Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Harga Keselamatan
Setelah beberapa kali hampir tewas di usia muda, mobil mereka akhirnya bisa beristirahat di depan kediaman utama keluarga Han. Sebuah rumah tinggal yang berdiri dengan dua pilar besar di balik pagar tinggi. Halaman yang sangat luas menyambut kedatangan mereka, lengkap dengan lampu taman dan deretan rumput kotak dan bonsai.
Darren benar-benar terpukau saat mengamati sekelilingnya. Sepanjang kendaraan melaju, pandangannya tidak berhenti mengagumi fasilitas yang ada. Terdapat kolam renang di taman belakang yang jernih, gazebo mewah dengan hiasan-hiasan cantik, hingga patung-patung marmer di setiap sudut yang menunjukkan kemewahan tanpa batas.
“Ini tempat Nona tinggal selama berada di Jakarta?” tanya Darren sembari menatap bangunan utama.
Seo yeon memberikan anggukan datar. “Kadang-kadang saja. Aku jauh lebih sering menghabiskan waktu di penthouse.”
Wonyoung masih terlihat syok akibat kejadian pengejaran tadi. Gadis itu sama sekali tidak melepaskan genggaman eratnya pada lengan sang kakak. Begitu menginjakkan kaki di dalam, beberapa pelayan dan asisten rumah tangga sudah berdiri bersiap. Mereka menyambut dengan sikap hormat yang profesional, membantu melepas jaket, hingga menyediakan sandal rumah yang nyaman. Tentu saja tak luput dari itu, sudah banyak pria berjas dengan senapan laras panjang yang waspada. “Pasti akibat perintah dari Tuan Han Jin Ho,” setidaknya itu yang Darren pikirkan.
Saat mereka masuk, Wonyoung mendadak menatap Darren penuh kecemasan. “Oppa, aku masih sangat takut. Boleh aku tidur di dalam satu kamar denganku malam ini? Aku akan membawa kasur sendiri.”
Entah grogi atau apa, Darren sedikit tersedak mendengar permintaan tidak terduga itu. Sementara itu, Seo yeon segera mengusap kepala adiknya dengan lembut guna menenangkannya.
“Jangan bersikap konyol. Rumah ini sudah penuh dengan satpam dan asisten yang berjaga. Tidak akan ada orang asing yang berani masuk ke sini,” kata Seo yeon.
“Tapi aku masih merasa tidak aman,” keluh Wonyoung.
Lantas Darren berusaha menenangkan suasana. “Nona Wonyoung, tidak akan ada orang jahat yang berani mendekati area rumah ini. Jika pun ada yang nekat, aku yang akan menjadi orang pertama yang menghadang mereka di depan pintu,” tegasnya.
Wonyoung akhirnya melengkungkan senyum tipis. “Oppa janji akan menjagaku?”
“Aku janji,” jawab Darren mantap. Akhirnya, Wonyoung setuju untuk beristirahat di kamar yang bersebelahan dengan kamar Darren, dengan Seo yeon yang tetap menemaninya di sana.
Sementara Darren masuk ke dalam kamar pribadinya. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat interior ruangan itu. Luas kamar ini bahkan melampaui seluruh unit apartemen lamanya dahulu. Terdapat tempat tidur ukuran king yang dilapisi seprai berkualitas tinggi, lemari besar yang menjulang hingga menyentuh langit-langit layaknya dinding penyimpanan, serta kamar mandi marmer yang dilengkapi bathtub berbentuk hati berwarna merah marun. Bahkan, di salah satu sudut ruangan itu, tersedia pula ruang kerja pribadi dengan pemandangan langsung ke taman belakang yang asri.
Dua orang pelayan masuk dengan gerakan yang sangat cepat dan profesional. Satu orang membawakan perlengkapan mandi yang sangat mewah, sementara yang lain membawa nampan berisi camilan dan makan malam yang masih hangat. Mereka memberikan penjelasan mendetail mengenai cara mengoperasikan sistem kontrol otomatis di ruangan itu, mulai dari pengaturan lampu, pendingin ruangan, tirai, hingga sistem musik.
“Jika Anda membutuhkan bantuan, cukup tekan tombol yang berada di samping tempat tidur,” ujar salah satu pelayan sembari membungkuk hormat.
