sini, Sena,” keluhnya suatu malam saat mereka berdiri di bawah langit bertabur bintang yang jernih. “Setiap kali aku melihat penduduk hutan ini tersenyum padaku atau memberiku salam, aku merasa seperti penipu yang sangat licik. Mereka tidak tahu betapa banyak nyawa yang telah kuhancurkan untuk memuaskan ego keabadianku.”
Sena menatap cakrawala dengan tenang, membiarkan angin malam memainkan rambutnya. “Masa lalumu adalah fakta yang sudah membeku, Zarthus. Tidak ada sihir waktu pun yang bisa mengubahnya. Tapi ketahuilah, rasa bersalah yang mencekikmu itu adalah bukti paling nyata bahwa kau memiliki hati yang masih berfungsi. Seorang monster sejati tidak akan pernah merasa bersalah. Gunakan rasa sakit itu bukan untuk menghukum dirimu, tapi sebagai bahan bakar untuk melakukan satu hal baik setiap harinya.”
Ujian Pertama di Perbatasan
Kesempatan bagi Zarthus untuk membuktikan bahwa ia bukan lagi ancaman datang lebih cepat dari yang diduga. Sebuah desa di perbatasan hutan, pemukiman para perajin kayu yang hidup damai, mendadak diserang oleh sisa-sisa monster kegelapan yang kehilangan tuan setelah jatuhnya Lilith. Monster-monster itu liar, tidak terkendali, dan digerakkan oleh rasa lapar purba akan energi kehidupan.
Sena, Elara, dan Kai segera bersiap menuju lokasi. Zarthus awalnya diperintahkan untuk tetap tinggal di kuil, demi keselamatannya sendiri dan untuk menghindari kecurigaan penduduk. Namun, hati kecilnya memberontak. Ia tidak bisa hanya duduk diam sementara kekacauan yang secara tidak langsung ia ciptakan di masa lalu kini mengancam orang-orang tak berdosa. Ia mengambil jubah putih pemberian Sena—jubah yang terasa sangat berat bagi pundaknya yang penuh dosa—dan memutuskan untuk menyusul mereka.
Di medan perang, kekacauan merajalela. Monster-monster itu menyerupai serigala bayangan dengan taring yang meneteskan cairan hitam pekat yang beracun. Sena dan Kai terdesak di tengah kepungan belasan monster saat mereka mencoba melindungi sekelompok anak-anak yang gemetar ketakutan di balik reruntuhan lumbung yang terbakar.
Tiba-tiba, sebuah ledakan energi perak kehitaman membelah barisan monster tersebut. Zarthus berdiri tegak di atas gundukan batu besar, tangannya terulur ke depan dengan mantap. Matanya tidak lagi menyala merah penuh kebencian, melainkan jernih dengan tekad yang dingin dan tenang.
“Aku yang dulu mengajari kegelapan ini cara untuk memangsa!” suaranya menggelegar, namun kali ini ada nada kesedihan yang mendalam di dalamnya. “Dan aku pulalah yang akan mengakhirinya di sini!”
Zarthus melakukan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh Sena sebelumnya. Ia tidak menyerang dengan kebencian untuk membunuh. Ia justru menarik energi kegelapan dari monster-monster itu masuk ke dalam tubuhnya sendiri, mengolah racun tersebut dengan sisa-sisa cahaya yang baru ia pelajari, dan melepaskannya kembali sebagai gelombang penyembuh yang melumpuhkan para monster tanpa harus menghancurkan mereka secara brutal. Itu adalah bentuk sihir keseimbangan yang sangat rumit dan menguras nyawa.
Pengampunan yang Tak Terduga
Setelah debu pertempuran mereda dan monster-monster itu lenyap menjadi abu halus, keheningan yang mencekam menyelimuti desa tersebut. Zarthus berdiri mematung di tengah reruntuhan, menundukkan kepalanya, menunggu penghakiman atau cacian dari penduduk desa yang ketakutan.
Seorang wanita tua, yang rumahnya baru saja diselamatkan Zarthus dari kobaran api sihir, berjalan mendekat dengan langkah gemetar. Zarthus memejamkan mata, bersiap jika wanita itu akan meludahinya atau memukulnya. Namun, yang ia rasakan bukanlah kekerasan, melainkan sentuhan lembut tangan yang keriput dan hangat di pipinya yang dingin.
“Terima kasih, Penjaga,” bisik wanita itu dengan tulus.
Kata ‘Penjaga’ menghantam Zarthus jauh lebih keras daripada mantra sihir paling mematikan sekalipun. Ia menangis dalam diam, air mata pertamanya yang murni jatuh membasahi tanah desa tersebut. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, ia merasa beban berat yang menghimpit pundaknya sedikit berkurang.