Darren hanya memberikan anggukan kaku. Setelah pelayan itu keluar dan menutup pintu, barulah dia merasa benar-benar sendirian. Darren merebahkan tubuhnya di atas pulau kapuk. Meskipun raganya terasa luar biasa lelah, kedua matanya masih tetap terjaga menatap langit-langit kamar.
“Aku harus memiliki rumah seperti ini suatu hari nanti,” batin Darren dengan tekad yang kuat. “Aku hanya perlu menagih beberapa orang besar lagi seperti Priyo dan William, atau mungkin kepala polisi itu, barulah aku akan sampai ke puncak rantai makanan yang sebenarnya dan menghajar Alvino dengan tanganku sendiri.” Tanpa membuang waktu lagi, dia segera memanggil sistem miliknya.
Layar transparan berwarna biru menyala seketika di hadapan Darren. Fokus pandangannya langsung tertuju pada angka Debit Kolektor (DK) dan saldo di Rekening Sistem. Seketika itu juga, dia terduduk tegap seperti prajurit. Tidak lama kemudian, dia bahkan bangkit berdiri dari kasurnya.
“A-A-APA?!”
Dia membaca ulang setiap angka yang tertera. Tiga kali, bahkan empat kali, namun hasilnya sama sekali tidak berubah. Saldo Debit Kolektor hanya tersisa 25 DK, sementara saldo Rekening Sistem berada di angka Rp7,93 miliar.
“Ini pasti salah. Sistem, perhitungannya pasti salah hitung!” bentaknya dengan panik.
Layar sistem berkedip beberapa kali sebelum memberikan tanggapan.
Perhitungan akurat. Penggunaan fitur radar jarak jauh yang mendeteksi 12 target secara bersamaan memakan biaya 120 DK. Fitur analisa jalur dinamis memakan biaya 60 DK. Fitur deteksi musuh massal memakan biaya 40 DK. Total biaya yang terpotong adalah 220 DK.
Darren terdiam membisu, kepalanya mendadak terasa pusing seperti tenggelam dalam danau.
“Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau fitur-fitur itu membutuhkan biaya DK yang sangat besar! Kenapa sistem tidak memberikan peringatan sejak awal?!” protesnya.
Fitur-fitur tersebut sejatinya adalah kemampuan untuk level 3. Pengguna telah memaksakan penggunaannya meskipun masih berada di level 2, sehingga biaya yang dikenakan membengkak jauh di atas standar normal. Sistem tidak dapat memberikan peringatan saat fitur digunakan karena sistem sedang berada dalam mode darurat.
Darren mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Dia ingat, selama tiga bulan terakhir, dia mengumpulkan DK dari berbagai tagihan kecil. Totalnya 245 DK, tapi masalahnya, sejak awal dirinya memang tidak memahami betul apa definisi sebenarnya dari DK. “Berapa sisa DK milikku sekarang?”
25 DK tersisa dari total 245 DK sebelumnya. Saldo terpangkas sebanyak 220 DK.
“Jadi, sekarang aku benar-benar hampir bangkrut?” tanya Darren dengan suara yang melemah.
Tidak. Saldo di dalam Rekening Sistem untuk transaksi uang sama sekali tidak terpengaruh. Debit Kolektor adalah mata uang terpisah yang hanya digunakan untuk mengaktifkan fitur-fitur khusus sistem.
Darren sedikit menghela napas lega, namun rupanya kejutan pahit itu belum benar-benar berakhir.
Layar sistem kembali berkedip dengan cahaya yang tidak biasa.
Peringatan. Telah terjadi penggunaan fitur di luar batasan level yang direkomendasikan. Penalti berupa pembekuan fitur penarikan paksa akan diberlakukan selama 7 hari ke depan. Pelanggaran berikutnya akan berakibat pada penurunan level atau kehilangan jumlah DK yang jauh lebih besar.
“Tujuh hari penuh tidak bisa melakukan penagihan? Apa sistem sedang bercanda?!” seru Darren sembari kembali terduduk di tepi tempat tidur. Lututnya lemas seketika.
Sistem tidak memiliki fungsi humor. Selama 7 hari ke depan, Pengguna sama sekali tidak diperbolehkan melakukan penarikan paksa terhadap target mana pun.
Darren mencoba mengatur napasnya yang memburu. “Baiklah. Sekarang jelaskan semua aturan ini padaku. Aku benar-benar tidak ingin ada kejutan yang merugikan lagi di masa depan.”
Sistem memberikan jawaban dengan sangat tenang. Debit Kolektor dijelaskan sebagai mata uang sekunder sistem yang diperoleh setiap kali aksi penarikan paksa berhasil dilakukan. Fungsi dari DK ini mencakup pengaktifan fitur radar jarak jauh, analisa jalur dinamis, deteksi musuh, pembelian fitur penghancuran keberuntungan tidak langsung, perlindungan bagi target prioritas, hingga pembelian amnesty token untuk menghapus kesalahan fatal.
Setiap tingkatan level sistem memiliki batasan fitur tertentu. Level 2 sebenarnya hanya dapat mengoperasikan radar dalam radius 500 meter tanpa adanya analisa dinamis. Sementara itu, Level 3 baru diperbolehkan menggunakan radar hingga radius 5 kilometer lengkap dengan analisa jalur. Karena Darren memaksakan penggunaan fitur level 3 di level 2, maka biayanya menyesuaikan dengan risiko yang diambil.
Darren mendesah panjang. “Lalu apa syarat untuk bisa mencapai kenaikan tingkat?”
Untuk naik ke level 3, Pengguna harus mengumpulkan total tagihan akumulasi sebesar 10 miliar rupiah. Beberapa misi khusus tertentu mungkin dapat mempercepat proses.
“Lalu, lalu, lalu, berapa total akumulasi tagihanku hingga detik ini?” tanya Darren.
Akumulasi tagihan sejak awal keterikatan sistem adalah sebagai berikut: Herman sebesar 635 juta, Andre sebesar 42,5 juta, Priyo sebesar 4,37 miliar, dan Budiman Santoso sebesar 3,9 miliar. Ditambah dengan target kecil lainnya sebesar 850 juta, maka totalnya mencapai 9,7975 miliar rupiah.
Darren mengepalkan tangannya dengan kuat. “Kurang sedikit lagi menuju target kenaikan level. Setelah masa penalti ini berakhir, aku akan mengejar kekurangan itu habis-habisan.”
Sistem kemudian berhenti memberikan data dan layarnya menghilang perlahan, meninggalkan Darren yang masih terduduk di tepi tempat tidur dengan pucat. Tangan kirinya terlihat sedikit gemetar sementara tangan kanannya terus mengacak-acak rambut karena rasa cemas.
“Sial, ini benar-benar situasi yang sulit,” gumamnya penuh kekecewaan.
Meskipun saldo Rp7,93 miliar di rekeningnya terdengar cukup besar, Darren menyadari bahwa dana itu harus dialokasikan dengan sangat bijak. Dia masih berencana membeli rumah untuk ibunya, mempertahankan operasional bisnis properti yang baru saja dimulai, membayar biaya kantor, hingga menyiapkan dana darurat untuk situasi mendadak. Dengan total dana sebesar itu, ruang geraknya akan menjadi sangat terbatas jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan.
Darren teringat kembali pada tawaran Seo yeon sebelumnya untuk membiayai pembelian rumah ibunya. Dia sudah menolak tawaran itu dengan sangat tegas karena tidak ingin menambah beban hutang budi pada bosnya itu. Namun, melihat kondisi DK-nya yang menipis sekarang, muncul sedikit keraguan di dalam benaknya.
“Tidak mungkin aku menjilat ludah sendiri. Aku pasti bisa mengurus masalah ini sendiri,” batinnya menguatkan diri sembari kembali berbaring menatap langit-langit.
Pikirannya kini melayang jauh pada ramalan yang pernah diucapkan nenek tua itu mengenai perang besar yang akan terjadi. Kejadian pengejaran malam ini membuktikan bahwa ramalan itu bukan isapan jempol belaka. Sistem yang dia miliki ternyata tidak sesempurna yang dia bayangkan karena ada harga yang harus dibayar mahal untuk setiap keselamatan, dan ada batasan-batasan kaku yang tidak bisa dilanggar begitu saja.
“Nenek itu benar-benar tidak bercanda,” bisik Darren sembari memejamkan mata.