Tahun-tahun berlalu, dan sosok Zarthus tidak lagi dipandang sebagai “mantan penjahat” yang menakutkan. Ia bertransformasi menjadi sosok bijak yang pendiam, seorang pertapa yang menjadi guru bagi mereka yang kehilangan arah atau mereka yang juga sedang berjuang melawan kegelapan di dalam diri mereka sendiri. Namun, kedamaian itu kembali terusik ketika suatu hari, ia merasakan sebuah getaran magis yang sangat akrab di dalam jiwanya—getaran yang mengingatkannya pada dirinya yang dulu.
Munculnya Bayangan Baru
Firasat buruk itu membimbing Zarthus, Sena, dan Elara ke sebuah gua terlarang di Lembah Sunyi. Di sana, mereka menemukan seorang pria bernama Malkor yang berdiri tegak di depan altar kuno yang sudah lama ditinggalkan. Malkor adalah cerminan sempurna dari segala identitas Zarthus di masa lalu: haus akan kekuasaan, angkuh, dan sepenuhnya tertelan oleh kebencian terhadap dunia. Di tangan Malkor yang gemetar karena kekuatan, sebuah permata gelap berdenyut dengan irama yang mengerikan: Jantung Kegelapan yang Baru.
“Zarthus, saudaraku dalam kegelapan yang mulia,” Malkor menyeringai lebar, matanya menyala merah saga yang haus darah. “Lihatlah dirimu sekarang. Menjadi pelayan cahaya yang membosankan dan lemah. Kembalilah padaku, peluk kembali takdirmu, dan kita akan menggulung dunia ini dalam keabadian hitam yang megah.”
Zarthus melangkah maju tanpa ragu, tubuh tuanya kini menjadi benteng yang menghalangi jalan Malkor menuju Sena dan Elara. “Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri akhir dari jalan berdarah yang kau tempuh, Malkor. Tidak ada takhta emas di sana. Tidak ada kejayaan. Hanya ada kehampaan yang dingin dan kesepian yang abadi. Pergilah sekarang, atau kau akan menghadapi kekuatan yang tidak akan pernah bisa kau pahami dengan hati yang penuh benci.”
Pertempuran itu meletus dengan kekuatan yang dahsyat, mengguncang fondasi gua tersebut. Malkor menggunakan kekuatan murni dari permata baru itu, melepaskan gelombang penghancur yang meruntuhkan langit-langit gua. Zarthus bertarung mati-matian sendirian, menahan setiap gempuran Malkor untuk memberikan waktu bagi Sena dan Elara mencari bantuan dari para Penjaga lainnya. Ia terkena hantaman telak di dada, tubuhnya terlempar keras ke dinding gua hingga tulang-tulangnya terasa retak.
“Kau menjadi lemah karena kau mencoba untuk peduli pada makhluk-makhluk rendah ini!” Malkor berteriak histeris, bersiap memberikan serangan terakhir yang mematikan.
Namun, tepat sebelum cahaya hitam Malkor meredupkan nyawa Zarthus, sebuah gemuruh cahaya muncul dari mulut gua. Sena dan Elara telah kembali bersama barisan Penjaga Cahaya. Cahaya kolektif mereka yang murni menerangi gua yang gelap itu, memaksa Malkor mundur ke dalam bayang-bayang yang paling pekat.
“Ini belum selesai, Zarthus!” Malkor menghilang bersama asap hitamnya yang berbau belerang. “Jantung ini akan terus berdenyut, mengumpulkan dendam, sampai Hutan Lumina benar-benar menjadi abu di bawah kakiku!”
Sena segera berlari dan memeluk Zarthus yang terluka parah dan bernapas tersengal. “Kau sudah cukup berjuang hari ini, Zarthus. Jangan memaksakan dirimu lagi. Istirahatlah.”
Zarthus tersenyum tipis, meski darah merah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pucat. “Dulu aku bertarung dengan segenap jiwa hanya untuk memiliki segalanya di bawah kakiku. Sekarang, aku bertarung agar kalian tidak kehilangan apa pun yang kalian cintai. Ternyata... rasanya jauh lebih ringan dan membahagiakan.”
Di bawah langit Hutan Lumina yang kembali tenang, Zarthus menyadari bahwa Malkor hanyalah awal dari ujian baru yang harus ia hadapi. Namun kali ini, ia tidak lagi berdiri di sisi yang salah. Ia adalah benteng, ia adalah cahaya, dan ia adalah bukti hidup bagi seluruh dunia bahwa tidak ada jiwa yang benar-benar tersesat selama ia memiliki keberanian untuk mencari jalan pulang.
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.